NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Tatapan Curiga si Senior Licik

Bunyi tit-tit-tit dari mesin pemindai barcode saling bersahutan dengan derit roda troli besi yang mengangkut tumpukan boks plastik. Depo sortir pusat Baron Logistics sesak luar biasa setiap jam tujuh pagi. Asap rokok dari para kurir harian bergulung-gulung di bawah lampu neon panjang, beradu dengan aroma pekat kopi hitam murahan berharga tiga ribu rupiah yang diseduh di dalam gelas plastik. Semua orang terburu-buru, saling sikut mengejar lembar manifes kargo agar bisa mendapatkan rute pengiriman dengan bonus resi paling banyak.

Aku berjalan terseok-seok melintasi lantai semen depo yang becek oleh sisa air embun dan oli bocor. Mataku terasa panas sekali. Gara-gara mahluk bernama Kala yang ukuran tubuhnya tidak tahu diri itu, aku terpaksa begadang semalam suntuk untuk memastikan dia tidak mati atau membuat kosanku berubah jadi pabrik es balok.

"Lara! Sini kamu!"

Baru saja kakiku mau mendekati meja admin untuk menempelkan jempol ke mesin absen digital, sebuah tepukan kasar mendarat di atas tumpukan papan jepit manifes yang kupegang.

Roy berdiri di sana. Jaket seragam Baron Logistics miliknya masih bersih, licin disetrika, tipikal orang yang lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan ber-AC untuk cari muka di depan kepala depo ketimbang memacu motor membelah lumpur dermaga. Senyumnya tipis, jenis senyuman miring yang selalu membuatku ingin menghantamkan kunci pas ukuran empat belas tepat ke lubang hidungnya.

"Tumben jam segini baru sampai, Ra? Biasanya kamu yang paling rajin mengais sisa paket sisaan di Gudang Sembilan," sindir Roy. Suaranya sengaja dikeras-keraskan agar didengar oleh admin logistik yang sedang mengetik di komputer.

"Bukan urusanmu, Bang," jawabku ketus, mencoba bergeser ke kanan. "Minggir. Aku mau absen dulu. Telat satu menit, gajiku dipotong lima puluh ribu oleh bos."

Roy tidak bergerak satu senti pun. Tubuhnya yang kurus tinggi sengaja mengadang jalanku. Matanya yang kecil menyipit tajam, menatapku dari ujung rambut sampai ke sepatu bot karetku yang berlumpur. "Tentu saja jadi urusanku. Kemarin manifes kargo yang kamu bawa dari Gudang Sembilan berantakan. Manajer logistik memeriksa data semalam, ada boks kontainer impor yang penyok dan palet kayu hancur di jalurmu. Kamu tahu sesuatu, kan?"

Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di balik celana kargo dekilku, jemariku langsung mencengkeram papan jepit manifes lebih erat, sampai kuku-kukuku memutih menahan getaran gugup yang mendadak menyerang. Kalau sampai Roy tahu aku membawa sesuatu yang dicari-cari oleh pasukan keamanan internal Baron, habis riwayatku. Tapi, aku tidak boleh menurunkan pandanganku. Di pelabuhan Tanjungbalai, sekali kamu kelihatan takut, orang-orang licik seperti Roy akan menginjak kepalamu sampai ke dasar lumpur rawa.

Aku menatap lurus ke dalam matanya yang keruh.

"Kalau boks kargo penyok, tanya sama operator forklift yang kerjanya sambil mengantuk, Bang. Jangan tanya kurir harian seperti aku yang cuma modal motor bebek butut."

Roy tidak langsung menjawab. Dia justru memajukan kepalanya, mendekatkan hidungnya ke arah kerah jaket oranyeku. Dia mengendus udara dua kali dengan kerutan dalam di dahinya.

Seringai liciknya mendadak hilang, berganti dengan kilat mata yang penuh selidik.

"Bau apa ini, Lara?" bisik Roy, suaranya mendadak merendah, terdengar berbahaya di antara bisingnya suara mesin sortir. "Ini bukan bau parfum murahmu. Amis... seperti lumut rawa yang busuk. Dan..." Roy mengulurkan tangan, menyentuh lengan jaketku sebentar sebelum aku sempat menghindar. "Kenapa jaketmu dingin sekali? Seperti habis dimasukkan ke dalam mesin pendingin ikan?"

Hawa dingin sisa dekapan Kala semalam ternyata masih tertinggal di serat kain jaketku. Baunya juga tidak bisa bohong—aroma air payau purba yang dibawa Kala dari hulu sungai Asahan melekat pekat.

"Oh, ini?" aku memaksakan sebuah tawa hambar, memasang ekspresi sedongkol mungkin seolah aku adalah korban paling sial hari ini. "Tadi subuh saat aku mau memanaskan motor di dekat dermaga tiga, anak-anak bongkar muat ikan tongkol malah teledor. Mereka menurunkan boks es raksasa sampai pecah dan airnya muncrat ke seluruh tubuhku. Makanya jaketku bau amis dan dingin seperti es batu!"

Aku melangkah maju satu tapak, membuat Roy terpaksa mundur setengah langkah karena refleks wajahku yang kelihatan sangat menantang.

"Kalau Abang terganggu dengan bau ikan tongkol ini, silakan pindah depo. Jangan menghalangiku mencari uang sewa kos. Hari ini aku butuh banyak resi, dan aku tidak punya waktu untuk meladeni kecurigaan tidak bermutumu itu," lanjutku dengan volume suara yang sengaja kunaikkan, membuat beberapa kurir lain di belakang kami mulai menengok.

Roy menatapku lama, rahangnya mengeras karena sindiranku di depan umum. Seringai liciknya kembali lagi, tapi kali ini matanya memancarkan rasa tidak percaya yang sangat kuat. "Alasan yang bagus, Lara. Ketumpahan air es ikan tongkol, ya? Tapi ingat, aku memegang kendali atas manifes jalur utara minggu ini. Kalau sampai aku menemukan ada barang yang kurang atau laporanmu tidak cocok dengan manifes fisik..." Dia sengaja menggantung kalimatnya, mengetukkan jarinya ke meja admin.

"Aku tidak pernah mencuri kargo, Bang Roy. Cari saja kesalahan orang lain yang memang hobi korupsi bensin," balasku telak.

Sebelum Roy sempat mengeluarkan kata-kata racunnya lagi, aku mengulurkan tangan dengan gerakan cepat, merebut lembar kertas absen fisik yang tergeletak di samping keyboard komputer admin, lalu menempelkan jempolku ke pemindai digital hingga mesin itu berbunyi bip hijau tanda absenku berhasil masuk tepat waktu.

Aku langsung membalikkan badan, berjalan cepat meninggalkan Roy yang masih berdiri di sana dengan mata menyipit tajam menatap punggungku. Tanganku yang memegang papan manifes masih sedikit dingin, bukan karena es ikan tongkol, melainkan karena aku tahu... Roy tidak akan melepaskan pandangannya dariku setelah pagi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!