NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Pukul 08.30 malam. Sunyi merayap di setiap sudut kantor, hanya menyisakan deru mesin printer yang baru saja memuntahkan lembar terakhir. Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang seolah sudah tersedot habis oleh layar monitor. Tanganku yang sedikit gemetar merapikan tumpukan kertas itu ke dalam beberapa map besar, memastikannya rapi tanpa ada satu sudut pun yang tertekuk.

Selesai. Tiga puluh menit lebih awal dari target yang aku tetapkan sendiri.

Aku bangkit berdiri, merasakan sensasi pening yang mendadak menyerang kepalaku. Aku memejamkan mata sejenak, mencengkeram pinggiran meja hingga rasa melayang itu hilang. Setelah merasa cukup stabil, aku menyambar tumpukan map itu dan melangkah menuju ruangan di ujung lorong.

Setiap langkahku terasa berat, namun ada kepuasan getir yang membuncah di dada. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa "Azzalia yang dingin" ini tidak semudah itu untuk dihancurkan dengan tumpukan kerjaan.

Aku tidak mengetuk pintu. Aku langsung membukanya.

Danendra sedang duduk menyandarkan punggung, menatap layar tablet dengan kacamata bertengger di hidungnya—pemandangan yang jarang kulihat namun terlihat sangat berwibawa. Begitu pintu terbuka, ia mendongak. Ada kilatan keterkejutan yang melintas sangat cepat di matanya saat melihatku berdiri di sana dengan rambut yang mulai berantakan dan lengan kemeja yang masih tergulung.

Brak!

Aku meletakkan tumpukan map itu di atas mejanya dengan suara yang cukup keras hingga memutus keheningan di antara kami.

"Semua berkas yang Anda minta, Pak Danendra. Lengkap dengan rekapitulasi lima tahun terakhir, integrasi sistem, dan draf presentasi untuk besok pagi," ucapku dengan suara serak namun penuh penekanan.

Danendra melepaskan kacamatanya perlahan, menatap tumpukan berkas itu, lalu beralih menatapku lekat-lekat. "08.30. Kamu bekerja lebih cepat dari yang saya bayangkan," ucapnya datar, suaranya terdengar jauh lebih rendah di malam yang sunyi ini.

"Saya hanya tidak ingin berlama-lama berada di gedung ini," balasku cepat, menantang manik matanya yang kini kembali meneduh. "Sekarang, karena tugas saya sudah selesai dan bentuk hardcopy-nya sudah ada di meja Anda, saya permisi pulang."

Aku berbalik tanpa menunggu jawaban. Namun, baru dua langkah aku bergerak, suara kursinya yang berderit dan langkah kakinya yang cepat membuatku waspada.

"Azzalia, tunggu."

Tangannya meraih pergelangan tanganku, tidak kuat, namun cukup untuk menghentikan langkahku. Sentuhan itu terasa sangat kontras—telapak tangannya yang hangat menyentuh kulitku yang dingin karena AC kantor.

"Lepas, Pak. Ini di luar jam kerja," desisku tanpa menoleh.

"Lihat aku sebentar, Zal," pintanya. Suaranya kini tidak lagi seperti atasan yang kejam. Nada baritonnya pecah, menyiratkan rasa bersalah yang sejak tadi ia sembunyikan di balik topeng kediktatorannya.

Aku menarik napas panjang dan memutar tubuhku, menatapnya dengan sisa-sisa zirahku yang sudah sangat rapuh. "Apalagi, Nen? Kamu mau kasih tugas tambahan? Mau kasih berkas setumpuk lagi? Silakan. Aku akan kerjakan sekarang juga kalau itu bisa bikin kamu puas dan berhenti ngusik aku!"

Danendra terdiam. Matanya memindai wajahku yang pucat dengan lingkaran hitam yang semakin jelas. Perlahan, ia melepaskan genggamannya, seolah baru sadar bahwa ia baru saja menyakiti orang yang paling ingin ia lindungi.

"Bukan itu..." gumamnya lirih. "Aku cuma mau bilang... kerja bagus. Sekarang, ayo pulang. Aku antar."

Aku tertawa getir, tawa yang penuh luka. "Pulang? Setelah seharian kamu perlakukan aku seperti mesin, sekarang kamu mau jadi pahlawan lagi? Enggak, terima kasih. Aku bawa motor, dan aku masih sanggup pulang sendiri."

Aku melangkah keluar ruangan itu dengan sisa harga diri yang kumiliki, meninggalkan Danendra yang hanya bisa berdiri mematung di tengah ruangannya yang mewah namun terasa sangat hampa.

Sampai di parkiran, aku langsung memacu motorku membelah angin malam Kota J yang terasa menusuk. Namun, aku tidak mengarahkan kemudi menuju kost. Aku belum siap menghadapi kesunyian di kamar yang hanya akan membuat bayangan Danendra kembali menghantuiku.

Tujuanku adalah sebuah kafe kecil di sudut jalan yang cukup tenang—kafe milik Fattah. Aku butuh jus strawberry buatannya yang asam manis dan dingin, sesuatu yang mungkin bisa memberikan sedikit rasa segar pada jiwaku yang sudah kerontang hari ini.

Fattah adalah temanku waktu kuliah dulu. Dia berhasil lulus tepat waktu dan menyandang gelar sarjana, sementara aku? Aku memilih untuk menunda impian akademik itu. Enam tahun pelarian memaksaku untuk lebih dulu mengumpulkan uang demi bertahan hidup dan menabung untuk hari-hari sulit. Melihat kesuksesannya membangun kafe ini terkadang membuatku sedikit iri, namun lebih banyak rasa syukur karena setidaknya ada satu orang dari masa laluku yang hidupnya tidak berantakan sepertiku.

Sesampainya di depan kafe, aku tidak langsung masuk. Aku mematikan mesin motor dan duduk diam di atas jok sejenak, mengatur napas yang masih terasa berat. Di dekat pintu masuk, aku melihat Mili, kucing ras campuran milik Fattah yang berbulu abu-abu lebat, sedang duduk santai menjilati kakinya.

"Hai, Mili," bisikku lirih.

Mili berhenti sejenak, menatapku dengan mata bulatnya yang jernih seolah ia tahu bahwa manusia di depannya ini sedang memikul beban berton-ton. Ia berjalan mendekat, menggesekkan tubuhnya yang hangat dan lembut ke pergelangan kakiku yang kaku. Sentuhan kecil dari makhluk tak bersuara itu entah kenapa terasa jauh lebih jujur dan menenangkan daripada semua konfrontasi yang kualami di kantor tadi.

Aku berjongkok, mengelus kepala Mili perlahan. "Setidaknya kamu nggak pernah nuntut apa-apa ya, Mil," gumamku dengan senyum miris.

Baru saja aku hendak berdiri, pintu kaca kafe terbuka, denting bel menyambut, dan sosok Fattah muncul dengan celemek cokelatnya.

"Zal? Gila, lo masih pakai kemeja kantor jam segini?" sapa Fattah kaget, matanya memindai penampilanku yang kacau. "Lo habis dikejar penagih utang atau gimana? Muka lo udah kayak zombie."

Aku hanya menghela napas panjang, bangkit berdiri sambil menggendong Mili sebentar. "Jus strawberry, Tah. Yang dingin banget. Gue butuh itu sekarang."

Fattah menggelengkan kepala, membukakan pintu lebih lebar untukku. "Masuk dulu. Lo kelihatan butuh tempat duduk lebih dari sekadar jus strawberry."

Saat aku melangkah masuk ke dalam kafe yang beraroma kopi dan kayu itu, aku merasa sedikit lega. Tapi tanpa kusadari, jauh di belakangku, sorot lampu sebuah mobil hitam baru saja meredup di seberang jalan. Danendra tidak pernah benar-benar membiarkanku pulang sendiri, meskipun aku sudah menolaknya dengan begitu kejam.

Fattah menyodorkan segelas besar jus strawberry berwarna merah cerah yang masih berembun dingin di depanku. Ia menarik kursi kayu di seberangku, lalu duduk sambil memperhatikan wajahku yang kuyu di bawah temaram lampu kafenya.

"Minum dulu. Gue tambahin strawberry-nya biar vitamin C lo naik, kelihatan butuh asupan nyawa banget," ucap Fattah setengah bercanda, namun sorot matanya menunjukkan rasa cemas.

Aku menyeruput jus itu dalam diam. Rasa asam yang segar dan sensasi dinginnya sejenak memberikan sengatan balik pada otakku yang tadi nyaris hang karena tumpukan data.

"Jadi gimana?" tanya Fattah kemudian, ia menopang dagu dengan kedua tangannya. "Magang lo di kantor itu lancar? Sudah ada tanda-tanda mau diangkat jadi karyawan tetap, atau lo masih mau berkelana lagi setelah ini?"

Aku hanya menggeleng pelan sambil menatap bulir air yang menetes di pinggiran gelas. "Masih magang, Tah. Belum tahu ke depannya gimana. Lagi pula, gue ngerasa nggak lama lagi gue bakal butuh pelarian baru," jawabku dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.

Tepat saat itu, Mili kembali menghampiriku. Kucing abu-abu itu melompat dengan lincah ke atas pangkuanku, mencari posisi nyaman di balik tas kerja yang kusandarkan di samping paha. Aku meletakkan gelas jusku, lalu perlahan merengkuh Mili ke dalam pangkuanku. Jemariku tenggelam di balik bulunya yang tebal dan hangat.

"Wah, Mili emang paling tahu mana orang yang lagi patah hati atau patah semangat," celetuk Fattah sambil tertawa kecil. "Lo tahu nggak, minggu lalu dia hampir bikin kafe ini kebakaran?"

Aku sedikit mendongak, mencoba mengalihkan pikiranku dari bayangan pergelangan tanganku yang tadi sempat digenggam Danendra. "Kok bisa?"

"Gara-garanya dia ngejar tikus sampai masuk ke dapur, terus nggak sengaja jatuhin botol minyak zaitun pas kompor lagi nyala. Untung gue sigap. Besoknya, dia malah pasang muka nggak berdosa, terus tidur di atas meja kasir seharian seolah nggak terjadi apa-apa," cerocos Fattah sambil mengelus ekor Mili yang menjuntai.

Aku tersenyum tipis mendengar tingkah konyol Mili. Cerita receh Fattah dan dengkuran halus Mili di pangkuanku mulai mencairkan sedikit demi sedikit ketegangan yang seharian ini menghimpit dadaku. Di sini, di kafe sepi ini, aku tidak perlu menjadi asisten yang sempurna. Aku hanya Azzalia yang sedang beristirahat.

Danesha kemarin habis dari sini," ucap Fattah sambil mengelap sisa air di meja. "Tuh anak tenaganya nggak ada habisnya ya? Nyerocos mulu dari kafe baru mau buka sampai kafe mau tutup. Katanya dia kesepian gara-gara lo nggak ada di kost kemarin."

Fattah menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatapku lekat. "Lo pergi ke mana, Zal? Tumben banget lo menghilang tanpa kabar ke Nesha."

Aku tertegun, jemariku yang sedang mengelus Mili mendadak kaku. Bayangan pusara Ibu dan rumah Tante Nita kembali berkelebat di kepalaku. "Tuh anak emang selalu full energy, Fat. Kemarin gue... emm, gue..."

Lidahku kelu. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Apakah aku harus bilang kalau aku baru saja pulang ke titik nol yang selama enam tahun ini aku hindari? Atau aku harus cerita kalau hidupku kembali berantakan karena kemunculan Danendra?

Fattah yang menyadari kegelisahanku segera tersenyum tipis. Ia mengangkat tangannya, seolah memberi tanda padaku untuk berhenti. "Enggak usah dilanjut kalau masih belum siap cerita, Zal. Gue paham."

Ia menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gue kenal lo bukan sehari-dua hari. Lo itu kayak buku yang digembok rapat. Kalau lo mau buka gemboknya, ya silakan. Tapi kalau belum mau, gue nggak bakal paksa buat congkel kuncinya."

Aku menunduk, merasa sedikit lega namun juga sesak di saat yang bersamaan. "Makasih, Fat."

"Sama-sama. Oh ya, jusnya diabisin. Kalau kurang, bilang aja. Tenang, buat staf magang yang lagi galau kayak lo, gue kasih harga teman," candanya, mencoba mencairkan suasana.

Aku mencoba tertawa kecil, meski rasanya hambar. Di dalam sini, di antara aroma biji kopi yang menenangkan, aku merasa terlindungi. Tapi setiap kali aku melirik ke arah pintu kaca kafe, aku diingatkan pada kenyataan bahwa di luar sana, dalam kegelapan jalanan, Danendra mungkin masih menunggu.

Aku kembali fokus pada Mili yang kini tertidur pulas di pangkuanku. Dengkuran halusnya menjadi satu-satunya melodi yang membuatku merasa sedikit lebih manusiawi malam ini, jauh dari angka-angka laporan yang tadi nyaris membunuhku.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!