Kesucianku direnggut oleh pria tak dikenal, pada malam itu aku terjebak hujan sepulang kerja. Seingat ku, aku di ajak oleh seorang yang mengatas namakan perusahaan untuk mengantarkan ku pulang.
Tapi, aku berakhir di sebuah kamar yang asing bagiku.
"Ya inilah tempatku disekap hingga hari ini, entah bagaimana aku bisa meloloskan diri dari cengkraman Pria ini. Sialnya dia sangat berkuasa hingga membuatku tak berdaya melawannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK TERBURU-BURU
Sebuah mobil sport melaju kencang membelah jalanan sore itu, dengan cepat mobil itu memasuki sebuah penthouse megah dan memarkir mobilnya di sana. Akhirnya Reina menghela nafasnya setelah sampai di rumah.
Sesampainya di penthouse Reina lantas bergegas menuju kamar mandi untuk berendam mencoba menyegarkan tubuhnya dan pikirannya yang penat, sudah lebih dari satu bulan ia tinggal bersama Jeffir di penthouse megah milik pria itu. Namun, ini kali pertamanya ia menggunakan bathub di kamar mandi mewah di kamarnya.
Ketika sedang berendam Reina kembali teringat tindakan bodohnya, yang mencoba mengakhiri hidupnya ketika di rumah sakit menaiki lantai teratas dan mencoba melompat dari atap gedung. Kalau saja saat itu Jeff tidak datang dan menyelamatkannya Belinda tentu akan merasa menang atas perbuatan keji yang telah menjualnya, kini Reina benar-benar menyesali perbuatannya.
Setelah berendam cukup lama ia akhirnya keluar dari bathtub, mengeringkan tubuhnya lalu memakai piyama berwana merah muda miliknya setelahnya dengan sedikit mengantuk Reina perlahan melangkah keluar kamar mandi.
"Astaga!" Tubuh Reina benar-benar melonjak kaget, kantuk yang menyerang pun mendadak hilang dalam seketika saat dia melihat Jeffir duduk di atas ranjangnya.
Entah secara kebetulan atau apa pria itu juga mengenakan piyama yang sama persis seperti yang ia gunakan, hanya saja warna piyama yang di pakai Jeffir merah tua bukan merah muda. Jeffir duduk santai di atas ranjang, kakinya ia selonjor kan dengan rileks, sedangkan tubuhnya bersandar pada kepala ranjang sambil membaca sebuah buku.
Mendengar pekikan Reina, Jeff segera menutup buku yang ia baca lalu menatap Reina, "Kenapa kau sangat lama sekali di kamar mandi? Apa yang kau lakukan? Aku hampir saja mendobrak masuk kalau saja satu menit lagi kau tidak keluar," Jeff terkekeh.
Mendengar apa yang di katakan Jeffir, apalagi sambil terkekeh itu menambah rasa keterkejutan Reina, "Itu... aku... anu," tangannya dengan gugup menunjuk-nunjuk ke arah kamar mandi, "aku... berendam."
Jeffir memandangi Reina yang berdiri dengan canggung, di matanya kini perempuan itu terlihat sangat mempesona walau hanya mengenakan piyama bahkan dibandingkan dengan ketika menggunakan pakaian mewah dan riasan.
"Kemarilah," pinta Jeffir menggunakan gesture tangan memanggil Reina supaya mendekat.
"Aku... aku bisa duduk di sofa saja, kau bisa gunakan ranjangnya." gugup dan takut kini terasa penuh menyesakkan dadanya.
Melihat Jeffir hanya diam dan menatapnya membuat Reina sedikit takut, "Baiklah," dengan enggan Reina akhirnya melangkah menuju ranjang lalu duduk memunggungi Jeffir dengan kaku di sisi ranjang yang jauh dari pria itu.
Dulu mungkin Jeffir akan langsung marah ketika Reina sangat susah untuk patuh padanya, namun sekarang melihat Reina seperti itu malah membuatnya semakin gemas. Ia bisa melihat perempuan cantik itu sedang berusaha mematuhinya walau sangat terlihat Reina sangat takut padanya.
Rasa takut perempuan itu padanya tentu saja bukan sepenuhnya salah Reina tapi salahnya sendiri, sejak awal pertemuan mereka, Jeffir sudah memperlakukannya dengan sangat buruk bahkan keji.
Jeffir meletakkan buku yang tadi ia baca di atas nakas disamping ranjang, lalu dengan senyuman dibibirnya ia mendekati Reina. Menempatkan kedua tangannya di bawah lengan Reina, dan mengangkat perempuan itu dengan gampangnya seperti sebuah boneka kain yang ringan kemudian menempatkan perempuan itu tepat di hadapannya.
"Akhh!" Reina memekik kaget dengan apa yang dilakukan Jeffir padanya, ia tidak mencoba melawan namun ia tetap mengumpulkan tenaganya untuk cadangan ketika harus melakukan perlawanan kalau misal Jeffir tiba-tiba menyerangnya.
Setelah Reina duduk di hadapannya, Jeffir segera memeluk perut rata perempuan cantik itu dan membuat Reina mau tidak mau bersandar pada tubuh kekar pria tampan itu, tubuh Reina benar-benar terlihat tegang dan kaku. Jeffir menghirup aroma shampo pada rambut basah Reina, "Kau takut padaku?" tanya Jeffir, lalu melanjutkan pertanyaan, "Bisakah aku memperbaikinya?"
"Aku minta maaf atas sikap burukku sebelumnya. Kau tahu? Ini pertama kalinya dalam hidupku aku meminta maaf pada Orang lain." Jeffir menyandarkan dagunya di bahu perempuan cantik itu, "Katakan sesuatu?"
"Bisakah... bisakah aku mempercayai kata-katamu?" dengan gugup Reina berusaha membuka mulutnya untuk berbicara.
"Tentu, aku selalu bersungguh-sungguh dengan semua kata-kataku. Apa pernah kau bermain-main?"
Dipunggungnya Reina bisa merasakan detak jantungnya Jeffir yang berdegup begitu kencang, "Apa kau baik-baik saja?" tanya Reina.
Jeffir menanggapinya, "Hmm?"
"Detak jantungmu sangat cepat," Reina berkata dengan polos dan penuh nada kekhawatiran.
Jeffir terkekeh terasa ada yang menggelitik dalam hatinya, "Ini karenamu,"
"Karenaku?" Reina berpikir apa yang ia lakukan sampai bisa membuat jantung Jeffir berdetak begitu cepat, lalu Reina mengingat saat di rumah sakit, ketika ia mencoba melakukan bunuh diri dan dia memukul-mukul dada bidang pria itu dengan kuat. "Pasti... ini semua karena waktu di Rumah sakit aku memukuli dadamu dengan kuat. Maafkan aku..." Reina meminta maaf dan menundukkan kepalanya dengan polos, dan penuh penyesalan. Meskipun begitu saat itu ia merasa membenci Jeffir, tapi tidak ada niatan sedikit pun untuk menyakitinya.
Mendengarkan permintaan maaf setulus hati dari Reina membuat tawa Jeffir seketika pecah. "Hahahaha... bukan, bukan karena itu."
"Hmm?" Reina mengerutkan keningnya sampai alisnya terajut, "lalu?" ia sedikit menoleh kebelakang menatap Jeffir yang tengah terkekeh.
Jeffir menghentikan tawanya balas menatap Reina, "Sudah aku bilang, kalau aku... jatuh cinta padamu," dari mata bulat dan jernih Reina, tatapan Jeffir turun ke bibir tipisnya yang sewarna dengan sekuntum mawar kini sedang sedikit terbuka, lalu Jeff memegang dagu Reina dengan lembut mendekatkan wajahnya ke wajah Reina dengan perlahan, mengikis jarak antara bibir mereka hingga kini bibir keduanya bertemu dan saling menempel satu sama lain.
Bibir mereka hanya diam menempel untuk beberapa saat sebelum bibir tebal Jeffir bergerak bersentuhan dengan bibir tipis Reina dengan lembut.
Mata Reina terbelalak mendapatkan sebuah ciuman dari Jeffir, ini bukan ciuman pertama mereka. Tapi, ini jelas untuk pertama kalinya pria itu menciumnya dengan cara yang begitu lembut penuh dengan perasaan dan entah kenapa membuat degup jantung Reina ikut berdetak dengan cepat seolah saling berpacu dengan degup jantung Jeffir. Kemudian, Reina memejamkan matanya.
Jeffir semakin memperdalam ciumannya menikmati bibir tipis lembut yang manis dan penuh candu itu, menggigitnya dengan lembut lalu menyesap bibir Reina dengan kuat seolah ingin memakan bibir milik perempuan cantik itu sampai habis. Mendapat sesapan yang begitu kuat di bibirnya membuat Reina mengerang, lalu sedikit membuka bibirnya, mendapatkan kesempatan itu Jeffir tidak menyia-nyiakannya ia langsung memasukkan lidah nakalnya ke dalam mulut Reina.
Satu tangan Jeffir mencoba memegang tengkuk Reina, agar perempuan itu tidak menjauhkan kepalanya dan melepaskan ciuman mereka. Sebenarnya Jeff inginkan lebih dari sekedar ciuman, tapi ia juga tidak mau terburu-buru hingga pada akhirnya Jeff mengakhiri adegan itu.
"Terima kasih untuk malam ini, tidurlah," Jeffir langsung berbalik bangkit berusaha meninggalkan Reina. "Happy nice dream my dear," perlahan dia bergegas pergi, sementara Reina diam mematung menatap Jeffir dengan rasa bingung.
Semangat up datenya ya...
kok tiba2 langsung diperkaos gitu..
Meskipun lambat up semoga kalian dengan setia menunggu kelanjutan cerita ini big love you untuk pembaca semua ♥️♥️♥️
bagus ceritanya 👍👍👍