Aisyah harus kembali ke desa tempat ia di lahirkan...karena kematian Kakak dan Kakak iparnya.
Dia juga harus menjadi ibu bagi kedua keponakannya, Aira dan Airen .
Demi menjaga kedua keponakannya, akhirnya Aisyah bekerja di balai desa sebagai sekdes.
Hingga , kepala desa meninggal dan di gantikan oleh orang dari kota kiriman dari pemerintah. Kepala Desa baru cukup arogan dan terkesan galak.
Salah sedikit saja , pasti akan jadi masalah besar. Namun begitu ..banyak gadis desa maupun ibu - ibu mengidolakannya , karena ketampanan sang lurah dan statusnya sebagai Hot Duda.
Entah karena hal apa , Pak lurah itu selalu saja berseteru dengan Aisyah....Akankah permusuhan antara Aisyah dan Pak lurah berubah jadi cinta....
Ikuti kisahnya.....Pak Lurah Galak Mencari Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wahyoeni"23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
" Kak Bian ". Panggil Samudra , ia ingin menyelesaikan semuanya biar tidak ada lagi masalah antara dirinya dengan sang Kakak.
" Hemm ". Mahesa seakan tau apa yang akan Adiknya itu bicarakan.
" Aku sudah ikhlas Kak ".
" Apanya yang kamu ikhlasin Sam ?". Dasar kakak enggak ada akhlak...sudah tau maksud dari ucapan Samudra , tapi ia malah sengaja meledek adiknya.
" Aisyah Kak , aku ikhlas kalau Aisyah jadi istri kak Bian ".
" Ya memang harus begitu Sam , mau kamu ikhlas atau tidak , pada kenyataannya Aisyah tetap akan jadi istriku ". Jawaban yang makin menyebalkan.
Samudra menarik nafasnya dalam , dia harus sabar menghadapi Kakaknya , yang ia tau pasti sedang mengerjainya.
" Jangan sakiti dia Kak ....!"
" Tentu saja tidak akan Sam ". Samber Mahesa.
" Aku belum selesai ngomong kak ". Akhirnya Samudra kesal juga.
" Ohhh belum ya , ya maaf ...lanjutin lagi deh ". Mahesa terkekeh melihat wajah adiknya yang sudah berubah masam.
" Aku akan merebutnya jika kakak sampai melakukan hal itu ".
" Aku pastikan Itu tidak akan terjadi Sam , karena apa ?? Karena aku lah yang paling mencintai Aisyah ".
" Makanya kamu harus cepat move on..enggak usah nunggu Aisyah lagi , dia sudah cinta mati sama Kakak kamu ini , lihat saja perutnya sudah mulai membesar ".
" Kamu tau Sam , tiap hari susah payah aku begadang mengerjainya , akhirnya jerih payahku berhasil juga , dua benih ku mulai tumbuh di perut Fathiya ".
" Ck...apa perlu kakak ceritakan itu pada ku sih , dan kenapa manggilnya Fathiya ?".
" Ha..ha..ha..Itu karena biar kamu kepingin cepat - cepat kawin Sam...eh salah nikah dulu Sam baru kawin ".
" Panggilan Fathiya itu panggilan sayang buat istri aku , kamu enggak boleh ikut - ikutan ya Sam ".
" Dih , Kak Bian kenapa jadi makin mengesalkan begini sih setelah menikah ?".
" Aku juga enggak tau , bersama Fathiya aku sangat merasa sangat nyaman , jadi bila sehari saja tidak bertemu apalagi menyentuh dia , aku merasa gimana gitu ,ibarat makan tanpa lauk ".
Samudra kembali berdecak...". Ck....udah bucin parah berarti ". Ucapnya lirih , tapi Mahesa mendengarnya.
" Kamu benar Sam...tepatnya bukan aku , kita berdua sudah bucin parah, susah untuk di pisahkan, Fathiya juga enggak bisa jauh dariku ".
Samudra memutar matanya jengah , seharusnya ia tidak bertanya , jika ia tau jawaban kakaknya makin membuatnya kesal.
Dan benar saja , tak lama ada suara Aisyah memanggil suaminya.
" Mas....Mas Bian ". Ucapnya sedikit keras.
" Tuh kan apa aku bilang , Nyariin kan...Fathiya itu enggak bisa tidur kalau enggak aku kelonin ".
" Mas di sini sayang ". teriak Mahesa agar Aisyah mendatanginya.
Samudra sampai melongo dengan ucapan Mahesa barusan .
" Kayaknya Mas perlu periksa ke dokter jiwa deh ".
Bukannya marah , Mahesa kembali tertawa , ia suka sekali melihat adiknya kesal .
" Loh lagi sama Samudra ya , aku ganggu enggak nih ?".
" Enggak sayang , sini deh, duduk dekat Mas !".
" Lagi ngobrolin apa Mas ?".
" Ini kayaknya Samudra minta di cariin calon istri , di kampung teman kamu ada yang jomblo enggak sayang?".
Samudra hanya diam , malas menanggapi Mahesa , karena ujung - ujungnya dia sendiri yang akan kesal.
" Siapa ya Mas ?".
" Kamu malah nanya Mas , kalau aku taunya si Lusi ".
" Hah Lusi ?? Yang benar saja kamu Mas ". Aisyah menyenggol lengan suaminya , lalu mereka berdua tergelak.
Samudra menatap sinis dua pasangan di depannya ini.
" Kamu itu kalah sama mertua kakak Sam , dia sebentar lagi akan menikah dan dapatnya daun muda , ya meski udah janda tapi dia kan seumuran dengan kakak Fathiya , nanti deh pas acara kamu akan lihat calon istri mertua aku ".
" Ih Mas Bian , malah ngomongin Bapak ku ".
" Bukan ngomongin sayang , biar Samudra juga kepengen cepat - cepat nikah , malu lah masa kalah sama yang tua ".
" Enak banget ya kalian berdua, ngomongin orangnya ada di depannya ".
" Dari pada ngomongin di belakang kan susah orangnya enggak tau juga , mending di depan , jadi langsung tersampaikan dengan baik".
" Dah lah , kalian ngobrol berdua , aku mau ke kamar ". Samudra memilih pergi dari pada matanya sakit melihat Mahesa yang semakin menunjukkan kemesraannya pada Aisyah....Kakaknya itu tidak tau tempat, dan lebih ke sengaja mempertontonkan di hadapannya.
" Jangan lupa cuci kaki dan sikat gigi Sam !".
Samudra tidak lagi menghiraukan ucapan Mahesa.
" Mas ini , makin kesini galaknya makin hilang, tapi makin gila ".
" Iya ...Mas makin gila , tergila - gila padamu istriku ".
" Mending Mas galak deh , dari pada begini , aku jadi merinding ".
" Suami romantis kok enggak suka, ayo kamu harus tidur, wanita hamil enggak boleh begadang ".
Siangnya, Mama Zila mengajak Aisyah berbelanja ke Mall , Aca pun tidak ketinggalan.
" Mama nyuruh aku ikut buat di jadikan supir sama tukang angkut - angkut gitu Ma ?".
" Yang ikhlas Bian , apa kamu mau istri kamu kecapean karena bawa banyak barang ".
" Enggak sih , tapi ya enggak aku juga , aku kan maunya mendampingi Fathiya aja , aturan Mama ajak bibi , kan di rumah banyak orang ".
" Mas ". Aisyah mengelus tangan suaminya sambil menggelengkan kepalanya.
" Tuh , dengerin istri kamu, jangan melawan Mama!".
" Iya Mama ".
Mereka sibuk berbelanja kesana kemari , hingga tanpa terasa Aisyah pun agak menjauh dari Mama Zila, Mahesa sendiri sedang sibuk mengurus Aca yang minta ini dan itu.
Hingga ada seseorang yang mendekati Aisyah dari belakang.
" Ais.....ternyata kamu di sini sayang ". suaranya berbisik di telinga Aisyah.
Seketika ia membeku, karena mengenal suara itu.....Aisyah hanya diam , ia tidak berani menoleh ke belakang.
Aisyah berharap sang suami mendatanginya. tangannya pun terasa dingin.
Dari kejauhan Mahesa yang sempat melihat istrinya diam mematung pun akhirnya curiga.
" Ma , titip Aca dulu, aku mau melihat Fathiya di sana ". Mahesa berjalan cepat menghampiri Aisyah.
" Sayang...hai sayang, ada apa ?".
" Mas...Mas Bian ". Aisyah berani berbalik mendengar suara suaminya, ia pun memeluk erat Mahesa.
" Mas , aku takut ".
" Takut apa , kamu kenapa sih , tangan kamu sampai dingin begini?".
" Tadi ada yang memanggil namaku Mas , dan suaranya seperti suara Bang Sapto ".
" Masa sih ". Mahesa pun celingak celinguk menyapu seluruh ruangan di mana ia dan istrinya berdiri.
" Kamu melihatnya ?". Aisyah menggelengkan kepalanya.
" Ya sudah kamu tenang dulu, ayo kita ke tempat Mama ". Mahesa menggandeng sang istri.
" Ma , sepertinya Fathiya kurang enak badan , apa Mama masih mau belanja ".
" Kamu sakit sayang, kalau begitu kita pulang saja , lagian ini sudah semua kok , ayo Bian !".
Dari jauh sepasang mata itu masih memandangi wanita pujaannya...
" Kamu bahagia Ais di atas penderitaan aku ".
" Dan aku tidak akan terima semua itu..".
Bersambung....
Like ,vote dan comment ya....hadiah juga tidak di tolak ....terima kasih 🙏😘👍🏻