Kecelakaan mengerikan membuat Pelangi Jingga Cakrawala lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup dan harapan akan mimpinya menjadi seorang balerina terkenal. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Lentera Bentang Nirbatas yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi bocah itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Pelangi yang penuh amarah, perlahan-lahan Lentera mampu membuat Pelangi mau membuka diri.
Hal itu membuat Rimba Fajar Cakrawala jatuh hati pada Lentera. Akankah Rimba mampu meyakinkan jika cinta yang ia tawarkan bukanlah atas balas budi karena telah membuat anaknya bisa berjalan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Pelangi membawa tongkat hitam tipis yang lebih kelihatan untuk bergaya dari pada untuk menopang kaki, bocah itu terlihat lebih menggemaskan dengan tongkat barunya.
Sejak siang tadi Lentera terus mengomel karena khawatir, wanita itu bahkan menawarkan diri menemani Pelangi ke tempat les, namun Pelangi menolak. "Rimba, kau Papanya. Seharusnya kau tidak membiarkan Pelangi pergi ke tempat les sendirian," omelnya tanpa ia sadari.
Alih-alih marah di omeli Lentera, Rimba justru tersenyum melihat Lentera begitu mengkhawatirkan putrinya padahal dulu Mentari tak pernah sebegitunya mencemaskan Pelangi di saat putrinya sedang sakit atau ketika baru bisa berjalan.
"Aku akan baik-baik saja, Ammaku sayang." Pelangi mencium pipi Lentera. "Aku hanya dua jam berada di tempat les, dan minggu depan aku akan membuang tongkat ini," kemudian ia beralih ke Papanya, setelah itu mengedipkan satu matanya ke arah Papanya sebelum akhirnya ia masuk mobil. "Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," Rimba membantu putrinya menutup pintu mobil kemudian melambaikan tangan.
Lentera pun melambaikan tangan sembari menjawab salam Lentera. "Walaikumsalam..." wajahnya nampak sedih seperti orang yang akan di tinggal jauh.
"Aku sudah menitipkan Pelangi pada guru lesnya," ucap Rimba sembari menggosok-gosokan tangan ke tekuknya. "Well bagaimana kalau kita pergi ke mall?" ajaknya dengan hati-hati agar tak terkesan seperti ABG yang tengah mengajak seorang gadis kencan.
Lentera mengerutkan keningnya, bagaimana bisa pria itu mengajaknya jalan sementara ia tengah mencemaskan Pelangi yang baru saja pergi.
"Maksudku, kita beli kado untuk hadiah ulang tahun Pelangi..."
Lentera nampak berpikir, tak pernah sekali pun ia jalan berduaan dengan seorang pria, namun di satu sisi ia pun ingin memberikan kado untuk Pelangi di hari istimewanya besok. "Baiklah, aku ganti baju dulu."
Sepuluh menit kemudian Lentera kembali ke teras dengan pakaian casualnya, selama hampir enam bulan Lentera tinggal di kediaman Rimba, baru tiga kali Rimba melihat Lentera mengenakan pakaian casualnya. Saat pertama kedatangannya, saat jalan dengan adik ipar dan ibunya, dan sekarang. Sehari-hari Lentera mengenakan seragam terapis atau mengenakan daster tidur.
Rimba tak bisa mengatakan bahwa penampilan Lentera kali ini adalah penampilan terbaiknya, ia hampir saja tak bisa memalingkan wajahnya dari gadis itu. "Cantik," gumamnya.
"Maksud Pak Rimba?"
"Eh!" Rimba menggelengkan kepalanya. "Mari kita berangkat," ia buru-buru membuka pintu mobil untuk Lentera sebelum membuat gadis itu tak nyaman jalan dengannya.
Dalam perjalanan, Rimba menggunakan kesempatan itu untuk mengenal Lentera lebih jauh tanpa mengingatkannya pada kejadian pemerkosaan yang di alaminya. "Waktu itu kau bilang, kau punya adik. Dimana dia sekarang?" tanya, membuka obrolan.
"Dia tinggal di Bali," jawab Lentera. "Dia kuliah dan bekerja sebagai pemandu wisata ketika musim liburan, jadi kami jarang bertemu. Paling saat aku sedang liburan baru aku mengunjunginya di Bali, lumayan liburan gratis. Dia memandu wisatawan hingga ke Lombok."
"Oh ya?" Rimba terlihat bersemangat mendengar cerita Lentera. "Aku memiliki beberapa teman yang punya hotel sekaligus travel wisata Bali dan Lombok, dia bekerja sama dengan beberapa mahasiswa yang ingin kuliah sembari bekerja saat liburan. Apa nama travel tempat adikmu bekerja?"
"Fantastic Journeys."
Rimba mengangguk, nama yang tak asing di telinganya. "Aku kenal dengan pemiliknya. Pelangi pasti senang jika liburan dulu ke Bali sebelum Januari nanti dia sekolah."
Lentera tersenyum. "Ya, anak-anak pasti suka liburan. Kebetulan sesi terapinya juga sudah selesai, dia bisa berlatih berjalan di mana saja dan kapan pun dia mau.... Jadi kontrak kerjaku sudah selesai."
"Ya aku akan membebaskanmu dari kontak kerja, tapi mungkin kita akan membuat kesepakatan lainnya," Rimba tersenyum, sebelum Lentera menanggapi ucapannya, Rimba menepikan kendaraannya di parkiran dan keluar dari mobil, ia memutar dan membukakan pintu untuk Lentera.
"Yuk!" ia mengulurkan tangannya ke arah Lentera.
Dengan ragu-ragu, Lentera menerima tangan Rimba. Rasanya terlalu aneh bagi Lentera jalan berduaan dengan seorang pria sambil bergandengan tangan, sungguh hal yang tak biasa baginya. "Mainan apa yang Pelangi paling sukai?" pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu Lentera tanyakan sebab Pelangi memiliki satu ruangan khusus untuk menyimpan maiannya, layaknya toko mainan yang pindah ke rumahnya.
"Apa pun yang di berikan dia pasti suka," jawab Rimba. "Dia selalu menghargai pemberian dari siapa pun, bahkan sekali pun dia sudah memilikinya."
Lentera mengangguk setuju, beberapa kali ia melihat Jagat dan Rembulan membawakan mainan untuk bocah itu, Pelangi selalu menerimanya dengan riang, hal itu yang membuat Lentera menyayanginya.
Memasuki toko mainan mata Lentera tertuju pada mainan bola bekel yang dulu ia sering mainkan bersama ibunya, ia langsung punya ide untuk membelikan Pelangi mainan tersebut.
Tak hanya membelikan mainan Lentera dan Rimba pun membelikan Pelangi pakaian dan sepatu balet baru, untuk motifasi Pelangi berjalan lebih lancar lagi. "Aku masih mencemaskannya," ucap Lentera setelah mereka selesai berbelanja pakaian. "Apa tidak sebaiknya kita pergi ke tempat lesnya saja?"
Rimba melihat jam di pergelangan tangannya. "Masih ada satu jam lagi, kau mau berbelanja kebutuhanmu?"
Lentera menggeleng. "Tidak ada barang yang aku butuhkan."
"Kalau begitu kita makan dulu ya, setelah itu kita ke tempat les Pelang. Tempatnya enggak jauh kok dari sini hanya sekitar lima belas menit." Rimba menggandeng Lentera menuju restoran Jepang, tempat ia dan keluarganya biasa makan.
Langakah Rimba terhenti di toko bunga, Rimba yakin semua wanita menyukai bunga. "Tunggu di sini sebentar ya," ia melepaskan genggamannya dan masuk ke toko tersebut, Rimba memilihkan bunga mawar putih untuk Lentera. Rimba sendiri tak tahu Lentera menyukai bunga apa tapi mawar putih melambangkan ketulusan, dan itu yang ingin ia tunjukan pada Lentera.
Rimba kembali dengan sebuket mawar putih yang begitu cantik, baru satu kali ini dlam hidupnya Lentera menerima bunga dari seorang pria. Lentera takut, takut cintanya tak berbalas pada Rimba meski Pelangi selalu mengatakan Papanya mencintainya tapi Rimba tak pernah mengatakannya, kalau pun mengataknnyaLentera pun belum siap dengan jawaban apa yang akan ia berikan, ia belum siap untuk memiliki hubungan dengan siapa pun. "Terima kasih," ucap Lentera sembari menerima bunga tersebut.
Setelah makan, Rimba dan Lentera menjemput Pelangi di tempat lesnya. Jantung Lentera berdegup kencang ketika Pelangi masuk mobil, ia membayangkan Pelangi akan mengatakan bahwa dia senang dengan aktivitas batunya dan tak membutuhkan Lentera lagi, tapi Pelangi tak mengatakan itu. Bocah itu justru terlihat senang di jemput oleh Lentera, ia mencium dan memberikan pelukan hangatnya.
Bocah itu justru mengatakan sudah tidak sabar mengundang teman-temannya datang ke rumah dan mengenalkan Lentera pada teman-temannya.
"Kemarin Papa sudah nawarin mau di rayakan atau tidak ulang tahunmu, kamu bilang tidak mau, mau tunggu sampai masuk sekolah saja bikin acaranya syukurannya."
Pelangi menganggukan kepalanya. "Iya nanti saja, saat masuk sekolah aku mau undang semuanya.... Teman-teman sekolah, teman-teman les, teman-teman club balet, club basket pokoknya semuanya."
Lentera hanya tersenyum, ia sendiri tak yakin apakah dirinya masih berada di rumah Rimba ketika hari itu tiba.
berakhir bahagia utk semuaa..lentera juga sudah berhasil mngatasi trauma atas sentuhan laki2...
terimakasih Kak Irmaa utk karyanya..
mohon maaf baru bs menyelesaikan bab ini hingga akhir..🙏
Kau harusnya bs bangkit melawan traumamu dan jangan berpikiran buruk terus. Jika Pelangi saja bs smbuh dan bangkit..kaupun harusnya jg bisa.
Apalagi jika pelaku adalah org terdekat..alhasil mereka tdk mau mengungkapkan dan melaporkan ke Polisi.
Peraayaan ulang tahun Pelangi
Hamilnya Rembulan
dan akhirnya Lentera mau menerima lamaran Rimba dengan restu Senja..🥰🥰🥰
semoga tak ada lagi halangan utk mererka smua
Tak mungkin kan Eyang merusak kebahagiaan Pelangi...😉