NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Surgawi

Warisan Mutiara Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.

"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Sendiri

Fei Lin tertegun sejenak. Biasanya, anak ini akan terbata-bata, menangis, atau memberikan seribu alasan yang tidak berguna. Namun hari ini, ketenangan Tian Hao terasa seperti dinding besi yang tidak bisa ditembus.

​"Hmm? Sepertinya kau sudah belajar cara menutup mulut," dengus Fei Lin. "Masuk ke barisan! Latihanmu hari ini ditambah dua kali lipat. Jika yang lain memegang dua ember selama dua jam, kau akan melakukannya selama empat jam. Mengerti?!"

​"Mengerti," jawab Tian Hao singkat.

​Saat ia mengambil posisi kuda-kuda dan mengangkat dua ember kayu yang berat, tawa pecah di antara para murid.

​"Lihat dia... sampah tetaplah sampah," bisik seorang murid dengan wajah penuh jerawat.

"Sia-sia saja. Bakat adalah segalanya di dunia ini. Tanpa tulang kultivasi yang bagus, dia hanya sedang memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain tanpa arti."

​Tian Hao menghiraukan mereka. Fokusnya beralih ke dalam dirinya. Setiap kali ototnya bergetar dan air di dalam ember berguncang lalu tumpah, tongkat kayu Fei Lin mendarat di bahu atau kakinya.

​PLAK!

​"Fokus! Jika kau tidak bisa menyeimbangkan air, bagaimana kau bisa menyeimbangkan energi di masa depan?!" teriak Fei Lin masygul.

​Luka memar mulai muncul di kulit pucatnya. Keringat bercampur dengan debu di wajahnya.

Namun, di dalam kepalanya, Tian Hao sedang melakukan sesuatu yang tidak dipahami siapa pun.

Ia bukan sekadar memegang ember; ia sedang mencoba menyelaraskan ritme napas kehidupannya yang sekarang dengan memori lima ratus tahun miliknya.

"Pujian dan hinaan itu tidak ada bedanya," batinnya saat tongkat kayu kembali menghantam punggungnya. "Keduanya hanyalah angin lalu yang mencoba menggoyahkan gunung. Orang bodoh akan merasa terbang saat dipuji dan hancur saat dihina. Aku tidak hidup untuk menjadi cermin bagi ekspektasi mereka."

​Matahari mulai meninggi, membakar kulit, lalu perlahan turun menuju cakrawala. Satu per satu murid diizinkan pergi untuk makan dan beristirahat.

Fei Lin pun, setelah merasa jenuh melihat kegagalan demi kegagalan Tian Hao yang terus menumpahkan air, akhirnya melempar tongkatnya dan pergi tanpa sepatah kata pun.

​Di lapangan luas itu, kini hanya tersisa satu sosok remaja.

​Tubuh Tian Hao gemetar hebat. Otot-ototnya menjerit karena kelelahan yang luar biasa. Namun, pada percobaan ke seribu, sesuatu terjadi.

Riak air di dalam embernya mendadak tenang. Bukan karena ia tidak bergerak, tapi karena ia bergerak selaras dengan gravitasi dan hembusan angin. Ia telah menemukan titik nol dalam keseimbangannya.

​Tidak ada yang melihat pencapaian ini. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pengakuan. Dan bagi Tian Hao, itulah bentuk keberhasilan yang paling murni.

​Ketika rembulan mulai naik menggantikan sang surya, menyiram lapangan latihan dengan cahaya perak yang dingin, Tian Hao perlahan menurunkan embernya.

Ia berdiri tegak, merenggangkan tubuhnya yang terasa remuk namun kini terasa lebih 'terhubung' dengan jiwanya.

​Rumahnya gelap. Tidak ada yang menunggunya makan malam, tidak ada yang bertanya apakah dia terluka. Tapi ia justru merasa lega dalam kesendirian ini.

​Ia menatap bulan purnama yang menggantung indah di langit malam.

​"Bulan purnama..." bisiknya dengan suara yang kini mengandung wibawa seorang penguasa yang bangkit dari kubur. "Waktunya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Warisan itu... tidak boleh jatuh ke tangan orang-orang yang hanya bisa melihat permukaan."

​Dengan langkah yang tidak lagi berat, ia berjalan menuju kegelapan di luar kediaman, meninggalkan debu-debu kehinaan di belakangnya.

Di bawah cahaya rembulan, bayangannya tampak jauh lebih besar dan lebih gelap dari tubuh aslinya.

1
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
tes ..🤔
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏🙏🙏
Leon: /Bye-Bye/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sat set sat set...
Leon: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikattttt...
Leon: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassddddd....
saniscara patriawuha.
kasihhh fahammm duluu lahhhh.....
saniscara patriawuha.
biasanya langsung masuk ke dentiannya untuk membantu kultivasinya...
Leon: Hehe, memang di dunia Tianxu sistem kultivasi nya begitu bang/Shy/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassssdd....
Leon: 🥲🙂🙂🙂🙂
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjuttttkeunnnnn
saniscara patriawuha.
gasssss...
saniscara patriawuha.
tapi bisakah nanti mang MC kembali lagi ke masa depan untuk membalaskan dendamnya....
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
aldo
lanjut thor
Leon: siaapp. jangan lupa kasih bintang 5 ya🙏🙏🙏
total 1 replies
y@y@
👍🏿🌟👍🏼🌟👍🏿
y@y@
🌟👍🏿👍🏼👍🏿🌟
Leon
ngopi lur/Coffee/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!