Sequel dari novel "Abang Bule Itu Jodohku"
Altezha biasa di panggil Tezha atau Ezha merupakan pewaris Klan Vins selanjutnya.
Apa kah sang pewaris mau dan mampu memikul tugas itu dengan baik sedangkan dia mempunyai sifat keras kepala dan tidak suka di atur?
Namun akhirnya dia harus menjalani hidup nya di kampung halaman sang Mimih. Dengan ke adaan 180' berbeda dengan kehidupan sebelum nya hingga bertemu dengan seorang gadis polos, blak blakan, galak plus cerewet nya mengalahkan toa .
Staycun teros yaaaaa
18+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapkan Mental mu!
Ajeng tengah menyetrika kemeja putih yang akan di pakai oleh Tezha nanti saat mengantar Om Zae lamaran. Sedangkan Tezha tengah mengobrol bersama bapak mertuanya di teras. Waktu menunjukan pukul 7 pagi, Bapak Ajeng pulang dari perkebunan sekitar pukul 6 pagi setelah Anin terbangun karena ulah si Teguh yang meresahkan.
"Pak saya mau cerita sesuatu sama bapak, karena saya tidak tahu tentang semua ini dan saya yakin kalau bapak lebih paham dengan semua ini."
Bapak terlihat menekuk dahinya sembari menyeruput kopi hitamnya dan memakan pisang goreng sebagai camilan pagi nya.
"Ada apa toh nak, cerita saja sama bapak silahkan jangan sungkan sungkan, apa lagi kalau mengenai Ajeng yang belum kamu pahami."
Tezha menghela nafas nya sejenak lalu menceritakan kejadian tadi sebelum subuh kepada bapak tanpa Tezha kurang kurangi dan tambahi. Bapak terlihat serius mendengarkan cerita Tezha yang menurutnya sedang mengarah ke hal hal yang berbau mistis. Kecuali tentang orang orang yang mencegat mereka sebelum pulang kemarin malam, Tezha tidak menceritakan nya bahkan Ajeng pun di larang oleh nya untuk menceritakan kejadian itu pada bapak .
Namun dengan santai bapak menyeruput kopi hitam nya kembali "Kalau menurut bapak, dari cerita kamu bapak hanya bisa menyimpul kan kalau makhluk itu adalah sosok yang tengah mencari tumbal untuk ilmu hitam yang tengah dia pelajari. Setahu bapak biasa nya sosok itu mengincar darah gadis perawan untuk menyempurnakan ilmu nya."
Gadis perawan?
Tezha tiba tiba teringat pada Ajeng, gadis itu masih suci belum pernah tersentuh oleh nya. Jangan kan nyentuh baru nyolek saja sudah memar memar Tezha di buat nya.
"Tapi kenapa makhluk itu datang ke rumah kita, bukan nya di sini tidak ada anak perawan." Bapak malah mengerenyitkan dahi nya heran, siapa anak perawan yang ada di rumah ini? soal nya sosok mistis itu tidak mungkin salah sasaran kan. Atau jangan jangan Ajeng......
Astaga Bapak tidak sampai berfikir kesana, apa jangan jangan Ajeng dan Tezha belum melakukan hubungan suami istri makanya sosok itu mengincarnya dan datang kerumah ini.
Bapak sih sedikit tidak percaya kalau pemuda yang berwajah playboy namun sayang nya tampan ini bisa menahan hasrat kelaki lakiannya ketika bersama Ajeng. Namun ini lah kenyataan nya, ternyata Tezha mampu menahan hasrat serta keegoisan nya sebagai suami untuk meminta hak nya.
"Seperti nya ada satu hal yang harus kamu lakukan nak, supaya makhluk itu tidak datang lagi ke rumah ini. Kamu pasti tau apa yang bapak maksud kan nak, jangan biarkan makhluk itu mendapatkan apa yang dia inginkan. Kamu tau, darah seorang gadis perawan suci dan orang yang tengah menstruasi itu bau nya sangat harum serta menggoda bagi mereka yang suka dengan hal hal semacam itu. Maka dari itu lakukan tugas mu sebagai suami agar kamu bisa melindungi istri mu jiwa dan raganya, karena kalau sampai makhluk itu bisa mendapatkan darah Ajeng yang masih perawan kita bisa kehilangan dia nak...........
selamanya."
Tubuh Tezha menegang mendengar ucapan terakhir bapak mertua nya itu. Tidak Tezha tidak akan membiarkan itu terjadi, dia harus melindungi istri nya apa pun yang terjadi.
Disaat Tezha sedang sibuk dengan pikiran nya, bapak malah sedang sibuk dengan pisang goreng nya.Bapak tidak bisa melakukan apa apa, bapak berbicara serius kalau memang makhluk itu tidak mau kembali datang lagi ke rumah ini, ya jalan satu satunya darah gadis perawan itu harus segera di tiadakan dengan cara menikahkan atau membawa pergi gadis itu dari daerah itu sejauh mungkin.
"Bapak tahu kalian belum siap dengan hal itu, tapi bapak percaya sama kamu nak. Bapak percaya kamu bisa melindungi Ajeng putri bapak satu satunya, berjuang semangat!!"
Bapak mengepal kan tangan nya ke udara untuk menyemangati menantunya itu,lalu masuk kedalam rumah sembari memegangi sarung nya yang hampir melorot.
Di sana Tezha yang di tinggal sendirian hanya bisa mengacak ngacak rambut nya.Sumpah Tezha lebih baik di suruh balapan berkali kali dari pada harus mengajak Ajeng untuk ehem. Belum saja Tezha melakukan nya, Ajeng pasti sudah memukuli nya dengan brutal atau lebih parah nya si Teguh bakalan patah sebelum tegak gara gara hantaman keras yang di layangkan oleh Ajeng. Tezha tidak bisa membayangkan nya, itu sangat mengerikan dari pada balapan liar atau bahkan tarung bebas di jalanan yang sering dia lakukan saat di Kanada dulu.
"Alllllllll.....!"
Lamunan Tezha terpecah saat mendengar suara cempreng Ajeng dari dalam rumah.
"Ya Ayy."
Tezha membereskan piring serta gelas bekas kopi bapak serta gelas susu bekas nya dan membawanya masuk menuju dapur.
"Al kamu telor nya dua atau satu."
Tezha tersedak ludah nya sendiri saat mendengar ucapan Ajeng yang sangat ambigu menurut nya. kamu telor nya dua atau satu? Telor apa yang Ajeng maksud. Apa jangan jangan Ajeng bertanya telor pusaka maut nya itu ya.
"Yah telor aku dua lah Ayy, kalo gak percaya pegang dan lihat sendiri aja."
Praaangggg....
Ajeng melempar sendok garpu ke arah Tezha yang sedang dia pakai untuk mengocok telor "Maksud aku, kamu telor nya mau dua atau satu yang di dadar nya, bukan telor yang lagi di angkremin si Teguh."
Tezha berdecak kesal, dia kira istri bontet nya itu sedang memberi kode kode untuk nya. Eh ternyata telor dadar bentuk nya bundar yang Tezha minta di buatkan pada Ajeng tadi pagi untuk sarapan.
"Tiga."
Ajeng mendengar suara datar Tezha hanya menyedikan bahu nya acuh sembari menambah satu butir telor kedalam mangkok.
"Al kemeja kamu di lemari udah aku gantung, cd sama boxer juga udah di tempat tidur di atas celana panjang kamu."
"Hmm.."
Ajeng hanya mendengar suara deheman tertahan dari kamar mandi
"Al kita kerumah eyang emak nya jam 11 siang kan."
"Hmmm..." Suara Tezha terdengar makin berat di pendengaran Ajeng, membuat gadis itu segera mematikan kompor nya lalu berjalan kearah kamar mandi.
Tok Tok Tok
"Al kamu gak papa kan, kok suara nya kayak gituh. Kamu lagi ngapain di dalam, bukan nya kamu udah mandi tadi pagi. Al jangan mainin air d kamar mandi ya, jangan ngabisin sabun mandi cair aku yang baru beli kemaren."
Tidak ada jawaban dari dalam membuat Ajeng heran. Namun saat Ajeng hendak mengetuk pintu kamar mandi, Pintu itu terbuka menampakan wajah Tezha yang basah karena air.
"Kamu mandi lagi."
Tezha menggeleng lalu berjalan menuju kursi yang ada di dekat meja di dapur lalu mendudukan tubuhnya di sana.
"Gak, aku habis e'ek terus cuci tangan sambil cuci muka. Kamu berisik banget tadi loh Ayy orang lagi menghayati malah terus aja ngomel ngomel gak jelas."
Ajeng bercedak malas mendengar ucapan Tezha, Ajeng kembali menuju kompor setelah dia mengambil piring untuk tempat telor dadar pesanan Tezha.
"Nih telor dadar nya, di makan ya abisin."
Dengan senyuman merekah Tezha meraih telor dadar sebesar piring itu. Telor dadar yang berisi daun bawang plus irisan cabe rawit dan sedikit sosis itu menjadi menu sarapan nya pagi ini.
"Makasih istriku."
"Sama sama ATM ku."
Tezha malah terkekeh mendengar ucapan Ajeng, Tezha selalu suka sifat Ajeng yang apa adanya tidak di buat buat, kalau dia suka ya bilang suka, kalau tidak ya Ajeng bakalan bilang tidak atau mengeskpresikan nya lewat tindakan.
Ajeng menyebut Tezha ATM nya karena tadi pagi Ajeng secara perdana mendapatkan nafkah lahir dari suami bule nya itu yang menikahinya sekitar kurang lebih satu bulan yang lalu itu.
Tezha mendapatkan gajih pertamanya saat kemarin mereka berkunjung ke rumah emak pengajian menjelang lamaran Zae. Walaupun hanya 5 juta rupiah, Tezha merasa bangga melihat hasil keringatnya sendiri. Apa lagi melihat wajah berbinar Ajeng saat menerima uang itu dari nya.
Ajeng bahkan tidak bertanya jumlah nya, Ajeng malah bilang begini pada nya,
''Berapa pun jumlah nya harus kita syukuri, biar bulan depan bisa nambah rezekinya''
Begitu katanya Ajeng, saat Tezha meminta maaf karena hanya bisa memberikan sedikit uang pada nya. Padahal bagi Ajeng itu adalah uang yang sangat banyak, namun lain lagi bagi Tezha, bahkan uang itu tidak ada 2% dari uang jajan yang di berikan sang papih dulu untuk nya.
Jadi dari sini Tezha mulai belajar artinya rasa syukur dan nikmat nya menerima uang hasil keringat nya sendiri. Padahal Zae ingin memberikan uang yang lebih dari itu, namun karena Tezha meminta agar om nya itu menyamakan nya seperti karyawan lain nya jadi mau tidak mau Zae menurut.Bahkan Zae sedikit bangga pada keponakan bule nya itu yang mau hidup susah dan tidak memamerkan kepunyaan nya pada orang lain walaupun sifat nya suka membuat Zae jengkel setengah mati.
**MET PAGI SEMUA NYA....
JANGAN LUPA GOYANG JEMPOL NYA DIKIT BUAT KLIK LIKE VOTE DAN KOMENAN KALIAN YAAAAA
SEE YOU NEXT PART
BABAYYYYYYY.... MUUUAAAACCCHHH**...
dtunggu cerita aqilla & kakak bastiannya yaaa🤭
langsunggg cusss baca kisah anaknya nihhh