NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Ruang makan kediaman Widjaja pagi itu masih menyisakan aura kecanggungan yang luar biasa tebal. Setelah Anggara melesat keluar rumah dengan wajah merah padam karena instruksi "tempat tidur baru", suasana seharusnya menjadi tenang. Namun, bagi Aurora, ini adalah puncak komedi terbaik tahun ini.

"Hahaha! Mas, liat nggak sih muka Papa tadi? Ya ampun, mirip banget sama kepiting rebus yang gagal mateng!"

Aurora memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa. Ia sampai harus bersandar pada bahu Langit yang masih duduk mematung di sampingnya. Tawanya yang renyah memenuhi ruangan, sangat kontras dengan Langit yang saat ini ingin sekali menghilang ke balik lantai marmer.

Langit hanya bisa memijat pangkal hidungnya. "Ra, sudah... Malu dilihat orang."

"Lho, kenapa harus malu? Kan Papa sendiri yang nawarin ganti kasur. Itu namanya bentuk perhatian mertua yang sangat... fungsional," sahut Aurora sambil mengusap air mata di sudut matanya karena tertawa.

Di ujung meja, Haura masih menatap mereka dengan dahi berkerut. Ia melepas headphone yang sedari tadi menggantung di lehernya, lalu menatap kakaknya dengan tatapan menyelidik yang sangat polos namun mematikan.

"Kak... sebenernya tadi malem kakak ngapain sih sama Mas Langit? Berisik banget tahu. Aku sampe nggak bisa fokus ngerjain tugas sejarah gara-gara denger suara Kak Aurora teriak-teriak kayak lagi nonton konser," tanya Haura dengan nada datar.

Uhuk!

Langit yang sedang mencoba menenangkan diri dengan minum air putih langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil sambil menepuk dadanya sendiri, sementara wajahnya yang biasanya pucat kini berubah menjadi merah tua hingga ke cuping telinganya.

Aurora, yang biasanya tidak punya rasa malu, sempat terdiam sejenak. Ia melirik Langit yang sudah "koma" di tempatnya, lalu kembali menatap adiknya dengan senyum yang dipaksakan.

"Emm... itu tadi... itu... lagi bahas pelajaran biologi, dek! Iya, itu!" jawab Aurora dengan nada bicara yang tiba-tiba naik satu oktav.

"Biologi?" Haura mengerutkan kening. "Jam sebelas malem? Bukannya Kak Aurora dulu dapet nilai merah di pelajaran biologi pas SMA?"

"Justru itu! Makanya Kakak minta diajarin sama Mas Langit. Mas Langit ini kan lulusan akademi, dia pinter banget soal... struktur tubuh manusia. Iya, anatomi! Tadi malem itu sesi praktikum yang sangat... intens," Aurora memberikan alasan paling masuk akal yang bisa dipikirkan otak kreatifnya saat itu.

"Praktikum kok pake teriak 'lebih kenceng mas' segala? Emang anatomi bagian mana yang harus ditarik kenceng?" cecar Haura lagi, membuat Bintang yang sedang berdiri di dekat pintu dapur harus membekap mulutnya sendiri agar tawanya tidak meledak.

Langit akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar sangat tertekan. "Haura... itu... maksudnya tadi itu gerakan peregangan otot. Kamu tahu kan, Kakakmu ini model, badannya sering kaku. Jadi saya bantu... stretching."

"Ooh... stretching," gumam Haura, meski matanya menunjukkan ia tidak seratus persen percaya. "Tapi kok Papa tadi marah-marah pas sarapan?"

"Udah, udah! Kamu berangkat sekolah sana, Ra! Biar pinter, biar nggak tanya-tanya mulu soal kurikulum biologi orang dewasa," Aurora berdiri, menarik tas sekolah Haura dan menyampirkannya ke bahu adiknya itu. "Sana, hus! Nanti telat, dihukum lari keliling lapangan baru tahu rasa kamu."

Haura menghela napas, berdiri sambil merapikan seragamnya. "Ya udah deh. Tapi nanti malem belajarnya jangan berisik ya, Kak. Aku mau ujian matematika besok."

Begitu Haura melangkah keluar menuju mobil jemputannya, Aurora langsung jatuh kembali ke kursinya dan mengembuskan napas lega yang sangat panjang.

"Gila... hampir aja gue mati kutu di depan anak SMA," gumam Aurora.

Langit menoleh ke arah istrinya dengan tatapan nanar. "Pelajaran biologi, Ra? Serius? Itu alasan paling konyol yang pernah aku denger."

"Ya terus aku harus bilang apa? 'Dek, tadi malem kakakmu lagi bikin keponakan buat kamu'? Bisa pingsan Haura di tempat!" Aurora membela diri. "Lagian, Mas juga sih... kenapa tadi diem aja? Kan kamu yang lebih ahli soal... praktikumnya."

Langit hanya bisa menggelengkan kepala. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Aku harus segera ke kantor Papa. Beliau pasti sudah menunggu dengan daftar omelan baru gara-gara 'biologi' semalam."

Aurora berdiri, memeluk pinggang suaminya dari belakang sebelum Langit melangkah pergi. "Mas... jangan cemberut dong. Kan semalem kita seneng. Papa itu cuma lagi kaget aja punya menantu yang ternyata performanya di atas ekspektasi."

Langit membalikkan badan, mengecup kening Aurora dengan sayang namun tetap ada gurat kecemasan di wajahnya. "Aku nggak masalah sama omelan Papa, Ra. Aku cuma mikir, gimana caranya aku bisa tatapan muka sama Pak Bambang dan Bintang nanti di mobil. Mereka pasti denger semuanya."

"Aman, Mas! Pak Bambang mah udah 'sepuh', dia pasti maklum. Kalau Bintang, nanti aku kasih bonus martabak biar mulutnya mingkem," Aurora memberikan jempol.

"Aku berangkat ya," pamit Langit.

"Hati-hati, Suamiku sayang! Pelajaran biografinya kita lanjut nanti malem ya, bab baru!" teriak Aurora saat Langit berjalan menuju pintu.

Langit hampir saja tersandung ambang pintu mendengar teriakan itu. Ia mempercepat langkahnya, masuk ke dalam mobil di mana Bintang sudah menunggunya dengan senyum lebar yang sangat mencurigakan.

"Gimana, Bang? Pelajaran biologinya lancar?" tanya Bintang sesaat setelah Langit duduk di kursi penumpang.

Langit menatap lurus ke depan, wajahnya kembali ke setelan 'ajudan kaku'. "Jalan, Bin. Sebelum saya bikin kamu jadi objek praktikum bedah di tempat."

Bintang tertawa terbahak-bahak sambil menginjak gas. Sementara di teras rumah, Aurora masih melambaikan tangan dengan riang, menyadari bahwa meski rumah itu penuh dengan drama dan telinga yang "panas", ia tidak akan pernah menukar satu malam pun di pelukan suaminya dengan apa pun di dunia ini—termasuk dengan tempat tidur baru yang "tidak berisik" pilihan papanya.

***

Siang itu, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun di dalam kamar Aurora, suasananya justru sangat kontras. Pendingin ruangan disetel pada suhu 18°C, gorden beludru abu-abu ditutup rapat hingga tak ada satu pun celah cahaya yang berani masuk. Aurora, sang primadona yang biasanya tak bisa diam, kini sedang terkapar di tengah lautan bantal.

Televisi layar lebar di depannya masih menyala, menampilkan menu screensaver Netflix yang bergerak perlahan karena film seri yang ia tonton sudah selesai sejak dua jam lalu. Di samping bantalnya, sebuah wadah keripik kentang tergeletak miring, dan ponselnya terkubur di bawah selimut tebal dalam keadaan sunyi.

Setelah berminggu-minggu jadwal padat, hari libur ini benar-benar ia manfaatkan untuk hibernasi. Aurora tertidur pulas dengan posisi mulut sedikit terbuka, sangat jauh dari citra anggunnya di catwalk.

Di Kantor Kementerian (14:30 WIB)

Sementara itu, di sebuah lobi gedung kementerian yang dingin dan formal, Langit sedang duduk tegak di kursi tunggu ajudan. Di depannya, Anggara sedang mengadakan pertemuan tertutup dengan beberapa pejabat tinggi.

Biasanya, Langit akan sangat fokus memantau perimeter. Namun, siang ini, ada sesuatu yang mengusik konsentrasinya. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dinasnya, dan membuka aplikasi WhatsApp.

Matanya tertuju pada baris paling atas, sebuah kontak yang ia namai dengan "Istriku ♥️".

Keheningan. Tidak ada satu pun pesan masuk sejak pukul sembilan pagi. Biasanya, jam-jam segini ponselnya sudah bergetar puluhan kali karena teror pesan dari Aurora. Mulai dari foto selfie bangun tidur, keluhan soal cuaca, hingga daftar makanan yang ingin ia beli untuk makan malam.

Langit mengerutkan kening. Ia mengetik sesuatu.

Langit: Ra? Kamu sudah bangun? Kok sepi sekali?

Lima menit berlalu. Pesan itu hanya centang dua abu-abu. Status Aurora pun tidak menunjukkan "Online".

"Kenapa, Bang? Tegang amat mukanya, kayak lagi nunggu instruksi perang," celetuk Bintang yang duduk di sebelahnya sambil mengunyah permen karet.

Langit tidak menoleh. "Aurora tidak membalas pesan."

Bintang hampir saja tersedak. "Ya elah, Bang! Baru juga beberapa jam nggak dibales. Mungkin dia lagi luluran, atau lagi arisan sama geng modelnya."

"Dia bilang hari ini libur total. Katanya mau mengganggu aku lewat chat seharian," gumam Langit, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi ini tidak ada kabar sama sekali. Apa dia jatuh lagi di kamar mandi? Atau dia sakit karena 'biologi' semalam?"

Bintang memutar bola matanya. "Bang, mending Abang fokus jagain Bapak deh. Kalau Non Aurora kenapa-kenapa, Pak Bambang pasti nelfon. Lagian, siapa tahu dia cuma ketiduran karena kecapekan ngadepin sifat kaku Abang."

Langit terdiam. Logikanya membenarkan ucapan Bintang, tapi hatinya yang kini sudah terlanjur "bucin" tidak bisa tenang. Ia kembali mengirim pesan.

Langit: Ra, kalau dalam sepuluh menit tidak balas, aku telfon Pak Bambang untuk cek kamar kamu.

Masih centang dua abu-abu. Langit mulai gelisah. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di koridor hingga membuat beberapa staf kementerian meliriknya dengan heran.

"Bin, jagain pintu. Aku mau nelfon rumah sebentar," instruksi Langit.

Di Kediaman Widjaja (15:00 WIB)

Ponsel di bawah selimut Aurora bergetar hebat. Panggilan dari "Suamiku kaku ♥️" masuk untuk ketiga kalinya.

Aurora mengerang, tangannya meraba-raba di balik selimut dengan mata yang masih terpejam rapat. Begitu jarinya menyentuh benda keras itu, ia menyeretnya ke depan wajahnya yang masih sembap.

"Halo..." suara Aurora serak, khas orang yang baru bangun dari tidur yang sangat dalam.

"Aurora?! Kamu tidak apa-apa?" suara Langit di seberang sana terdengar sangat panik sekaligus lega. "Kenapa pesan aku tidak dibalas? Kamu sakit? Kamu di mana?"

Aurora mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan nyawa. Ia melihat jam di layar ponselnya. "Jam tiga? Ha? Aku... aku ketiduran, Mas. Tadi nonton Netflix terus bablas."

Terdengar helaan napas yang sangat panjang dan berat dari ujung telepon. "Ya Tuhan, Ra... Aku pikir kamu pingsan atau terjadi sesuatu di rumah. Aku hampir saja minta izin Bapak untuk pulang duluan."

Aurora langsung duduk tegak, kesadarannya pulih seratus persen. Ia tersenyum lebar, merasa sangat gemas mendengar kepanikan suaminya. "Ciee... Mas Langit panik ya? Segitunya banget sih kangen sama aku?"

"Bukan kangen, aku khawatir," koreksi Langit cepat, meski suaranya kini sudah kembali tenang.

"Halah, alasan! Bilang aja kalau nggak ada chat dari aku, dunia kamu jadi sepi kan? Serasa balik lagi jadi robot kesepian?" ledek Aurora sambil turun dari tempat tidur, berjalan menuju cermin untuk merapikan rambutnya yang berantakan.

"Sedikit," jawab Langit jujur, yang sukses membuat jantung Aurora berdesir. "Jangan diulang lagi ya. Kirim pesan singkat saja kalau mau tidur lama, biar aku tidak berpikiran yang aneh-aneh."

"Iya, Suamiku sayang yang posesif," Aurora tertawa riang. "Gimana Papa? Masih galak?"

"Bapak baru keluar rapat. Sepertinya mood-nya sedang bagus karena proyeknya disetujui. Tapi tetap saja, tadi aku sempat ditegur karena terus-menerus cek ponsel," cerita Langit.

Tiba-tiba, suara pintu kamar Aurora diketuk. Haura masuk dengan wajah bosan. "Kak, kata Pak Bambang ada katering dateng, tapi nggak ada namanya. Ini buat Kakak atau buat Mas Langit?"

Aurora menutup lubang suara ponselnya. "Buat Mas Langit, Ra! Suruh Pak Bambang kirim ke kantor Papa, bilang itu titipan dari 'Istri Ajudan Paling Cantik'."

Haura mencibir. "Dih, makin hari makin nggak waras." Begitu adiknya keluar, Aurora kembali ke ponselnya.

"Mas, denger kan? Tadi aku pesenin makanan lagi buat sore. Jangan lupa dimakan ya."

"Iya, Ra. Makasih ya," suara Langit melembut. "Sudah dulu ya, Bapak sudah jalan ke arah mobil. Aku harus siap-siap."

"Oke! Semangat kerjanya, Mas! Nanti pulang jangan telat ya, aku mau lanjut 'pelajaran biologi' bab reproduksi!" goda Aurora dengan suara lantang.

"AURORA!" bentak Langit tertahan, suaranya terdengar panik karena takut Bintang atau rekan lainnya mendengar. "Sudah, tutup telfonnya!"

Klik.

Aurora tertawa terbahak-bahak melihat layar ponselnya yang kembali ke menu utama. Ia melempar ponselnya ke kasur dan meregangkan tubuhnya. Liburannya mungkin hanya diisi dengan tidur dan nonton, tapi mengetahui suaminya mencarinya dengan panik hanya karena tidak ada kabar selama beberapa jam adalah hiburan terbaik yang pernah ia dapatkan.

"Emang paling bener dapet suami kaku tapi bucin," gumamnya sambil bersiul menuju kamar mandi, bersiap untuk tampil cantik saat "masa depannya" itu pulang nanti sore.

***

Jangan lupa ketawa hahaha

1
apiii
hahahaa part ter gong🤣
Atik R@hma
siap ka🤣🤣
Yosi Indah
cerita bagus, alur cerita dan penulisan jg bagus
Yosi Indah
mood banget bacanya 😍🤣
Rita Rita
reproduksi,, tak lama lagi akan ada kecebong sang ajudan 🤭🤣🤣😍
Sri Udaningsih Widjaya
Seru ceritanya thor
apiii
sampai gabisa berkata kata loh itu singa wkwk
Rita Rita
gacor banget mas ajudan bercocok tanam 🤭🤣 tapi, satu pertanyaan,,, kenapa kamar mewah ga dilengkapi kedap suara,, ? ga kebayang nyaringnya suara desahan pengantin baru sampai Area bawah,, padahal lantai atas 🤭🤔🤣🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: kak tau sendiri kan suaranya Aurora itu ngalahin toa. jadi ya.... gitu dehh
total 1 replies
Rita Rita
sabar ya Ra,,, cinta seorang bapak itu beda, bapak mu mungkin belajar dari kasus si Sahroni dan teman temannya dulu sebagai anggota DPR 🤭🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: heh🤣 nanti ditempeleng Anggara loh kak😄
total 1 replies
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣
aurora gitu dechhhh
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣🤣🤣
penyelamatttt
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!