NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#4

Malam di desa itu jauh lebih pekat daripada kota A. Tidak ada pendar lampu jalan yang konsisten, hanya cahaya bulan yang pucat menyinari jalanan setapak menuju perpustakaan lama pesantren. Jantungnya berdegup kencang seolah sedang melakukan tindak kriminal.

Malam ini ia menanggalkan jubah dan pecinya. Ia hanya mengenakan celana kain hitam dan kaus polos hitam yang membalut tubuh atletisnya. Sebuah topi bisbol ditarik rendah menutupi dahi, menyembunyikan wajah "Gus" yang selama ini dipuja santri. Ini bukan gaya fashionable-nya saat di Kota A, tapi ini satu-satunya cara agar ia bisa menyelinap menemui kekasihnya tanpa mengundang curiga.

Di balik tembok tua perpustakaan, sebuah bayangan kecil bergerak.

"Zavi..." bisik suara yang sangat ia kenal.

Begitu Zavier mendekat. Tanpa Kata, Zaheera langsung menghambur ke pelukan Zavier. Aroma parfum high-end milik Zaheera yang kontras dengan bau tanah basah desa langsung menyerbu indra penciumannya.

Zavier membeku sejenak, nuraninya berteriak bahwa ini salah, bahwa mereka berada di tanah suci Abinya. Namun, rasa rindu yang membakar selama dua minggu ini menang. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Zaheera, mendekapnya erat, menghirup aroma rambut Zaheera yang selalu ia rindukan.

"Kamu jahat, Zavi. Kamu jahat!" Zaheera memukul dada Zavier pelan. "Kamu menghilang, Dan tiba-tiba kamu muncul jadi anak Kyai? Kamu mau mempermainkan aku?"

Zavier melepaskan pelukannya sedikit, memegang kedua bahu Zaheera. "Zee, dengarkan aku. Aku tidak pernah bermaksud membohongimu soal perasaanku. Tapi identitas ini... ini adalah sesuatu yang aku benci sekaligus aku takuti. Aku harus kembali karena Abi memintaku. Aku harus jadi penerus di sini."

Zaheera menatap Zavier dengan mata yang basah. "Penerus? Dengan cara jadi orang lain? Kamu yang aku kenal bukan pria yang hobi baca kitab, Zavi. Kamu pria yang membawaku ke puncak setiap malam. Kamu mau membuang itu semua demi Apa?"

Zavier memejamkan mata, kepalanya berdenyut. "Aku mencoba, Ra. Aku mencoba bertobat. Tapi melihatmu di sini... membuat semuanya jadi sia-sia."

Dan Kerinduan yang selama ini Mereka tekan seolah meledak. Saat Zaheera mencoba meraih tengkuknya dan berjinjit untuk mencium bibirnya, Zavier sedikit menjauhkan wajahnya.

"Sayang, jangan sekarang... nanti ada yang lihat," bisik Zavier cemas.

Cup.

Terlambat. Bibir ranum itu mendarat di sudut bibirnya dengan cepat. Zaheera terkekeh pelan, meski matanya berkaca-kaca. "Aku merindukanmu, Zavi. Rasanya mau gila."

Zavier menghela napas, membawa Zaheera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang tersembunyi di bawah pohon besar. Ia mulai menceritakan segalanya—tentang aturan ketat di rumahnya, tentang siapa ayahnya, dan bagaimana ia harus menjaga citra sebagai seorang Gus.

"Ku mohon, sayang... maafkan aku sudah membohongimu selama dua tahun," ucap Zavier lirih.

"Kenapa tidak membalas pesanku sama sekali?" tanya Zaheera menuntut.

"HP-ku disita, Zee. Di sana nggak bisa pegang HP sama sekali. Jangankan membalas pesan, menyalakannya saja bisa membuatku dihukum takzir di depan santri."

Zaheera menyandarkan kepalanya di bahu Zavier. "Kalau aku sering ke pesantren, apa aku bisa melihatmu di sana? Aku butuh melihatmu, Zavi."

Zavier menggeleng pelan. "Pesantren sangat luas, Sayang. Lagipula, kamu tidak akan menemukanku dengan mudah karena aku tinggal di ndalem (rumah inti kiai). Area santri putra dan putri dipisah sangat ketat."

Zaheera terdiam sejenak, jarinya memainkan ujung kaus hitam Zavier. "Zavi... seminggu setelah kamu pergi, aku pikir aku hamil. Aku telat datang bulan."

Tubuh Zavier menegang seketika. Dunianya seolah berhenti berputar. "Apa?"

"Tapi ternyata itu karena aku stres," lanjut Zaheera cepat, merasakan ketegangan di bahu kekasihnya. "Aku hanya terlalu merindukanmu sampai hormon ku kacau. Tapi bayangan itu sempat membuatku ketakutan setengah mati."

Zavier memejamkan mata, duka dan rasa bersalah terpancar jelas di wajahnya. Ia merengkuh bahu Zaheera lebih erat. "Sayang... maafkan aku. Aku benar-benar sampah karena meninggalkanmu dalam keadaan seperti itu."

"Aku memaafkan mu," bisik Zaheera.

Zavier menatap penampilan Zaheera. Rambut pirang kecokelatan nya terurai bebas. "Kenapa tidak pakai jilbab seperti Mommy?" tanya Zavier hati-hati.

"Nggak ah... nanti nggak bisa bermesraan sama kamu kayak gini. Malu sama jilbabnya kalau aku masih begini sama kamu," jawab Zaheera jujur.

"Sayang, kenapa kita tidak mencoba hijrah bersama? Daddy-mu juga sekarang sudah hijrah. Mau mencoba?"

Zaheera terdiam. Ia menatap dalam mata Zavier yang kini tampak begitu serius. "Aku... aku masih merindukan sentuhanmu, Zavi. Dan aku merindukan dirimu yang dulu. Aku merasa tidak pantas pakai penutup kepala dengan segala dosa yang kita lakukan."

"Hey, kata siapa?" Zavier mendekatkan diri, meraih tengkuk leher Zaheera dengan lembut. Kali ini ia tidak menghindar. Ia melumat bibir kekasihnya dengan lembut, sebuah ciuman yang lambat dan penuh perasaan, bukan ciuman kasar menggebu-gebu seperti biasa.

Setelah melepaskan tautan itu, Zavier menyandarkan dahinya ke dahi Zaheera. "Aku sampah sekali, Zee. Aku menciummu di sini, di tanah pesantren. Tapi saat aku masuk ke dalam nanti, aku kembali menjadi orang suci tanpa dosa di mata mereka. Rasanya sangat munafik."

Cup. Ia mencium kening Zaheera lagi.

Nafsu dan rindu kembali mengambil alih. Zavier kembali mencium Zaheera dengan rakus, sebuah ciuman yang penuh dengan rasa frustrasi dan haus yang tak tertahankan. Zaheera membalasnya dengan lebih liar, tangannya masuk ke bawah baju Kaos Zavier, mencari kehangatan kulit yang selama ini menjadi candunya.

"Zavi... aku nggak tahan tinggal di sini, kalau nggak ada kamu," bisik Zaheera di sela ciuman mereka.

"Sshhh... diamlah, Zee. Kita bisa ketahuan," Zavier berbisik di telinga Zaheera, namun tangannya sendiri tidak bisa berhenti menjamah tubuh kekasihnya.

Di tengah kegelapan itu, Zavier merasa dirinya benar-benar hancur. Ia merasa seperti iblis yang sedang menodai rumah Tuhan. Namun, ia tidak bisa berhenti. Baginya, Zaheera adalah satu-satunya realita yang ia miliki di tengah dunia kepura-puraan yang ia jalani sebagai seorang Gus.

...----------------...

"Kamu akan kuliah di sini juga?" tanya Zavier.

"Iya, Daddy memindahkan ku ke universitas Tak Jauh Dari sini. Jurusan Ekonomi," jawab Zaheera lesu.

"Semangat, Sayang. Ternyata fakultas kita tidak sama. Aku di jurusan Syariah," Zavier mencoba tersenyum.

"Jurusan syariah itu apa, Gus Zavi?" goda Zaheera.

Panggilan 'Gus' itu membuat Zavier terdiam seketika. Ada rasa perih di dadanya mendengar gelar terhormat itu keluar dari mulut wanita yang tahu benar sisi tergelap nya. "Sayang... jangan panggil Gus kalau kita sedang berdua. Aku malu."

"Baiklah. Sampai jumpa besok di kampus," ucap Zaheera sambil berdiri.

"Iya, Sayang. Aku harus segera kembali sebelum Mas Azlan mengecek kamarku. Maaf kalau nanti aku sulit memberi kabar."

Zavier baru saja hendak melangkah pergi ketika Zaheera berdehem sedikit keras. Kode itu sangat familiar. Zavier berhenti, tersenyum tipis, lalu berbalik. Ia kembali mendekati Zaheera, mencium keningnya lama, lalu ia berjongkok, menundukkan wajahnya tepat di depan perut Zaheera.

"Daddy pulang dulu, Sayang. Baik-baik sama Mommy," bisik Zavier di depan perut Zaheera, seolah-olah menyapa janin yang tadi sempat mereka bicarakan. Itu adalah kebiasaan manis sekaligus pahit yang sering mereka lakukan, saat berandai-andai tentang masa depan.

Cup. Ia mengecup perut Zaheera melalui kain kausnya.

"Aku pergi dulu. Hati-hati di jalan pulang," bisik Zavier sebelum akhirnya menghilang di balik kegelapan bangunan tua, meninggalkan Zaheera yang berdiri terpaku dengan air mata yang mulai menetes.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!