Sebagian dari kisah ini adalah cerita kisah nyata dari kehidupan seorang wanita yang bekerja di dunia malam.
Tapi ingat, hanya sebagian!
Seorang gadis yang berusaha tetap mempertahankan keperawanan di tengah-tengah hingar-bingar gemerlap dunia malam yang harus dilaluinya.
Kisah ini turut menceritakan sisi lain dari wanita dunia malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisha A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 31 Meluapkan Emosi
"Tuan muda ayo minumlah, kenapa anda hanya diam saja?" Bisik Katy lembut sembari memberi minuman kepada Benzie.
Benzie yang sedari tadi terus menatap kesal ke arah Yuna, pun meraih gelasnya dan langsung meminum habis minumannya itu tanpa melirik ke Katy sedikit pun.
"Apa-apaan dua orang ini? Kenapa mereka terlihat seperti sangat akrab?" Gerutu Benzie dalam hati.
Namun sejenak Benzie teringat akan sesuatu, ia teringat saat pak Choi memberitahunya jika Yuna beberapa kali berkunjung ke rumah sakit milik Martin.
"Oh aku mengerti sekarang, berarti selama ini dia ke rumah sakit untuk menjumpai Martin, dan agar bisa kesana dia rela berbohong padaku ya? Di depanku berlagak polos seakan tak mengerti apapun. Namun kenyataannya? Dasar wanita munafik!" Ketus Benzie dalam hati lagi.
"Ayo kita bersulang, malam ini malam yang special untukku. Apa kau tau hari ini aku berulang tahun?" Tanya Martin saat memberikan gelas minuman ke Yuna.
"Ah benarkah? Kalau begitu selamat ulang tahun tuan muda. Anda sudah memiliki segalanya dan sepertinya tak akan membutuhkan hadiah dariku." Ucap Yuna tersenyum.
"Tidak, berhubung ini ulang tahunku, aku bahkan punya dua permintaan yang harus kau kabulkan." Ucap Martin sembari meletakkan gelas Yuna ke meja lalu meraih tangan Yuna.
"Dua permintaan? apa itu?" Tanya Yuna mengernyitkan dahi nya.
"Pertama, aku ingin agar kau memanggilku dengan hanya menyebut namaku! apa bisa kau kabulkan?" Tanya Martin memastikan.
Mendengar permintaan Martin yang pertama Yuna kembali tersenyum manis dan akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Sekarang yang kedua, aku ingin kau menjadi pacarku!" Ucap Martin memicingkan matanya.
"Apa???" Teriak Yuna spontan sembari membulatkan matanya.
Melihat ekspresi Yuna, Martin pun tertawa renyah semakin merasa gemas dengan tingkah polos Yuna.
"Hahaha tidak, tidak aku hanya bercanda." Ucap Martin yang terus tertawa.
Mendapat perlakuan itu Yuna memanyunkan bibirnya, membuat wajahnya terlihat semakin imut. Wajah Yuna pun memerah menahan malu, saking gugup nya, ia kemudian langsung izin untuk pergi ke toilet.
Benzie memandangi kepergian Yuna dengan tatapan tajam dan berbisik pada Martin.
"Ada suatu hal yang perlu kulihat di area rumah sakit mu, ini menyangkut masalah rekan Bisnisku, bisakah kau berikan aku akses untuk melihat rekaman cctv rumah sakit mu sebentar saja?" Bisik Benzie pada Martin yang tengah menuangkan minuman ke dalam gelasnya.
"Apa harus sekarang?" Tanya Martin datar yang terus menuang minuman.
"Iya aku butuh sekarang juga, hanya sebentar." Jawab Benzie.
Martin pun dengan mudah memberikan ponselnya pada Benzie, Martin memang selalu mengakses segalanya melalui ponsel pintarnya, sebab itu lebih memudahkannya untuk bekerja saat berada dimana saja. Benzie mulai mengingat tanggal terakhir Yuna datang kesana, dan menebak-nebak jam kedatanganya. Dengan mudah Benzie memeriksa dari berbagai sudut cctv yang memungkinkan merekam Yuna. Kini akhirnya Benzie mendapatkan sosok Yuna dari salah satu cctv yang mengarah ke meja Administrasi, di rekaman itu terlihat Yuna sedang berdiri sembari berbicara pada teller administrasi, Benzie terus mempercepat rekaman itu hingga akhirnya dia melihat Yuna sedang berdiri berhadapan dengan Martin. Terlihat Yuna sedang berbicara pada Martin dan tak lama Martin memegang kedua pundaknya dan terlihat sangat dekat.
Tanpa ingin tau kelanjutannya, Benzie langsung menutup rekaman itu dan mengembalikan ponsel Martin.
"Ini ponsel mu, terima kasih. Aku mau ke toilet sebentar untuk menelpon." Ucap Benzie kemudian langsung pergi berlalu.
Benzie berjalan menuju toilet dengan tatapan yang sangat dingin, kali ini dia sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Dia berfikir Yuna sudah benar-benar menipunya dan sudah tak bisa mendiamkan nya lagi. Benzie berdiri menunggu Yuna di depan toilet wanita, tak berapa lama pun Yuna keluar sambil fokus mengusap tangannya dengan tisu.
Benzie yang melihat Yuna keluar tanpa pikir panjang langsung menarik tangan Yuna kasar. Benzie membawa Yuna ke belakang gedung lewat pintu belakang yang biasa dipakai para pelayan untuk membuang botol-botol yang sudah kosong. Yuna yang tak tau menahu sontak saja terperanjat dan memberontak, Yuna masih belum sadar yang menarik tangannya adalah Benzie, karena Benzie menarik Yuna tanpa melihat ke arahnya sedikit pun.
Benzie menghempas kasar tubuh Yuna ke tembok pembatas saat jalanan sudah mentok, ia mengapit tubuh mungil itu dengan tubuh kekarnya hingga membuat Yuna tak bisa kemana-mana.
Yuna membulatkan matanya terkejut saat melihat Benzie dihadapannya.
"Tuan muda, apa yang kau lakukan padaku? lepaskan aku?" Ucap Yuna yang mencoba menolak tubuh Benzie.
Namun apalah daya tubuh mungil Yuna sama sekali tak mampu membuat tubuh Benzie menjauh dan melepaskannya. Benzie yang sedang dikuasai alkohol dan amarah, mulai mencengkram kuat pipi Yuna, hingga membuat bibirnya menjadi berkedut.
"Sekarang katakan, ada hubungan apa kau dengan Martin Chou?" Benzie bertanya dengan suara pelan tapi dengan nada penuh penekanan.
"Tidak ada hubungan apa-apa" Jawab Yuna dengan ketakutan sembari menggelengkan kepalanya.
"Bohong!" Bentak Benzie yang semakin menatap Yuna tajam.
Yuna terkejut, air matanya pun mengalir begitu saja, namun Benzie yang melihat itu bukan malah membuatnya melepaskan cengkraman tangannya, dia justru semakin menguatkan cengkeramannya hingga membuat Yuna meringis.
"Kau mencoba mengecoh ku lagi rupanya." Ucap Benzie dengan suara parau sembari tersenyum sinis.
"Apa kau mencoba membohongi seorang Benzie Lim?" Kali ini Benzie meninggikan suaranya.
"Apa kau masih belum tau siapa Benzie Lim hingga kau berani membuat kesalahan besar seperti ini?"
Suara Benzie yang menggelegar di hadapannya sontak membuat Yuna terpejam ketakutan.
"Beraninya kau membohongi ku Yuna. Tak usah mengelak lagi, aku sudah tau semuanya!" Bentak Benzie lalu melepaskan cengkramannya dengan kasar.
"Aku berbohong apa? aku sama sekali tak pernah berbohong." Yuna menjawab sambil menangis terisak memegangi pipinya yang merah akibat cengkraman tangan Benzie.
"Apa kau punya hubungan khusus dengan Martin Chou? Hingga demi bisa menemuinya kau rela berbohong padaku? kau bilang ingin mengambil barang-barang di kost mu, nyatanya kau pergi ke rumah sakit bertemu dengan Martin disana. Dan siangnya kau makan di restoran ku, apa kost mu sudah pindah kesana? Dan kau sengaja menyuruh pak Choi agar tak perlu menunggumu, kenapa? agar kau bisa bepergian berdua dengan Martin? Begitu?" Benzie mulai meluapkan emosinya yang sejak kemarin ia pendam.
Yuna hanya menangis ketakutan saat melihat Benzie yang begitu menggebu-gebu memarahinya. Benzie kembali menekan kedua pundak Yuna ke dinding, lalu mencengkram kembali bibir Yuna, Benzie mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.
"Apa ini? apa kau menangis? apa dengan berlagak sok polos begitu kau pikir kau bisa mengecoh ku lagi? atau memang begini caramu untuk menarik perhatian pria-pria kaya? Apa Martin salah satu korban kepolosan mu juga? Ayuna Clarra, berhenti lah berlagak sok polos dihadapan ku. tingkah mu ini benar-benar membuatku muak. Wanita pas-pasan seperti mu harusnya menggunakan uang yang ku berikan untuk hal yang berguna untuk memperbaiki kehidupanmu, bukan malah berlagak sok kaya dengan makan di restoran mewah. Dan kau tau, jika nenek tau bagaimana kau sebenarnya, tentu dia tidak akan suka dan bahkan kurasa dia juga akan menyeret mu keluar dari rumahnya." Ketus Benzie kembali merendahkan nada suaranya namun tetap menusuk.
Mendengar penghinaan dari Benzie membuat emosi Yuna kini ikut berkobar, matanya memicing tajam menatap Benzie, lalu dengan sekuat tenaga dia mendorong kasar tubuh Benzie hingga cengkraman Benzie terlepas begitu saja.
"Kau bilang aku munafik? Ya aku memang munafik. Kau bilang aku sok polos? Ya itu benar. lalu apa lagi? aku berbohong? ya aku memang pembohong. Semua yang buruk ada padaku, sekarang apa kau puas ? apa kau senang Benzie Lim? Dan apa tadi katamu? nenek tidak akan suka? bukankah itu bagus? maka bicaralah pada nenekmu tentang keburukanku, maka dengan begitu kau dan aku bisa segera bercerai tanpa harus terus bersandiwara. Masalah uangmu, kau tenanglah, aku akan menggantinya. Aku hanya perlu mencari pria kaya lalu menjebaknya dengan kepolosan ku. maka dengan begitu aku akan dapat banyak uang darinya dan segera mengembalikan uangmu. Pemikiran yang cerdas bukan?" Ketus Yuna panjang lebar yang juga meluapkan emosinya yang selama ini dia tahan.
"Kau itu lelaki yang menyedihkan, yang hidup penuh dengan bergelimang harta dan fasilitas mewah namun hidupmu hampa dan hatimu mati. bahkan ternyata kekayaan dan kemewahan tak bisa membuat kemampuan berfikir otakmu menjadi lebih baik, malah tingkah lakumu saat ini membuatmu terlihat bodoh. Seharusnya kau bisa menggunakan uangmu untuk mencari tau terlebih dulu sebelum memvonis orang sembarangan." Ucap Yuna lagi merendahkan suaranya sembari terus meneteskan air matanya.
Sementara Benzie hanya terus terdiam menahan emosinya sembari mencerna semua ucapan Yuna yang membuatnya semakin kesal namun entah kenapa dia tak bisa berbuat apapun saat Yuna meluapkan emosinya.
"Dan jika setelah ini kau ingin memecat ku dari tempat ini, maka lakukanlah! aku tidak akan pernah memohon padamu lagi." Tambah Yuna lagi yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Benzie yang masih terdiam mematung.
❤❤❤❤🤣🤣🤭🤭
favorit
👍❤