Lidah itu sangat kecil dan ringan. Tapi bisa mengangkatmu ke derajat yang paling tinggi, tapi bisa menjatuhkanmu ke derajat paling rendah.
"Karena ketika sudah kecewa, apapun yang baik akan tetap terlihat buruk."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
...~Happy Reading~...
Di dalam kamar mandi nya, Kirana hanya menyalakan keran untuk mengelabuhi Hilal, seolah memberitahu bahwa memang dirinya sedang ada di dalam. Hilal memang mengira bahwa Kirana sedang buang air di dalam sana, tapi fakta nya, kini wanita yang tengah hamil besar itu sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisan nya. Ia mengepalkan tangan dengan sangat kuat sambil menggigit ujung kain cadar nya agar suara nya tidak keluar.
Percayalah, Kirana sudah berjuang untuk menenangkan dirinya. Agar tidak membuat orang di sekitar nya khawatir, termasuk sang suami. Ia juga tidak ingin terus berada di zona menyakitkan itu, tapi sekuat apapun Kirana berusaha, maka hatinya kian terasa sesak. Hanya mendengar suara pintu yang di ketuk dan mendengar suara orang lain saja sudah membuat nya kembali ketakutan.
‘Tenang Kirana, itu bukan siapa siapa. Itu hanya kak Hasna, jangan takut Kirana. Astagfirullah aladzim!’ Sambil mengusap perut besar nya, ia terus berusaha menenangkan diri dan meyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada yang menyakiti nya lagi. Semua orang di sana baik, dan tidak akan ada yang membuat nya terluka.
...🕊🕊🕊...
Makan malam sudah tiba, perasaan Kirana sudah terasa sedikit lebih tenang. Ia pun sudah bisa mengikuti makan malam bersama dengan keluarga suami nya. Selain kedua orang tua Hilal, di sana juga ada kedua kakak dan kakak ipar Hilal yang juga sedang datang untuk ikut memeriahkan acara Hilal esok hari.
“Alhamdulilah, gitu dong Na. Akhirnya kamu ikut juga, kan kalau kaya gini jadinya rame, kita bisa kumpul bersama, jarang jarang kan kita kaya gini,” ucap Milla tersenyum saat melihat Kirana mendudukkan dirinya di kursi bersama Hilal.
Kirana tidak menjawab, ia hanya bisa membalas ucapan kakak ipar nya dengan sebuah senyuman simpul di wajah nya. Dan berikutnya, selama makan malam berlangsung, semuanya saling bercerita dan kembali membahas soal rencana esok hari. Sedangkan Kirana memilih untuk diam dan fokus pada makanan nya yang entah mengapa terasa sangat pahit di lidah nya.
Padahal, makanan yang kini ia makan adalah makanan kesukaan nya. Makanan yang sengaja dan khusus di buatkan oleh ummi Nila untuk nya, tapi di karenakan perasaan nya yang memang kurang nyaman, membuat makanan itu terasa sangat pahit dan hambar di mulut nya.
“Jadi, besok kalian mau pergi jam berapa?” tanya abah ikut menimpali percakapan anak anak dan menantu nya.
“Acaranya jam sepuluh Abah, jadi mungkin kami akan berangkat jam sembilan,” jawab Hilal seperti biasa, begitu tenang.
“Baiklah, besok pagi Abah masih harus mengisi acara di masjid. Insyallah, Abah akan menyusul nanti sama Ummi.” Usai mengatakan itu, abah Abdul mengajak anak anak nya untuk kembali berkumpul di ruang keluarga. Tapi, saat Kirana hendak beranjak, tangan nya di tahan oleh kakak ipar perempuan nya.
“KIrana, mau bicara sama aku gak?” tanya wanita itu menatap lekat wajah adik ipar nya.
Untuk sesaat, Kirana terdiam, ia menoleh menatap suami nya yang sudah lebih dulu pergi bersama kakak dan ayah ibu nya. Hingga akhirnya ia menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kakak ipar kedua nya ke sebuah ruangan lain.
Kedua wanita itu mendudukkan diri di sebuah kursi di samping kolam ikan sambil menikmati secangkir teh manis, “Kirana, apakah kamu tidak nyaman disini? Kenapa wajah kamu sejak tadi murung?” tanya wanita itu yang tak lain adalah Hasna, kakak kandung kedua dari suami nya.
Sebenarnya, sejak tadi Hasna terus memperhatikan adik ipar nya. Tapi, ia tidka mau menegur nya di depan para keluarga, yang mana nanti nya akan membuat Kirana semakin merasa tidak nyaman. Maka dari itu, ia mengajak adik iparnya untuk bicara berdua. Setelah sore tadi ia ingin menemui Kirana namun wanita itu terlihat begitu lama menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, hingga akhirnya membuatnya urung dan baru ini ia memiliki kesempatan untuk mengajak bicara berdua.
...~To be continue ,.... ...