NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: DAMIAN KECIL

Lorong itu lebih panjang dari perkiraanku.

Aku sudah berjalan mungkin tiga puluh langkah sejak meninggalkan lemari, tapi ujung lorong masih belum terlihat. Hanya gelap. Dan dingin. Dan bisikan-bisikan kecil yang aku pilih untuk tidak didengar.

Aku hanya capek. Pikiranku mulai berkhayal.

Tapi kakiku terus melangkah.

Dinding di kanan-kiriku bukan tembok biasa. Ini batu bata tua, kusam, dengan coretan-coretan kapur di beberapa tempat. Aku menyorotkan ponsel ke salah satunya.

"Aku di sini."

Tulisan anak kecil. Tidak rapi, seperti digores dengan tangan gemetar.

Aku lanjutkan langkah. Lima meter kemudian, coretan lain:

"Kenapa ditinggal?"

Dan yang ketiga:

"Aku masih hidup."

Telapak tanganku berkeringat. Ini bukan lorong biasa. Ini lorong yang sengaja dibuat untuk seseorang. Atau oleh seseorang.

Apa ini tempat Damian kecil dikurung?

Udara di sini berbeda. Lebih berat. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup kapas basah. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, terlalu cepat, terlalu keras di telinga.

Dan di antara detak itu—

Kreek.

Suara. Dari depan.

Aku berhenti. Ponsel kuangkat, cahaya putih menyorot ke depan.

Tidak ada apa-apa. Hanya lorong yang terus membentang.

Kreek.

Suara kedua. Lebih dekat. Seperti ayunan tua yang bergerak ditiup angin. Tapi tidak ada angin di sini. Tidak ada jendela. Tidak ada ventilasi.

Aku menelan ludah.

Balik saja. Ini gila. Kamu tidak tahu apa yang ada di sana—

Tapi kakiku tidak bergerak.

Karena dari ujung lorong, di batas cahaya ponselku, ada sesuatu yang bergerak.

Kecil.

Seukuran anak-anak.

Tidak. Tidak, tidak, tidak—

Benda itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Perlahan, seperti ragu-ragu, seperti takut.

Cahaya ponselku akhirnya menangkapnya.

Seorang bocah lelaki.

Usianya mungkin tujuh atau delapan tahun. Rambut hitam lebat, sedikit berantakan. Pirama sutra biru tua yang kebesaran, lengannya kelebihan sampai menutupi jari. Kakinya telanjang, pucat, hampir kebiruan.

Dan matanya.

Mata itu.

Bentuknya persis seperti mata Damian. Tapi tidak kosong. Tidak beku. Matanya basah, merah di pinggir, seperti baru menangis berjam-jam.

Bocah itu menatapku. Lalu tersenyum.

Senyum paling polos yang pernah kulihat.

Dan itu justru yang paling menakutkan.

---

"Kak... main sama aku?"

Suaranya kecil. Lembut. Seperti anak sungguhan.

Tapi ini tidak mungkin anak sungguhan.

Ini tengah malam. Di lorong rahasia. Di rumah mafia.

Aku mundur selangkah. Ponselku hampir jatuh.

Bocah itu tidak mendekat. Ia tetap di tempatnya, kepala sedikit miring, tersenyum.

"Kak, takut?"

Aku mencoba bicara. Suaraku serak.

"K—kamu siapa?"

Bocah itu menunduk. Tangannya yang kelebihan lengan baju meremas ujung piyama.

"Aku Damian."

Dunia serasa berhenti.

"Tapi Damian yang di luar tidak suka aku." Ia menunjuk ke atas, ke arah mansion. "Dia kunci aku di sini. Sudah lama."

Rahangku mengencang.

Ini gila. Ini benar-benar gila. Damian dewasa tidak mungkin—

Tapi aku ingat semua coretan di dinding. Semua tulisan "aku masih di sini". Dan buku harian yang belum sempat kubaca.

Mungkin ini anaknya? Mungkin Damian punya anak yang disembunyikan?

Tidak. Usianya tidak cocok. Damian baru 29. Anak 8 tahun berarti dia punya di usia 21—mungkin saja. Tapi tidak ada catatan pernikahan sebelumnya. Rania bilang Damian tidak pernah menikah.

Jadi siapa ini?

"Kak, main petak umpet yuk."

Bocah itu melompat kecil. Antusias. Matanya berbinar.

"Aku suka petak umpet. Dulu aku main sama Mama. Tapi Mama sudah pergi."

Aku main sama Mama.

Mama sudah pergi.

Ibu Damian. Wanita yang Rania bilang "tidak pernah dibicarakan siapa pun".

"Kak?" bocah itu memiringkan kepala. "Kak marah?"

Aku menggeleng. Cepat. Mungkin terlalu cepat.

"Tidak. Aku tidak marah."

Bocah itu tersenyum lebar. "Ayo main! Aku jaga dulu, Kakak sembunyi!"

Ia berbalik, berlari kecil ke ujung lorong, lalu berjongkok menghadap dinding. Tangannya menutup mata.

"Satu... dua... tiga..."

Aku masih diam di tempat. Otakku bekerja keras mencerna.

Ini anak kecil. Anak kecil sungguhan. Tapi bagaimana caranya masuk ke lorong ini? Pintu dari kamarku hanya bisa dibuka dari luar. Damian dewasa yang punya kuncinya. Berarti—

"...delapan... sembilan... sepuluh! Aku cari, Kak!"

Bocah itu berbalik.

Lalu matanya membelalak.

Lorong kosong.

Aku sudah bersembunyi.

---

Di balik tikungan lorong, aku mendengar langkah kaki kecil mendekat.

Aku tidak tahu kenapa aku ikut main. Mungkin karena naluri. Mungkin karena aku ingin tahu lebih banyak. Atau mungkin karena matanya—matanya yang basah itu—mengingatkanku pada seseorang.

Kakak.

Dulu, sebelum kakak mati, kami sering main petak umpet di rumah nenek. Kakak selalu jadi pencari. Aku yang sembunyi. Dan kakak selalu bilang...

"Ketemu!"

Bocah itu muncul di depan wajahku.

Aku tersentak jatuh.

Ia tertawa. Tawa kecil, bersih, seperti lonceng angin.

"Kak, sembunyi jelek! Keliatan!"

Aku menarik napas, berusaha tenang. "Kamu pintar cari."

Bocah itu duduk di sampingku. Di lantai dingin, tanpa alas kaki.

"Kak, kenapa ke sini?" tanyanya.

"Aku dengar suara ketukan."

"Oh. Itu aku." Ia tersenyum malu. "Aku bosen sendiri."

"Kamu selalu di sini?"

"Iya. Dari dulu." Ia menghitung dengan jari. "Dari... dari... lama banget. Aku lupa."

Hatiku terenyuh.

Anak ini—apa pun dia—anak ini kesepian.

"Kak, kamu temannya Damian?"

Pertanyaan itu mengagetkanku. "Maksudmu Damian yang... di luar?"

"Iya. Yang jahat."

"Kamu bilang dia jahat?"

Bocah itu mengangguk. Wajahnya berubah muram.

"Dia jahat. Dia kunci aku. Dia pukul aku. Dia teriak-teriak kalau aku keluar." Ia memeluk lututnya. "Aku cuma mau main. Tapi dia marah terus."

Ini tidak masuk akal. Damian dewasa—dingin, beku, tak pernah bicara—marah-marah?

Atau jangan-jangan...

Jangan-jangan ini anaknya sendiri yang dia siksa?

Tapi mataku tidak bisa berbohong. Bocah ini tidak terlihat seperti korban kekerasan fisik. Tidak ada memar. Tidak ada luka. Kulitnya pucat, tapi bersih.

"Kak, kamu takut sama Damian?"

Aku berpikir sejenak. "Aku... tidak tahu."

"Aku takut." Bisiknya. "Tapi aku sayang dia."

"Sayang?"

"Iya. Kan dia aku. Aku dia."

Bulu kudukku berdiri.

"Kan dia aku. Aku dia."

Maksudnya?

"Kak, kamu mau jadi temanku?"

Bocah itu menatapku dengan mata lebar. Penuh harap. Seperti anak jalanan yang melihat roti di etalase.

Aku tidak bisa berkata tidak.

"Ya. Aku mau."

Senyumnya merekah. Ia melompat berdiri.

"Asyiiik! Aku punya teman! Aku punya teman!"

Ia berputar-putar di lorong sempit, piyama kebesarannya berkibar. Aku tersenyum—pertama kali sejak masuk mansion ini.

Lalu ia berhenti.

Menatapku.

"Kak, aku mau kasih lihat sesuatu."

---

Tangannya yang kecil meraih tanganku.

Dingin.

Tidak seperti dingin biasa. Dingin seperti es yang sudah berhari-hari di freezer. Tapi aku tidak menarik tangan. Biar saja.

Ia menuntunku ke ujung lorong, ke sebuah pintu besi kecil. Hanya setinggi satu meter. Seperti pintu kandang anjing.

"Di sini. Aku dulu di sini."

Ia membuka pintu itu. Aku harus merangkak untuk masuk.

Di dalam—

Sebuah ruangan.

Lebih kecil dari kamar mandiku. Lantai beton. Dinding beton. Tidak ada jendela. Tidak ada lampu. Hanya satu selimut usang di pojok, dan satu boneka beruang tanpa mata.

Dan di dinding...

Tulisan. Ribuan tulisan.

"Aku takut."

"Mama jangan pergi."

"Panas. Haus."

"Aku baik-baik saja."

"Aku sayang Mama."

"Tuhan tolong aku."

"Aku mati di sini."

Tanganku menutup mulut.

Ini bukan tempat tinggal. Ini penjara. Sel hukuman.

Untuk anak kecil.

"Kak, dulu aku di sini lama." Bocah itu duduk di atas selimut usang. "Damian suruh aku diam. Kata dia, kalau aku keluar, kita mati berdua."

Aku sulit bernapas.

"Damian... yang di luar?"

"Iya. Dia jaga aku. Tapi dia juga jahat." Ia memeluk boneka beruang. "Aku kadang benci dia. Tapi kalau aku benci dia, aku sedih. Kan dia aku."

Dia aku.

Kata-kata itu terus berputar di kepalaku.

Dan tiba-tiba—

Menstruositas.

Aku ingat kuliah psikologi forensik. Kasus-kasus langka. Dissociative Identity Disorder. Kepribadian ganda.

Salah satu kepribadian sering kali adalah versi anak-anak dari penderita—terjebak di usia saat trauma terjadi. Terkunci di dalam, sementara kepribadian utama mengambil alih.

Tidak. Tidak mungkin.

Tapi aku melihat lagi bocah ini. Matanya. Matanya persis Damian.

Dan aku ingat kata-kata Rania: "Tuan Damian tidak punya masa kecil."

Dan aku ingat Damian dewasa yang berkata: "Jangan pernah sentuh aku."

Seperti takut. Seperti—takut kepribadian ini keluar.

"Kak?"

Bocah itu mendekat. Meraih tanganku lagi.

"Kak, kamu mau tinggal di sini? Temani aku?"

Aku menelan ludah. "Aku... tidak bisa. Aku harus kembali."

"Kenapa?" Matanya berkaca-kaca. "Aku jahat? Aku nakal?"

"Tidak, bukan begitu—"

"Aku janji aku baik. Aku janji aku diam. Aku janji aku tidak ganggu. Tolong, Kak, jangan tinggal—"

Air matanya jatuh.

Dan hatiku hancur.

Ini bukan anak sungguhan. Tapi ini nyata. Perasaannya nyata.

Aku berlutut, meraih wajah kecil itu. Dingin. Basah.

"Aku akan kembali. Aku janji."

"Sungguh?"

"Sungguh."

Ia tersenyum di tengah tangisan. Senyum paling menyayat hati yang pernah kulihat.

"Kak, aku mau bilang sesuatu."

"Apa?"

Ia mendekat. Berbisik di telingaku.

"Damian dewasa takut sama kamu."

Aku terkejut. "Takut?"

"Iya. Karena kamu bisa lihat aku. Orang lain enggak bisa." Ia menarik sedikit. "Dia takut aku kabur. Lewat kamu."

"Aku tidak mengerti."

"Kamu... mungkin bisa selamatkan aku."

Selamatkan?

"Atau..." Ia menunduk. "...bunuh aku."

Bulu kudukku berdiri.

"Terserah Kakak."

---

Tiba-tiba—

Langkah kaki.

Dari luar ruangan. Berat. Dewasa.

Bocah itu membeku. Matanya membelalak.

"Dia datang."

Siapa?

"Damian." Bisiknya. "Damian dewasa. Dia marah."

Langkah itu mendekat. Semakin dekat. Berhenti tepat di luar pintu besi.

Aku menahan napas.

Pintu besi itu—

Ditarik dari luar.

Cahaya masuk. Menyilaukan.

Dan di ambang pintu, berdiri sesosok tinggi. Jas hitam. Rambut tersisir rapi. Wajah tanpa ekspresi.

Damian.

Dewasa.

Matanya—matanya yang beku itu—menatap lurus ke arahku.

Lalu ke sampingku.

Ke tempat bocah itu berdiri.

Bocah itu mundur. Tubuhnya gemetar.

"Damian... aku... aku cuma—"

"DIAM."

Suara Damian dewasa menggema di ruangan sempit. Dingin. Mematikan.

Bocah itu menangis tanpa suara.

Damian dewasa melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah—

Ia berhenti tepat di depanku.

Tapi matanya tidak padaku.

Matanya ke tempat kosong di sampingku.

"Kau lihat dia?"

Suaranya berbeda. Tidak dingin. Tidak beku. Tapi... getir. Seperti luka yang tidak pernah sembuh.

Aku tidak bisa berbohong.

"Ya."

Rahangnya mengeras. Matanya—untuk pertama kali—menunjukkan sesuatu.

Takut.

"Sial."

---

Damian meraih lenganku. Kencang. Hampir melukai.

"KELUAR. SEKARANG."

Ia menarikku paksa dari ruangan itu. Aku sempat menoleh ke belakang—

Bocah itu masih di sana. Berdiri di tengah ruangan sempit. Menatapku dengan mata basah.

Bibirnya bergerak. Membaca kata:

"Jangan lupa janji."

Lalu pintu besi itu tertutup.

---

Damian menyeretku melewati lorong. Cepat. Kasar. Aku hampir tersandung piyama panjangku sendiri.

Sampai di ujung lorong—di depan lemari kamarku—ia berhenti.

Melepaskanku.

Membantingkan tangannya ke dinding di samping kepalaku.

Suara keras. Sampai retak.

"Kau tidak boleh ke sana lagi."

Napasnya berat. Matanya merah.

"Kau dengar aku? TIDAK BOLEH."

Aku gemetar. Tapi aku tidak mau menunjukkan takut.

"Kenapa?"

"Karena itu berbahaya."

"Untuk siapa? Untukku? Atau untuk dia?"

Damian diam.

"Dia siapa, Damian?"

Ia tidak menjawab.

"Dia bilang namanya Damian. Dia bilang dia kamu. Dia bilang kamu kunci dia di sana. Apa itu benar?"

Damian menatapku. Lama.

Lalu—

Untuk pertama kali—

Aku melihat sesuatu di mata pria ini.

Bukan dingin. Bukan kemarahan.

Tapi... kepedihan. Yang begitu dalam, begitu tua, begitu membusuk, sampai ia lupa rasanya menangis.

"Dia..." Suaranya serak. Hampar. Seperti tidak pernah digunakan untuk bicara lama. "...bukan siapa-siapa."

"Jangan bohong."

"Dia... masa laluku. Yang seharusnya mati."

Dadaku sesak.

"Tapi dia tidak bisa mati. Dan aku tidak bisa hidup. Selama dia ada."

Ia menatapku. Mata itu—kosong lagi. Tapi kali ini, aku tahu. Di balik kosong itu, ada sesuatu yang menjerit.

"Kau lihat dia. Berarti kau bisa melihat monster dalam diriku."

Ia mendekat. Satu inci dari wajahku.

"Pilihanmu sekarang: lari. Jauh. Sejauh mungkin. Atau..."

Ia berhenti.

"...tinggal dan mati bersamaku."

---[BERSAMBUNG]---

Bab 5: MONSTER ATAU KORBAN?

Damian dewasa mengancam, tapi ternyata melindungi?

Siapa sebenarnya Damian Kecil?

Dan mengapa ia bilang Alea bisa menyelamatkan—atau membunuhnya?

Jangan lewatkan bab selanjutnya! LIKE, KOMEN, dan SHARE jika kamu penasaran dengan rahasia Damian! Siapa paling banyak minta update, akan dapat spoiler eksklusif!

Sampai jumpa di chapter berikutnya! 💋

 

#TheDevilsWife #NovelMafia #RomancePsikologi #DamianxAlea

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!