NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 Rahasia Yang Tak Sempurna

Malam sudah lewat pukul sembilan ketika lantai tiga puluh satu akhirnya benar-benar sepi. Sistem gedung memadamkan sebagian lampu area kerja secara otomatis, menyisakan cahaya redup dari lampu dinding dan garis terang tipis dari ruang CEO yang masih menyala di ujung koridor. Dari balik kaca gedung, kota tetap bergerak seperti biasa, kendaraan memenuhi jalan, lampu apartemen berkedip di kejauhan, dan hidup orang lain berjalan tanpa peduli bahwa satu orang sedang kehilangan ketenangan.

Zayden Alvero berdiri di depan jendela sambil melepas kancing manset satu per satu. Gerakannya tenang, sama seperti setiap malam setelah jam kerja panjang, tetapi isi kepalanya jauh dari tenang. Hari ini seharusnya selesai seperti ratusan hari lainnya, penuh rapat, angka, keputusan, target, lalu pulang tanpa beban yang ikut terbawa.

Namun sejak sore, ritme pikirannya terus rusak oleh satu nama.

Rheon.

Ia mengingat lagi wajah bocah itu di lobby. Cara anak tersebut menatap lurus tanpa takut, cara bibirnya bergerak cepat saat berbicara, cara alisnya terangkat ketika menanyakan sesuatu yang dianggap penting. Ada keberanian polos yang sulit dicari pada orang dewasa, apalagi di gedung yang dipenuhi orang-orang berhitung sebelum bicara.

Dan semakin ia mencoba menyingkirkan bayangan itu, semakin jelas satu hal muncul.

Mirip.

Pintu diketuk dua kali.

"Masuk."

Arsen masuk sambil membawa tablet dan map tipis. Wajah pria itu tetap profesional seperti biasa, rambut rapi, postur tegak, nada napas stabil. Namun Zayden cukup lama bekerja dengannya untuk tahu bahwa Arsen datang dengan hasil yang diminta.

"Pak, data tambahan yang Anda minta."

"Letakkan."

Arsen menaruh map di meja lalu berdiri menunggu instruksi berikutnya. Ia sudah paham bosnya sering meminta laporan sambil berjalan atau menatap jendela, bukan sambil duduk manis di kursi.

Zayden tidak langsung menyentuh map tersebut. "Bicara."

"Bu Elvara tinggal di apartemen kawasan Selatan. Satu unit dua kamar dengan sewa tahunan atas nama pribadi."

"Lalu?"

"Tercatat tinggal bersama satu anak laki-laki."

Rahang Zayden mengeras tipis.

"Nama."

"Rheon Naysha."

Ia sudah tahu itu, tetapi mendengarnya lagi tetap menimbulkan sensasi aneh di dada. Seolah fakta yang sama terdengar berbeda ketika diucapkan keras oleh orang lain.

"Usia?"

Arsen melihat layar tablet sejenak. "Lima tahun kurang satu bulan. Tepatnya empat tahun sebelas bulan. Ulang tahun bulan depan."

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.

Zayden tidak bergerak. Tidak bicara. Tidak menoleh. Hanya garis bahunya yang tampak semakin kaku di bawah kemeja putih.

Arsen menunggu beberapa detik sebelum menambahkan, "Ada juga pengasuh bernama Nira. Datang pagi, pulang malam, cukup rutin."

Masih tak ada jawaban.

Arsen diam-diam menelan ludah. Ia sudah bertahun-tahun bekerja dengan Zayden dan tahu tanda bahaya tertentu. Salah satunya adalah ketika bosnya terlalu tenang, karena biasanya itu berarti pikirannya sedang bekerja lebih cepat dari orang lain.

"Pak?"

Zayden tetap menatap kota di luar jendela.

"Lima tahun," ucapnya akhirnya, pelan sekali.

Arsen tak menjawab. Ia tidak tahu konteks angka itu, tetapi jelas angka tersebut lebih penting daripada seluruh laporan finansial yang ia bawa sepanjang minggu ini.

"Foto terbaru?"

"Ada satu dari area parkir apartemen."

Arsen menggeser tablet ke atas meja. Zayden mengambilnya dan menatap layar tanpa berkedip beberapa saat.

Di foto itu, Elvara baru turun dari mobil sambil menggandeng Rheon. Anak itu sedang tertawa lepas, kepala sedikit menengadah ke arah ibunya, tangan satunya memegang robot biru. Wajahnya terlihat jauh lebih jelas dibanding foto formulir daycare.

Mata tajam.

Lekuk hidung.

Garis rahang kecil.

Dan cara berdiri yang membuat Zayden seperti melihat potret lama dirinya sendiri.

Ia menatap terlalu lama sampai Arsen memilih diam.

"Apakah perlu investigasi lanjutan?" tanya asistennya hati-hati.

Zayden meletakkan tablet perlahan. "Keluar dulu."

"Baik, Pak."

Begitu pintu tertutup, ruangan kembali hening. Kali ini heningnya terasa menekan.

Ia duduk di kursi kerja, kedua siku bertumpu di meja, tangan saling bertaut menutup sebagian mulut. Posisi yang biasa ia ambil saat menghitung risiko merger, memutuskan pemutusan kerja massal, atau menilai perusahaan yang akan diakuisisi.

Namun malam ini yang dihitung bukan angka.

Lima tahun lalu.

Malam hujan.

Elvara menghilang.

Sekarang kembali membawa anak hampir lima tahun.

Anak yang wajahnya seperti menertawakan semua kebetulan.

Ia bangkit mendadak lalu berjalan ke minibar kecil di sudut ruangan. Bukan untuk minum alkohol, ia hanya mengambil air dingin karena tenggorokannya terasa kering. Botol itu habis dalam beberapa teguk, tetapi pikirannya tetap panas.

Tidak. Ia menolak melompat ke kesimpulan emosional.

Banyak anak bisa mirip orang lain. Waktu bisa cocok secara kebetulan. Elvara mungkin punya hubungan lain setelah pergi. Dunia tidak berputar hanya di sekeliling dirinya.

Tetapi kalau memang begitu, kenapa Elvara panik setiap kali Rheon berada dekat dirinya. Kenapa nama keluarga yang dipakai anak itu adalah nama ibunya. Kenapa setiap kali ayah anak tersebut dibahas, perempuan itu menjawab singkat, defensif, dan berusaha mengalihkan arah.

Zayden memejamkan mata sesaat.

Ia membenci teka-teki yang melibatkan perasaan, karena perasaan selalu membuat orang salah hitung.

 

Pukul sebelas malam ia tiba di penthouse pribadinya. Hunian mewah di pusat kota itu luas, tenang, dan terlalu rapi. Lampu otomatis menyala saat pintu dibuka, menyoroti ruang tamu besar yang nyaris tak punya jejak kehidupan selain desain mahal.

Dulu ia menyukai kesunyian. Setelah seharian dikelilingi orang, rumah seperti ini terasa ideal.

Malam ini, kesunyian justru mengganggu.

Ia melempar kunci ke meja konsol, membuka dasi, lalu berjalan menuju kamar. Namun alih-alih mandi atau tidur, ia berhenti di depan cermin besar dekat lorong.

Wajah dewasa menatap balik.

Tegas. Terkontrol. Sulit dibaca.

Ia membayangkan versi kecil dirinya dari foto lama yang tersimpan di kantor. Lalu wajah Rheon menimpa bayangan itu seperti gambar transparan yang dipaksakan menyatu.

"Sial," gumamnya pelan.

Ia meraih ponsel dan membuka lagi foto dari Arsen. Jari-jarinya memperbesar gambar sampai wajah anak itu memenuhi layar. Ia menatap mata kecil tersebut, garis pipi, dan ekspresi keras kepala yang terasa anehnya akrab.

"Apa kamu..." ucapnya, lalu menghentikan kalimat sendiri.

Ia tidak suka bicara tanpa kepastian.

Kasur besar yang biasanya langsung memberinya tidur cepat malam itu justru terasa asing. Ia berbaring telentang menatap langit-langit gelap.

Jam digital menunjukkan 00:17.

Ia memejamkan mata. Yang muncul justru Elvara lima tahun lalu, tertawa sambil menyodorkan kopi sachet murahan dan mengejek standar hidupnya. Lalu Elvara sekarang, dingin, waspada, penuh benteng. Setelah itu wajah Rheon muncul, berkata serius bahwa ia takut brokoli.

Zayden membuka mata lagi.

Pukul 00:41.

Ia bangun, berjalan ke dapur, menuang air, lalu kembali. Tidur tetap tak datang.

Ia mencoba membaca laporan di tablet, tetapi satu halaman pun tak masuk kepala. Ia menyalakan berita bisnis, namun suara presenter terasa mengganggu. Ia masuk ke home gym dan berlari beberapa menit di treadmill, tetapi justru makin kesal karena bayangan anak kecil itu tetap ikut.

Akhirnya pukul satu lewat dua puluh, ia berdiri di balkon penthouse memandang kota.

Angin malam menyapu rambutnya.

Jika Rheon memang anaknya, maka lima tahun pertama seorang anak telah lewat tanpa dirinya.

Ia tidak ada saat lahir.

Tidak ada saat demam pertama.

Tidak ada saat langkah pertama.

Tidak ada saat anak itu mulai bicara.

Tidak ada saat seseorang mungkin bertanya siapa ayahnya.

Rahang Zayden menegang keras.

Dan jika Elvara sengaja menyembunyikannya, kemarahan mulai tumbuh di sisi lain pikirannya. Namun kemarahan itu bercampur rasa bersalah pada sesuatu yang belum pasti, kombinasi yang sangat ia benci.

 

Di apartemen kecil seberang kota, Elvara justru terbangun dari tidur gelisah. Jam dinding menunjukkan hampir dua pagi. Ia menoleh ke ranjang kecil di samping tempat tidurnya.

Rheon tidur miring sambil memeluk robot Sentinel. Lampu tidur kuning redup membuat wajahnya tampak damai dan jauh lebih kecil dari semua masalah yang mengelilingi mereka.

Elvara duduk perlahan di sisi ranjang.

Entah kenapa malam ini hatinya tidak tenang. Seolah sesuatu sedang bergerak mendekat dan ia belum tahu bagaimana menahannya.

Ia teringat tatapan Zayden siang tadi. Terlalu lama, terlalu teliti, terlalu sadar.

Ia menyentuh rambut Rheon dengan lembut.

"Aku harus bagaimana?" bisiknya.

Tak ada jawaban selain napas kecil yang teratur.

Ia tahu pria seperti Zayden tidak akan berhenti jika sudah curiga. Semakin ia menghindar, semakin ia akan dikejar. Dan jika kebenaran pecah, hidup mereka akan berubah total.

 

Pukul dua lewat sepuluh dini hari, Zayden masih terjaga. Ia duduk di ruang kerja rumah dengan lampu kecil menyala, laptop terbuka tanpa disentuh, dan selembar kertas kosong di depannya.

Kebiasaan lama saat pikirannya terlalu ramai adalah menulis fakta. Fakta lebih mudah dihadapi daripada dugaan.

Ia menulis singkat.

Elvara pergi lima tahun lalu.

Kembali dengan anak lima tahun.

Anak memakai nama ibu.

Wajah mirip.

Elvara panik.

Ia menatap daftar itu cukup lama.

Lalu menulis satu kalimat terakhir.

Aku tidak tahu apa-apa selama lima tahun.

Tangan yang memegang pena berhenti. Kemarahan yang tadi samar kini berubah arah, bukan hanya pada Elvara, tetapi pada dirinya sendiri.

Karena jika semua ini benar, berarti ia pernah membiarkan satu malam penting hilang begitu saja lalu melanjutkan hidup seolah tak ada konsekuensi.

Pukul tiga kurang seperempat, ia mematikan lampu dan kembali ke kamar. Tidur datang sebentar-sebentar, dangkal dan dipenuhi potongan mimpi. Tawa Elvara. Langkah kaki kecil di lobby. Suara anak berkata, "Om tinggi sekali."

Saat alarm berbunyi pukul enam, Zayden sudah membuka mata lebih dulu.

Ia bangun dengan rahang kaku dan kepala penuh keputusan. Hari ini ia tidak akan menunggu kebetulan lagi.

Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Arsen.

Pagi ini kosongkan jadwal jam sembilan.

Balasan datang cepat.

Baik, Pak.

Zayden menatap layar beberapa detik sebelum mengetik pesan kedua.

Dan minta Bu Elvara masuk ke ruang saya begitu dia datang.

Ia mengunci ponsel, menatap matahari yang mulai muncul di balik gedung-gedung kota, lalu berkata pelan pada ruangan kosong,

"Kalau Rheon memang anakku, semuanya berubah mulai hari ini."

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!