"Aku pikir setelah bertemu denganmu aku akan bahagia, tapi yang aku dapatkan hanya kecewa!"
Namun, awal pertemuan yang diharapkan akan menjadi kesan indah yang membahagiakan, justru berbanding terbalik saat Eva mengetahui siapa orang yang selalu ada untuknya. Akankah cinta itu hadir kembali dalam hidupnya, atau hanya akan menjadi kenangan saja?
Ilustrator: Sky_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamila Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klub malam
Tidak terasa sudah seminggu Eva berada di Amerika. Selama itu juga dirinya belum sempat lagi jalan-jalan dan menikmati setiap sudut kota. Dan setelah berada di sini, Yudi semakin sibuk dan tidak ada waktu untuknya. Sehari-hari dirinya hanya berada di tempat tidur, atau hanya berkeliling kecil di taman belakang. Tidak ada yang menemaninya, bahkan kak Dewi semenjak hari itu belum kembali menemuinya.
"Lebih enak tinggal di Indonesia," gumamnya sambil mengayunkan kedua kakinya.
"Kangen kerja, kangen Ayu kangen...." Eva tidak meneruskan lagi perkataannya. Dia sudah bertekad untuk tidak mengingat lagi seseorang yang tengah dia coba hapuskan nama maupun tentangnya.
Saat kantuk menyerang dirinya, dia hendak memejamkan mata, namun suara seseorang mampu membuatnya terbangun dan tidak jadi meneruskan tidurnya.
"Eva, bagaimana keadaan kamu sekarang, sudah baikan?" Eva menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, saat seorang wanita berdiri di balik pintu dengan senyuman yang mengembang.
"Aku sudah tidak apa-apa. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang? Berada di tempat asing, orang-orang yang aku kenal sekarang tengah sibuk dengan urusannya. Aku merasa keputusanku datang ke sini adalah keputusan yang salah." Mendengar perkataan itu, Dewi menghampirinya dan mulai memeluk tubuh adiknya itu. Awalnya Eva terkejut saat wanita itu memeluk dirinya, tapi lama-lama dia mulai merasa nyaman dan membalas memeluknya.
"Sudah lama kakak tidak pernah memelukmu seperti ini lagi."
"Aku bahkan lupa kapan itu terjadi," ujar Eva.
"Bagaimana kalau nanti kita pergi makan di luar bersama?"
"Dua keponakan kamu pasti akan senang bertemu dengan kamu. Nanti aku akan ajak kamu bertemu dengan mereka."
"Apa rumah kak Dewi jauh? Kenapa aku tidak menginap saja di rumah kakak?"
"Belum saatnya, nanti setelah siap kamu bisa tinggal di sana."
Eva menarik napasnya dalam-dalam. Membiarkan adiknya sendiri menginap di rumah orang, tega sekali pikirnya. Tapi tidak apa, mungkin memang kakaknya itu tengah sibuk. Dia tidak akan menuntut apapun terhadapnya, sudah mendapat tempat tinggal pun dia merasa bersyukur.
"Kak, akhir-akhir ini aku tidak pernah bertemu Yudi lagi. Apa kakak tahu dia dimana?"
"Dia sedang sibuk, nanti akan ada waktunya kalian bertemu lagi. Tapi bukan saat ini."
Suara ketukan dari balik pintu mengalihkan perhatian keduanya, dari sana terlihat seorang pelayan mengantarkan sesuatu kepada Dewi.
"Ini baju yang nyonya minta," ujarnya kemudian berlalu.
"Ini baju untuk kamu, saat kita pergi nanti kamu harus pakai baju ini." Dewi memberikan dress dengan atasan terbuka kepada Eva. Dia hanya terdiam memandangi bentuk baju yang tidak pernah dia pakai sebelumnya. Saat melihat bagian dadanya terbuka, dia mulai mengerutkan dahinya.
"Ini tidak salah kak? Aku tidak akan nyaman pakai baju seperti ini."
"Dengar Eva, di sini memakai baju terbuka itu hal yang biasa. Aku ingin kamu terlihat cantik saat pergi bersamaku nanti."
Dewi mencoba meyakinkan adiknya itu, agar dia mau memakai gaun yang dia berikan. Eva tidak bisa menolak, karena dia pun belum pernah mencobanya. Dia juga berpikir, dia ingin terlihat cantik seperti yang lainnya.
"Baiklah kak, aku akan coba pakai ini nanti." Dewi tampak senang dengan jawaban dari adiknya itu. Setelah Eva menyetujui, kemudian Dewi meninggalkannya sendiri.
____
Eva keluar kamar dengan mengendap-endap. Dia tahu bahwa kakaknya tengah menunggu dirinya di ruang tamu, tapi dengan dress yang dia pakai dia sedikit tidak nyaman. Bahkan dirinya ingin memakai jaket pun tidak di perbolehkannya.
"Kak Dewi," panggil Eva ragu. Dia menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya. Tapi Dewi tidak suka melihat itu, dia sedikit memarahi Eva.
"Turunkan tangan kamu Ev! Lihat dirimu, kamu sudah cantik tidak harus ada yang di tutup-tutupi lagi."
"Tapi kak... aku tidak nyaman."
"Sudah jangan banyak alasan. Ayo kita berangkat, perutku sudah lapar."
___
Mobil sudah terparkir. Keduanya keluar dari mobil, Dewi memimpin jalan dan Eva mengikutinya. Dia tidak menyangka jika kakaknya itu membawa dirinya ke sebuah klub malam. Dia merasa takut dan khawatir.
"Kak, kenapa kita ke sini? Bukankah kita akan pergi makan?" Eva menarik tangan Dewi sampai terhenyak.
"Jangan banyak tanya, kita akan makan di sini Eva." Eva merasa ragu untuk melangkah, dia sedikitpun belum pernah menginjakkan kaki ke sebuah klub. Di tambah dengan bajunya yang terbuka, dia semakin ragu. Kalau saja Dewi tidak menarik tangannya, mungkin dia akan masuk ke dalam mobil dan memilih untuk tidak makan.
Setelah sampai di dalam, apa yang dia takutkan terjadi juga. Banyak sekali pria hidung belang yang menggodanya. Eva merasa tidak tahan, dia ingin pergi saja dari tempat itu. Tapi lagi-lagi Dewi melarangnya pergi.
"Kamu jangan macam-macam Eva, sebenar lagi makanan kamu akan datang."
"Kak Dewi, aku tidak nyaman di sini. Banyak laki-laki menggodaku. Aku takut."
"Dengar Eva, mereka tidak akan berani menggoda kamu. Karena hari ini kamu akan bertemu dengan seseorang yang sangat penting. Aku yakin jika mereka tahu orang itu, mereka tidak akan berani memandang kamu walau sedetik. Dan ingat baik-baik, kamu akan aku kenalkan dengan Dani, kakaknya Yudi."
"Kenapa aku harus di kenalkan dengan dia?"
Sambil memutar-mutar gelas yang dia pegang, Dewi tampak mencari cara agar perkataannya bisa di terima oleh Eva. Tidak ada cara lain, jika dia menginginkan perusahaannya masih berdiri kokoh dia harus mengorbankan adiknya itu. Sekilas Dewi melirik pada wajah adiknya itu, dia tampak sangat menunggu penjelasan darinya.
"Eva, kamu mau kan bantu kakak? Perusahaan kakak sedang ada masalah, dan kakak meminta bantuan pada Dani dengan imbalan kamu akan aku nikahkan dengannya." Mendengar perkataan itu, Eva sangat terkejut. Dia tidak habis pikir, ternyata kakaknya itu menyuruhnya datang menemuinya hanya untuk menjadi tumbalnya saja.
"Apa Yudi juga terlibat dalam persekongkolan ini? Aku tidak percaya ini semua."
"Ya tentu saja dia tahu. Dia sudah membantuku, dan dia juga menginginkan kakaknya bisa hidup bahagia bersama kamu."
"Itulah alasan kenapa sekarang dia tidak menemui kamu," sambungnya.
Obrolan keduanya terhenti saat seorang pelayan mengantarkan minumannya.
"Dewi," panggil seseorang. Keduanya pun menoleh.
"Dani cepat duduk di sini." Dewi menunjuk ke arah kursi di sebelah Eva. Sementara itu Eva hanya terdiam, dia tidak berminat untuk masuk ke dalam obrolan keduanya.
Eva terkejut saat pemuda itu merangkul kan tangan ke pundaknya.
"Lepaskan!" Eva membentak pemuda itu karena kesal, dan dirinya mendapat tatapan tajam dari Dewi.
"Tidak apa-apa Dewi, aku suka sama adikmu. Dia sepertinya gadis yang susah untuk di taklukan hatinya, itu akan menjadi tantangan untukku." Kemudian Dewi tersenyum kepada Dani, dan Eva memilih untuk membuang muka.
"Eva, ayo minum dulu. Setelah ini kita akan pergi bersenang-senang." Eva menolak saat Dani menyodorkan minuman ke mulutnya. Dan tatapan tajam itu kembali dia dapatkan dari kakaknya. Eva terpaksa meminumnya walau seteguk. Setelah itu Dani mengajaknya untuk pergi.
"Dew, aku pergi dulu ya," pamitnya.
"Tunggu! Kenapa kita pergi hanya berdua? Kak Dewi tidak ikut?"
"Tidak Ev. Kalian pergi saja berdua. Aku masih harus pulang, dua keponakan kamu sudah pasti menungguku."
Keduanya pergi meninggalkan Dewi sendiri DDI tempat itu. Eva merasa mual dan sedikit pusing. Kemudian Dani menyuruhnya untuk tidur dulu di dalam mobil. Tanpa di suruh pun Eva akan melakukan itu, karena dia tidak berminat untuk mengobrol dengannya.
jangan patah semangat ea thoor 😘
ohyaa, akuu jugaa writtrer lohh btw, bisaa juga kalian baca ceritakuu, namanya "My Girlfriend Is Mafia". Mohon dibacaa yaa eehhehehee.. Makasi bangett bagi yang sudah nyempetin baca 😊😊
semangat buat thor nyaa!! 💪💪
salam dari: Monopoli Cinta Tuan Muda.
Mari saling mendukung ☺
suka...🤩🤩🤩