( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keteguhan diri Basten
Keyakinan
Sikap mental seputar kemantapan dan penerimaan pemilihan pemikiran pada diri seseorang, yang membuatnya kerap kali terlihat lebih percaya diri.
13 Februari, Siang Hari — Istana Utama Nightdoom
Basten Nahan melangkah menyusuri koridor megah yang menuju langsung ke ruang singgasana. Setiap ketukan ujung sepatunya di atas lantai marmer bergema konstan, tanpa ada sedikit pun keraguan atau jeda yang mengindikasikan ketakutan. Pria itu tahu betul, badai salju di luar istana tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai politik yang akan ia sulut di dalam ruangan sana. Apa pun yang keluar dari mulutnya beberapa saat lagi, akan mengubah jalannya sejarah Kerajaan Nightdoom selamanya.
Dua bilah pintu raksasa terbuka lambat. Di ujung ruangan yang luas dan temaram, duduklah sosok otoritas tertinggi kerajaan yang diselimuti hawa dingin.
Rasdinand Nightvale.
Basten berjalan tegap hingga jarak yang ditentukan, lalu menurunkan tubuhnya. Ia berlutut satu lutut, menundukkan kepala dengan khidmat di hadapan sang raja. Atmosfir di sekitar singgasana begitu berat, seolah udara sendiri enggan bergerak di dekat sang penguasa.
"Angkat kepalamu, Elite Guard Basten Nahan."
suara Rasdinand mengalun rendah, namun gaungnya menggetarkan dinding-dinding batu istana.
"Hari ini, aku memerintahkanmu untuk menjelaskan seluruh kejadian pada ekspedisi kali ini tanpa ada yang dikurangi."
Basten menegakkan punggungnya. Ia mengangkat wajah, menatap lurus ke arah takhta dengan sepasang mata yang memancarkan kemantapan mutlak.
"Baik, Yang Mulia."
Basten mulai bicara. Kalimat demi kalimat meluncur dengan artikulasi yang jelas dan tegas. Ia menceritakan segalanya sejak hari pertama keberangkatan tim, hingga momen mencekam saat mereka berhadapan dengan Monster Stalker yang berniat menjebak seluruh tim ekspedisi dalam permainan kecilnya yang sadis. Pertempuran demi pertempuran di dalam hutan dijabarkan secara rinci, tanpa mengubah atau memoles detail sekecil apa pun.
"Makhluk jahanam itu berhasil menewaskan tiga orang prajurit kita dalam semalam—"
"Kenapa Cortinus tidak melaporkan hal sepenting itu kepadaku?!"
Satu kalimat interupsi dari Rasdinand seketika memotong kalimat Basten. Nada suaranya tidak tinggi, namun intonasi dingin yang mengintimidasi itu langsung membuat udara di dalam ruangan terasa membeku.
Di deretan kursi samping, beberapa bangsawan tinggi seketika berkeringat dingin. Mereka mati-matian memperbaiki posisi duduk, membusungkan dada, dan memegang harga diri mereka demi menjaga karisma sebagai orang penting di istana. Namun, gestur tubuh mereka tidak bisa berbohong; beberapa dari mereka menelan ludah dengan susah payah, memerhatikan tatapan tenang namun mematikan milik sang raja.
Basten tetap bergeming di posisinya, napasnya teratur. "Yang Mulia, masalah terkait terhambatnya laporan menggunakan burung pengantar surat itu..."
"Katakan," perintah Rasdinand, tajam.
"Pada esok hari setelah kejadian penyerangan Monster Stalker, Tuan Cortinus Nightvale telah mengkhianati Tuan Leoric dan seluruh tim ekspedisi. Pengkhianatan tersebut mengakibatkan tewasnya seluruh pasukan tentara kita tanpa sisa."
Deg.
Atmosfir ruangan seketika berubah drastis. Hawa dingin khas musim benua seolah lenyap, digantikan ketegangan yang membuat ruangan terasa gerah dan menyesakkan.
Tatapan mata Rasdinand saat itu menunjukkan kilatan kejengkelan yang luar biasa. Sepasang netranya memancarkan rasa benci, dendam, dan ketidakpercayaan yang diarahkan lurus menghunjam ke sepasang mata Basten.
Melihat perubahan emosi sang raja, empat orang pasukan pengawal takhta berjalan perlahan mendekati Basten dari belakang. Sring! Suara gesekan logam terdengar ngilu saat mereka menarik pedang dari sarungnya, lalu mengarahkan mata pisau yang berkilau tajam tepat ke urat leher Basten.
"Basten Nahan"
Rasdinand mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya seberat batu gunung.
"Sebagai Elite Guard pribadi Cortinus... apakah kau sanggup memikul beban dari setiap kata yang baru saja kau ucapkan?"
Dinginnya ujung besi pedang yang menempel di tengkuknya sama sekali tidak membuat kelopak mata Basten bergetar.
"Saya, Basten Nahan"
ucapnya dengan suara lantang yang menggema ke langit-langit istana.
"Bersumpah atas nama seluruh darah keturunan saya, bahwa Pangeran Cortinus Nightvale mengkhianati Kerajaan Nightdoom dalam kondisi sadar. Beliau mengarahkan pedangnya ke arah pasukan Nightdoom. Termasuk ke arah saya sendiri."
Mendengar sumpah itu, para pasukan di belakang Basten mempererat genggaman mereka pada gagang pedang, siap melakukan eksekusi jika ada perintah satu kedipan mata dari raja.
Rasdinand menyandarkan punggungnya kembali, lalu memegangi dahinya yang berdenyut.
Bagaimana jika Emily yang saat ini berada di kamar Fabian mendengar kabar terkutuk ini? Jiwanya bisa hancur total.
Keheningan yang mencekam itu tiba-tiba pecah. Seluruh bangsawan di dalam ruangan mulai berbisik-bisik. Suara kasak-kusuk mereka merayap di sela-sela pilar istana, membuat ruangan yang tadinya sepi berubah bising bak bisikan ribuan setan yang menghasut.
"Beraninya kau mengeluarkan omong kosong itu dari mulut kotor bernodamu!"
Sebuah teriakan bengis memotong kedamaian. Count Morian Rasava berdiri dari kursinya dengan rahang yang terangkat angkuh, jemarinya yang dihiasi cincin permata menunjuk lurus ke arah wajah Basten.
"Lihatlah tikus ini! Hanya demi menutupi kekacauan, aib, dan ketelodorannya sendiri selama ekspedisi, dia berani memfitnah pangeran di hadapan raja!" seru seorang bangsawan lain, memanas-manasi suasana.
"Tapi... kira-kira apakah perkataan busuknya itu ada benarnya?" bisik bangsawan perempuan di sudut lain dengan cemas.
Basten tidak membalas. Ia memilih memejamkan mata, membiarkan ekspresi wajahnya tetap tegas tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun atas laporan jujurnya. Ia membiarkan sang penguasa tertinggi menilai sendiri kemantapan jiwanya.
Melihat Basten yang hanya diam, Count Morian semakin meradang. Ia berteriak histeris dari tempat duduknya, "Tentara bodoh! Apa lagi yang kalian tunggu?! Eksekusi pengawal pendusta itu sekarang juga!"
Mendengar perintah sang Count, para tentara yang mengepung Basten langsung mengambil ancang-ancang, menarik lengan mereka ke belakang bersiap untuk menggorok leher Basten yang sedang berlutut pasrah.
"DIAM!"
BOOM!
Suara Rasdinand bergemuruh hebat, menghantam seluruh sudut ruangan seperti guntur yang pecah di siang bolong. Gelombang intimidasi dari teriakan itu seketika menghentikan pergerakan tangan para tentara di belakang Basten. Mereka mematung, gemetar.
"JIKA ADA YANG BERANI BERSUARA ATAU MENYAKITI SIAPAPUN SAAT INI... AKU, RAJA NIGHTDOOM, AKAN MENGEKSEKUSI MATI ORANG ITU SEKARANG JUGA DENGAN TANGANKU SENDIRI!!"
Mata para bangsawan melotot sempurna. Nyali mereka menciut sampai ke dasar bumi melihat amarah sang raja yang meledak di depan mata. Tidak ada satu pun bantahan, atau bahkan deru napas yang berani keluar dari mulut para bangsawan setelah mendengar ancaman absolut tersebut. Bahkan burung-burung yang biasanya bertengger sambil berkicau di celah jendela luar kerajaan, mendadak bungkam, diam tanpa suara.
Rasdinand menarik napas dalam-dalam, meredam emosinya yang membakar dada, lalu kembali menatap ke bawah. "Basten Nahan, lanjutkan laporanmu."
"Baik, Yang Mulia."
Basten kembali membuka mata dan melanjutkan penjelasannya dengan ketenangan yang luar biasa, meskipun jauh di dalam dadanya, jantungnya berdetak dua kali lebih kencang akibat aura mengerikan yang baru saja dikeluarkan sang raja.
Ia mulai membeberkan kemunculan musuh-musuh baru: Oscar, Leona, hingga tiga orang misterius berjubah hitam yang mengincar Leoric. Ia menceritakan bagaimana Cortinus menantang dirinya berduel satu lawan satu, sampai aksi kejar-kejaran mematikan di dalam kegelapan hutan. Basten mengatakan semuanya dengan jujur, kecuali satu hal. ia sengaja menghapus fakta bahwa entitas bernama Sarioth sempat turun tangan membantu mereka.
Sang raja terus mendengarkan dengan tatapan penguasa yang tak terbaca, sebuah gestur dominan yang menegaskan bahwa seluruh keadaan di dalam ruangan ini berada sepenuhnya di bawah kendali mutlak jemari Rasdinand.
Hingga akhirnya, laporan Basten mencapai titik puncak: kemunculan Penyihir Dimensi yang menugaskan Leoric untuk menjaga penyihir misterius lainnya. meski sang Penyihir Dimensi tidak menyebutkan secara spesifik apa bahaya yang mengancam Penyihir "Kejayaan" tersebut.
Basten juga menjabarkan alasan logis mengapa Edward dan Deon bisa pulang dengan tubuh hancur penuh luka, serta kondisi mental Leoric yang saat ini sedang terguncang hebat akibat trauma jiwanya yang terlempar ke garis waktu di mana dirinya harus bersujud di hadapan sang penyihir. Segala sesuatu yang dilakukan oleh penyihir itu dijelaskan secara gamblang, sekali lagi, tanpa menyebut-nyebut keterlibatan Sarioth.
"...hingga kami dalam perjalanan kembali ke kerajaan, tidak ada hal buruk lagi yang menimpa kami. Sekian laporan dari saya, Yang Mulia."
Keheningan kembali merayap. Rasdinand berdiri perlahan dari singgasananya. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekat, hingga ia berhenti tepat di hadapan Basten. Sring! Raja Nightdoom itu menarik pedang pribadinya, lalu mengarahkan ujung bilah besi yang dingin itu tepat ke depan mata Basten yang terbuka.
"Aku mempercayai perkataanmu," ucap Rasdinand dengan nada rendah yang menusuk. "AKAN TETAPI... jika suatu saat nanti aku mengetahui bahwa kau sedang berbohong di hadapanku hari ini... pedang yang saat ini kuarahkan ke matamu, adalah benda terakhir yang akan kau lihat sebelum napasmu dihentikan paksa dari hidungmu."
Basten menatap ujung pedang itu tanpa berkedip. "Saya mengerti, Yang Mulia."
Ketegangan yang mencekik itu akhirnya mencair ketika Rasdinand menurunkan pedangnya, memberi tanda bahwa laporan telah selesai. Basten diperbolehkan keluar dari ruangan untuk beristirahat, dibarengi dengan turunnya titah baru bahwa posisi Basten kini resmi dialihkan menjadi pengawal pribadi Leoric, bersamaan dengan Anastasya.
Basten memberi hormat terakhir lalu mundur, melangkah keluar ruangan dengan sisa ketegangan yang perlengkapan tubuhnya rasakan.
Rasdinand kembali berjalan ke singgasananya. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kursi emas, lalu membebankan kepalanya ke tangan kanan yang menopang dahinya yang terasa pening.
Melihat sang raja terdiam dengan aura yang begitu kelam, salah seorang bangsawan perempuan di barisan depan mencoba memberanikan diri, membuka mulutnya demi menarik perhatian. "Yang Mulia, mengenai pengkhianatan Pangeran Cortinus, apakah kita harus—"
"Diam."
Satu patah kata yang diucapkan dengan nada sedingin es dari bibir Rasdinand seketika menggertak dan membungkam mulut bangsawan perempuan itu, membuatnya gemetar dan langsung menundukkan kepala dalam-dalam.
Di Waktu yang Sama — Reruntuhan Kastil Tak Bernama
Jauh dari hiruk-pikuk politik Kerajaan Nightdoom, atmosfer sunyi yang mati justru menyelimuti sebuah kastil yang telah runtuh total. Bangunan megah itu kini hanya menyisakan dinding-dinding hancur dan puing berbatu yang menyuarakan kekosongan.
Di tengah pelataran yang sunyi, berdiri seorang pria berambut perak. Oscar.
Ia berdiri bergeming, memandangi pantulan dirinya di atas air yang menggenang di dalam sisa-sisa wadah air mancur yang retak. Riak air yang tenang itu perlahan membawanya kembali pada kilas balik sebuah memori yang mengubah garis hidupnya. Pada tanggal 8 Februari saat malam hari.
Oscar memejamkan mata, mengingat kembali rasa panik yang mencengkeram dadanya malam itu. Saat di mana ia mati-matian melindungi anjing peliharaan kesayangannya dari kejaran monster bertubuh kekar mengerikan yang mendobrak masuk dari kegelapan malam. Di tengah keputusasaan, rasa sakit, dan ketakutan akan kehilangan, sebuah keajaiban kuno mendadak merasuki jiwanya. Momen sakral di mana ia pertama kali membangkitkan "Sihir Pemanggilan" miliknya.
Oscar membuka matanya kembali, menatap pantulan dirinya yang kini telah berubah menjadi bandit.
Panggungnya sudah siap, batinnya sembari membalikkan badan, meninggalkan genangan air yang kini beriak pelan ditiup angin malam yang dingin.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.