Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Brak...
Aresha melempar tas ransel nya di atas meja dengan sangat asal. Membuat ketiga sahabatnya terkejut bukan main.
"Kebiasaan deh Sha, bikin gue jantungan saja," dumel Meera duduk tepat di samping Aresha.
"Pagi pagi udah badmoot aja. Nggak tau lo kalau kak Arjuna hari ini bakal pulang?" sahut Veli sambil memainkan handphone di tangan nya.
"Tau ah males gue sama dia," ucap Aresha mengangkat kepala nya bersandar pada kursi. Tidak memperdulikan tatapan teman sekelas nya. Aresha memang selalu bisa menjadi sorotan perhatian bagi siapapun yang melihat nya.
"Tumben tumbenan lo males ngomongin Kak Juna, biasanya paling semangat tuh kalau udah menyangkut kekasih tercinta lo." sindir Stephany yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aresha.
"Mau ngapain lo Sha?" tanya Stephany sedikit takut saat Aresha berdiri menghampiri nya.
"Ikut gue, dan kalian berdua tetap diam di kelas. kabari gue kalau sudah ada guru masuk." tanpa menungu persetujuan dari Stephany, Aresha langsung menarik tangan nya membawa nya hingga keluar kelas.
"Aresha lo mau bawa gue kemana sih?" tanya Stephany yang kesulitan mengimbangi langkah Aresha yang begitu cepat.
"Ke kelas nya Sakra." jawab Aresha membuat Stephany melotot seketika.
"Huh, ngapain?" kejut Stephany seketika itu juga menghentikan langkah nya.
"Mau ngapain sih ke kelas nya Sakra?" tanya Stephany lagi, kali ini raut wajahnya terlihat kesal.
Aresha menghela napas nya kasar. Menatap Stephany dengan tatapan serius nya.
"Ada yang mau gue tanyain sama pacar lo dan gue mau lo temenin gue."
"Kenapa harus gue. Enggak ah gue males ketemu dia. Lagian kemaren dia udah buat gue marah, dan sekarang kita lagi marahan." ucap Stephany ingin berbalik meninggalkan Aresha, namun sebelum itu terjadi Aresha sudah lebih dulu menarik nya dan kembali menyeret tangan nya.
"Aresha apaan sih, lepasin nggak," pekik Stephany meronta ronta, namun Aresha tak memperdulikan nya dan terus berjalan hingga sampai di kelasnya Sakra.
"Kalian ngapain tarik tarikan?" tanya Refal yang kebetulan sedang duduk di depan kelas sendirian.
"Tuh kan gue malu di lihatin Aresha," dumel Stephany yang tidak di perdulikan oleh Aresha.
"Sakra mana?" tanya Aresha to the poin.
"Kok lo yang nyari Sakra, kan pacar nya Step__"
"Kasih tau aja di mana Sakra berada," desak Aresha tak sabaran.
"Ada apa nyariin gue?" Sakra tiba tiba datang dan berdiri di antara Aresha dan juga Stephany.
Aresha mengalihkan pandangan nya ke arah Sakra, berbeda dengan Stephany yang memalingkan wajah nya karena masih merasa marah dengan Sakra yang kemaren kerpergok habis jalan dengan wanita lain.
"Kasih tau gue di mana Arsen tinggal sekarang?"
Sakra tersenyum sinis menatap Aresha.
"Kenapa nyari Arsen? Bukanya waktu itu lo bilang kalau lo nggak peduli sama Arsen?"
"Lo tinggal jawab saja apa susah nya sih. Gue yakin Arsen gak bakal marah kalau lo kasih tau gue sekarang."
"Kenapa harus tergesa gesa Aresha, santai saja kali ngomong nya." sahut Refal membuat Aresha harus mati matian menahan emosi nya. Kenapa rasanya sulit sekali mencari kebenaran tentang Arsen si laki laki badboy itu.
Aresha menghela napas nya pelan. Fikiran nya sedang kacau karena memikirkan kejadian saat di rumah Arsen kemarin, dimana saat barang barang Arsen ada, namun Aresha tak menemukan pemilik barang itu. Lama menunggu namun Arsen tak kunjung datang, membuat Aresha merasa binggung dan khawatir dalam waktu yang bersamaan.
"Pokok nya gue mau__"
"Aresha,"
Ucapan Aresha terpotong karena datang nya Arjuna yang tiba tiba.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Arjuna menatap Aresha dengan pandangan bertanya.
Aresha menghela napas nya lagi, Arjuna datang di saat yang tidak tepat. Untuk pertama kali nya Aresha merasa tak suka dengan kahadiran pria yang di cintai nya.
"Udah mau bel, gue masuk dulu ya," ucap Refal langsung berdiri dan berjalan masuk ke dalam kelasnya.
"Step, aku mau ngomong. Ikut aku sebentar." Sakra menarik tangan Stephany menjauh dari kelasnya, meninggalkan Aresha yang masih terdiam tanpa menghadap ke arah Arjuna.
"Kamu kenapa kok diam saja? Kamu gak suka lihat aku datang?"
"Iya. Aku nggak suka lihat kamu datang." jawab Aresha dengan cepat. Kini tatapan nya sepenuh nya menatap Arjuna.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu bilang? Setelah kamu pergi tanpa bilang bilang aku, kamu pikir aku bakal seneng lihat kamu?" Aresha tertawa sinis. Melihat pria yang di cintai nya hanya bisa diam membuat nya mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa dia mencintai pria seperti ini, oh tidak.. Mungkinkan dirinya masih mencintai pria seperti Arjuna setelah pria itu mengabaikan nya begitu saja?
"Kalau kamu merasa marah karena itu, aku minta maaf,"
"Minta maaf buat apa huh, buat di ulangi lagi?"
Arjuna terlihat gausar. Dia ingin meraih tangan Aresha namun Aresha lebih dulu menghindari nya.
"Udah lah, aku capek, aku mau ke kelas dulu," Aresha melangkah pergi, meninggalkan Arjuna yang masih mematung di tempat nya. Aresha tidak peduli, karena selama dia berada di sana dia akan tetap menjadi tonton gratis seisi kelas karena pertengkaran nya dengan Arjuna yang tak ada habis nya.
Aresha mengetuk pintu kelas nya sebelum masuk. Di lihat nya Pak Beni yang sudah mengajar di depan kelas memincingkan mata nya menatap Aresha.
"Assalamulaikum, Pak" Aresha berjalan mendekat dan langsung mencium punggung tangan pak Beni. Guru mapel pelajaran Geografi itu terlihat mematung mendapat perlakuan sesopan itu dari Aresha. Wanita cantik yang di kenal dengan kenakalanya seantero sekolah.
"Bapak ngapain bengong, terpana akan kecantikan Aresha?" goda Jovin yang langsung di soraki oleh teman sekekas nya, sedangkan Aresha hanya berjalan lesu menuju bangku nya.
"Stephany mana?" tanya Veli sedikit berbisik.
"Di bawa kabur Buaya," jawab Aresha acuh dan langsung duduk di samping Meera.
"Huh, mana mungkin?"
"Iya, buaya darat maksut nya." kesal Aresha langsung membuka buku nya dengan kasar. Veli dan Meera hanya bisa menggelengkan kepla nya melihat tingkah comel sahabat nya.
Sepulang sekolah, Aresha Dkk telah stan by di di area sekitar tempat para sahabat Arsen memarkirkan mobil nya. Baru Aresha sadari jika diantara mereka berempat hanya Arsen lah yang sering memggunakan motor daripada mobil.
"Mau sampe kapan kita nunggu mereka sih Sha, satu jam lebih nih kita nungguin."
"Iya nih, mereka kan ada eskul basket, pasti lama banget nih Sha."
Gerutuan gerutuan dari kedua sahabat nya terus saja terdengar, namun Aresha berusaha menulikan pendengaran nya dan tetep menunggu kedatangan Refal dan juga Devan.
"Aresha ini kapan sih kita pulang nya. Emang lo mau ngapain sih ketemu mereka?" tanya Veli menatap Aresha sedikit merenggut. Veli ingin pergi, namun dia juga tak tega meninggalkan sahabat nya sendiri, karena bagaimanapun juga Aresha adalah sahabat nya sejak lama, dan Aresha juga sudah banyak membantu nya.
"Udah deh Vel, lo diem dulu. Bentar lagi juga mereka datang kok." sahut Aresha melipat tangan nya di dada.
"Lagian, kenapa nggak lo samperin aja langsung ke lapangan. Jadi kita nggak perlu nunggu lama lagi." sahut Meera menimpali. Aresha mengalihkan pandangan nya ke arah mereka berdua, Veli dan juga Meera, karena di sini memang hanya dua sahabat nya yang menemani nya. Sedangkan Stephany, dia sudah menghilang di bawa Sakra sejak pagi tadi hingga saat ini belum kembali.
Tak ada Sakra tak ada informasi bagi Aresha, namun Aresha tak menyerah. Dia menunggu sahabat lain Arsen yang tak lain adalah Refal dan juga Devan untuk memberitahu nya di mana Arsen tinggal. Tidak peduli apapun juga pokok nya hari ini Aresha akan bertekad untuk mencari Arsen.
"Tuh mereka udah datang, sekarang kalian boleh pulang." ucap Aresha langsung berdiri tegak. Veli dan Meera saling pandang, merasa ada yang ganjal dengan tingkah sahabatnya.
"Dan lo Meer, bawa mobil gue." tambah nya melempar kunci mobil dan langsung di tangkap oleh Almeera.
"Lo nyuruh kita pergi di saat mereka udah ada gitu? Terus lo mau kemana sama mereka?" tanya Meera penuh keheranan.
"Ada pokok nya, udah ah sana pergi."
Veli dan Meera mendegus kesal, tanpa sekata yang terucap mereka berdua meninggalkan Aresha. Berjalan gontai menuju mobil nya yang terparkir lumayan jauh dari parkiran tadi.
"Hay, Aresha, lo ngapain di sini?" tanya Devan yang sudah berdiri di depan Aresha.
"Gue mau nebeng lo," ucap Aresha dan dengan cepat masuk ke mobil milik Devan, mengabaikan tatapan mereka yang menatap nya binggung.
"Rumah kita nggak searah Aresha, lagian kenapa juga lo mesti nebeng gue, emang sejak kapan ya kita akrab?" tanya Devan yang belum juga masuk ke dalam mobil nya.
"Gue tau. Tapi ada yang perlu gue tanyain ke lo."
"Kalau lo mau tanya soal Arsen, sory kita nggak bisa kasih tau." itu bukan Devan yang berucap, melainkan Refal yang terlihat sudah mengetahui niat nya.
Aresha menghela napas nya, kembali keluar dari mobil dan berdiri tegak di depan Refal dan juga Devan.
"Alasanya apa lo nggak mau kasih tau gue?"
"Lo bukan siapa siapa nya Arsen. Lo itu cuma wanita yang udah ngebenci Arsen." jawab Refal.
"Oke gue tau maksut lo. Tapi kali ini gue benar bener butuh Arsen buat nyelametin gue."
Devan dan Refal saling tatap. Mereka berdua bingung dengan apa yang Aresha ucapkan.
"Plaese, gue butuh tanggung jawab Arsen kali ini."
Devan dan Refal semakin di buat bingung dengan Aresha.
"Emang lo diapain Arsen? lo di hamilin Arsen?" tanya Refal pelan.
"Bukan itu Refal, udah ah sekarang lo masuk mobil. Dan Devan lo anterin gue. Kalau lo nggak mau nganterin gue ketemu Arsen, lo bakal tau apa yang akan gue lakuin ke lo." ancam Aresha kembali masuk ke mobil Devan.
Devan mengusap wajah nya kasar. Tidak ada alasan lain lagi untuk tidak memberitahu apa yang Aresha inginkan. Wanita keras kepala yang sial nya begitu cantik itu akan terus mengusik nya hingga memberitahu kebenaran nya. Entah apa yang terjadi, Devan benar benar merasa ganjal dengan dekat nya Arsen dan Aresha yang tak masuk akal bagi nya.
Devan masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobil nya keluar area sekolah yang sudah sepi. Selama perjalanan, tak ada percakapan antara Devan dan Aresha, mereka berdua saling bungkam tanpa ada niat untuk memulai percakapan.
Hingga mobil yang di kendarai Devan terhenti di depan cafe yang belum pernah Aresha kunjungi sebelumnya.
"Kok lo malah bawah gue kesini sih? Gue nggak lapar atau haus Devan," kesal Aresha menatap Devan yang pandangan nya terus menatap ke dalam cafe dengan tatapan sendu.
Mendengar ocehan Aresha, Devan mengalihkan pandangan nya ke arah Aresha.
"Jangan permainin gue kayak gini ya Dev,"
"Lo ingin tau dimana Arsen kan? Coba lihat ke dalam cafe," printah Devan dengan nada datar.
"Apaan sih," Aresha merenggut, namun dia juga mengikuti arah pandanga Devan.
"Arsen," Aresha menutup mulut nya tak percaya. Aresha menurunkan kaca mobil agar bisa lebih jelas menatap apa yang kini menjadi pusat pandangan nya.
"Iya benar, apa yang lo lihat itu Arsen. Sekarang dia menjadi pelayan cafe setelah keluar dari rumah." ucap Devan memejamkan mata nya. Merasa berat saat sahabat terbaiknya yang lebih dari berkecukupan dengan harta melimpah kini menjadi pelayan cafe yang gaji nya bahkan lebih kecil dari pada uang saku nya dulu.
"Gue mau ketemu sama dia," Aresha keluar dari mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam cafe. Devan tidak mengejar Aresha, dia memilih diam dan memperhatikan mereka dari kejauhan
"Arsen," panggil Aresha membuat pria berkemeja putih itu menoleh ke arah nya.
Mereka berdua, Arsen dan Aresha terdiam saling menatap di tengah tengah keramain dalam cafe. Menatap satu sama lain dengan pandangan keterkejutan, hingga akhir nya pandangan mereka terputus dengan Aresha yang tiba tiba berlari dan memeluk nya.
"Lo kemana aja Arsen, gue kangen sama lo,"
Arsen terdiam tanpa membalas pelukan dari Aresha. Dirinya masih terkejut dengan apa yang terjadi hari ini. Mungkin nya ini hanya sebuah kebetulan atau memang takdir yang sudah menentukan.
Apapun itu, Arsen benar benar merasa bersyukur untuk hari ini. Dan pelukan Aresha entah mengapa Arsen menikmatinya, merasakan kenyamanan yang tidak pernah Arsen rasakan sebelumnya.
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu