Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Perempuan bernama Chintia itu terlihat seolah ingin menangis. Wajahnya memerah karena menahan air matanya yang ingin jatuh. Dia sangat malu karena dikatakan Kenzie 'bodoh'.
"Maaf, kalau kehadiranku di rumahmu ini membuatmu terganggu. Aku pamit pulang saja." Chintia bicara dengan nada pelan dan terdengar sedikit serak menahan tangis.
Chintia pun bergerak bangkit berdiri dari duduknya hendak pergi.
"Duduklah." Mendadak suara Kenzie terdengar menyuruhnya kembali duduk.
Sejenak Chintia ragu. Dia menatap wajah Kenzie bingung. Ucapan Kenzie yang tadi agak kasar, sekarang berganti terdengar sedikit melunak.
"Aku harus bicara denganmu tentang perjodohan kita." Ungkap Kenzie memberi alasan menepis rasa bingung di hati Chintia.
Chintia kembali duduk mengikuti permintaan Kenzie. Matanya kembali tertunduk menatap lantai menunggu Kenzie untuk bicara, sambil memainkan kembali jemarinya yang lentik.
"Kenapa kamu mau dijodohkan denganku? Apa kamu tidak punya pacar? Atau seseorang yang kamu sukai?" Kenzie langsung mencecar Chintia dengan banyak pertanyaan.
Chintia makin menunduk dalam. Pertanyaan Kenzie sangat sukar untuk ia jawab. Bagaimana dia harus menjelaskan pada pemuda itu, jika dia tidak punya pacar ataupun seseorang yang ia sukai sama sekali. Selama ini, dia hanya menjadi anak rumahan yang jarang keluar rumah dan tak pernah bergaul dengan siapapun.
"Apa kamu mau? Menikah dengan orang yang tak menyukaimu sama sekali?" tanya Kenzie lagi yang sudah tak sabar untuk mendengar jawaban Chintia.
Kepala perempuan itu menggeleng perlahan sembari mengusap titik air matanya yang perlahan mulai jatuh dipipinya.
Kenzie menarik nafas panjang. Dia tak tega melihat perempuan menangis dihadapannya. Tangannya terjulur, menyambar kotak tissue yang ada diatas meja dan menaruhnya dihadapan Chintia.
"Aku tak tahu, kenapa orang tuaku begitu ngotot ingin menjodohkan diriku denganmu. Jika kau mau, bujuk lah orang tuamu untuk membatalkan perjodohan ini. Aku tak bisa menikahi orang yang tak kucintai sama sekali." Ucap Kenzie tanpa basa basi mengungkapkan keinginannya pada Chintia.
Sejenak suasana hening dan sunyi tanpa kata.
Chintia mengambil tissue yang ada dihadapannya. Dia mengusap air matanya yang mulai berhenti. Walau dia belum mengenal Kenzie sepenuhnya, namun, saat pertama kali tadi mereka bertemu, ada getar yang menyelinap dihatinya.
"Kita mungkin belum saling mengenal. Namun, seiring waktu, kita bisa saling menyukai atau mungkin saling mencintai." Sebuah kalimat yang mungkin saja tak ingin di dengar oleh pemuda tampan dihadapannya itu, tiba-tiba terlontar begitu saja dari bibir Chintia.
Dada Kenzie terasa sesak. Dia sangat kesal mendengar perkataan Chintia yang ternyata susah untuk diberi pengertian. Berulang kali ia membuang nafas kasar dan duduk dengan gelisah diatas sofanya.
"Dengarkan aku Chintia. Aku tak mungkin mencintaimu. Itu takkan pernah." Tekan Kenzie mendelik tajam pada Chintia, menahan kesal yang menghimpit perasaannya sedari tadi.
"Kenapa? Apa kamu mencintai perempuan lain?" tanya Chintia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menantang mata Kenzie dengan berani.
Kenzie terpaku melihat reaksi Chintia yang awalnya tampak lemah dan lembut jadi berani menatap kearahnya.
"Ya, aku mencintai seseorang." Jawab Kenzie dengan lidah kelu.
Bayangan Asyifa, sepintas menari-nari di pelupuk matanya. Tatapan Kenzie berubah pelan menjadi sendu. Dia pun membuang wajahnya kesamping menghilangkan rasa sedih yang mendadak hinggap dihatinya. Ada perih yang menusuk jantungnya saat benaknya teringat akan Asyifa.
Chintia yang menyadari gelagat Kenzie yang terasa aneh dimatanya, jadi penasaran dengan apa yang pemuda itu rasakan.
"Apakah dia cantik?" tanya Chintia lagi penasaran dengan sosok perempuan yang dicintai Kenzie.
Kenzie tak menjawab. Rasa sakit dan kecewanya pada Asyifa kembali meradang. Lidahnya terasa berat untuk bicara lagi dengan Chintia.
"Sepertinya, kamu memang sangat mencintainya." Tebak Chintia dalam hati.
Ada rasa cemburu yang timbul dalam hatinya.
"Baiklah, aku akan coba membujuk orang tuaku untuk membatalkan perjodohan kita." Ucap Chintia tiba-tiba mengalah begitu saja.
Kenzie spontan melonjak senang dari tempat duduknya. Wajahnya tampak gembira mendengar ucapan Chintia.
"Akhirnya kamu mengerti apa yang kukatakan. Kamu harus membujuk orangtuamu sampai mereka mau mengikuti kemauan kita." Ucap Kenzie jadi bersemangat kembali.
Chintia hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Kenzie. Dalam hatinya, dia merasa sedih karena baru pertama kali menyukai pria, harus langsung patah hati karena pria itu mencintai perempuan lain.
"Kurasa, tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku harus pulang, sebelum keburu malam." Chintia buru-buru berdiri dari duduknya.
Kenzie mengangguk cepat.
"Iya, kamu harus pulang segera. Tidak baik untukmu pulang terlalu malam." Diapun mengiyakan ucapan Chintia dan ikut berdiri dari duduknya.
"Baiklah, aku permisi dulu. Titip salam pada ayah dan bundamu." Kata Chintia lagi menundukkan sedikit kepala sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Kenzie yang melepas kepergiannya dengan perasaan gembira.
Kenzie berpikir, Chintia akan mengikuti keinginannya untuk membujuk orang tuanya.
"Ken, mana Chintia?" Mendadak Nyonya Ningsih, ibunya Kenzie muncul dari ruang belakang menanyakan Chintia.
Kenzie tersenyum melihat ibunya datang sambil membawa minuman dan cemilan. Dia bergegas menyambar nampan yang dibawa ibunya dan menaruhnya di atas meja.
"Chintia barusan pulang. Dia tidak sempat pamit sama ayah bunda. Soalnya, ayah dan bunda mungkin lagi sibuk berduaan dibelakang." Ujar Kenzie cuek sambil mengunyah cemilan yang dibawa ibunya dengan lahap.
Nyonya Ningsih, mengerutkan keningnya mendengar ucapan putranya itu. Dia melongok ke arah pintu rumah yang terbuka lebar. Sosok Chintia terlihat di kejauhan tengah berjalan gontai keluar gerbang rumah.
"Kamu tidak mengantarnya pulang, Ken...,?" tanya Nyonya Ningsih risau.
Kenzie menggeleng cuek. Terlihat dia sangat tidak peduli dengan keadaan Chintia.
Nyonya Ningsih menghembuskan nafas berat. Beliau tak bisa memaksa Kenzie untuk menyukai perempuan yang telah dijodohkan suaminya kepada putra kesayangannya itu.
"Semoga saja, ayahmu tidak marah melihat perlakuan mu pada Chintia." Desah Nyonya Ningsih menatap wajah putranya dengan perasaan cemas.
Kenzie menaruh sisa biskuit yang masih tinggal separo ditangannya keatas piring. Selera makannya jadi hilang melihat kesedihan yang terpancar diwajah ibunya.
"Tenang saja Bun, jangan terlalu dipikirkan. Masalah ayah, biar aku yang menyelesaikannya dengan caraku sendiri." Ujar Kenzie membujuk ibunya agar tidak larut dalam kesedihan.
Nyonya Ningsih tersenyum getir. Beliau hanya mengelus bahu Kenzie yang kemudian kumat manjanya menaruh kepalanya dipangkuan ibunya.
***
Sementara itu, Chintia yang berjalan keluar dari rumah kediaman Arif Budiman, terlihat berhenti sejenak di depan gerbang rumah itu.
Tubuhnya berbalik menatap rumah mewah bak istana itu dengan bibir tersenyum sinis. Sinar matanya yang awalnya redup dan sendu, seketika berubah menjadi nyalang dan garang. Sikapnya yang tadinya ayu dan lembut, berubah jadi kasar dan beringas.
"Heh, dasar laki-laki bodoh! Mana mungkin aku akan melepasmu begitu saja. Kau akan jadi milikku, Kenzie Maulana." Desisnya lirih dengan senyuman jahat terukir jelas di bibirnya.
Kemudian dia berbalik pergi, melangkah pelan sembari memutar mainan kunci mobil yang ada ditangannya.
"Kamu belum mengenal ku Kenzie, aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Ibaratkan mainan, kamu cuma boneka yang akan ku mainkan dan ku buang jika aku bosan." Katanya dalam hati.
Tawanya mendadak berderai, memecah kesunyian sepanjang jalanan mendekati mobilnya yang diparkir di depan gerbang kediaman Arif Budiman.
.
.
.
BERSAMBUNG