NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:562
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasih Sayang yang Berbeda

Hanif yang baru saja masuk ke kamar langsung duduk menghampiri istrinya. Ia peluk istrinya begitu saja dengan sentuhan hangat pada punggungnya.

Riyani perlahan menangis—meratapi keluarganya yang semakin hancur. Orang tua yang selama ini terlihat perhatian dan begitu menyayanginya ternyata hanya memanfaatkan semata, belum lagi Abang dan kakak iparnya sendiri.

"Besok gimana kalau ke rumah nenek aja? Kamu kangen kan sama nenek?" usul Hanif.

Riyani mendongak dengan wajah merahnya. Ia mengangguk mengiyakan.

"Ya udah sekarang bobo yuk!" ajak Hanif. Dengan lembut ia membantu istrinya untuk berbaring, mendekapnya agar tetap hangat sampai suara adzan subuh kembali terdengar oleh keduanya.

Pasutri itu bersiap, Hanif dengan pakaian santainya dan Riyani yang memakai celana kulot dengan atasan warna hitamnya.

Sesampainya di rumah nenek, Hanif memilih untuk pamit setelah memastikan istrinya masuk ke toko kue.

Neneknya tidak menanyakan hal apapun. Ia sudah mengerti dengan kehidupan riyani yang kini sedikit runyam dengan orang tua dan abangnya.

"Neng, suami kamu langsung pergi lagi tadi?"

Riyani mengangguk, "tadi takut telat katanya, Nek. Makanya dia gak mampir dulu."

"Gimana tinggal sama Hanif?" tanya neneknya, "kan kamu dari dulu gak pernah tinggal sama orang lain. Jangankan tinggal, nginep aja susah."

Riyani terkekeh pelan.

"Aman kok, Nek."

"Neng juga bisa tidur di rumah baru," jawab Riyani membuat neneknya merasa sedikit lebih tenang.

----------------

Di sisi lain, Hanif kini kembali bertugas di IGD. Lelaki itu baru saja duduk di kursi jaganya. Supir ambulance tiba-tiba datang, meminta perawat dan yang lainnya untuk membantu.

Hanif membawa stetoskopnya. Ia mempercepat jalannya, membantu mengeluarkan pasien laki-laki yang terlihat kesakitan—penuh luka dan cukup banyak darah yang keluar.

Perawat membantunya, memasangkan infus dan membersihkan lukanya. Begitupun dengan Hanif.

Tapi ia sadar, bahwa laki-laki yang baru saja dibawanya masuk adalah kakak iparnya sendiri.

Hanif tidak berbicara sedikitpun. Ia hanya fokus pada luka dan pengobatan untuknya, tidak ada obrolan keluarga atau bahkan menerangkan pada rekannya bahwa ini adalah keluarganya.

(Mending gak usah bilang sama Neng deh. Biarin aja)

(Dia juga yang bikin istri gw luka kemarin)

Hanif diberitahu, jika keluarga pasien sudah diberitahu sebelum ia dibawa ke rumah sakit. Kini keluarganya sudah menunggu dia di depan ruang pemeriksaan.

Hanif keluar, mencari keluarga pasien yang tidak lain adalah mertuanya sendiri. Bapak dan mamah terlihat khawatir, sangat berbeda saat Riyani yang sakit kemarin-kemarin. Pantas saja wanita itu seperti dendam dalam diam kepada orang tuanya.

Bagaimana keadaan kakak ipar kamu?

Lalu lukanya parah atau tidak?

Dia sekarang bagaimana?

Dan apa yang terjadi?

Semua ditanyakan mertua hanif padanya. Sedangkan Hanif hanya menjawab, "dia baik-baik saja."

Hanya itu, sesingkat itu—lalu kembali masuk ke ruang pemeriksaan. Ia alihkan pasiennya itu ke rekannya.

"Kenapa emangnya, Nif?" tanya Fauzan.

"Gak apa-apa. Lo tangani lanjutnya aja ya!"

Fauzan hanya mengangguk. Toh selama ini emang mereka berdua cukup akrab untuk saling membantu.

...----------------...

Hari sudah mulai siang, Hanif membawa kotak bekal yang disiapkan istrinya tadi pagi. Menuju taman dekat parkiran, dimana beberapa rekannya sering mengobrol dan makan siang di sana selain di kantin.

"Nif sini!" ajak Azka melambaikan tangannya.

Hanif duduk di sampingnya, membuka kotak bekal lalu makan dan bergabung dengan obrolan temannya yang lain.

Tidak lama, hanya tersisa Azka dan Hanif di sana.

"Gw denger tadi Bang Ardi masuk rumah sakit?" tanya Azka.

Hanif mengangguk, "gw yang tangani."

"Kebetulan banget ya,"

"Tapi gw alihkan ke Fauzan," sambung Hanif.

Azka menoleh, "kenapa?"

"Gw sakit hati sama dia,"

Azka hanya terdiam, menatap Hanif dengan raut seolah bertanya apa yang terjadi.

"Kemarin dia temui istri gw, terus pas gw pulang pergelangan tangannya udah bengkak. Katanya dipaksa sama dia buat pinjemin dia uang," jelas Hanif, "gw gak habis pikir banget sama abangnya. Kenapa harus begitu."

"Gw denger dari ibu gw sih kalau abangnya dipecat dari kerjaan, terus ada hutang yang harus dibayar juga. Istrinya gak mau bantu, dia nikmati semua gajinya buat dia, sedangkan suaminya minta pinjaman kesana-kemari," jelas Azka, "dia pinjem berapa ke istri lo?"

"Katanya sih 3 juta. Tapi dia gak mau kasih, karena katanya gak bakal balik kalau dipinjam sama dia."

Azka terkekeh dengan anggukannya, "emang bener apa yang istri lo bilang. Uangnya gak bakal balik, karena yang lalu juga begitu."

"Ke Lo?" tanya Hanif.

Azka mengangguk, "dulu dia pernah pinjem uang sama gw mengatasnamakan istri lo. Pas gw tagih, dia minta gw buat tagih ke istri lo yang gak tau apa-apa. Gw yang Neng tumbuh gimana, dari sekecil boneka sekarang udah gede, gw tau, Nif. Gw percaya kalau itu cuman akal-akalan abangnya aja biar gak bayar, alhasil gw relain semuanya, tapi diganti sama neneknya neng waktu itu."

Selepas mengobrol, keduanya kembali pada pekerjaannya.

Hanif yang baru saja masuk ke lobi rumah sakit langsung dicegat mertuanya.

"Hanif, bapak mau ngomong sama kamu dulu boleh?"

Hanif tidak punya pilihan selain mengiyakannya. Ia hanya memberikan waktu 10 menit untuk berbicara. Pak Adam setuju, Hanif membawanya duduk pada sofa berderet di lobi rumah sakit.

"Ada apa ya Pak?"

"Begini Hanif, bapak tau kamu gak suka sama kita, karena perlakuan kita ke istri kamu. Tapi boleh gak, sekali ini aja bapak minta tolong sama kamu?"

"Minta tolong apa Pak?"

Pak Adam memainkan jemarinya, "bapak mau pinjam uang. Buat biaya pengobatannya abang."

"Berapa pak?"

"10 juta, kalau ada."

Hanif sempat mengedarkan pandangannya, "pengobatan abang bisa dicover sama bpjs loh pak. Kenapa sebesar itu pinjamnya?"

"Kamu gak mau pinjemin sama bapak ya? Tenang aja kok bapak pasti bayar,"

"Jangan, A!" timpal Riyani yang baru saja datang. Wajahnya nampak dingin menatap bapaknya.

Hanif berdiri, "kamu kenapa di sini?" tanyanya. Ia mendekat, mengajak istrinya untuk duduk bersama Pak Adam.

"Pak, bukan Hanif gak mau pinjemin. Tapi uangnya terlalu banyak, Hanif juga gak bisa keluarin tabungan sebanyak itu."

"Hanif, kita keluarga loh. Kamu gak mau bantu?"

Riyani tersenyum remeh, "keluarga? Bapak baru bilang kita berdua keluarga saat lagi mepet kayak begini. Kemarin-kemarin kemana? Bahkan semalem aja bapak masih marahin aku karena bilang tega sama abang sendiri."

Hanif menggenggam tangan istrinya agar tenang, "gak boleh gitu. Dia orang tua kamu, gimanapun dia."

Riyani menghirup napasnya panjang. Ia keluarkan uang dalam amplop cokelat lalu diberikan pada bapaknya, "neng sama Aa gak bisa pinjemin uang segitu. Tapi Neng mau kasih uang ini ke bapak, cuman ini yang neng bisa kasih. Gak usah dibalikin gak apa-apa, tapi berhenti pinjem uang ke kita."

"Ayo A!" ajak Riyani sembari menarik tangan suaminya.

"Kamu kasih uang berapa sama bapak? Itu uang darimana? Tabungan kamu?" tanya Hanif.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!