NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Sepanjang hari itu, Nindi terus memikirkannya. Pikiran yang sama berputar, kembali ke titik yang tidak bisa ia hindari. Nindi tahu jawabannya.

Clay memiliki perasaan padanya.

Kesimpulan itu kini terasa jelas. Bukan dugaan, bukan lagi kemungkinan. Ia menyadarinya dengan utuh dan tenang, tanpa dramatisasi, seperti seseorang yang akhirnya berhenti menyangkal sesuatu yang sejak awal sudah ia pahami.

Nindi bukan anak kecil.

Ia cukup mengerti bagaimana membaca perubahan, bagaimana mengenali tanda-tanda yang tidak diucapkan. Hanya saja… mungkin ia sedikit terlambat mengakuinya. Atau mungkin, ia memang sengaja memberi waktu, berharap semuanya tetap berada di batas yang aman.

Namun sekarang, batas itu mulai terasa kabur. Dan justru karena itulah, ada kekhawatiran yang perlahan muncul di dalam dirinya.

Tipis. Namun nyata.

Bukan karena Clay. Bukan karena ia meragukan niat atau sikapnya. Melainkan karena ia tahu, hal seperti ini tidak pernah berhenti hanya di satu titik.

Perasaan, sekali disadari, jarang bisa kembali seperti semula. Ia akan bergerak. Bertambah. Atau justru memaksa untuk diakhiri.

Nindi menghela napas pelan. Ia menatap kosong ke arah depan, namun pikirannya masih berada di tempat yang sama. Jika ia membiarkan ini terus berjalan, maka cepat atau lambat, semuanya akan berubah. Dan perubahan itu tidak akan bisa ia kendalikan sepenuhnya.

Namun jika ia memilih untuk menghentikannya sekarang, ia harus siap dengan konsekuensi yang tidak sederhana.

Menjaga jarak.

Memberi batas.

Atau, mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin ia ucapkan.

“Clay…”

Nindi memanggil tanpa benar-benar tahu apa yang ingin ia katakan.

Clay menoleh. “Ya?”

Ada jeda. Kalimat yang hampir keluar tertahan di ujung pikirannya.

Kamu berubah.

Tapi Nindi tidak jadi mengucapkannya. Ia hanya menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.”

Clay tidak bertanya lebih jauh. Namun tatapannya tetap tertuju padanya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Dan itu justru membuat Nindi semakin yakin.

Sejak hari itu, Nindi mulai mengubah caranya bersikap. Tidak drastis. Hanya cukup untuk menjaga jarak. Nindi tidak lagi berdiri terlalu lama di dekat bar. Tidak lagi memulai percakapan yang tidak perlu. Jika sebelumnya ia sering bertanya hal-hal kecil, tentang kopi, tentang pekerjaan, kini ia memilih diam. Atau sekadar menjawab seperlunya.

Clay pasti menyadarinya. Nindi tahu itu. Karena beberapa kali, ia menangkap hal yang sama, tatapan yang datang, lalu berhenti di tengah jalan. Seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan, tapi tidak pernah benar-benar sampai. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih rumit.

Suatu malam, Clay tanpa banyak bicara mengambil apron dari tangan Nindi.

“Biar aku bantu,” katanya singkat.

Gerakannya cepat, terbiasa. Namun saat ia mengikatkan tali di belakang, jarak mereka menjadi terlalu dekat. Nindi menahan napas sejenak. Bukan karena tidak nyaman. Justru karena terlalu sadar.

“Sudah,” ujar Clay, mundur sedikit.

Namun Nindi tidak langsung bergerak. Ia menoleh, menatap Clay sekilas.

“Aku bisa melakukannya sendiri,” katanya pelan. Bukan penolakan. Tapi cukup untuk memberi batas.

Clay tidak menjawab. Hanya mengernyit. Awalnya, Ia tidak menganggap perubahan itu sebagai sesuatu yang penting. Ia hanya berpikir Nindi sedang sibuk. Atau lelah. Atau sekadar ingin diam. Hal-hal sederhana yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.

Namun beberapa hari berlalu. Pola itu tidak berubah.

Nindi tidak lagi berdiri lama di dekat bar. Tidak lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan kecil yang dulu terasa sepele. Tidak lagi tertawa ringan saat Clay menjawab singkat. Semuanya menjadi seperlunya.

Dan entah sejak kapan, Clay mulai menyadari satu hal:

Ia menunggu.

Menunggu Nindi datang seperti biasa. Menunggu suara langkahnya. Menunggu momen ketika ia berdiri di sisi meja, mencari alasan untuk berbicara. Namun yang datang sekarang berbeda. Nindi tetap datang. Tetap berada di sana. Namun tidak lagi benar-benar hadir di tempat yang sama dengannya. Dan itu cukup mengganggu.

Beberapa saat kemudian, Nindi akhirnya bergerak mendekat. Langkahnya pelan, seperti biasa. Namun kali ini, ia berhenti sedikit lebih jauh dari bar. Tidak terlalu dekat. Tidak seperti dulu.

“Satu kopi,” katanya. Singkat. Tanpa tambahan apa pun.

Clay menatapnya, sekilas. “Yang biasa?” tanyanya.

Nindi mengangguk. “Iya.”

Tidak ada percakapan lanjutan. Clay mulai meracik. Tangannya bergerak otomatis. Namun pikirannya tidak.

“Sudah,” kata Clay akhirnya, mendorong cangkir ke arahnya.

Nindi mengambilnya. “Terima kasih.” Dan langsung berbalik.

Clay tidak bergerak. Matanya mengikuti langkah Nindi yang menjauh. Sekali lagi. Tanpa menoleh. Dan untuk pertama kalinya, Clay merasakan sesuatu yang tidak ia kenal dengan baik:

kosong.

Clay menghela napas pelan. Satu hal mulai terbentuk lebih jelas dari sebelumnya. Kalau ia tetap diam, jarak itu tidak akan berhenti di sini. Dan kali ini, itu bukan lagi sesuatu yang bisa ia abaikan.

Malam sudah datang. Café sudah tutup. Hanya tinggal mereka berdua disana.

Clay memperhatikan dari balik bar. Saat Nindi sedang merapikan meja di dekat jendela. Gerakannya pelan, rapi, seperti biasa, tidak tergesa, tidak juga berlama-lama. Ia bekerja tanpa benar-benar menarik perhatian. Seolah memang tidak ingin diperhatikan.

Clay tidak tahan dan melangkah.

“Nindi.”

Suara itu tidak keras. Namun cukup untuk membuat Nindi berhenti. Ia menoleh. Sedikit terkejut, tapi tidak sepenuhnya. Seolah ia sudah memperkirakan momen ini akan datang. “Iya?” jawabnya.

Clay berdiri tidak terlalu dekat. Namun cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa jelas.

“Kamu kenapa?” Langsung. Tanpa pembuka.

Nindi mengernyit kecil. “Kenapa maksudnya?”

Clay menatapnya. “Belakangan ini… kamu berbeda.”

Hening sejenak.

Nindi tidak langsung menjawab. Ia menurunkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatap Clay. “Beda bagaimana?”

Clay menarik napas pelan. Seolah ia sendiri kesulitan menjelaskan sesuatu yang sebenarnya ia rasakan jelas. “Kamu… menjauh.”

Kali ini Nindi tidak mengelak. Namun ia juga tidak langsung mengiyakan. “Tidak,” jawabnya pelan. “Aku biasa saja.”

Clay mendecih kecil. “Jangan begitu.”

Nada suaranya masih rendah. Tapi ada sesuatu yang mulai terlihat, retakan kecil dari kontrol yang selama ini ia jaga. “Aku tahu kamu berubah.”

Nindi terdiam beberapa detik. Lalu ia menghela napas pelan. “Kalau aku berubah,” katanya, “mungkin karena kamu juga berubah.”

Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk membuat Clay berhenti.

“Aku?” ulangnya.

Nindi mengangguk kecil. “Iya.” Ia menatap Clay lebih dalam kali ini. “Kamu yang mulai.”

Hening.

Untuk pertama kalinya, Clay tidak punya jawaban cepat.

Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya.

Nindi tidak langsung menjawab. Ia seperti menimbang apakah ini perlu dilanjutkan atau tidak. Namun akhirnya, ia memilih jujur, sudah setengah jalan.

“Kamu jadi lebih… memperhatikan,” katanya pelan.

“Lebih sering melihat. Lebih sering ada.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan kamu pikir aku tidak akan menyadarinya?”

Clay terdiam. Karena ia tidak pernah benar-benar mempertimbangkan itu.

“Jadi karena itu kamu menjauh?” tanya Clay.

Nindi menggeleng pelan. “Bukan menjauh,” katanya. “Aku hanya… menjaga.”

Menjaga apa?” suara Clay sedikit lebih tajam.

Nindi menatapnya. “Hal yang bahkan belum jelas arahnya.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Clay menghembuskan napas pelan. Ia mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali. “Kalau belum jelas,” katanya, “kenapa harus dijaga?”

Nindi tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti sesuatu yang menahan.

Karena tidak semua hal harus dibiarkan berjalan sampai jadi masalah,” jawabnya.

Clay terdiam. Ia bisa merasakan arah pembicaraan ini. Dan untuk pertama kalinya, Clay tidak menyukainya.

“Jadi kamu anggap ini masalah?” tanyanya.

Nindi tidak langsung menjawab. Namun diamnya sudah cukup.

Clay mengangguk kecil. Lebih ke dirinya sendiri.

“Oke,” kata Clay pelan. “Kalau begitu… kenapa tidak bilang dari awal?”

Nindi menatapnya. “Bilang apa, Clay?”

Clay menahan napas sejenak. “Bilang kalau kamu tidak menyukai perhatianku.”

Hening.

Nindi tidak langsung menjawab. Tatapannya bertahan beberapa detik, seolah menimbang kata-kata itu sebelum akhirnya ia menggeleng pelan.

“Aku tidak bilang aku tidak menyukainya,” ucap Nindi pelan.

Clay sedikit terdiam, jelas tidak mengantisipasi jawaban itu. “Lalu?”

Nindi mengalihkan pandangannya sesaat, sebelum kembali menatapnya. “Itu bukan masalahnya.”

Clay mengernyit tipis. “Lalu apa?”

Nindi menarik napas pelan. “Masalahnya adalah… aku tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.”

Nindi berhenti sejenak, lalu menambahkan, lebih pelan. “Aku hanya… tidak ingin melangkah ke sesuatu yang aku sendiri belum siap.”

Hening.

Clay menatapnya lama. Seolah semua yang selama ini ia tahan akhirnya menemukan arah.

“Kalau begitu… jangan lakukan apa-apa.”

Nindi mengernyit tipis.

“Aku yang akan tetap di sini,” kata Clay tenang. “Aku yang akan mendekat.”

Nindi terdiam.

Clay melanjutkan, suaranya tetap rendah, tapi jauh lebih pasti. “Meskipun kamu belum siap… meskipun kamu memilih untuk menjaga jarak, menghindar, atau bahkan menolak…”

Ia berhenti sejenak. “Aku tidak akan berpura-pura ini tidak ada.”

Tatapannya tidak bergeser. “Aku akan tetap mendekatimu.”

Kalimat itu tidak terdengar memaksa. Namun juga tidak memberi ruang untuk disalahartikan. Nindi menatapnya. Lebih lama dari sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya, Clay tidak lagi bersembunyi di balik sikapnya yang biasa. Dan untuk pertama kalinya, Nindi tidak yakin apakah menjaga jarak masih cukup untuk menghentikannya.Bottom of Form

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!