Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Happy reading
💕💕💕💕💕
Tak perlu waktu lama, mobil yang mengantar Ben dan Melodi sampai ke tempat yang diminta Melodi. Tempat mereka pertama kali bertemu.
"Bukankah ini taman yang waktu itu?" tanya Ben memastikan ingatannya yang dijawab anggukan oleh Melodi.
"Hei Nona Melodi, ini hari spesialmu, kenapa kau tidak pergi ke tempat yang spesial?" Ben melirik Melodi sekilas sebelum mengarahkan pandangannya ke area taman.
"Tempat ini spesial untukku," jawab Melodi yang mengulum senyum melihat wajah cemberut Ben.
"Spesial apanya, tiap hari kau sudah ke sini. Udah, kita pergi ke tempat pilihanku aja." Ben duduk tegak kembali, bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya.
"Eh, tunggu sebentar Kak," cegah Melodi yang menyentuh lengan Ben.
"Kenapa lagi?"
"Kita turun sebentar, aku pingin ngenalin Kakak dengan teman-teman spesialku di sini. Sebentar aja," pinta Melodi dengan penuh harap.
"Hm, baiklah. Tadinya aku pikir aku adalah satu-satunya orang yang spesial dalam hidupmu, tapi ternyata masih ada yang lain." Ben merengut dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
"Kamu spesial Kak, tapi spesial dalam artian lain," ucap Melodi dengan tersenyum penuh arti.
"Oh ya? Bisa kau jelaskan spesial dalam artian lain itu yang seperti apa?" Ben mencondongkan tubuhnya ke arah Melodi, tangan kirinya bertumpu pada leher kursi, sedang tangan kanannya berada di pintu mobil. Dengan tersenyum smirk, Ben mendekatkan wajahnya ke wajah Melodi, membuat gadis itu terpaksa memundurkan kepalanya dan bersandar pada jok mobil.
Wajah Ben yang berjarak beberapa inci dengan wajah Melodi membuat jantung Melodi berdenyut tidak karuan. Dia merasa gugup ketika hembusan napas pemuda itu menyapu hangat wajahnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Melodi menelan salivanya. Napasnya terasa sesak. Sorot tajam manik legam milik Ben seakan menariknya ke dalam lubang yang tak berdasar hingga Melodi seakan tenggelam di dalamnya.
Ceklek!
Pintu mobil di sebelah Melodi terbuka sedikit.
"Ayo kita turun, aku penasaran siapa memangnya teman-teman spesialmu?" Masih menyorot tajam Melodi.
Melodi mengerjap pelan. "Ah, i—iya, ayo Kak," jawab Melodi gugup. Dia membuang napas panjang, lalu membuka pintu saat Ben menjauhkan wajahnya.
Begitu berjalan ke tengah taman, Melodi langsung disambut oleh 10 anak kecil yang berusia sekitar 6 sampai 10 tahun.
"Horeeee Kak Melodi sudah datang," teriak anak perempuan yang rambutnya di kepang dua.
Melodi tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya kepada mereka sembari membagikan kotak makanan dari kantong plastik yang dibawanya tadi.
"Satu-satu ya," ucap Melodi.
"Makasi, Kak. Selamat ulang tahun Kak Melodi," ujar anak yang menerima kotak dari tangan Melodi, begitu juga dengan anak-anak lainnya.
"Sama-sama, terima kasih juga ucapannya."
"Waahhh, Kak Melodi datang sama pacarnya. Cie-cie, ada prince dan princes nih," celoteh anak perempuan yang terlihat paling besar saat melihat pemuda tampan yang membantu Melodi membawakan kantong plastik berisi kotak makanan untuk mereka.
Melodi melirik Ben yang hanya melempar senyum ke arah anak-anak itu.
"Kenalin anak-anak, ini namanya Kak Ben, dia teman di sekolah Kakak yang baru," jelas Melodi sungkan.
"Owhhhh teman," ucap anak-anak itu ber 'oh' ria. "Salam kenal Kak Ben," imbuh mereka bersamaan lagi.
"Halo, salam kenal juga anak-anak," balas Ben ramah.
"Baiklah anak-anak, Kakak gak bisa lama-lama di sini. Kalian habiskan ya makanannya," pesan Melodi pada anak-anak itu. Kemudian, beralih pada Ben. "Ayo Kak, kita berangkat," ajak Melodi yang dijawab anggukan oleh Ben.
"Baik, terima kasih Kak Melodi, terima kasih Kak Ben. Selamat berkencan ya," goda anak yang paling besar lagi dengan menunjukkan cengiran lucunya.
"Hush!" Melodi mendelik pada anak itu sembari meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Dia bersikap seolah sedang marah, padahal wajahnya sudah merona karena hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan anak tadi.
"Kita mau ke mana?" tanya Melodi setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kencan." Ben mengerling ke arah Melodi sebelum menyalakan mesin mobil.
❤️❤️❤️❤️❤️
Spoiler
Perlahan senyum Melodi memudar saat dia menyadari manik hitam Ben menatapnya dengan sorot tajam yang tidak terbaca.
Ben tidak tahu kenapa dia ingin menatap Melodi selekat ini. Seharian ini otaknya dipenuhi dengan kata 'hanya ingin'.
Entah dari mana datangnya keberanian dalam diri Melodi, hingga tangannya terulur menyentuh kedua pipi Ben. Kemudian, menyusuri garis wajah pemuda itu dengan jarinya. Antara sadar dan tidak, Melodi melakukan hal yang sudah sejak lama ingin dia lakukan. Mengusap lembut rahang kokoh milik Ben, hingga Ben terkejut.
"I love you ...."
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊