Ganteng tapi galak. Euh, punya manager gitu bikin nggak betah di kantor nggak sih?
Kerja di luar negeri memang enak. Punya banyak teman dari negara lain plus memiliki kesempatan untuk dapat calon laki yang H.O.T banget
Tapi apa daya jadi budak corporat startup, sebagai copywriter, Dania Daneswara cuma bisa duduk di balik komputer sambil di marahin sama manager super duper galak yang bikin hari tambah runyam di negeri asing.
"Ganteng mah bebas ya," pikirnya setiap kali si manager berkoar-koar di balik mejanya.
Keagan O'Malley, pria berdarah campuran Indonesia-Jerman. Sebagai manager, ia kerap dianggap galak dan tidak berperasaan.
Tapi ketika bertemu Dania, pelan-pelan pribadinya berubah. Lebih usil dan tengil.
IG : @althamirafrishka
Saran dan kritik sangat diterima. Terimakasih sudah membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althamira Frishka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Lupa Buang Semua Kelemahanmu
Sebelum memasuki ruang rapat, Roki menghentikan langkah Dania. Memegang lengannya dengan lembut.
“Aku punya satu ide untuk tagline-nya. Cepat catat sebelum aku lupa.”
Dania langsung membuka catatannya, menulis ide Roki dengan cepat. Kini mereka memiliki tiga opsi untuk tagline website Karate Training Center. Dua opsi hasil pemikiran Dania dan satu opsi buah pikiran Roki.
Setelah begadang tadi malam, Dania hanya bisa menemukan dua tagline yang menurutnya tepat. Sebelum masuk ruang rapat, dia memperbaiki susunan tagline yang di catatnya dengan tulisan yang lebih rapi.
Mai duduk di salah satu kursi ruang rapat. Mengenakan kemeja bewarna navy dengan rok span abu. Hari ini kukunya ber-cat bening dengan gliter berbentuk bintang bewarna abu.
Sebagai ibu satu orang anak, Mai tidak pernah tampil mengecewakan. Dia selalu modis, rapi, cantik, dan wangi. Parfum racik J-Lo menyeruak dari lehernya. Menambah aura elegan dari dalam dirinya. Dia menyilangkan kakinya.
“Bagaimana, sudah sampai di mana pekerjaan kalian?” tanya Mai menautkan jemarinya. Memperlihatkan kukunya yang indah. Terkikir bagus, rapi dan membuat mata semua wanita berpikir. Ah, alangkah baiknya aku mulai merawat kuku-kuku ku. Pikir Dania sambil melihat kukunya yang coreng-moreng.
“Semua materi sudah kita dapatkan. Mulai dari dokumen hingga dokumentasi.” Papar Roki. Memperlihatkan dokumen yang sudah tersusun di map yang berbeda. Sementara Dania memperlihatkan USB yang di pegangnya.
“Apa ada kesulitan?” tanya Mai. Dia pernah berada di posisi yang kesulitan untuk mendapat materi karena kurang kompetennya salah satu klien perusahaan waktu itu.
“Tidak ada, Bu. Semua lancar. Saat ini kita lagi penyusunan tagline yang tepat untuk website.” Imbuh Dania. Dia membuka buku catatannya. Memperlihatkan hasil coretan tagline. Ada tiga opsi yang Dania serahkan. Salah satunya adalah ide Roki yang disampaikan pagi tadi sebelum rapat di mulai.
Opsi Tagline Karate Training Center
Bela Diri Karate Kuat Tiada Tanding
Bela Diri Bukan Alasan Untuk Melakukan Kekerasan
Kekuatan Terletak pada Kesabaran, Kemampuan dan Kemauan
Mai membaca ide tagline yang tertulis di buku catatan Dania. Buku catatan dengan sampul berwarna biru. Bertuliskan Don’t Be Afraid To Fail, Be Afraid Not To Try. Dengan tinta yang lebih tebal pada bagian kedua.
“Okey good job, saya akan memanggil Pak Keagan. Kita akan voting pemilihan tagline.” Ucap Bu Mai. Dia beranjak keluar memanggil Keagan yang tengah melakukan panggilan telepon.
Keagan mengangkat tangannya. Pertanda untuk menunggu sebenar. Mai menunggu sebentar. Tidak lama Keagan selesai melakukan panggilan telepon. Mai berbicara singkat dan Keagan beranjak dari kursinya. Mengikuti Mai memasuki ruang rapat.
Keagan duduk di tempatnya yang biasa. Menghadap ke depan layar presentasi. Sementara Bu Mai berada di sisi sebelah kiri berhadapan dengan Dania dan Roki yang berada di sisi sebelah kanan.
“Sampai mana?” tanya Keagan kemudian melepaskan kacamata berbingkai silvernya. Meletakkan di meja tepat pada sisi tangannya. Kemudian menautkan jemari panjang dan indahnya.
“Voting tagline, Pak. Ini adalah tiga opsi dari Dania dan Roki.” Bu Mai memberikan buku catatan biru milik Dania kepada Keagan. Di tangannya, buku itu terlihat kecil. Tenggelam oleh sentuhan Keagan.
“Apa yang kau pilih Mai?”
“Saya prefer yang opsi ketiga.”
Keagan menimbang-nimbang. Membolak-balikkan tiap lembaran pada catatan Dania.
“Err, opsinya hanya di lembar yang tadi, Pak?" Ucap Dania menghentikan Keagan untuk tidak membuka lembar yang lain. Tangannya menggantung, berusaha meraih buku catatannya dan menghentikan Keagan.
“Ini buku catatanmu?”
“Yes, Sir.”
Keagan terlihat berpikir lagi. Kemudian kembali pada lembar yang bertuliskan tiga opsi tagline.
“Ada apa? Apa kamu mengumpat saya di buku ini?” ucapnya menatap Dania dengan tatapan menyelidik.
“Hha, saya mana mungkin berani, Pak.” Ucap Dania meringis.
Kening Dania berkerut, dia menoleh ke samping. Ke arah Roki. Menatapnya sembari meminta bantuan.
“Menurut bapak opsi yang bagus yang mana?” tanya Roki mengalihkan perhatian Keagan dengan cepat. Mengembalikannya pada realita.
“Apa alasan opsi ketiga Mai?”
“Pesannya lebih tersirat. Tidak terlalu frontal dan sama seperti wanita.” Ucap Bu Mai mengerling pada Dania.
Dania meringis dan mengusap tengkuk lehernya. Duduknya mulai gelisah. Seperti duduk di kursi panas.
“Apa pilihanmu Roki?”
“Saya lebih suka opsi ke dua. Lebih membuat para orang tua tenang bila anaknya belajar bela diri.”
Keagan terlihat berpikir lagi dan meletakkan buku catatan Dania ke meja. Sedikit menjauh darinya.
“Apa pilihanmu, Dania?” ucapnya sambil menatap manik mata Dania. Membuatnya merasa perasaannya di lucuti. Di obrak-abrik tiada ampun. Memaksa Dania untuk mengakui.
Dania terlihat semakin gelisah.
Err, saya pilih kamu saja, Keagan. Ucapan itu terngiang-ngiang di telinganya.
Dania menatap Keagan, seperti terhipnotis dengan dalamnya tatapan mata Keagan yang seperti laser. Tepat menembus relung hatinya. Tidak membiarkan Dania beranjak sedetik pun sebelum mengakui semua.
Roki menyenggol kaki Dania dengan kakinya. Membuyarkan lamunan Dania.
“Tiga! Opsi ke tiga!” ucap Dania sedikit berteriak.
Keagan sedikit terkejut dengan jawaban teriakan Dania.
“Oke, saya mengerti. Tidak perlu setegas itu.”
Dania mengambil bukunya. Mendekapnya erat di bawah tangannya.
“Saya juga prefer opsi ke tiga. Tiga lawan satu. Roki, kamu kalah mempertahankan pilihanmu. Rapat selanjutnya kamu harus bisa mempertahankan opinimu. Rapat selesai. Gunakan opsi ke tiga untuk tagline website-nya.” Ucap Keagan kemudian dia beranjak dari kursinya. Melenggang santai keluar dari ruang rapat. Memperlihatkan kemeja putihnya yang sedikit kusut di bagian punggungnya.
“Oke bisa bubar. Materi dan foto yang akan di gunakan bisa langsung tanya saya.” Ucap Bu Mai melenggang keluar mengikuti Keagan. Tubuhnya yang molek melenggang ke kanan dan ke kiri. Memperlihatkan pinggulnya yang ramping.
Dania terlihat lega. Tiga lembar sebelum lembar catatan opsi tagline tadi malam adalah coretan kasarnya. Menggambar asal sambil memikirkan ide tagline yang tak kunjung datang seperti ilham. Dicari tidak datang, tapi jika di lupakan datang bak kupu-kupu masuk di dalam rumah. Seperti tamu yang datang dengan tiba-tiba.
“Kenapa kamu gelisah sekali?” tanya Roki beranjak dari kursi sambil memegang bahu Dania. Kini Roki berdiri di sebelah Dania. Dania mendongakkan kepalanya. Kemudian membuka lembar coretan asalnya tadi malam.
“Karena ini. Aku lupa buang.” Ucap Dania meringis sambil menunjukkan lembar ketiga sebelum halaman opsi tagline yang dia serahkan pada Mai dan Keagan.
“Harusnya tadi sebelum rapat mau di sobek. Terus tak remukin dan langsung masuk tempat sampah. Lupa. He he.”
“Pantas saja.” Ucap Roki tertawa terbahak-bahak dan mengelus lembut puncak kepala Dania. “Lain kali hati-hati.” Lanjut Roki melepaskan tangannya dari puncak kepala Dania lalu keluar dari ruang rapat. Kembali ke kubikelnya.
Dania menutup bukunya. Mengikuti Roki keluar ruang rapat. Sebelum itu, dia sempatkan untuk merobek gambar karakter Keagan dengan hidung Pat Kai. Lalu meremasnya dan membuangnya di tempat sampah yang berada di ruang rapat. Tepat sebelum pintu keluar di sudut ruangan.
Kalau tidak bisa mati dia. Percuma tagline-nya di pilih kalau ujungnya-ujungnya seperti berada di ujung kolam lele.
🍁🍁
Dania bukan selera kamu keagan 😁
mangats Dania..keagan layak diperjuangkan 😀
aku suka..aku suka 😀