Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Suara batuk Arka menggema di ruangan yang luas dan pengap itu, terdengar seperti suara kertas yang diremas. Darah merah segar merembes di sela-sela jarinya, menetes ke atas lantai kayu yang haus. Namun, bukannya menggenang, darah itu seolah terserap seketika oleh serat-serat kayu yang menghitam.
"Arka! Berhenti bicara! Jangan paksa dirimu!" teriak Nirmala, suaranya melengking karena panik. Ia berlutut di samping Arka, mencoba menyeka darah itu, namun tangannya gemetar hebat.
Kakek masih duduk di kursinya, tidak bergerak sedikit pun. Cahaya biru dari lenteranya membuat bayangannya di dinding tampak seperti raksasa dengan dahan-dahan yang tumbuh dari punggungnya.
"Dia terlalu sombong, Nirmala," suara Kakek terdengar dingin, tanpa empati sedikit pun. "Dia pikir matanya bisa melihat segalanya. Tapi di Sandiwayang, apa yang kau lihat adalah apa yang 'mereka' inginkan untuk kau lihat."
"Cukup, Kek! Apa yang kau lakukan padanya?!" Nirmala menoleh, matanya berkaca-kaca penuh amarah. "Kami datang ke sini karena suratmu! Kami tamu di sini!"
"Tamu?" Kakek terkekeh, suara tawanya kini terdengar seperti suara dua orang yang berbicara bersamaan satu suara pria tua, dan satu lagi suara parau yang entah berasal dari mana. "Tidak ada tamu di rumah ini, Nirmala. Hanya ada mereka yang pulang untuk membayar, atau mereka yang tersesat untuk menjadi pupuk."
Arka berusaha mengangkat kepalanya, napasnya tersengal-sengal. "Nir... jangan percaya... padanya. Ruangan ini... ruangan ini tidak nyata. Aku melihat... aku melihat wajah-wajah di dinding. Mereka... mereka adalah orang-orang yang dia sebut sebagai 'hutang'..."
"Diam, anak muda!" Kakek menghantamkan tongkat kayunya ke lantai.
BRAK!
Getaran itu membuat Nirmala terlonjak. Di saat yang sama, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Dari sudut-sudut ruangan yang gelap, akar-akar halus berwarna putih yang tadinya hanya melilit sepatu kini mulai merayap naik ke betis Arka dengan gerakan yang luwes, seolah-olah mereka adalah makhluk hidup yang sedang mengendus mangsa.
"Nir, kakiku... aku tidak bisa merasakannya," bisik Arka, wajahnya kini pucat pasi seputih kapas.
Nirmala mencoba menarik akar-akar itu dengan tangannya, namun serat-serat itu terasa sangat keras dan tajam, mengiris ujung jarinya hingga berdarah.
"Kek, tolong! Hentikan ini! Aku akan melakukan apa pun, tapi tolong lepaskan Arka!"
Kakek mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga wajahnya yang keriput terpapar cahaya biru. "Apa pun, Nirmala? Benarkah?"
"Iya! Apa pun!"
"Kalau begitu, mari kita bicara seperti keluarga," ujar Kakek, suaranya tiba-tiba berubah menjadi lembut, namun kelembutan itu justru terasa lebih mengerikan daripada amarahnya. "Ceritakan padaku, Nirmala. Apa yang paling kau ingat tentang ibumu di kota?"
Nirmala terpaku. "Apa hubungannya dengan ini?"
"Ingatan adalah kunci, Nirmala. Ceritakan. Semakin detail kau bercerita, semakin banyak udara yang kuberikan untuk temanmu itu. Jika kau berhenti, akarnya akan masuk ke dalam paru-parunya."
Nirmala menelan ludah. Ia melihat Arka yang mulai membiru karena sesak. "Ibu... Ibu selalu memasak sup ayam setiap hari Minggu. Dia... dia selalu memakai celemek merah motif bunga. Kami... kami sering berdansa di ruang tamu saat radio menyalakan lagu lama..."
"Lanjutkan," desak Kakek. Matanya yang putih tampak berbinar. "Apa aroma parfumnya? Bagaimana rasanya saat dia memelukmu?"
"Dia berbau seperti bunga melati dan... dan bedak bayi. Pelukannya selalu hangat. Dia selalu membisikkan bahwa aku adalah harta yang paling berharga di dunia ini," suara Nirmala mulai serak. Ia merasa saat ia mengucapkan kata-kata itu, kenangan tersebut seolah ditarik paksa dari otaknya, meninggalkan rasa hampa yang dingin.
"Bagus... sangat bagus," gumam Kakek.
"Nir... jangan... hghh..." Arka merintih, tangannya mencengkeram lantai kayu dengan kuku yang mulai berdarah.
"Kek, dia semakin parah! Kau bilang kau akan memberinya udara!" teriak Nirmala.
"Aku memberinya udara, Nirmala. Tapi kau baru memberiku satu minggu kenangan. Hutang ayahmu adalah tujuh tahun," Kakek berdiri dan berjalan memutari meja. "Kau tahu kenapa ibumu selalu ketakutan di kota? Kenapa dia tidak pernah mengizinkanmu mematikan lampu?"
Nirmala menggeleng lemah.
"Karena dia tahu, di dalam kegelapan, ingatan yang dia curi dari desa ini akan menuntut untuk kembali. Dia menggunakanmu sebagai perisai, Nirmala. Dia tahu bahwa selama kau 'bahagia' dan 'lupa', pohon Randu ini tidak bisa menyentuhnya. Dia bukan ibumu yang penyayang. Dia adalah seorang pencuri yang menggunakan anaknya sendiri untuk menimbun harta haram berupa kedamaian palsu!"
"BOHONG!" Nirmala berdiri, kemarahannya meluap. "Ibuku mencintaiku! Kau hanya ingin menghancurkan pikiranku!"
"Benarkah?" Kakek berhenti tepat di depan Nirmala. Jarak mereka sangat dekat hingga Nirmala bisa mencium bau tanah pemakaman dari napas kakeknya. "Lalu kenapa di setiap fotomu di Jakarta, wajah ibumu tidak pernah benar-benar terlihat jelas? Kenapa dia selalu membelakangi kamera, atau tertutup bayangan? Coba kau ingat lagi, Nirmala. Apakah dia benar-benar ibumu? Ataukah dia hanya 'sesuatu' yang memakai kulit ibumu agar bisa melarikan diri dari Sandiwayang?"
Pernyataan itu menghantam Nirmala seperti godam berat. Ia mencoba memanggil wajah ibunya di dalam pikiran. Celemek merah... bunga melati... Tapi aneh, setiap kali ia mencoba memfokuskan wajah ibunya, fitur wajah itu mulai mencair dan hilang, berganti dengan kulit pohon yang keriput, persis seperti wanita yang mereka temui di perbatasan tadi.
"Argh!" Nirmala memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
"Lihatlah kebenaran itu, Nirmala! Ayahmu tidak membawamu pergi untuk menyelamatkanmu. Dia membawamu pergi agar dia punya tempat untuk menyimpan rahasia busuknya!" Kakek tertawa terbahak-bahak, dan kali ini, rumah itu ikut bergetar. Akar-akar di dinding mulai bergerak-gerak seperti cacing.
Tiba-tiba, Arka yang sedari tadi terkapar, menggerakkan tangannya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening.
"Nir... menyingkir!" teriak Arka dengan suara yang hampir habis.
Arka melemparkan botol itu ke arah lentera biru milik kakek.
PRANK!
Lentera itu pecah. Cairan di dalam botol Arka ternyata adalah minyak atsiri murni yang dicampur dengan sesuatu yang berbau tajam seperti garam dan belerang. Api biru itu seketika berkobar menjadi api merah terang yang menjilat udara.
"ARGHHHH! BERANI-BERANINYA KAU!" Kakek menjerit kesakitan, menutupi matanya yang putih saat cahaya terang memenuhi ruangan.
Akar-akar yang melilit Arka seketika layu dan mengerut menjauhi panas api. Arka terbatuk-batuk hebat, mencoba merangkak menjauh.
"Nirmala! Keluar dari sini! Sekarang!" Arka menarik kaki Nirmala.
Namun, pintu rumah yang tadinya terbuka, tiba-tiba terbanting menutup. Suara tawa yang ribuan kali lebih keras dari sebelumnya terdengar bukan dari mulut kakek, tapi dari seluruh penjuru rumah.
"Kalian tidak akan pergi ke mana-mana," suara itu berasal dari bawah lantai. "Perjamuan baru saja dimulai."
Nirmala melihat ke arah Kakek. Pria tua itu kini tidak lagi berdiri tegak. Tubuhnya mulai melengkung aneh, persendiannya berderak keras seperti dahan pohon yang dipatahkan paksa. Kulitnya mulai pecah-pecah, dan dari dalam luka-luka itu, keluar serat-serat kayu yang tumbuh dengan kecepatan yang mengerikan.
Kakeknya bukan lagi manusia. Dia adalah bagian dari akar pohon randu itu sendiri.
Untuk Othor Juga... Selamat Hari Raya ya, Maapkan pembaca ini yang mungkin sering ngeluh di komentar🤣Mohon maap lahir dan batin kak🙏🙏🙏