Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suara ketikan keyboard terdengar memenuhi kamar yang sejak tadi siang sangat hening, selain suara keyboard dan jam tidak ada suara lain yang keluar dari kamar itu. Ini sudah dua jam setelah datangnya dia dari luar, gadis itu tidak keluar lagi.
"Ehhh. Lelah nya." ucap Yaya memijat pelan bahunya yang terasa berat. Tidak lupa menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri merilekskan kepalanya yang terasa pusing. Rasa lelah itu sebanding dengan pekerjaan yang dia kerjakan saat ini. Dua jam dia menghabiskan waktunya untuk berhadapan dengan layar di depannya itu semua terbayar lunas.
"Tidak sia-sia aku mengerjakan semua ini sampai dua jam, kalau akhirnya aku mendapatkan hasil yang memuaskan." gumam Yaya menatap penuh rasa bangga pada hasil kerjanya. Ternyata pekerjaan yang dia kerjakan dengan pikiran kacau tidak semudah itu, tapi dia berhasil menyelesaikannya."Untuk merayakannya, aku akan makan di luar. Tapi kemana ya?" ucapnya berpikir."Makanan dengan campuran sayuran dan lontong yang dipadukan oleh kacang pasti sangat enak. Aku mau makan itu, ya aku harus pergi ke warung gado-gado langgananku saat berada di kota ini."
Dengan wajah sumringah Yaya berdiri dari duduknya. Gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih terlebih dahulu setelah itu barulah dia keluar.
Dia tidak menaiki mobil, melainkan naik ojek online. Gadis itu tampak menikmati kesederhanaannya tanpa menonjolkan kalau dia adalah gadis yang memiliki semua. Dia benar-benar menjadi dirinya di kota B tanpa perintah sang mami yang terus-menerus menuntut nya untuk mengikuti semua peraturan. Yaya suka kebebasan.
Sesampainya di warung pinggir jalan, tempat yang tidak terlalu mewah tapi tetap terlihat nyaman. Tenda atau terpal berwarna biru sebagai penutup atasnya sementara spanduk bertuliskan deretan gambar makanan menjadi dinding seadanya agar saat orang-orang makan tidak dilihat dari luar sana.
Bibirnya tersenyum mendekati gerobak sederhana itu."Mang, pesan gado-gado nya satu ya." Ucap Yaya yang tentu sudah mengenal penjual itu, karena setiap ke kota B dia selalu kesana untuk singgah.
"Aduh Neg Yana, sudah lama tidak kelihatan. Tiba-tiba timbul langsung pesan gado-gado sama kayak den Jidan." Jawab penjual itu sambil melirik ke arah Jidan. Yaya sendiri terlihat terkejut mendengar perkataan mang asep. Ia mengikuti arah lirikan mang Asep dan melihat pria yang tadi siang tidak sengaja dia temui, ternyata malam ini juga mereka tidak sengaja bertemu lagi untuk yang kedua kalinya."Kayak janjian ya neg. Sama temannya."
Yaya menarik senyumannya hingga memperlihatkan dataran gigi nya yang rapi, bukan senyuman tulus melainkan terpaksa. Bagaimana tidak sudah mencoba dia melupakan pria itu yang menghantuinya kini malah timbul lagi.
"Apakah dunia sesempit ini sampai kita dipertemukan lagi kak." Gumam Yaya sedikit kesal.
"Gabung langsung neg, kebetulan ada den Jidan. Jarang-jarang reunian di warung mamang."
"Ah iya mang kebetulan sekali." Ucap Yaya yang masih belum menghilangkan senyum nya."Jangan lupa gado-gado nya lombok nya lima ya mang."
"Siap neg, sama pesanannya kayak den jidan. Benar-benar janjian berdua ini."
"Apa?!" Pekik Yaya dalam hati saat mengetahui kalau tidak hanya pesanan mereka yang sama melainkan rasanya juga."Okey mang." Dengan pasrah gadis itu melangkah ke arah meja jidan. Di mana pria itu sedang duduk menatap nya.
"Duduklah disini hanya ada kita berdua saja sebagai pembelinya." ucap Jidan menghentikan langkah Yaya yang akan mengarah ke kursi lain.
"Tapi__"
"Kenapa tapi? cepat duduk. Seperti yang dikatakan mamang Asep. kita reunian disini setelah lama tidak bertemu." ucap Jidan lagi membuat Gadis itu ragu untuk duduk.
Setelah pertemuan mereka tadi siang, hati Yaya mulai goya untuk mendekati Jidan. Apalagi setelah mengetahui kalau pria itu memiliki nama baru dalam hati nya. Jujur sebenarnya dia masih belum ikhlas walaupun disini bukanlah sepenuhnya salah Jidan karena dia juga sudah bertunangan. Jadi toh untuk apa juga marah. Mereka juga tidak memiliki hubungan apapun selain perasaan yang sama.
Apakah jidan masih memiliki rasa yang sama seperti nya atau tidak? Yaya meragukan hal itu.
"Kak Jabir baru pulang kerja ya?" Tanya Yaya membuka obrolan setelah dia duduk berhadapan langsung dengan pria itu.
"Iya seperti yang kamu lihat, aku masih memakai pakaian yang sama seperti tadi siang." Jawab Jidan, membuat Yaya mengangguk canggung. Mereka terlalu canggung untuk berbicara banyak apalagi ini bukan kondisi formal yang harus berbicara walaupun sekedar basa-basi."Aku lihat sejak siang kita selalu bertemu di warung sederhana. Apakah kamu tidak merasa gimana gitu, mengingat kamu orang terpandang." Ungkap Jidan mengungkapkan kejanggalan dalam diri Yaya, yang seorang terpandang tapi mau makan di pinggir jalan seperti saat ini.
Padahal restoran mewah bisa di sewa. Jangankan sewa tapi dibeli saja mungkin bisa.
Yaya terdiam mendengar perkataan Jidan. Tapi bibir nya mengukir senyuman di sana."Satu hal yang kak Jabir harus tau, kalau aku nyaman seperti ini. Sejak awal kita bertemu aku suka kesederhanaan. Kak Jabir yang mengajari ku apa itu hidup tenang tanpa kemewahan, tanpa dikejar-kejar oleh peraturan keluarga. Tanpa bertemu seseorang yang pura-pura menyukai kita, semua nya serba sederhana itu menyenangkan." Jawab Yaya yang terdengar bijak."Dan dari kak Jabir aku belajar untuk mencintai seseorang tanpa syarat." Ungkap Yaya yang hanya bisa dalam hatinya tanpa berani berkata terus terang.
Angin perlahan berhembus saat tatapan keduanya saling mengunci. Getaran itu masih saja terasa membuat jidan cepat-cepat berdehem membuyarkan lamunan Yaya. Yaya kembali tersenyum canggung, beruntung ia tidak berkata secara langsung kalau tidak mungkin dia akan malu. Malu sekali.
"Jika perempuan lain mengejar kemewahan maka kamu berbeda. Kamu malah menginginkan kesederhanaan."
"Karena mereka tidak tau, rasanya berada di bawah kemewahan dengan penuh tekanan kak. Kalau saja hanya kemewahan tanpa tekanan aku sih mau juga." jawab Yaya sekedar bercanda.
"Tapi aku rasa kamu beruntung dan harus mensyukuri nya. Ini salah satu keinginan yang gadis lain inginkan, makanya kamu jangan kebanyakan mengeluh atau kabur-kaburan seperti dulu." Yaya kembali teringat akan pertemuan pertama mereka.
"Tapi dari situ aku banyak belajar dari mu kak termasuk memasak."
"Tapi aku tidak yakin kalau kamu masih pintar memasak." Sahut Jidan tidak percaya.
"Nanti kak Jabir akan lihat."
"Den jidan sama neng Yana serius sekali ceritanya, sampai nggak terasa gado-gado nya dah jadi." Sambung mang Asep seraya menaruh piring di depan keduanya."Makan dulu, nanti baru lanjut reunian nya. Tenang Waktu mang Asep masih panjang." Lanjut mang Asep. Membuat kedua nya mengangguk mengiyakan.
Bersambung….