Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 SERANGAN PEMUSNAH
Langit di atas Beltrum kini benar-benar menjadi neraka. Fulnox yang murka mengepakkan dua pasang sayapnya, menciptakan pusaran energi di sekeliling tubuhnya. Ratusan bola api raksasa dan ribuan tombak petir ungu muncul memenuhi angkasa, siap dijatuhkan seperti hujan kematian.
"Gawat... ini adalah serangan yang dulu pernah membuat kota ini setengah hancur!" seru Raja Beltrum dari balkon istana dengan wajah penuh kengerian. "Stella... apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku harap kau baik-baik saja!"
Sang Ratu menggenggam tangan suaminya dengan gemetar. "Suamiku... semua ini akan berakhir baik-baik saja, kan?"
Raja tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan. Ia mengangkat tangannya ke langit, merapalkan sihir perlindungan tingkat tertinggi. "Sihir Suci: Aegis Cahaya Istana!" Seketika, kubah cahaya emas raksasa menyelimuti seluruh area istana, menjadi benteng terakhir bagi mereka yang berlindung di dalamnya.
WUUSHHH! BRAAAKKK!
Fulnox melepaskan seluruh serangannya. Bola api dan tombak petir melesat kencang bagaikan peluru artileri yang tak terhitung jumlahnya.
"Airon! Cepat alihkan bola api itu dengan sihir air mu aku akan membuat dinding magma yang besar untuk melindungi warga dan Putri Stella!" teriak Lytia.
Lytia mengerahkan seluruh energi magmanya yang tersisa. Ia memukul tanah dengan kedua tangannya. "Sihir Gabungan: Dinding Besar Magma Abadi!" Sebuah barikade lava yang mengeras bangkit menutupi jalan utama, sementara Airon bergerak gesit menggunakan sihir airnya untuk membelokkan bola api yang mengarah ke pemukiman.
Beberapa ledakan masih berhasil menghancurkan sebagian sudut kota, namun untungnya, berkat perlindungan mereka, belum ada korban jiwa. Di halaman istana, orang tua Lytia yang ikut mengungsi tampak berdoa dengan sangat cemas. "Dewa Agung... tolong lindungi putri kami satu-satunya..."
Beberapa tombak petir yang mengarah ke istana menghantam kubah cahaya milik raja, namun petir itu tidak mampu menembus pertahanan sang Raja.
Lytia jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya terasa seperti terbakar karena energi magma telah mencapai batasnya. "Lytia, cukup! Kau harus istirahat! Jangan paksakan lagi!" ucap Stella sambil berusaha memegang bahu Lytia.
"Belum... Putri... dia masih di atas sana... aku harus mengalahkannya," gumam Lytia dengan sisa kekuatannya.
Tiba-tiba, dari arah bawah Fulnox, muncul semburan air mancur yang sangat tajam dan bertekanan tinggi Sihir Air: Tombak Arus Tajam! Serangan itu melesat tepat mengenai perut Fulnox yang terluka. Ternyata Airon telah menyiapkan jebakan tersebut saat asap masih menutupi pandangan.
"GROOOAAAAAARRRR!" Fulnox meraung kesakitan.
Airon berlari mendekat ke posisi Stella dan Lytia dengan senyum tipis di wajahnya yang berdarah. "Hahaha! Akhirnya kena juga dia!"
"Bagus, Airon! Kita ada kemajuan," puji Lytia sambil berusaha berdiri lagi.
"Lytia, buatkan meteor dari kekuatan magmamu! Aku akan menyerang dari bawah untuk membuatnya lengah!" perintah Airon.
"Benar... saatnya serangan balasan!"
Airon melesat maju, melepaskan sihir api dan air secara bertubi-tubi seperti hujan tombak dari bawah, membuat Fulnox sibuk menangkis. Saat naga itu lengah, Lytia menggunakan sisa energinya dia berlari menuju menara pengintai yang tidak jauh dari fulnox lalu dia melompat lebih tinggi mengeluarkan meteor itu pas dengan fulnox agar kena
"Sihir Pamungkas: Kejatuhan Meteor Magma!"
Lytia meluncur dari langit, membawa bola raksasa dari batu cair yang membara. Raja dan para warga yang melihat dari istana sontak bersorak ceria melihat keberanian kedua jenderal tersebut.
BOOOOOOOMMMMMM!
Ledakan meteor itu sangat dahsyat. Fulnox terhantam telak dan jatuh menghantam bumi dengan suara dentuman yang menggetarkan seluruh kerajaan. Angin dan debu melesat sangat cepat, Stella segera dilindungi oleh dinding tanah kecil yang dibuat Lytia dengan sisa mananya.
Asap mulai menipis. Fulnox tampak babak belur. Dua dari empat sayapnya kini hancur total, hanya menyisakan satu sayap di kiri dan satu di kanan. Namun, kengerian belum berakhir.
"Cih... dia masih belum tumbang juga?!" geram Lytia yang sudah hampir pingsan karena kelelahan.
Lytia dan Airon mencoba menyerang lagi untuk serangan penentu, namun Fulnox menghempaskan mereka dengan ledakan petir ungu dari tubuhnya. DUAK! BRUK! Keduanya terlempar jauh dan menghantam puing-puing bangunan.
Fulnox bangkit kembali dengan perlahan. Ia membuka kedua mulutnya lebar-lebar. Di antara kedua kepalanya, muncul sebuah bola energi hitam yang dikelilingi petir ungu dan api gelap. Energi itu terus membesar, menyerap cahaya di sekitarnya.
Inilah serangan pamungkas Fulnox Nafas Kegelapan Kiamat. Jika serangan ini dilepaskan, tidak akan ada yang tersisa dari Beltrum.
Bola energi hitam di antara dua kepala Fulnox semakin membesar, menciptakan distorsi ruang yang membuat udara di sekitarnya terasa berat dan sulit bernapas. Langit seolah-olah tersedot ke dalam pusaran kegelapan tersebut.
Raja Beltrum mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Serangan ini... serangan inilah yang dulu menghancurkan seisi kota. Tidak kusangka aku harus menyaksikannya lagi," bisiknya dengan suara bergetar.
Sang Ratu tidak lagi berkata-kata. Ia hanya memeluk suaminya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada Raja. Di bawah sana, warga yang melihat pemandangan maut itu mulai pasrah. Mereka berhenti berlari. Ibu memeluk anaknya, suami memegang tangan istrinya; mereka semua berdoa dalam diam, menunggu maut menjemput dalam malapetaka yang tak terelakkan.
Di garis depan, Lytia dan Airon berusaha merangkak bangkit. Tubuh mereka gemetar, namun otot mereka sudah mati rasa. Sementara itu, Putri Stella memaksa dirinya berdiri dengan tumpuan satu kaki yang gemetar hebat.
"Aargghh!" Stella mengerang dan kembali jatuh tersungkur. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor oleh debu. "Maafkan aku... Ayah, Ibu... seluruh warga Beltrum. Aku payah! Aku memang belum pantas menjadi penerus Ayah. Sekarang, di depan mataku sendiri, kita semua akan mati!"
Melihat putrinya dalam bahaya maut, Raja Beltrum tidak bisa lagi tinggal diam. "Cukup! Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang!" Raja bergegas turun dari balkon, ia berniat menggunakan sihir penghancur jiwanya sebuah pengorbanan nyawa untuk menahan ledakan Fulnox.
Namun, saat fulnox masih mengisi energi bola hitam itu di mulutnya
WUUUUUUUUUUUSSSSSSHHHHHHHHH!
Tiba-tiba, sebuah laser angin raksasa yang sangat kencang dan tajam melesat dari arah hutan. Serangan itu meluncur dengan presisi tinggi, menghantam tepat di tengah-tengah kedua kepala Fulnox.
DUAAAAARRRRRR!
Karena gangguan serangan mendadak itu, energi hitam yang belum sepenuhnya terkumpul meledak di mulut Fulnox sendiri. Ledakan itu menghancurkan mata kiri kedua kepala naga tersebut dan merobek rahangnya. Fulnox terhempas jatuh ke tanah, mengerang kesakitan yang luar biasa.
Semua orang tertegun. Warga, Raja, hingga Stella menahan napas. "Apa... apa yang terjadi? Siapa yang menyerang fulnox" bisik Airon tak percaya.
Fulnox yang kini bersimbah darah ungu bangkit dengan amarah yang meluap. Dengan sisa tenaganya, ia tidak lagi mengincar kota, melainkan mengarahkan semburan api pembalasan dendam langsung ke arah orang terdekat di depannya: Putri Stella.
Api itu meluncur seperti ombak kematian yang menghanguskan apa pun di jalannya. Stella hanya bisa memejamkan mata, menunggu ajalnya tiba.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍