Tidak disangka, aku masuk ke dalam tubuh seorang figuran yang tak lama lagi akan mati tertabrak saat menyelamatkan pemeran utama. Bisakah aku mengubah takdir ini?
cerita tidak terlalu berat, karna kalo berat dilan yang nanggung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayaa aull., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Di kantin terlihat Kairi yang baru saja masuk dan berjalan ke arah meja Ara dan Kia, bersama kedua temannya, Luke dan Marva.
“Boleh kami duduk di sini?” tanya Luke kepada Ara dan Kia, sementara Kairi sudah duduk terlebih dahulu di samping Ara, membuat Ara bengong.
“Ah, iya,” jawab Kia, yang terdiam terkejut melihat Kairi yang langsung duduk di samping sahabatnya.
Mereka pun duduk. “Mau pesan apa biar aku pesankan?” tawar Marva kepada Kairi dan Luke.
“Aku ingin nasi goreng, minumnya es teh manis saja,” jawab Luke. Marva kemudian melihat ke arah Kairi yang belum menyebutkan pesanannya, karena sibuk memandang Ara makan dengan tatapan intens.
"Sangat imut, lihat pipinya yang mengembung itu," pikir Kairi dalam hatinya, merasa gemas melihat Ara makan.
"Kairi," panggil Marva, namun tidak ada sahutan, sehingga Ara pun menoleh ke arah Kairi yang berada di sampingnya, membuat wajah mereka semakin dekat.
Mereka bertatapan cukup lama hingga Luke turun tangan untuk menyadarkan mereka berdua.
“Kairi,” ucap Luke sambil menyentuh tangan Kairi yang berada di meja, membuat mereka berdua terkejut dan memalingkan muka.
“Apa?” tanya Kairi berusaha mengontrol perasaannya.
“Kau mau pesan apa? Marva tadi bertanya padamu,” kata Luke sembari menunjuk Marva yang sedang berdiri menatapnya.
“Ah, samakan saja seperti punyamu,” jawab Kairi dan kembali memperhatikan Ara yang sedang makan di sampingnya.
Setelah Marva pergi untuk memesan, Ara mati-matian menahan agar pipinya tidak bersemu merah karena sadar ditatap Kairi dari tadi, yang membuatnya sangat malu.
“Kamu suka susu, kan?” tanya Kairi lembut kepada Ara, membuat Luke dan Kia terkejut melihat sikap Kairi yang sangat berbeda kepada Ara.
“Iya,” jawab Ara gugup, bertanya-tanya dari mana Kairi tahu bahwa ia sangat menyukai susu selain dari guru-guru dan Kia.
“Kebetulan aku tidak sengaja membeli susu, karena aku tidak suka jadi untukmu saja,” kata Kairi sambil memberikan susu itu pada Ara.
“Terima kasih,” ucap Ara.
Luke yang ada di sana hanya tersenyum, mengetahui kenyataannya. Kairi bukan tidak sengaja membelinya, namun sengaja membelinya. Bahkan di mobilnya pun ada stok susu. Saat dia meminta susu itu, ternyata itu untuk Ara. Kairi benar-benar sudah bucin padahal pendekatan saja belum dimulai.
Tak lama kemudian, datanglah Marva bersama seorang pelayan yang membawa pesanan mereka. Mereka pun makan setelah melihat Kairi yang selalu mencuri-curi pandang ke arah Ara.
Setelah mereka selesai makan, mereka berdiri dan akan kembali ke kelas masing-masing. Saat Ara berjalan di depan mereka, tiba-tiba dari arah depannya terlihat Ruby yang berjalan tanpa melihat.
Kairi yang melihat itu buru-buru menarik Ara ke arahnya, membuat Ruby terjatuh karena rencananya untuk menubruk Ara tidak berhasil. Ruby pun terjatuh, makanan berceceran di mana-mana, dan piring pecah berserakan.
“Hiks... hiks...” Ruby menangis terduduk terisak karena terjatuh, tampak mengepalkan kedua tangannya, namun orang-orang tidak menyadari itu karena sibuk melihat keadaan kantin yang kacau.
“Ruby,” kata Arya yang masuk ke dalam kerumunan orang-orang karena mendengar Ruby menangis. “Ada yang sakit? Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Arya sambil berusaha membantu Ruby untuk bangun dari duduknya yang bersimbah di bawah.
“Hiks... hiks... tadi aku sedang berjalan dan tidak sengaja tersandung kaki Ara. Arya, mungkin Ara tidak sengaja, jadi jangan marah padanya karena aku tidak apa-apa,” jawab Ruby yang menyatakan bahwa ia terjatuh karena Ara.
Kairi yang ada di sana merasa geram karena jelas-jelas Ara berada di dalam pelukannya dan sangat jauh dari jalan yang Ruby lalui tadi. Murid-murid di sana berbisik-bisik karena Ruby membuat ulah kembali, semakin memperlihatkan sifat Ruby yang sebenarnya.
Arya pun mendongak dan melihat Ara yang menatap dingin ke arahnya, membuatnya merinding karena bukan hanya Ara yang menatapnya begitu, tapi juga Kairi. Dan lagi, dia tidak akan berani mengusik Ara karena dia masih sangat jauh di bawah Ara.
“Apa?” tanya Ara menatap Arya yang sedang menatap ke arahnya.
“Tidak apa-apa,” jawab Arya tergagap, berusaha membantu Ruby pergi dari kerumunan itu karena dia tidak ingin berurusan dengan orang-orang itu.
Raina berdiri di ujung kantin, melihat Arya yang datang menolong Ruby padahal jelas-jelas tadi dia baru saja berjanji tidak akan pernah terlibat dengan Ruby lagi.
Saat Arya melihat sekeliling, dia melihat Raina yang menatapnya dingin dan pergi dari kantin, membuat Arya sangat terkejut sekaligus merasa bersalah karena mengingkari janjinya lagi.
Flashback
Saat itu, Raina sedang berjalan di koridor sekolah lantai 1, dan tiba-tiba ada yang menariknya menuju taman belakang yang sepi. Raina mengenali orang yang menariknya itu.
“Lepas,” ucap Raina dingin.
“Sayang, aku mau jelasin ke kamu tentang aku dan Ruby,” ucap Arya, yang ternyata adalah Arya.
“Mau jelasin apa lagi? Kita udah ga ada hubungan lagi dan gak perlu ngejelasin apa-apa lagi,” ucap Raina memandang Arya tajam.
“Aku ga mau putus dari kamu, dan pertunangan kita bakal terus berlanjut karena aku ga mau kehilangan kamu, sayang,” ucap Arya sambil menggenggam kedua tangan Raina.
“Jelasin, aku mau denger gimana penjelasan kamu yang bakal bikin aku ga jadi batalin pertunangan kita,” kata Raina menatap Arya.
“Aku sama Ruby itu cuma sebatas teman. Kalau aku sering bantu dia itu karena dia ga ada yang bantu dan ga mungkin aku diem aja karena dia temanku. Dan soal aku yang sering keluar sama dia itu cuma kebetulan. Saat aku keluar kita ga sengaja ketemu dan itu pas kamu ngeliat aku sama dia padahal nyatanya aku gak pergi sama dia,” ucap Arya.
“Aku janji dari saat ini aku ga bakal bantu dia lagi dan bakal ngejauhin dia karena aku ga mau kehilangan kamu, Raina. Kamu itu dunia aku. Selama ini kita selalu bareng-bareng dan aku ga mau cuma karena Ruby hubungan kita rusak,” tambah Arya yang terus menjelaskan agar Raina percaya lagi padanya.
“Aku ga butuh janji kamu, aku butuh bukti nyata. Aku bakal pertimbangkan ini semua kalau ucapan kamu terbukti. Ingat itu,” kata Raina berlalu dari hadapan Arya.
Flashback off
Sementara itu, Ara baru tersadar bahwa sejak tadi dia berada dalam pelukan Kairi. Hal ini benar-benar membuatnya malu, sehingga tanpa sadar ia menyembunyikan kepalanya di dada Kairi, membuat pipinya semakin merah. Kairi yang melihat tingkah Ara tersebut tersenyum, merasa bahwa Ara sangat menggemaskan.