Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
“Tuan, pihak kepolisian sedang mencari keluarga Nona Li untuk mengenali jasadnya,” kata Marcus dengan suara hati-hati. Ia tahu kabar itu bukan sesuatu yang mudah diterima.
Nathan terdiam.
Beberapa detik terasa sangat panjang. Tatapannya kosong, seolah otaknya menolak memproses kata-kata itu.
“Aku akan pergi,” ucap Nathan akhirnya dengan suara rendah namun tegas.“Aku tidak percaya Calista melakukan hal ini. Aku akan memastikannya dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah menuju pintu gedung apartemen. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari, seakan firasat buruk sedang mengejarnya.
Marcus segera mengikuti dari belakang.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berdiri di depan apartemen yang selama ini ditempati Calista.
Nathan menatap pintu itu sesaat.
Tangannya perlahan menekan sandi keamanan. Bunyi bip terdengar, lalu pintu terbuka dengan pelan.
Nathan masuk terlebih dahulu.
Ruangan itu gelap dan sunyi.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada musik yang biasanya diputar Calista. Bahkan aroma parfum gadis itu pun terasa samar.
Seolah ruangan itu telah lama ditinggalkan.
Nathan menyapu ruangan dengan tatapan tajam, mencoba mencari sesuatu yang tidak beres.
Tanpa menunggu lama, ia langsung menuju kamar Calista.
Pintu kamar terbuka.
Di dalamnya lebih sunyi lagi.
Ruangannya rapi—terlalu rapi.
Namun di atas meja kecil di samping tempat tidur, terdapat sesuatu yang langsung menarik perhatian Nathan.
Sepucuk surat.
Dan sebuah cincin.
Nathan mendekat perlahan. Tangannya mengambil surat itu lebih dulu. Kertasnya terasa ringan, tetapi entah mengapa terasa begitu berat di tangannya.
Ia membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca.
“Nathan… setelah kau menemukan surat ini, aku sudah pergi jauh. Jangan mencari tahu apa alasanku. Aku hanya ingin bebas dari mimpi buruk. Selamat tinggal.”
Nathan menurunkan surat itu perlahan.
Tatapannya mengeras.
“Pergi jauh…?” gumamnya pelan.
“Ia ingin bebas… dari mimpi buruk?”
Nathan menatap kosong ke arah depan, mencoba memahami maksud kalimat itu.
“Mimpi buruk apa…?” bisiknya hampir tak terdengar.
Kemudian ia mengambil cincin yang berada di atas meja.
Cincin pertunangan mereka.
Cincin yang dulu ia pasangkan di jari Calista.
Nathan menggenggamnya erat.
“Dia bahkan meninggalkan cincin pertunangan kami,” ucapnya lirih, suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya.
Marcus yang berdiri di belakangnya ikut mengamati ruangan itu dengan teliti.
“Tuan… sepertinya Nona Li sudah lama meninggalkan apartemen ini,” kata Marcus setelah memperhatikan keadaan sekitar. “Tidak ada tanda-tanda aktivitas baru.”
Nathan tetap menatap cincin di tangannya.
Beberapa detik kemudian, tatapannya berubah tajam.
“Marcus,” panggilnya.
“Ya, Tuan.”
“Selidiki apa yang terjadi pada Calista dalam dua minggu terakhir,” perintah Nathan dengan suara dingin yang kembali menunjukkan wibawanya. “Aku ingin tahu setiap detailnya.”
Marcus langsung mengangguk.
“Periksa juga rekaman CCTV apartemen ini,” lanjut Nathan. “Siapa yang datang… siapa yang pergi… dan kapan terakhir kali dia terlihat.”
Ia menatap surat di tangannya sekali lagi.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Nathan mengepalkan surat itu perlahan.
“Calista tidak mungkin pergi begitu saja,” katanya dingin.
Beberapa saat kemudian…
Nathan dan Marcus tiba di kamar mayat rumah sakit kota. Koridor panjang itu dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk hidung. Lampu putih di langit-langit menyala terang, tetapi suasananya terasa dingin dan suram.
Seorang detektif menunggu mereka di depan pintu ruangan.
“Silakan ikut saya,” katanya singkat.
Nathan tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berjalan masuk dengan langkah berat, sementara Marcus mengikuti di belakangnya.
Di dalam ruangan, sebuah ranjang besi berdiri di tengah. Di atasnya terbujur sebuah jasad yang tertutup kain putih.
Udara terasa semakin dingin.
“Korban ditemukan tidak bernyawa di tepi pantai,” jelas detektif itu sambil membuka sebuah kantong plastik transparan berisi barang-barang milik korban. “Wajahnya tidak bisa dikenali akibat benturan dan gesekan dengan batu karang. Kami menemukan kartu pengenal di saku korban.”
Ia menyerahkan plastik tersebut kepada Nathan.
Nathan menerimanya dengan tenang, meskipun jari-jarinya sedikit menegang.
Di dalam kantong itu terdapat beberapa barang—sebuah kartu identitas, ponsel yang rusak, dan beberapa benda kecil lainnya.
Nama pada kartu itu tertulis jelas.
Calista Li.
Namun Nathan masih belum bergerak.
Tatapannya tertuju pada tubuh yang tertutup kain putih di ranjang.
Perlahan, ia melangkah mendekat.
Tangannya terangkat dan membuka penutup kain itu.
Wajah jasad wanita itu rusak parah. Kulitnya pucat, dan bekas benturan terlihat jelas akibat terbawa arus laut dan menghantam batu karang.
Sulit untuk mengenalinya.
Nathan menatapnya lama, seolah berharap semua ini hanyalah kesalahan.
Namun kemudian, matanya berhenti pada sesuatu di pundak jasad itu.
Sebuah tato bunga mawar kecil.
Tatapan Nathan membeku.
Tato itu… hanya dimiliki oleh satu orang.
Tangannya perlahan mengepal.
“Dia adalah Calista,” ucap Nathan pelan, suaranya berat.
Marcus menundukkan kepala. Wajahnya ikut menegang.
Keheningan memenuhi ruangan beberapa saat.
Nathan tetap berdiri diam di samping jasad Calista.
Tatapannya dingin, namun jauh di dalam matanya tersimpan sesuatu yang lebih gelap—kemarahan yang perlahan tumbuh.
Marcus memandang detektif yang berdiri di dekat mereka.
“Detektif, apakah hasil pemeriksaan forensik menemukan sesuatu yang mencurigakan?” tanya Marcus dengan nada serius. “Kami tidak percaya Nona Li bunuh diri begitu saja.”
Detektif itu terdiam sejenak, lalu membuka map tipis di tangannya.
“Tim forensik memang tidak menemukan tanda kekerasan fisik yang menyebabkan kematian secara langsung,” jelasnya. “Namun ada satu hal yang cukup menarik.”
Nathan mengangkat sedikit kepalanya, menatap detektif itu dengan sorot mata tajam.
“Apa itu?” tanyanya singkat.
Detektif itu menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Pada tubuh korban ditemukan beberapa bekas luka lebam lama,” katanya. “Menurut analisis tim forensik, lebam tersebut sudah ada sekitar dua minggu sebelum korban meninggal.”
Marcus langsung mengernyit.
“Lebam?” ulangnya.
“Benar,” lanjut detektif itu. “Lukanya sudah mulai memudar, jadi kemungkinan besar bukan disebabkan oleh kejadian di pantai. Itu berarti korban mengalami benturan atau tekanan fisik sebelumnya.”
Ruangan itu mendadak terasa sunyi.
Nathan perlahan mengepalkan tangannya.
“Di bagian mana?” tanyanya dingin.
“Di lengan, dada dan bagian punggung,” jawab detektif. “Tidak terlalu mencolok, tapi jelas terlihat bagi tim forensik.”
Tatapan Nathan berubah semakin gelap.
Dua minggu yang lalu…
Itu hampir bersamaan dengan waktu terakhir ia bertemu Calista.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???