Asyifa Alexandre Saputri sering dipanggil syifa,anak seorang pengusaha yang kaya raya bernama Albert Alexandre.memiliki sifat dingin,keras kepala tapi pintar. kesibukan orangtuanya membuat Syifa melakukan hal hal yang tidak baik,sehingga kedua orangtuanya memasukkan Syifa kepesantren untuk memperbaiki ilmu agama di pesantren milik teman dari ayah adinda kakak dari Albert
namun tidak disangka Syifa malah mendapatkan jodoh
tapi saat dia bertemu jodohnya Syifa mengalami kecelakaan sehingga membuat setengah ingatannya hilang,lalu apa yang terjadi selanjutnya
saksikan kelanjutannya ceritanya di novel yang berjudul "cintaku di pesantren story"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supriyanti210701, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Menerima Perjodohan
"Iya tanya juga Mas kamu mau ikut atau tidak."
"Siap Abi."David melangkah menuju kamar Ustadz Bian.
Saat di depan kamar Bian.
"Assalamualaikum Mas." David mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsallam masuk saja Dav."
David melangkahkan kakinya masuk ke kamar Ustadz Bian.
"Mas besok mau ikut gak ke Jakarta menemui Syifa sekalian ketemu calon istri Mas."
"Ikut,Mas bosen kalau sendirian di rumah.Besok Mas libur jadi gak ada pekerjaan."
"Baiklah, David mau kasih tau Abi dulu."
David keluar dari kamar Ustadz Bian.Lalu melangkah menemui Abi.
"Bagaimana Dav,Mas kamu mau ikut tidak?"
"Ikut Abi,Mas Bian besok gak ada kerjaan di kantor bosen katanya kalau di rumah sendirian."
"Oh iya."
Hari sudah berganti Kyai Ismail dan keluarganya sedang bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta.
"Wah Umi semangat benget seperti orang dapat undian berhadiah rumah saja."Goda Abi.
"Iya Abi, Umi kangen melihat Syifa semoga saja saat kita kesana dia sudah sadar dari koma.Rumah kita sepi kalau gak ada
Syifa,gak ada yang berantem." Umi menanggapi ucapan Kyai Ismail dengan sangat semangat.
Setelah selesai mereka melangkah menuju mobil Ustadz Bian, mereka pergi hanya membawa satu mobil.
Setelah beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah Faris, setelah sampai mereka melangkah menuju depan rumah.
"assalamualaikum." Abi mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsallam." Adinda melangkah menuju pintu depan.
"Eh Abi ternyata mari masuk, Adinda panggil Papa dan Mama dulu."Adinda menyalami tangan Abi dan Umi.
Setelah Adinda menyuruh mereka masuk dia melangkah ke arah kamar milik Papa dan Mama.
Saat di depan pintu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ada apa sayang?"Mama Adinda membuka pintu kamar.
"Di depan ada Abi dan keluarganya Ma, Papa mana?"
"Papa masih tidur,kamu duluan saja ke depan Mama mau membangunkan Papa dulu."Mama Adinda berjalan menuju tempat tidur.
Adinda langsung melangkah menuju ruang depan, tidak lama Adinda sampai Papa dan Mama Adinda menyusul.
"Assalamualaikum."Abi mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam."Jawab Mama dan Papa Adinda kompak.
"Kami mau mengajak kalian menjenguk Syifa,kami sudah sangat merindukannya.Rumah kami jadi sepi tidak ada Syifa dan Adinda."Jelas Abi to the poin.
"Iya sepi gak ada yang bikin masalahkan."Papa Adinda tertawa mengingat keponakan dan anaknya yang sering membuat masalah.
"Tapi Syifa ikut Albert ke Australia agar Syifa bisa bertemu dengan Ibunya."Lanjut Faris setelah selesai tertawa.
"Yah padahal Umi kangen banget sama Syifa."Umi memasang raut wajah sedih.
"Oh,ya sudah kami kesini sekalian mau meminta jawaban dari Adinda tentang perjodohan yang sempat tertunda." Abi menyampaikan tujuan lainnya.
"Bagaimana Adinda apakah kamu mau menerima perjodohan ini?"tanya Abi kepada Adinda.
"Bismilahirohmanirohim saya menerimanya Abi, Adinda mau Papa dan Mama bahagia."Jawab Adinda mantap.
"Bagaimana dengan Bian apakah kamu menerima perjodohan ini?,atau kamu memiliki orang lain yang kamu sukai.Pernikahan adalah hal yang sangat sakral jadi bukan untuk dipermainkan."tanya Papa pada Ustadz Bian.
"Saya menerima perjodohan ini Om, Bian ingin membahagiakan Umi dan Abi, Bian akan berusaha mencintai Adinda dengan setulus hati Bian."Jawab Ustadz Bian yakin,tapi bohong.
"Ya Allah semoga ini adalah yang terbaik untukku dan untuk semua orang, Adinda juga menerima perjodohan ini jadi bukan salah saya saja jika saya egois."Batin Ustadz Bian.
"Alhamdulilah."Ucap semua orang.
"Baiklah kalau semua sudah setuju, bagaimana kalau sekarang kita menentukan hari pernikahan?"Ajak Abi semangat.
"Bagaimana kalau minggu depan saja,lebih cepatkan lebih baik."Balas Papa Adinda juga bahagia.
"Iya saya setuju,jadi Adinda kamu besok jangan dulu pulang ke pesantren karena mau mempersiapkan pernikahan."Abi memberi saran pada adinda.
"Dan Bian besok kamu temani Adinda untuk mencari gaun pernikahan sekalian mempersiapkan semuanya yang kalian butuhkan."Tambah Abi tapi kali ini mengarah ke Ustadz Bian.
"Iya Abi."Jawab Adinda dan Ustadz Bian kompak dan detik berikutnya tidak sengaja mata mereka bertemu
"Wah calon pengantin kompak banget."Umi menggoda anak dan calon menantunya.
"Iya Umi, sepertinya kalian berdua memang cocok."Abi ikut menggoda mereka berdua.
Kebahagiaan terukir di setiap hari keluarga mereka.
"Hey hati jangan sakit terus dong, jangan sampai ketahuan mereka kamu itu hanya milik Syifa dan Adinda itu hanya akan menjadi milik Mas Bian."Batin Ustadz David terasa sakit.
Mereka selesai menentukan hari pernikahan pada pukul 12:00 WIB.
"Bagaimana jika makan terlebih dahulu,baru nanti kita sholat zuhur berjamaah."Papa Adinda memberi saran
"Iya semua makanan sudah siap,mari sekarang kita makan bersama." Mama Adinda mengajak mereka.
Mereka berjalan menuju meja makan,semua makan dengan rasa sangat gembira karena jawaban dari Ustadz Bian dan Adinda tapi tidak dengan mereka bertiga yaitu Ustadz David, Ustadz Bian dan Adinda.
"Ya Allah apakah keputusan yang ku buat ini memang sudah benar.Saya akan menikah dengan orang yang tidak saya cintai,saya hanya kagum kepada dirinya."Batin Adinda yang masih memikirkan apakah keputusannya memang sudah tepat atau sebaliknya.
"Jika saya mempunyai keberanian yang sangat besar perjodohan ini tidak akan pernah terjadi,saya hanya cinta pada singa kecil tapi saya tidak tahu kapan singa kecil akan sadar bahkan bagaimana jika dia meninggal."Batin Ustadz Bian frustasi sambil mengaduk aduk makanannya.
" Kenapa hatiku merasa sakit saat mendengar ataupun melihat tentang hubungan Mas Bian dan Adinda,berilah petunjuk untuk diriku ya Allah."Batin Ustadz David yang juga merasa pusing sambil melihat nasi yang sudah berada di piringnya.
Abi melihat mereka bertiga hanya melamun tanpa memakan makanan milik mereka.
"Kenapa makanan kalian bertiga hanya di aduk aduk saja?"
Mereka bertiga masih melamun.
"Hey ditanya itu dijawab."Tegur Papa sambil menepuk bahu Adinda.
"Gak kok Pa, Adinda hanya teringat pada Syifa.Bagaimana ya sekarang keadaan Syifa? "tanya Adinda mengalihkan pertanyaan.
"Oh iya bagaimana jika kita menelpon Albert untuk menanyakan keadaan Syifa nanti, Papa juga sangat kangen sama Syifa."Ide Papa.Mereka yang mendengar ucapkan Faris sangat semangat.
Semua orang melanjutkan makan begitupun Ustadz David, Ustadz Bian dan Adinda. Mereka memakan nasi yang telah mereka aduk aduk.
Setelah selesai makan Faris mereka kembali ke ruang keluarga, Adinda yang mengingat apa yang Papanya tadi katakan.
"Pa jadi atau tidak nelpon Syifa?, Adinda kangen banget sama Syifa meskipun dia sekarang mungkin masih koma.Adinda jadi gak semangat kalau tidak ada Syifa."Gerutuk Adinda seraya tersenyum kearah Papanya agar keinginannya bisa tercapai.
"Jadi dong sayang Papa juga ingin melihat keadaan Syifa,sekalian mau mengundang mereka berdua."
Faris meraih ponselnya yang berada di atas meja lalu memanggil menggunakan panggilan video call.
Tapi sudah berkali kali mereka menelpon tapi hasilnya masih nihil,tidak diangkat.
"Kenapa mereka tidak bisa saya hubungi?"
membuat Faris yang bertambah khawatir dengan keadaan Syifa.
"Ada apa ris?"tanya Abi yang tidak tahu
"Ini nomor Albert gak bisa dihubungi."
"Mungkin dia masih sibuk ris,nanti di telpon saja lagi."Kyai Ismail menenangkan Faris.
"Tapi tidak seperti biasanya, semenjak Syifa koma sifat Albert berubah 360 derajat dia sangat jarang pergi ke kantor."
"Iya mungkin sekarang dia sedang ke kantor kamu bilang jarang berarti masih ada kemungkinan."Kyai Ismail meyakinkan.
"Iya,tapi besok saya akan pergi ke Australia menemui mereka."
"Nanti kasih kabar pada saya ya tentang keadaan Syifa."
"Tenang saja nanti kamu aku ajak video call saat aku sedang bersama Syifa,jadi kamu bisa melihat keadaannya dengan sangat jelas."
"Kamu memang teman yang terbaik bagiku."
Siang telah berganti sore,sore sudah berganti malam hari sudah semakin larut.
jangan lupa like komen tip dan votenya
terimakasih
terus ikuti episode selanjutnya
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
tapi masih sayang dan perhatian itu melebehi segalanya