NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 4

Cahaya matahari pagi yang menembus tirai otomatis kamar Yvone terasa menyilaukan. Ia terbangun dengan napas memburu, mimpi buruk tentang ayahnya yang ditarik ke dalam sel gelap masih membekas jelas di benaknya.

Mata Yvone menangkap angka digital di jam nakas: 06.10 WIB.

Seketika, rasa kantuknya menguap. Aturan nomor dua: Sarapan pukul 06.30 pagi.

Yvone melompat dari ranjang sutra yang kebesaran itu. Ia hanya memiliki waktu dua puluh menit untuk bersiap. Ia bergegas mandi, lalu memakai kemeja katun putih berlengan panjang dan celana kulot berwarna beige pakaian kerjanya yang paling rapi dan nyaman. Ia mengikat rambutnya membentuk ekor kuda yang praktis, lalu merias wajahnya setipis mungkin untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya.

Tepat pukul 06.28, Yvone melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang makan yang terletak di area ruang tengah terbuka.

Aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi udara. Di ujung meja makan berbahan marmer panjang yang bisa memuat dua belas orang, Dylan Alexander Hartono sudah duduk.

Pria itu tampak sangat mempesona sebuah fakta obyektif yang dibenci Yvone. Dylan mengenakan kemeja abu-abu gelap berbahan sutra yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, dasi hitam sudah terpasang rapi, dan jasnya tersampir di sandaran kursi. Ia sedang fokus membaca sesuatu di tabletnya, satu tangannya memegang cangkir kopi espresso.

Seorang asisten rumah tangga berseragam rapi menunduk hormat saat Yvone mendekat. "Selamat pagi, Nyonya. Silakan duduk."

Mendengar sapaan itu, Dylan mengangkat wajahnya. Tatapannya dingin, memindai Yvone dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada sapaan selamat pagi, tidak ada senyuman.

"Kau tepat waktu. Sebuah awal yang bagus," ucap Dylan datar. Ia memberi isyarat dengan dagunya ke arah kursi di seberang mejanya. "Duduk."

Yvone menarik kursi itu dan duduk dalam diam. Asisten rumah tangga segera menyajikan sepiring Eggs Benedict dan segelas jus jeruk segar di hadapannya, lalu mundur dengan cepat, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang canggung.

Hanya terdengar denting garpu dan pisau selama beberapa menit. Yvone memaksakan diri menelan makanannya meskipun perutnya terasa diaduk-aduk.

"Jam sepuluh nanti, tim legal dari kantor catatan sipil akan tiba di sini," suara bariton Dylan memecah keheningan, matanya masih tertuju pada layar tablet. "Kita akan menandatangani dokumen pernikahan secara tertutup. Tidak ada media, tidak ada perayaan. Hanya formalitas hukum agar status kita sah di mata negara."

Yvone menghentikan kunyahannya. "Hanya di sini? Di ruang makan ini?"

"Kau mengharapkan altar dan janji suci?" Dylan menaikkan sebelah alisnya, nada suaranya menyiratkan sarkasme tipis. "Pernikahan ini adalah transaksi bisnis. Aku tidak punya waktu untuk drama seremonial. Setelah dokumen ditandatangani, kau resmi menjadi Nyonya Hartono. Dan siang harinya, tim penata gayaku akan datang untuk merombak seluruh penampilanmu."

"Merombak?" Yvone mengerutkan kening. "Apa yang salah dengan penampilanku?"

Dylan meletakkan tabletnya. Ia menatap Yvone dengan pandangan menilai yang membuat wanita itu merasa seperti manekin di etalase toko. "Kemeja katun murah dan celana yang kau beli saat diskon akhir tahun? Itu mungkin cocok untuk naik kereta komuter, tapi tidak untuk berdiri di sampingku di malam amal yayasan politik akhir pekan ini. Publik harus melihat seorang istri konglomerat, bukan anak magang."

Wajah Yvone memerah karena marah, tapi ia berusaha menahan suaranya agar tetap datar. "Ini adalah pakaian yang saya pakai untuk bekerja, Tuan Hartono. Berbicara soal itu, saya memiliki jadwal pertemuan dengan dua klien proyek desain interior hari ini."

Dylan memicingkan matanya. Ruangan itu seketika terasa beberapa derajat lebih dingin. "Batalkan."

"Apa?"

"Batalkan pertemuan itu. Dan batalkan semua proyek yang sedang kau kerjakan," perintah Dylan mutlak. Ia menyesap kopinya dengan tenang. "Mulai hari ini, kau tidak perlu bekerja. Aku akan mentransfer kompensasi senilai sepuluh kali lipat dari total nilai proyekmu ke rekening yang sudah kuberikan semalam."

"Tidak," jawab Yvone cepat dan tegas.

Gelas kopi Dylan berhenti di udara. Ia menatap Yvone seolah wanita itu baru saja berbicara dalam bahasa alien. "Apa kau bilang?"

"Saya bilang, tidak." Yvone meletakkan garpunya. Rasa takutnya perlahan digantikan oleh rasa bangga yang tersentil. "Anda membeli status publik saya untuk menyelamatkan Ayah saya. Anda menyewa saya untuk menjadi figur istri Anda di depan elit politik dan media. Tapi Anda tidak membeli identitas saya."

"Identitasmu sekarang adalah Nyonya Dylan Alexander Hartono. Itu adalah pekerjaan purna waktu," balas Dylan tajam, rahangnya mulai mengeras.

"Pekerjaan saya adalah desainer interior," Yvone membalas tatapan pria itu tanpa berkedip. "Saya membangun karier freelance ini dari nol. Klien-klien saya mempercayakan rumah mereka kepada saya. Saya tidak akan menelantarkan mereka hanya karena saya harus diam di sangkar emas ini untuk menunggu instruksi Anda selanjutnya. Saya akan tetap bekerja."

Keheningan yang tegang menyelimuti meja makan. Dylan menatap Yvone dengan intens. Di dunianya, tidak ada seorang pun yang berani membantah perintah langsungnya, apalagi di bawah atapnya sendiri. Ia mencari jejak gertakan di mata Yvone, tapi yang ia temukan hanyalah keras kepala yang murni.

Sebuah kilat emosi yang tidak terbaca melintas di mata kelam pria itu. Bukan amarah, melainkan sesuatu yang menyerupai... ketertarikan.

"Pak Joko akan mengantarmu ke mana pun kau pergi," putus Dylan akhirnya, memecah ketegangan. "Semua identitas klienmu harus diserahkan kepada Marco untuk background check. Aku tidak mau ada mata-mata politik Pak Hadi yang menyamar menjadi klienmu. Dan pastikan jam kerjamu tidak berbenturan dengan jadwal acara publikku."

Yvone menghela napas lega, bahunya yang tegang sedikit menurun. "Terima kasih."

"Jangan berterima kasih padaku," desis Dylan. Ia berdiri dan mengambil jasnya. "Aku hanya tidak ingin istriku terlihat seperti tahanan yang tertekan di depan kamera. Itu buruk untuk citra perusahaan."

Saat Dylan membalikkan badan untuk pergi, pintu lift pribadi berdenting terbuka.

"Dylaaaann!"

Sebuah suara ceria dan nyaring bergema di seluruh penthouse. Seorang wanita muda, mungkin sepantaran dengan Yvone, melangkah keluar dari lift. Ia mengenakan gaun desainer berwarna merah terang, kacamata hitam oversized, dan membawa tas Hermès Birkin di lengannya. Energi cerianya seketika menghancurkan atmosfer dingin di ruangan itu.

Langkah Dylan terhenti. Ia memijat pangkal hidungnya, tampak seolah baru saja mendapat serangan migrain. "Tara. Aku tidak ingat memberikanmu akses untuk datang ke sini sepagi ini."

"Oh, tutup mulutmu, Tuan CEO. Aku tidak akan melewatkan kesempatan melihat wanita yang membuat kakak lelakiku yang berdarah dingin ini menikah mendadak dalam waktu dua puluh empat jam!"

Wanita bernama Tara itu mengabaikan Dylan sepenuhnya dan berjalan cepat menuju ruang makan. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Yvone dengan mata cokelat yang bersinar ramah dan penuh rasa ingin tahu.

"Astaga," Tara terkesiap pelan. Ia menoleh ke arah Dylan, lalu kembali menatap Yvone. "Kau benar-benar manusia. Kupikir Dylan memesan robot silikon dari Jepang saking rahasianya pernikahan ini."

"Tara," tegur Dylan dengan nada rendah yang memperingatkan.

Tara mengibaskan tangannya, lalu mengulurkan tangan kanannya kepada Yvone. "Hai! Aku Tara Hartono. Adik kandung dari manusia es di sana. Kau pasti Yvone."

Yvone berdiri, sedikit ragu, namun menyambut uluran tangan itu. Genggaman Tara terasa hangat. "Y-Ya. Saya Yvone."

"Wah, cantik alami. Tulang pipimu bagus sekali, tidak perlu banyak kontur," gumam Tara sambil mengamati wajah Yvone dari dekat. Lalu ia berbalik menatap kakaknya dengan seringai jahil. "Selera yang bagus, Dyl. Kupikir kau akan menikahi salah satu lintah sosialita Jakarta yang membosankan itu."

"Aku harus ke kantor. Rapat pemegang saham dimulai jam delapan," ucap Dylan, tidak mempedulikan godaan adiknya. Ia menatap Tara dengan tajam. "Tim dari catatan sipil datang jam sepuluh. Pastikan dia siap. Dan Tara... jangan membuat kekacauan."

"Tenang saja, Kakanda. Aku yang akan mengambil alih mulai dari sini," Tara mengedipkan sebelah matanya.

Dylan menatap Yvone untuk terakhir kalinya. "Ingat kesepakatan kita. Jangan lakukan hal bodoh di luar sana." Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan menghilang ke dalam lift pribadi.

Begitu pintu lift tertutup rapat, Tara membuang napas panjang dan menjatuhkan dirinya di kursi yang tadi diduduki Dylan.

"Ugh, auranya sangat mencekik, kan? Aku bersumpah AC di sini suhunya turun sepuluh derajat kalau ada dia," keluh Tara santai sambil mencomot roti panggang dari piring Dylan yang belum tersentuh.

Ia kemudian menatap Yvone, kali ini tatapan jenakanya memudar, digantikan oleh simpati yang tulus.

"Dengar, Yvone. Aku tahu siapa ayahmu. Aku tahu berita tentang kasusnya. Dan aku sangat tahu bahwa pernikahan ini hanyalah rekayasa bisnis kakakku," ucap Tara lembut, membuat Yvone terkesiap karena keterusterangannya.

"Kau... tahu?" bisik Yvone.

"Tentu saja. Dylan mungkin tertutup, tapi aku adiknya. Aku tahu dia sedang bermain api dengan menteri-menteri korup di Jakarta dan Bali demi proyek besarnya," Tara tersenyum sendu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyentuh punggung tangan Yvone. "Dylan itu kejam, manipulatif, dan tidak percaya pada cinta sejak... sejak sebuah tragedi yang menghancurkan keluarga kami dulu."

Tara meremas tangan Yvone dengan hangat. "Tapi kau aman di sini bersamaku. Anggap saja aku sekutumu di dalam sangkar naga ini. Sekarang, habiskan sarapanmu. Kita punya dokumen legal yang harus ditandatangani, dan sebuah lemari pakaian yang harus kubakar sampai habis sebelum kita pergi berbelanja!"

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!