Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 ZETA MEMIMPIN STRATEGI
Keunggulan pasukan Beltrum yang tadinya tampak meyakinkan mendadak goyah. Laksamana Airon, yang sedang membantai monster-monster hutan, mulai merasakan firasat buruk saat bulu kuduknya meremang.
Di sisi lain medan perang, Erika yang sedang asyik menebas musuh tiba-tiba tersungkur.
"Aaaakh! Sakit sekali!" teriak Erika sambil memegangi bahunya yang melepuh.
Dua ksatria iblis, Allen dan Sofi, segera berlari mendekat. "Erika! Ada apa?!" tanya Allen panik.
"Tiba-tiba... ada yang menyerangku dari atas!" rintih Erika.
Ketiganya mendongak dan seketika wajah mereka memucat. Di langit yang tadinya cerah, muncul tiga sosok raksasa yang mengerikan: Naga Elemen Api, Air, dan Petir. Ketiga naga itu memuntahkan napas penghancur ke arah pasukan Beltrum.
"Cih! Itu Naga Elemen! Cepat lapor ke Putri Stella!" perintah Sofi.
Sementara itu, Lytia dan Zeta masih sibuk berperang di barisan tengah. Mereka sempat saling pamer tentang berapa banyak musuh yang sudah mereka jatuhkan, namun tiba-tiba para monster yang mereka hadapi mengamuk hebat. Mata monster-monster itu berubah merah menyala dan kekuatan mereka berlipat ganda.
"Tiba-tiba mereka jadi sangat kuat!" seru Lytia sambil menahan gada Minotaur.
"Ayo Lytia, kita bunuh mereka secepatnya!" balas Zeta, meski ia mulai menyadari ada yang tidak beres.
Di tenda komando, seorang prajurit datang terengah-engah. "Permisi Putri Stella! Saya izin melaporkan, di barisan pertahanan Erika muncul tiga naga elemen!"
"Apa?! Bagaimana bisa mereka muncul begitu saja?!" teriak Stella kaget.
"Sepertinya mereka dikendalikan oleh sihir Zetobia, Putri," jawab prajurit itu.
"Cih... ini sudah benar-benar keterlaluan!" Stella menggigit bibirnya, tangannya gemetar di atas peta strategi.
Di balik garis musuh, Putri Elina dari Zetobia tersenyum tipis. Dialah yang merapal sihir pengendali monster tersebut.
Jenderal Tharos tertawa terbahak-bahak melihat kekacauan di pihak musuh. "Hahahahaha! Memang awalnya kita biarkan mereka bersenang-senang dulu sebelum mereka pasrah menerima nasib! Mereka pasti tidak tahu kalau Putri Elina memiliki sihir pengendali monster yang mutakhir!"
"Sudahlah Jenderal, fokus dengan strategi kita," potong Elina dingin.
"Baik, Putri," jawab Tharos dengan seringai keji.
Putri Stella segera memerintahkan pasukannya untuk bertahan dan tidak maju terlalu jauh. Namun, Beltrum mulai kewalahan. Airon segera bergegas menuju posisi Lytia dan Zeta untuk melaporkan situasi naga tersebut.
Zeta terdiam, matanya menatap tajam ke arah langit. Ia mulai berpikir keras. 'Naga menyerang dari atas... kalau kita serang dari bawah tepat di tubuhnya, dia akan kaget. Dan kalau kita kacaukan gerakan monster itu, formasi Zetobia akan hancur... Hmm, sepertinya aku tahu!'
Tiba-tiba, tanpa menunggu perintah dari pusat, Zeta berteriak lantang dengan suara yang menggelegar di tengah bisingnya senjata.
"SEMUANYA MUNDUR! MUNDUR DARI MEDAN PERANG SEKARANG JUGA! MUNDUR KE BELAKANG JENDERAL LYTIA! CEPAT!"
Lytia terbelalak. "Woi, Zeta! Jangan sembarangan mengambil komando! Bahaya tau! Kita harus tunggu perintah Putri Stella!"
Namun pasukan yang sudah ketakutan mulai mengikuti instruksi Zeta dan mundur. Di tenda, Stella kaget melihat pasukannya ditarik mundur. "Ehh? Kenapa kalian mundur? Aku kan menyuruh bertahan!"
"Ksatria dunia lain yang menyuruh kami mundur, Putri," lapor seorang prajurit.
"Apa? Zeta?!" Stella geram. "Dasar anak itu, bisa-bisanya di keadaan genting begini dia malah aneh-aneh!" Stella langsung menuju ke posisi Zeta dengan dikawal dua pengawalnya.
Airon dan Erika juga mengerumuni Zeta.
"Ehh Zeta! Ini bukan saatnya kau main-main!" tegur Airon.
"Dasar kau ini, bisa-bisanya menyuruh mereka mundur di saat seperti ini!" tambah Erika kesal.
"Cih, aku juga tahu! Aku punya strategi, jadi tolong ikuti kata-kataku!" balas Zeta tegas.
"Cepat katakan! Kita tidak punya waktu!" desak Lytia.
Tepat saat itu Stella tiba dengan wajah kesal. Lytia panik dan langsung membungkuk. "Maaf Putri, Zeta malah sembarangan di saat begini..."
"Dengar dulu!" potong Zeta sebelum Stella sempat marah. "Lytia, apa kau bisa menghamburkan tanah di area luas ini?"
"Untuk apa?" tanya Lytia bingung.
"Aku akan membuat Badai Pasir," jawab Zeta mantap. "Badai pasir yang besar akan menutup pandangan mereka. Naga-naga itu tidak akan bisa menyerang kita karena mereka tidak bisa melihat jika pandangan mereka kabur. Lalu, saat mereka buta, pasukan kita akan menyerang dengan sihir jarak jauh. Apa kalian paham?"
Airon mengernyitkan dahi. "Tapi Zeta, sihir anginnya butuh yang sangat besar agar bisa menutupi semua arah. Jarang ras iblis yang punya elemen angin di sini, hanya ada tiga orang saja."
"Cukup aku saja! Ikuti kata-kataku!" tegas Zeta. "Sekarang aku minta regu pasukan sihir petir untuk membuat formasi. Kalian serang naga itu sambil memberi sinyal di mana posisinya, lalu aku akan menyerang naga itu dari bawah di tengah badai pasir!"
Lytia menatap mata Zeta yang penuh keyakinan, lalu ia berbalik ke arah pasukan. "DENGAR SEMUA! Sekarang yang memimpin strategi ini adalah Zeta! Ikuti semua arahannya!"
"BAIK!" jawab pasukan serentak.
Stella terpaku diam. Di dalam batinnya, ia merasa sangat kecil. 'Kenapa aku tidak kepikiran sampai sana? Aku memang belum pantas menjadi penerus Ayah... di saat begini saja aku tidak bisa memikirkan strategi apa pun.'
Ia menatap punggung Zeta. 'penuh kagum sekaligus rasa tak percaya pada dirinya sendiri'
Mata Putri Stella berkaca-kaca karena rasa haru dan sesak di dadanya. Lytia yang melihat itu segera mendekat dan menepuk bahu Stella untuk menenangkannya. Stella terdiam, melihat Zeta dengan perasaan campur aduk antara sedih, kagum, dan harapan.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍