Rengganis Jeyang (28 Tahun) yang akrab disapa Ganis ditugaskan mengajar di Sekolah Menengah Pertama swasta favorit di Provinsi Jawa Tengah. Siapa sangka Ganis yang menjadi Guru BP di sekolah swasta tersebut membawanya kepada Ndaru Ayodia. Pria matang berusia 40 tahun, duda 3 anak yang salah satu anaknya adalah murid bandel di Sekolah tempat Ganis mengajar.
Ganis ingin bertemu dengan Ndaru untuk membicarakan masalah kenakalan Abimanyu di Sekolah. Namun kesibukan Ndaru sebagai Kandidat Gubernur Jawa Tengah membuatnya selalu menolak panggilan Ganis.
Hingga akhirnya Ndaru bersedia bertemu di sela-sela safari kampanye nya dan menimbulkan gosip jika Ganis adalah kekasih Ndaru. Elektabilitas Ndaru Dipertanyakan seiring memanasnya situasi menjelang pemilihan Gubernur.
Novel ini adalah hasil imajinasi saya sendiri. Jika ada kesamaan nama tempat itu hanya fiksi. Di novel ini tidak melulu membahas politik karena Ndaru seorang Gubernur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
J'AI BESOIN de VOUS
...Terima kasih, anda luar biasa !...
🌹🌹🌹🌹🌹
Rengganis mendengar suara deru mobil yang biasa di kendarai suaminya masuk ke halaman rumah dinas. Seperti biasa, Ndaru pulang sekitar jam 9 malam lebih. Tapi hari ini mungkin jadi hari yang melelahkan untuknya. Pak Gubernur sibuk di balai kota. Menerima perwakilan buruh yang menuntut kenaikan upah sebesar 30%. Isu ini sudah lama di gaungkan para kaum buruh, namun mediasi yang dilakukan antara pihak buruh dan pengusaha belum menemui kesepakatan. Ganis mendengar berita ini tadi pagi saat mereka sarapan bubur ayam bersama anak-anak. Di linimasa Twitter juga sudah menjadi trending topic meskipun masih di bawah hashtag #BTS_Comeback dan #Howyoulikethat.
Pihak pemerintah akan membantu mediasi antara buruh dan pengusaha. Menurut data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi naik 5% dari tahun lalu. Namun harga-harga kebutuhan pokok di Pasaran masih melambung tinggi terutama dari hasil pertanian. Petani memang mendapat berkah karena hasil yang di dapat jadi lebih banyak. Tahun lalu mereka gagal panen karena cuaca buruk dan banyak sawah yang terendam banjir. Dan sepertinya tahun ini adalah tahun yang berpihak bagi petani.
Namun bagi mereka yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik, tukang ojek dan buruh harian lepas, keadaan ini sangat tidak menguntungkan bagi mereka. Mereka butuh merogoh kantong lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Jika pemerintah memberi pengertian pada orang-orang bahwa hidup ini dinamis, ada pasang surut, Ndaru yakin masyarakat akan berunjuk rasa di depan kantor gubernur. Mereka hanya butuh solusi bukan ceramah. Penyelesaian yang paling baik bagi mereka dan pelaku usaha.
Ndaru memasuki kamar yang hanya diterangi lampu tidur. Pria menutup pintu pelan-pelan dan berjinjit agar istrinya yang sudah tidur tidak terbangun. Setelah mengambil handuk dan pakaian ganti, Ndaru masuk ke kamar mandi.
Ganis beringsut bangun dan duduk di tepian ranjang. Dari dalam kamar mandi terdengar suara gemercik air menandakan suaminya itu sedang mandi. Padahal Ganis tahu jika Ndaru sering mandi di kantor Gubernur, dan setelah pulang suaminya itu mengulang ritual yang sama.
Ganis yang awalnya tak peduli dengan kebiasaan suaminya sekarang jadi penasaran, mandi di malam hari tak bagus untuk kesehatan.
Pintu kamar mandi terbuka, Ganis memicingkan mata melihat suaminya yang baru keluar dari kamar mandi sudah mengenakan sweater warna coklat tua dengan celana bahan warna hitam. Ndaru selalu mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi, tak pernah Ganis melihat suaminya bertelanjang dada di hadapannya.
"Maaf ya aku berisik bangunin kamu" Ndaru mendekat di tepi ranjang tempat Rengganis duduk.
"Aku belum tidur kok Mas."
"Gimana liburan anak-anak di rumah? Apa mereka udah punya remcana mau liburan kemana?" Ndaru duduk di samping istrinya, bertanya tentang kegiatan anaknya selama libur kenaikan kelas.
"Mereka enggak pengen pergi-pergi kok Mas. Tapi mereka pengen nginap di rumah pribadi Mas Ndaru. Mereka pengen suasana baru" Ganis menghidu aroma mint dari sabun dan shampoo yang menguar dari badan sang suami.
"Ya udah, kita nginap disana ya besok pas malam minggu" Ndaru mengelus pucuk kepala suaminya dan Ganis yang masih asyik menghidu aroma mint reflek menghindar dari elusan lembut suaminya.
"Kenapa?" Dahi Ndaru mengerut mendapat penolakan dari sang istri. Biasanya Ganis tidak memberikan reaksi apa-apa jika Ndaru menyentuhnya. Apa mungkin Ganis kedatangan tamu bulanan? Dia sering tersulut emosi jika di sentuh saat menstruasi?
"Enggak apa-apa Mas." Ganis bergeser sedikit agak menjauh.
" Kamu lagi menstruasi?"
Ganis mengangguk dan Ndaru terkekeh. Tepat dugaannya jika istrinya lagi dapet. Tapi bukankah baru dua minggu yang lalu istrinya selesa haid?
"Kamu baru aja selesai 2 minggu lalu kan? Kalau aku enggak salah sih...?" Ndaru mengatupkan bibir tiba-tiba, takut jika dia terlalu jauh bertanya sampai menjurus ke privasi istrinya.
"Iya nih enggak tahu juga kenapa aku jadi dapet lagi. Malah biasanya aku sering telat" Ganis menangkup pipinya dengan tangan, dia merasakan badannya sedikit meriang. Mungkin karena efek menstruasi dan stress yang mendera.
"Kamu engga apa-apa kan kalau aku tinggal ke ruang kerja? Ada file yang harus aku baca" Ndaru ingin sekali mengelus kepala istrinya sebelum ke ruang kerja, tapi lelaki itu takut jika mendapat penolakan.
Sudah 3 hari ini istrinya sangat sibuk dan mereka jarang berkomunikasi. Saat Ndaru pulang dari dinas, istrinya sudah berbaring memejamkan mata tertidur lelap.
Ganis menggeleng, senyumnya ambigu. " Lagian aku juga mau baca buku dulu"
Ndaru menatap istrinya lekat "Ya udah aku ke ruang kerja dulu, kalau kamu mengantuk, kamu tidur duluan aja." Sebelum pindah ke ruang kerja, lelaki itu tersenyum pada istrinya.
Setelah Ndaru keluar dan menutup rapat pintu, Ganis menghempaskan tubuh di ranjang, kepalanya tiba-tiba berdenyut. Ganis meraba leher dan hangat terasa ditelapak tangan. Sepertinya hati dan tubuhnya terlalu banyak menahan rasa ini sendirian.
.
.
.
.
.
.
Ganis yang tak kunjung memejamkan mata dan hanya mendengarkan lagu-lagu Day6 di ponselnya mengirim pesan kepada suaminya. Dia tidak ingin mengetuk pintu.
Suara langkah sandal jepit beradu dengan lantai dan pintu ruang kerja yang dibuka membuat Ndaru yang fokus memeriksa file dengan hanya cahaya lampu baca mendongak ke arah sumber suara. Senyumnya mengembang melihat istrinya yang memakai piyama bergambar Little Pony dengan rambut acak-acakan berjalan mendekati mejanya.
"Kamu enggak bisa tidur?" Tanya Ndaru, sedang istrinya bingung memindai ruangan yang cukup besar namun hanya berisi meja dan kursi kerja, dan rak buku dibelakang meja kerja.
"Kamu kenapa sih?" Ndaru mengikuti kemana istrinya memandang seisi ruangan.
"Aku duduk dimana Mas?" Mata Ganis melebar seolah tak merasakan kantuk.
Tubuh yang semula condong ke meja di hempaskan di sandaran Kursi. Ndaru sepertinya ingin memberikan penawaran, namun takut jika tawarannya di tolak.
"Kalau mau duduk, kamu bisa aku pangku. Soalnya aku juga gak mungkin ngalah kasih kursi ini buat kamu. Ini bukan bis kota dan kita suami istri." Ndaru memainkan pulpen, bibirnya melebar.
"Penawaran Pak Gubernur boleh juga" Ganis berjalan mendekat dan pelan-pelan duduk di pangkuan suaminya dengan posisi menyamping. Bersamaan dengan itu dengusan nafas berat terdengar dari hidung suaminya. Mungkin dia tiba-tiba tersentak dengan beban yang ada dipangkuannya. Ganis mengelus kain sweater yang dipakai oleh sang suami sebelum kepalanya bersandar di bahu. Lengan Ganis melingkar di leher Ndaru dan metanya terpejam.
"Aku belum pakai parfum kamu lho, aku takut kamu enggak nyaman"
"Biarin aku menyukai wangi parfum kamu." Ganis menghidu aroma Musk yang berasal dari tubuh Ndaru. "Kamu selalu menyesuaikan diri dengan apa yang aku suka, biarin aku juga menyesuaikan diri dengan apa yang kamu suka" Masih dengan mata terpejam Ganis mendesah dan semakin mengeratkan pelukannya.
Ndaru sepertinya tengah berusaha untuk menahan napas, membuang jauh-jauh pikirannya dengan pekerjaan selain tubuh istrinya.
"Kamu mau baca buku atau nemenin aku kerja?" Salah satu tangannya menahan pinggang Ganis agar tidak terjatuh dan tangan yang lain sibuk membalik file yang diletakkan di meja.
"Aku mau kamu" Bisik Ganis tertahan. Ndaru mengusap kepala istrinya perlahan. Mencoba memahami jika istrinya saat ini mungkin sedang membutuhkan dirinya. Tak pernah sekalipun Ndaru mendengar istrinya mengeluh tentang kegiatannya yang padat, bahkan mengeluh dengan segala tingkah laku anaknya yang sekarang mode manja. Sadewa yang selalu minta suap saat makan dan minta gendong jika akan tidur, Nawang yang suka sekali meminta Ganis untuk menemaninya belajar di kamar . Belajar matematika yang tidak Ganis suka tapi selalu mendengarkan jika Nawang mulai membahas materi kesukaannya itu. Dan dengar-dengar Abimanyu juga sering meminta tolong Rengganis untuk membantu menyiapkan segala keperluannya.
Fokusnya saat ini terbelah, di depan matanya file menunggu untuk diperiksa, berisi tuntutan-tuntutan yang dilayangkan buruh dan pihak pengusaha. Dan dalam dekapannya ada istri yang selalu setia menemani meskipun Harit yang tampan selalu menggodanya. Bisa saja Ganis yang memang tidak mencintainya berbalik arah mencintai Harit yang beberapa kali memaksa Ganis untuk menjadi pacarnya. Nafas teratur sang istri yang mungkin sudah tertidur membuat denyut jantungnya menjadi lebih cepat dari biasanya.
Ndaru menepis hal diluar logika yang bisa terjadi. Dia berasumsi jika denyut jantungnya itu karena pengaruh dari beban yang ada di pangkuannya. Dia juga jarang berolah raga sekarang.
Ndaru meletakkan file itu di meja, tangannya mengusap halus punggung istrinya. Membenamkan kepalanya di bahu suaminya dengan rangkulan erat. Hingga Ndaru merasakan hawa tubuh Ganis yang tidak biasa. Badannya yang hangat menjadi panas.
"Kita tidur di kamar ya? Badan kamu panas"
Kepala Ganis mendongak menatap suaminya, wajahnya pucat. Wanita itu mengangguk lalu beringsut turun dari pangkuan suaminya. Ganis berjalan dengan tubuh lemah. Kepala yang tadi berdenyut kini bertambah pusing. Pandangannya berkunang-kunang saat dia memaksa untuk berjalan.
"Sini aku gendong" Ndaru menawarkan punggungnya untuk dinaiki istrinya. Meletakkan tubuh istrinya dengan hati-hati di ranjang.
Ndaru membuka sweaternya dan memakaikan sweater rajut itu ke tubuh istrinya.
"Kamu pakai ini ya biar hangat. Aku mau ambil obat dulu" Ndaru yang akan berdiri dari pinggir ranjang tercekat saat istrinya menarik tangannya.
"Mas Ndaru enggak usah kemana-mana, sini aja"
"Tapi kamu butuh obat."
"Aku butuh kamu" Dengan terpaksa Ndaru menuruti keinginan Ganis untuk disampingnya. Dia beringsut mendekat. Memeluk istrinya dari belakang mengecup sekilas pucuk kepalanya. Ganis sadar jika Ndaru menciumnya.
Entah kenapa belakangan ini bayangan Ganis tak lepas dari lukisan Noir karya Madamme Aimee. Lukisan yang Ganis sendiri tak tahu maksud dan Artinya. Ganis bukan penikmat seni. Lukisan itu berlatar belakang di Paris dengan Menara Eiffel berwana keemasan dan rumput hijau berada di belakang objek utama. Semuanya berwarna kecuali siluet membentuk wajah suaminya yang hanya berwarna hitam. Sesuai dengan judul lukisan itu.
Ganis memberanikan diri bertanya pada pegawai Gallery mengenai Madamme Aimee. Pegawai Galery memberikan informasi jika Madamme Aimee adalah warga Indonesia yang memegang paspor Perancis dan mempunyai Permanent Residence untuk tinggal di kawasan Uni Eropa. Namun aneh, tak ada jejak digital mengenai Madamee Aimee. Hanya lukisannya saja yang dimuat Di Google.
Dan kabar bagusnya, 10 hari lagi Madamme Aimee akan menggelar pameran lukisan di Magelang.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Nawang dan Ibu tirinya selesai menghias kamar gadis kecil yang awalnya polos menjadi kamar yang lebih berwarna. Anak kedua Ndaru itu merengek meminta tolong Rengganis untuk mempercantik kamarnya. Sebelumnya Ayahnya melarang mendekorasi kamar karena ini hanya Rumah Dinas. Tempat tinggal mereka untuk sementara, jika masa Jabatan Ndaru habis mereka harus Pindah. Jadi Ndaru tidak ingin anaknya mendekorasi kamar seolah rumah ini adalah rumah mereka sendiri. Ganis yang masih tak enak badan dengan senyum tulusnya bersedia membantu Nawang.
Ganis yang mengira anak tirinya akan menghias kamar dengan sentuhan karakter Elmo atau Little Pony jadi ternganga karena anaknya itu suka sekali dengan Creepy Crawlies. Tidak ada sentuhan warna pink, pastel atau warna cerah yang lain. Bahkan Nawang menggantung replika tarantula besar di atas meja belajarnya. Ganis hampir saja dibuat ngeri oleh selera Nawang yang tidak biasa.
Dan kucing imut hanya hanya tertawa seraya memainkan hewan serangga tiruan dari plastik yang menghias kamarnya.
"Ok, menghias kamar udah selesai. Tante mau keluar dulu ya, kayaknya Ayah udah dateng deh" Ganis berdiri dari kursi belajar Nawang. Ketika akan memegang kenop pintu, wajah Ganis bersemu merah ketika anaknya berkata :
"Terima kasih Tante dah bantu aku dan ngerti apa yang aku mau"
Suara Nawang kali ini terdengar polos dan jujur. Ganis berbalik, "Iya, sama-sama. Tante keluar dulu ya...??"
Gadis kecil itu memgangguk. Setelah ibunya keluar, Nawang melonjak kegirangan di atas Ranjang. Tante Ganis tak seburuk yang dia pikir selama ini. Wanita yang hanya akan menjadi duri dalam kehidupannya yang kosong tanpa ibu. Nyatanya, Tante Ganis selalu mengerti apa yang dia inginkan. Nawang merasa haknya sebagai anak telah terpenuhi. Hak kasih sayang dari ibu kepada anak gadisnya.
Pintu Nawang telah tertutupi sempurna, Ganis hanya bisa tersenyum lega jika Nawang sudah terbuka dengan keinginannya selama ini. Dia ingin mempunyai kamar yang melambangkan jati dirinya meskipun kamar itu mirip seperti gua dencan sarang laba-laba dan mainan kalajengking menempel di dinding.
"L'avez-vous amené ici exprès?" Nafas Ndaru memburu. Tatapan mematikan dilayangkan untuk Harit yang duduk santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Elle vient de rater sa patrie?" Senyum sinis lelaki brengsek itu terbit. Mengejek Ndaru yang berapi-api.
"Il est déjà heureux !" Nada sengau khas Bahasa Perancis terdengar jelas keluar dari mulut Ndaru.
"Amara a raté son fils !"
"Il ne peut pas me le prendre ?" Ndaru sudah kehilangan kesabaran. Telunjuknya menuding wajah Harit yang masih menampakkan senyum mengejek.
"Nous verrons plus tard" Harit terkekeh. Kakak sepupunya yang berwajah seram seakan tak membuatnya untuk takut.
"Kalian bicara apa?" Ganis yang sedari tadi menyimak pembocaraan bernada marah kini bertanya dengan intonasi rendah. Dia tidak tertarik pada awalnya karena dia juga tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Namun telinga Ganis menangkap suara jika Harit menyebut nama Amara.
"Calme cher" Harit mengerling genit ke arah kakak iparnya "Juste une partie du passé !"
Harit melangkah pergi. Ndaru dan Ganis sama-sama mematung.
🌿🌿🌿🌿🌿
Happy weekend semuanyaaahhh !!!!
Thanks for like komen n vote.
note :
L'avez-vous amené ici exprès? : Apa kamu sengaja membawa dia kesini?
Elle vient de rater sa patrie : dia merindukan tanah kelahirannya.
Il est déjà heureux : dia sudah bahagia.
Amara a raté son fils : Amara merindukan anaknya.
Il ne peut pas me le prendre : dia tidak bisa mengambilnya dariku
Nous verrons plus tard : kita lihat nanti.
Calme cher : Tenang sayang.
Juste une partie du passé ! : ini hanya masa lalu.
J'AI BESOIN de VOUS : I need You
ga ingat apa pwngalaman suami dia dan mantan mantunyaa duluuu, dan skrng mamak pengen ganis punya lakian model Yudha jugaa
ckckckxck
baru kenal udh main tangan ajaa...
masa 3 tahun pacaran bs ga terdeteksi sihh
knp jg sy baru koment ya, padahal baca kisah ini bertahun² lalu🤭
kisah seperti ini sy sukaaaaa banget. ttg keluarga, karir, tp konflikx ga berat