Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desperate Couple (2) Montague & Capulet
Juni 2013
Alea sedang bersiap-siap di kamarnya. Hari ini dia akan mengikuti casting film layar lebar. Alea mematut dirinya di depan cermin sekali lagi, lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar. Baru saja beberapa langkah, mama sudah mencegatnya.
“Kamu mau kemana?”
“Mau ikut casting ma.”
“Mama udah bilang kamu ngga boleh ikut-ikutan yang seperti itu. Mau taruh dimana muka mama papa kalau rekan-rekan bisnis papa tau kalau kamu kerjanya cuma jadi artis.”
“Cuma jadi artis? Ma.. jadi artis itu impian aku, passion aku. Mama ngga bisa dong membatasi ruang gerakku.”
“Kakak-kakak kamu sudah bertanggung jawab urusan perusahaan. Jadi yang perlu kamu lakukan adalah duduk manis dan menunggu calon yang tepat. Mama sedang mencarikan calon untuk kamu, jadi jangan macam-macam!”
Selesai berbicara mama memerintahkan pada seorang pengawal untuk membawa Alea masuk ke kamar. Alea berteriak-teriak namun pengawal itu tak menggubrisnya. Dia langsung memasukkan Alea ke dalam kamar kemudian berdiri menjaga di depan pintu kamar.
Dengan kesal Alea melempar tasnya ke atas kasur. Dia terdiam sebentar, lalu membuka lemari dan mengambil peralatan panjat tebingnya. Alea mengaitkan carbiner pada pagar balkon, kemudian mengenakan seat hardnessnya. Setelah memastikan carbiner telah terpasang dengan kuat, dia berdiri di pagar balkon lalu melangkahi pagar. Alea berpegangan erat pada tali karmantel dan perlahan meluncur ke bawah.
Alea sampai di bawah dengan selamat. Segera dilepaskannya seat hardness lalu menyembunyikannya di balik tanaman. Tak lama dia berlari keluar. Namun langkahnya tertahan karena melihat security yang sedang berjaga di pos. Alea berjalan mengendap-endap ke dekat pos, lalu mengambil batu dan melemparkan ke arah pintu. Security terkejut mendengar batu yang mengenai pintu. Dia bergegas menuju arah suara untuk mengecek. Dengan cepat Alea keluar gerbang dan berlari menjauhi rumahnya.
Sementara itu, tak jauh dari rumah Alea. Ega baru saja selesai bertemu dengan Cholil untuk membicarakan bisnis ternak lele yang akan dirintisnya. Keluar dari café, dia langsung menaiki motor lalu memakai helmnya. Dari belakang terlihat Alea berlari ke arahnya. Melihat motor didepannya, gadis meloncat naik ke atas motor. Ega terkejut dan menoleh, dengan cepat Alea berkata.
“Cepetan pergi! Anterin gue ke Sewindu Entertainment di jalan Thamrin!”
Ega tidak langsung pergi. Dari balik helmnya dia bisa melihat kalau yang naik ke motornya adalah perempuan yang bertengkar dengannya gara-gara makalah yang tertukar. Alea yang takut tertangkap, lagi-lagi menyuruh Ega untuk segera pergi sambil mengetuk-ngetuk helmnya. Dengan kesal Ega menstarter motornya dan segera melaju menuju jalan Thamrin.
Sesampainya di Sewindu Entertainment, Alea segera turun dari motor.
“Tunggu sampe gue selesai ya, awas jangan kabur. Tenang aja nanti gue bayar.”
Setelah itu dia masuk ke dalam gedung. Ega melepas helmnya, walaupun kesal dia tetap menunggu Alea. Lima menit kemudian Alea sudah keluar. Wajahnya tampak kesal. Dia berjalan menuju Ega lalu.
“Eh cowo rese, ngapain lo di sini?!” ketus Alea.
“Hellow.. harusnya gue yang nanya ngapain lo main naik ke motor gue terus nyuruh nganter lo ke sini? Pake mukul-mukul helm gue segala. Lo liat nih, ini motor yang lo naikin tadi kan?”
Alea terdiam, dilihatnya motor di depannya ini. Memang benar itu motor yang dinaikinya tadi. Alea mengutuk dirinya. Kalau dia tahu cowo rese bin nyebelin yang punya motor ini tidak mungkin dia mau. Ega memakai helmya, menstarter motor hendak pergi tapi Alea menahannya.
“Gue ikut, tadi lupa ngga bawa tas. Dompet sama hp gue ketinggalan di rumah,” ucapnya memelas.
Ega membuka kaca helmnya, melihat sebentar pada Alea. Kemudian menyuruhnya naik dengan isyarat. Dengan senang Alea naik. Ega langsung menjalankan motornya. Dia memacu motornya dengan kecepatan sedang. Di tengah perjalanan terlihat beberapa polisi sedang melakukan razia. Seorang polisi langsung menyetop motornya yang sedang melintas. Ega menepikan motor lalu membuka helmnya.
“Siang.. tolong perlihatkan SIM dan STNK nya.”
Ega segera mengeluarkan SIM dan STNK dari dompetnya lalu memberikan pada polisi tersebut.
“Salah saya apa ya pak?”
“Teman kamu tidak memakai helm,” tunjuk polisi tersebut pada Alea. Ega baru ingat kalau dia tidak sendirian di atas motor.
Dasar cewe pembawa sial.
“Pak, nih cewe main naik aja ke motor saya. Jadi kalau mau nilang mending tilang dia aja pak. Kalau saya kan ngga salah, helm pake, SIM STNK ada.”
“Kamu jangan bercanda ya,” ucap polisi yang kesal dengan jawaban Ega.
“Saya ngga bercanda pak. Emang dia yang salah. Dari awal saya pergi sendiri, cuma dia aja langsung nemplok di motor saya. Mending bapak bawa aja nih perempuan sarap ke kantor polisi.”
PLAK!
Alea refleks menepak kepala Ega, kesal dengan bacotnya yang ngga jelas. Ega menoleh padanya dengan kesal.
“Sudah-sudah.. pokoknya kamu tetap salah. Kamu saya tilang!”
Polisi tersebut segera memberikan surat tilang pada Ega kemudian menyuruhnya pergi. Setelah memasukkan surat tilang ke dalam dompet. Ega memakai helmnya lagi kemudian segera pergi dengan kesal. Hanya berjarak beberapa meter ke depan dia menghentikan motornya dan menyuruh Alea turun.
“Turun lo.. setiap ketemu elo gue sial mulu.”
“Ngga mau!”
“Turun!”
Dengan terpaksa Alea turun dari motor. Tanpa menunggu lama Ega segera memacu motornya meninggalkan gadis itu. Dari spion dia melihat Alea yang hanya berdiri mematung memandangi kepergian dirinya. Teringat kembali ucapan Alea kalau tidak membawa dompetnya. Walaupun kesal, akhirnya Ega memutuskan untuk memutar balik motornya. Alea tersenyum melihatnya. Dengan cepat dia naik takut Ega berubah pikiran.
Setengah jam kemudian mereka sampai. Alea segera turun dari motor.
“Thank you ya.. nanti bayarannya gue traktir makan.”
Tanpa menunggu jawaban, Alea segera memasuki halaman rumahnya. Sedang Ega segera tancap gas, pulang ke rumah.
❤️❤️❤️
Ega masuk ke dalam kamar. Nampak Adit sedang sibuk menyusun sesuatu di atas meja.
“Darimana aja lo, gue telponin ngga diangkat,” tanya Adit tanpa memalingkan wajahnya dari meja.
“Abis ketemu Cholil ngebahas soal bisnis lele.”
Ega berjalan menghampiri Adit, ingin melihat apa yang sedang dikerjakannya.
“Lagi ngapain sih kang?”
“Sini.. sini.. ada hal yang harus lo tahu.”
Ega melihat beberapa foto tersusun di mejanya.
“Mulai sekarang lo harus tahu soal ini. Ada tiga grup usaha terbesar di Negara kita tercinta. Pertama Golden Chains, itu usaha bokap lo. Kedua Five Star, pemiliknya calon besan alias ortunya Kania dan terakhir Miracle milik Hilman Wijaya. Golden Chains dan Five Star sudah beberapa tahun menjalin kerjasama, hubungan keduanya baik. Tapi dengan grup Miracle, itu adalah musuh bebuyutan, ngga pernah ada kata kerjasama, yang ada cuma permusuhan abadi.”
“Terus hubungan sama gue apa?”
“Golden Chains punya dua orang pewaris, yaitu Tombak dan elo. Five Star cuma punya Kania. Sedangan Miracle punya empat orang pewaris, Andika, Angga, Andra dan terakhir Alea. Golden Chains dan Five Star sudah berencana memperbesar usaha mereka dengan menjodohkan Tombak dan Kania. Nah ini yang paling penting.. elo sebagai pewaris kedua harus tahu kalau ada satu cewe di dunia ini yang ngga boleh lo pacarin apalagi nikahin, yaitu Alea anak bungsu dan cewe satu-satunya dari Hilman Wijaya.”
“Kenapa?”
“Kan tadi udah gue bilang, dua grup ini terlibat persaingan dagang dan perang dingin menahun yang ngga akan pernah berakhir. Jadi, jangan pernah coba-coba kenal, deket apalagi jatuh cinta sama yang namanya Alea. Kalau itu terjadi maka nasib percintaan elo bakalan kaya Romeo and Juliet, tragis.”
“Gaya lo kang,” Ega menanggapi ucapan Adit dengan candaan. Dia mengambil foto Alea.
“Ini yang namanya Alea?” Ega memastikan.
“Iya, emang kenapa?”
“Ini cewe sinting yang bikin gue sial. Gara-gara dia juga gue kena tilang tadi.”
“Lo kenal?”
“Cuma selewat itu juga kebetulan, lagi sial aja gue. Dia sekampus sama gue.”
“Feeling gue ngga enak nih.”
“Feeling.. feeling.. tenang aja gue ngga demen sama yang model kaya gini. Udah gitu gayanya kaya preman.”
“Nah ini yang paling gue cemasin, dari benci itu bisa tumbuh benih-benih cinta. Jadi harus lo inget baik-baik, jangan pernah punya hubungan apapun sama dia. Lo itu montague, dia capulet, ibarat air dan minyak ngga akan bisa nyatu.”
“Bawel lo ah.. udah ngga penting yang begituan. Yang penting sekarang bantuin gue gimana caranya gue bisa dapet modal buat usaha lele gue. Tadi gue dapet kabar di daerah Parung ada yang mau jual lahan bekas ternak ikan. Lumayan luas tempatnya, nah gue butuh uang sekitar lima ratus juta. Mumpung yang punya lagi butuh duit, jadi dia jual di bawah harga pasar.”
“Yakin bener? Sertifikatnya beneran ada, ngga bodong?”
“Iya, Cholil udah ngecek ke BPN.”
Adit terdiam, berpikir sejenak mencari cara untuk membantu. Ega berjalan ke lemarinya, mengeluarkan dua kotak berisi jam tangan edisi terbatas lalu memberikannya pada Adit.
“Ini kalau dijual berapa kang?”
“Kalau jual butuh kaya gini, harganya bisa jatoh. Paling cuma dapet dua ratusan.”
Ega kembali terdiam, berarti masih kurang tiga ratus. Dia menggaruk-garuk kepalanya, kemana lagi harus mencari sisanya.
“Udah lo tenang aja, biar gue yang urus. Mana business plannya?”
Ega mengambil map dari laci meja lalu memberikannya pada Adit. Lelaki itu mengambil map lalu membacanya sebentar.
“Gue bawa ya.”
“Yakin lo kang bisa dapet?”
Adit tersenyum yakin, setelah itu keluar kamar. Ega bertanya-tanya pada siapa Adit akan menunjukkan business plan-nya. Dia memandang pada foto-foto di mejanya lalu segera membereskannya dan menaruhnya di laci.
❤️❤️❤️
Adit memasuki gedung Golden Tower, kantor pusat Golden Chains grup. Dia segera masuk ke dalam lift dan memencet tombol lima belas. Sesampainya di sana, dia berjalan menuju ruangan Tombak dan disambut oleh sekretaris Tombak.
“Pak Adit mau bertemu pak Tombak?”
“Iya, ada kan?”
“Ada pak, silahkan masuk.”
Setelah mengetuk pintu Adit segera masuk ke dalam ruangan. Tombak tampak sedang berkutat dengan beberapa dokumen. Adit duduk di sofa menunggunya menyelesaikan pekerjaan. Tak lama Tombak menghampiri dan duduk berhadapan dengannya. Adit menyerahkan business plan milik Ega. Lelaki dingin itu hanya melihat sekilas namun tak bereaksi apa-apa.
“Tolong pelajari business plan punya Ega. Dia mau mulai usaha sendiri, aku harap kamu mau membantu.”
“Aku ngga minat sama usaha kaya gitu. Kalau dia mau mulai usaha, suruh dia cari modal sendiri,” nada suaranya terdengar dingin.
“Ini bukan Ega yang minta, tapi aku yang minta. Tolong sekali ini bantu dia.”
Tombak tersenyum sinis.
“Kalau dulu kamu tetap bekerja denganku, sekarang pasti kamu sudah punya jabatan lebih tinggi, gaji lebih besar dan fasilitas lebih banyak. Tapi kamu malah lebih milih Ega, yang cuma bisa bikin kamu susah.”
“Kamu masih iri sama Ega?”
“Aku ngga peduli Ega dapat jatah warisan lebih banyak. Tapi yang aku ngga terima dia udah merebut sahabat aku sendiri. Sejak lama kita berteman, kamu tahu betul kalau aku butuh kamu menjalankan bisnis ini. Tapi kamu menusukku dari belakang dengan meninggalkanku dan memilih berada di samping Ega.”
Adit tersenyum miris melihat pada Tombak, sahabatnya sejak kecil. Sudah banyak hal mereka lalui bersama. Sebelum Adit menjadi asisten Ega, dia sudah bekerja terlebih dahulu dengan Tombak. Namun empat tahun lalu dia memutuskan untuk berhenti dan memilih mendampingi Ega.
“Kamu tahu berapa banyak kerugian yang aku alami empat tahun lalu? Proyek yang kita rencanakan gagal total karena kamu tiba-tiba berhenti. Imbasnya aku kehilangan kepercayaan dari papa, sampai saat ini aku masih belum bisa mengambil keputusan sendiri terkait perusahaan. Sekarang dengan entengnya kamu minta bantuan finansial untuk Ega.”
Adit menghela nafas, dia menatap Tombak sebentar sebelum berbicara.
“Kamu memang sahabatku, sejak kecil kita berteman. Tapi saat aku mengalami fase terberat dalam hidupku, kamu hanya diam.”
“Aku diam untuk melindungi proyek kita agar bisa mewujudkan impian kita!”
“Bukan.. kamu diam karena kamu takut kehilangan apa yang telah kamu miliki, uang, jabatan, kekuasaan!”
Akhirnya keluar juga kekecewaan yang dipendam Adit pada Tombak selama ini. Peristiwa empat tahun lalu yang membuatnya memilih untuk berada di samping Ega sampai sekarang.
Flashback on
Dua buah mobil polisi mendatangi sebuah gudang kosong. Polisi turun dari mobil dan dengan pengawalan ketat mereka menurunkan Yayan Sulaiman, ayah Adit yang menjadi tersangka kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang karyawati pabrik. Mereka akan melakukan reka ulang kejadian.
Di TKP sudah berkumpul banyak orang termasuk keluarga korban yang menonton proses reka ulang. Adit juga datang ke sana. Polisi membawa masuk Yayan dan memerintahkan Yayan untuk melakukan reka ulang kejadian. Yayan hanya terdiam, dia memandang ke sekeliling, lalu melihat pada anaknya.
“Bukan ayah pelakunya nak, percaya ayah.. bukan ayah.”
Mata Adit berkaca-kaca, dia percaya kalau ayahnya tidak bersalah. Tiba-tiba salah satu keluarga korban melemparkan batu pada Yayan dan tepat melukai kepalanya. Darah segar mengucur dari kepalanya. Adit yang terkejut spontan melihat ke belakang. Saat orang itu akan melempar lagi, Adit langsung menghalangi. Seketika suasana menjadi ricuh, beberapa orang berlari hendak mendekati Yayan. Polisi pun bergerak cepat, mereka membawa Yayan kembali ke dalam mobil dan segera meninggalkan TKP.
Beberapa orang mengejar mobil yang membawa Yayan sambil terus melemparkan batu.
“Ayah saya tidak bersalah! Itu fitnah!” teriak Adit.
Keluarga korban yang tidak terima menghampiri Adit dan mulai menghajarnya. Suasana semakin kacau, masyarakat yang menonton berlari menjauh meninggalkan Adit yang dihajar habis-habisan oleh keluarga korban. Di saat genting itu Ega beserta empat orang temannya datang membantu. Mereka menghalau orang-orang yang memukuli Adit dan berhasil membawanya pergi. Ega langsung membawanya ke rumah sakit.
Adit terbaring di ranjang, dia masih belum sadarkan diri. Ega duduk di sampingnya. Tak lama Tombak masuk.
“Kak.. sampai kapan kakak akan membiarkan kang Adit seperti ini. Dia sahabat kakak tolong bantu dia. Aku percaya kalau pak Yayan bukan pelakunya.”
“Kamu pikir ini masalah biasa? Kalau publik tahu kakak terlibat dalam masalah ini apa yang akan terjadi? Belum lagi para pemegang saham bakal menekan kakak untuk mundur dari jabatan.”
“Aku ngga percaya kakak bicara seperti itu.”
Belum sempat Ega menyelesaikan kalimatnya, Tombak segera pergi meninggalkan ruangan. Adit yang sudah sadar dan mendengar apa yang dikatakan hanya bisa diam menahan rasa sakit. Setelah Tombak pergi, dating Willy. Dia melihat Adit yang masih terbaring. Adit berpura-pura masih belum sadar. Ega melihat pada papanya, kini harapan satu-satunya adalah dia.
“Pa.. tolong bantu kang Adit. Pak Yayan ngga bersalah. Papa punya banyak kenalan pengacara tolong bebasin dia pa, kasihan kang Adit.”
“Papa ngga mau ikut campur. Ini masalah sensitif dan bisa berakibat buruk pada perusahaan.”
“Papa bisa tetap menolongnya tanpa harus maju ke depan. Cukup pekerjakan pengacara handal yang bisa memenangkan kasusnya. Ega percaya papa bisa melakukan itu. Tolong bantu kang Adit! Tolong pa, Ega mohon.”
Papa terdiam memandang Ega sejenak. Anak bungsunya ini memang keras kepala dan selalu bertindak semaunya.
“Papa memang bisa membantu, tapi itu ngga gratis. Apa kamu mau memenuhi syarat dari papa?”
“Apapun itu akan aku penuhi.”
“Serahkan semua saham dan warisanmu dari kakek pada Tombak. Dia perlu saham itu untuk menjaga posisinya di perusahaan. Dan selama kamu belum bekerja, kamu hanya akan memperoleh apa yang papa berikan secara terbatas. Jangan pernah menggunakan koneksi papa untuk urusan pribadi kamu. Jika di kemudian hari kamu terlibat masalah, papa tidak akan membantu. Bagaimana, setuju?”
“Aku setuju.”
Tanpa berpikir panjang Ega langsung menyetujui syaratnya. Willy menggeretakkan giginya. Memandang kesal pada anaknya.
“Hanya demi dia kamu rela kehilangan itu semua?”
“Kang Adit bukan orang lain pa. Dia sahabat kak Tombak sejak kecil. Pak Yayan sudah menjadi supir papa selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin papa menutup mata seperti ini. Aku akan penuhi semua syarat dari papa tapi tolong bebasin pak Yayan.”
“Baik, mulai besok syarat yang papa katakan akan berlaku.”
“Sebaliknya papa juga menepati janji. Berikan pengacara terbaik untuk membebaskan pak Yayan.”
Papa menelpon sekretarisnya untuk membuat janji dengan Maruli Sitompul, seorang pengacara kriminal terbaik di negara ini. Selesai menelpon sekretarisnya papa segera pergi meninggalkan Ega.
“Kang jangan cemas ya, pak Yayan pasti bebas,” ucap Ega seraya memegang tangan Adit. Tak kuasa rasanya Adit membuka matanya. Dia terharu atas apa yang Ega lakukan untuknya.
Adit menghela nafas panjang mengingat kejadian menyedihkan empat tahun lalu. Orang yang berada di sisinya saat itu bukanlah Tombak, melainkan Ega.
“Waktu itu Ega masih berumur tujuh belas tahun, tapi dia sudah berani mengambil keputusan seperti itu. Dia rela kehilangan segalanya hanya demi menyelamatkan ayahku. Apa salah kalau sekarang aku berada di sampingnya? Aku akan melakukan apa pun untuk membantu dia mewujudkan impiannya. Impian dia adalah impianku juga sekarang.”
Tombak tak bereaksi. Merasa tidak ada gunanya berlama-lama berbicara dengannya, Adit segera berdiri. Saat akan keluar ruangan, Tombak berkata,
“Aku akan bantu Ega mewujudkan semua impiannya, tapi sebagai gantinya saat impiannya terwujud kamu harus kembali bekerja padaku.”
Adit tak berkomentar, hanya melihat sekilas lalu keluar ruangan. Tombak mengambil map berisi business plan dari meja, melihatnya sebentar lalu melemparkannya dengan kesal.
❤️❤️❤️
**Yuhuuu readers, author balik lagi nih. Sabar ya, Ega dan Alea masih berproses dulu. Bab ini sengaja menceritakan kondisi keluarga Ega dulu ya. Buat yang kangen sama dokter Regan, dia bakal nongol di bab selanjutnya. Walaupun cuma jadi cameo hihihi..
Ngga bosan-bosan author ingetin tinggalkan jejak kalian berupa like, comment n vote nya ya..😘😘😘**