Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Namun, itu apa begitu memikirkannya dan hanya mengira Clara sedang berkunjung ke kediaman hermosa saja.
Saat memasuki kamar mandi, tiba-tiba Dia teringat kebiasaan kera yang sering membawa Elsa ketika berkunjung ke sana.
Tapi hari ini dia malah tidak membawa Elsa.
Apa mungkin Clara bukan ke kediaman hermosa?
Ah, masa bodoh, mungkin terjadi sesuatu di sana.
Dia semakin yakin dengan hal itu ketika teringat ucapan Rio di kantor sore tadi.
Kakinya memang sempat terhenti tapi dia tidak peduli.
Keesokan paginya, sambil menyantap sarapannya. Edward ada kata pada Elsa, "semua berkas kepindahanmu sudah selesai, besok pagi langsung ke sekolah untuk daftar ulang."
"Ya, Ayah." Elsa mengernyitkan hidungnya kemudian lanjut berkat, "apa ayah besok bisa mengantarku ke sekolah?"
"Ayah belum tentu punya waktu jawab
" Jawab Edward.
"Ya sudah." Rasa tampak memutar matanya seolah sedang memikirkan sesuatu. Tak lama, jangan kegirangan, "aku telepon tante Vanessa saja minta diantar aku ke sekolah besok."
"Belum sempat mengatakan apa-apa, ponselnya tampak berdering.
Telepon dari ketiana anggasta.
Saat mengangkat telepon itu, terdengar suara nenekku agak anggasta di ujung telepon.
"Nenek dengar kamu sudah kembali, Edward?" Tanya nenek.
"Iya, Nek"
"Elsa juga ikut."
"Udah lama nenek nggak bertemu Elsa, nenek kangen sama dia. Malam ini, kamu bawa pelara dan juga rasa ke rumah untuk makan malam." Perintah nenek.
"Baik, Nek."
"Mana Clara? Nenek mau bicara dengannya." Lanjut nenek.
"Dia nggak di rumah, Nek."
"Jam segini dia sudah nggak di rumah?" Tanya nenek heran.
"Harusnya dia ada di kediaman hermosa."
"Harusnya? Sebagai seorang suami, apa kamu nggak tahu ke mana istrimu pergi? Omel nenek.
Edward tak menjawabnya.
"Kamu...."
Nenek menghela nafas panjang, dan akhirnya terdiam.
Pada titik ini, nada bicara Edward sedikit lembut. Dia pun mengubah topik pembicaraan, "nenek sudah makan?"
"Sudah kenyang lihat tingkahmu!" Jawab nenek.
Edwap langsung tersenyum saat mendengarnya.
Dia masih menikmati sarapannya dengan tenang.
Nenek tahu, sejak kecil cucunya itu memang punya pendirian sendiri.
Bagi Edward, hubungan pernikahannya dengan Clara saat ini sudah menjadi kompromi terbesar yang pernah dibuatnya.
Dengan watak Edward yang seperti itu, sekalipun demi kebaikannya. Nenek tetap tidak bisa memaksanya terlalu keras.
Saat memikirkannya, nenek kembali menghela nafas panjang lalu berkata, "lupakan, anggap saja nenek nggak bilang apa-apa barusan, Huh."
"Baik, Nek. Kalau gitu sampai jumpa nanti malam."
"Kamu... huh."
Nenek menutup teleponnya dengan kesal.
Awalnya Elsa tidak begitu mendengarkan pembicaraan ayahnya di telepon. Dia hanya mendengar beberapa kalimat terakhir obrolan ayahnya. "Ayah, siapa yang telepon barusan?" Tanya Elsa penasaran.
"Nenek buyutmu." Teringat ucapan nenek ditelepon, sambil menelpon sekarang Dia berkata pada Elsa. "Nenek buyut minta kita datang untuk makan malam."
Nenek sangat baik pada Elsa. Begitu juga Elsa, gadis kecil itu sangat menyukai nenek. Begitu mendengar ucapan ayahnya dia langsung kata dengan senang.
"Siap ayah, aku juga udah lama nggak ketemu sama nenek buyut, kangen."
Edward menatap layar ponselnya dengan mengiyakan.
Waktu yang sama Clara juga sudah mencatat sarapan di kediaman hermosa.
Clara langsung terdiam saat melihat nama Edward di layar ponselnya.
Dia tak lagi terkejut ataupun senang saat melihat pria itu meneleponnya.
Setelah ragu sejenak, bakulah dia mengangkat teleponnya. Berkata, "Ya?"
"Nenek undang kita makan malam bersama."
"Ya, aku ngerti."
"Nanti kamu yang jemput Elsa di rumah." Ucap Edward.
Clara tak ingin lagi pergi ke rumah itu. Ditambah lagi, belum tentu putrinya suka dijemput olehnya.
Untuk apa dia melakukan hal yang percuma?
"Minta sopir antar dia saja. Sebelum kerja aku langsung ke sana,"ucap Clara.
Jam pulang kerja mereka termasuk jam sibuk.
Clara itu memang yang paling efisien.
Namun, selama ini Clara memang selalu menangani sendiri segala urusan yang berhubungan dengan Elsa. Dia selalu menikmatinya tanpa mengeluh.
Edward tentu saja terkejut saat mendengar lara mengatakan hal ini.
Tapi dia masih tidak berpikir macam-macam. lagi pula ini hanya masalah sepele, tak perlu memikirkannya.
"Baiklah."
Selesai mengatakannya, dia menutup teleponnya.
Kali ini, Elsa tahu siapa yang edward telepon.
"Ayah telepon mama?" Hanya Elsa.
"Ya."
"Kalau gitu, Mama ikut sama kita ke rumah nenek?" Lanjut Elsa.
"Ya."
Mendengar itu, Elsa sontak mengerutkan keningnya tanpa mengatakan apapun.
Bukan dia tidak ingin bertemu dengan ibunya.
Juga bukan tema tidak merindukan ibunya.
Bisa dibilang, dia sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Apalagi ibunya sudah tidak pernah meneleponnya selama setengah bulan ini.
Sebenarnya, di dalam lubuk hati gadis kecil itu kini merindukan sosok ibunya.
Namun, saat tahun malam ini ibunya bisa datang ke kediaman anggasta, itu berarti ibunya sudah pulang dari perjalanan bisnis. Perlu diketahui, saat kepulangannya ke Marola dia baru tahu kalau ibunya pergi melakukan perjalanan bisnis keesokan paginya saat dia terbangun.
Elsa senang bukan kepalang saat mengetahui ibunya tidak di rumah.
Dia lantas memanfaatkan kesempatan ini untuk berhubungan lebih intens dengan Vanessa.
Bagaimanapun, dia tidak bisa selesai bertemu dengan Vanessa jika ibunya di rumah.
Tidak heran kalau dia berharap ibunya pulang lebih lambat.
Namun siapa sangka, baru dua hari waktu berlalu, ibu sudah pulang.
Dengan begitu, ibunya pasti tidak akan setuju jika besok Anisa datang mengantarnya ke sekolah.
Apalagi kalau ibu sampai tahu tentang acara balap mobil Vanessa besok malam, pasti tidak akan mengizinkannya menonton balap itu.
Suasana hati Elsa memburuk saat memikirkannya.
Ditambah lagi, barusan dia sudah menghubungi Vanessa untuk mengantarnya ke sekolah besok dan langsung disetujui.
"Bagaimana ini?"
"Ayah" Elsa merasa sedikit tertekan.
"Ada apa?" Tanya Edward menatap Elsa.
Ayah bisa saja membantunya agar ibunya mengizinkan Vanessa menamaninya pergi ke besok. Namun, ibu dan ayah pasti akan bertengkar setelah itu...
'sungguh menyebalkan!'
Elsa kehilangan selera makannya.
Dia pun mengurungkan niatnya dan membiarkan ibunya mengantar ke sekolah besok.
Namun, apapun yang terjadi dia tetap akan menonton Tante Vanessa dan kompetensi balap besok malam, bagaimanapun caranya!
Memikirkan hal itu, Elsa berkata dengan manja, "mengenai besok malam, ayah. Ayah kan udah janji izinin aku nonton tante Vanessa di kompetisi balap. Kalau mama tahu, Mama pas tinggal ngebolehin pergi. Intinya, Mama nggak boleh tahu soal ini. Kalau besok mama tanya, tolong bantu aku ya, Yah?"
"Baiklah."
Suasana hati Elsa langsung membaik begitu Edward menyetujuinya.
Selang beberapa saat, edwap selesai dengan sarapannya dan pergi ke kantor.
.....
Setibanya di kantor hari ini, Rara tidak berpapasan lagi dengan Edward.
Siang harinya, nenek keluarga hermosa mengajaknya makan siang bersama di kedai sederhana.
Kedai sederhana berada dekat di sekitar anggasta. Mungkin Clara hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja berjalan di tempat itu.
Clara pun keluar kantor. Baru saja tiba di depan pintu kedai sederhana terdengar suara orang berkata. "Edward, kalau bukan karena bantuanmu. Kontrak barusan mustahil kudapatkan meski berusaha sekuat tenaga. Kali ini, aku benar-benar berterima kasih padamu.
Suara familiar ini....
Laras segera menghentikan langkah kakinya.
Dia menoleh ke sumber suara dan melihat sosok ayah kandungnya, Ervan gori.
Edward lantas berkata,"Paman nggak perlu sungkan."
Tanpa sadar, Clara mengepalkan tangannya secara perlahan.
Iya tahu betul ada bicara Edward lebih lembut dari biasanya.
Orang yang mendapat perlakuan seperti itu, pasti orangnya Edward anggap penting.
Hanya saja, perlakuan Edward pada Ervan bukanlah karena dirinya. Dia tahu itu!
Bagaimanapun, semenjak Ervan menceraikan ibunya, Clara jarang sekali bertemu dengan Ervan.
Satu-satunya Putri yang diakui Arvan di depan publik adalah Vanessa.
Tidak ada lagi hubungan ayah dan anak antara Clara dan Ervan.
Ternyata benar, sesuai dengan prediksi. Tak lama, Ervan langsung menimpali Edward yang berkata, "Vanessa tinggal sendirian di sini aku dan ibu Vanessa agak khawatir, jadi kumohon. Tolong jaga Vanessa."