NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

**POV: DEVAN DIRGANTARA (Di Dalam Ruang Monitor Pribadi)**

Layar LED raksasa di hadapan Devan menampilkan rekaman rahasia dari ruang tender kementerian pertahanan. Suasana di dalam rekaman itu begitu sunyi, hampir mencekam, sampai seorang wanita dengan setelan jas abu-abu arang melangkah ke podium.

"Lihat dia," bisik Devan pada dirinya sendiri. Matanya tak berkedip.

Di layar, Adelard tidak memegang secarik kertas pun. Ia berdiri tegak, tangannya bergerak lincah di atas panel hologram, membedah struktur data Mahendra Group seperti seorang ahli bedah saraf yang sedang mengoperasi otak.

"Sistem yang ditawarkan Mahendra Group adalah arsitektur usang yang dibungkus dengan antarmuka modern," suara Adel di rekaman itu terdengar tenang namun mematikan. "Mereka menjual gerbang emas, namun kuncinya masih terbuat dari kayu yang bisa dibakar dalam hitungan detik oleh AI manapun."

Devan bersandar di kursi kulitnya, menarik napas panjang. Ia teringat tiga tahun lalu, saat ia berdiri di bawah hujan, menawarkan seluruh kekuasaan Dirgantara untuk menjadi tameng Adel. Saat itu, ia mengira Adel hanya seorang gadis malang yang keras kepala. Kini, ia sadar betapa bodohnya ia saat itu.

"Aku meremehkanmu, Adel," gumam Devan. Senyum bangga merekah di wajahnya. "Kau tidak butuh aku untuk menghancurkan mereka. Kau hanya butuh satu panggung untuk menunjukkan bahwa dunia ini kecil bagi otakmu."

Devan melihat bagaimana para jenderal dan menteri di ruangan itu terpaku. Adel bukan hanya mempresentasikan produk; ia sedang mendikte masa depan keamanan negara. Di sudut layar, Devan melihat wajah Tuan Mahendra yang pucat dan Clarissa yang terus-menerus salah membaca teks dari tabletnya. Kontrasnya begitu nyata—seperti berlian asli yang diletakkan di samping plastik murah.

"Kau benar-benar darah Mahendra yang asli," Devan menyentuh layar, tepat di wajah Adel yang dingin. "Dan aku... aku akan menunggu di puncak sampai kau merasa kita sudah benar-benar sejajar."

---

**POV: TUAN MAHENDRA (Ruang Kerja, Setelah Tender)**

Hendra Mahendra duduk di kursi kerjanya, namun ia merasa kursi itu sudah tidak lagi stabil. Ruangan mewah yang biasanya memberinya rasa kuasa kini terasa seperti sel penjara. Di hadapannya, laporan audit independen yang dikirimkan secara anonim—yang ia tahu pasti berasal dari jaringan Adel—tergeletak terbuka.

"Empat ratus miliar rupiah..." Hendra bergumam, suaranya parau. "Clarissa menggunakan dana operasional untuk gaya hidup dan suap peretas?"

Hendra memijat pelipisnya yang berdenyut. Ketakutan mulai merayapi tulang belakangnya. Tender tadi adalah pukulan telak. Semua orang kini membicarakan kejeniusan A-Shield, perusahaan milik Adel. Jika tender itu jatuh ke tangan Adel—dan kemungkinan besar memang begitu—maka Mahendra Group akan kehilangan kontrak strategis yang menjadi tulang punggung saham mereka.

"Aku telah membuang aset yang bisa menyelamatkanku," desisnya penuh penyesalan yang terlambat. Ia sadar, Clarissa hanyalah lubang hitam yang menghisap hartanya, sementara Adel adalah mesin uang yang baru saja ia usir.

---

**POV: SISKA & CLARISSA (Ruang Tengah, Rencana Licik)**

Di ruang tengah, Clarissa sedang mondar-mandir dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi tajam di atas marmer. Wajahnya merah padam, penuh kemarahan yang tidak pada tempatnya.

"Ini tidak bisa dibiarkan! Ibu, kenapa tim audit itu bisa masuk ke divisiku? Mereka mulai menanyakan soal biaya sewa jet pribadi dan tas-tas itu!" Clarissa berteriak, suaranya melengking. "Adel pasti pelakunya! Dia ingin mempermalukanku karena dia cemburu padaku!"

Siska, yang duduk di sofa dengan wajah cemas, menatap putri angkatnya dengan tatapan tajam. "Diamlah, Clarissa! Kau pikir ini hanya soal tas? Jika audit ini berlanjut ke jalur hukum, kita semua bisa berakhir di jalanan!"

Tuan Mahendra keluar dari ruang kerjanya, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun. Ia menatap istri dan anaknya dengan pandangan kosong.

"Tender itu... kita kalah," ucap Hendra pendek.

"Kita tidak boleh kalah, Hendra!" Siska berdiri, matanya berkilat penuh rencana. "Kita harus membawa Adel kembali. Bukan sebagai pengganggu, tapi sebagai penyelamat."

Hendra tertawa getir. "Membawanya kembali? Dia baru saja meludahi wajahku di depan menteri. Kau pikir dia akan mau?"

Siska mendekati suaminya, merendahkan suaranya menjadi bisikan manipulatif yang sangat halus. "Dengarkan aku. Setiap anak, sejauh apa pun mereka lari, pasti merindukan pengakuan dari orang tuanya. Adel membangun semua ini hanya untuk satu hal: membuatmu menoleh padanya. Maka, berikan dia apa yang dia inginkan."

"Apa maksudmu?" tanya Hendra mulai tertarik.

"Temui dia. Aktinglah seolah-olah kau menyesal setengah mati. Katakan padanya bahwa kau baru menyadari kejeniusannya. Dan berikan umpan terbesar yang pernah ada: Hak Waris Utama Mahendra Group," Siska menjelaskan dengan senyum licik. "Tawarkan padanya untuk menggabungkan sistem A-Shield milikinya ke dalam perusahaan kita. Katakan bahwa kita akan menjadi satu kerajaan yang tak tertandingi."

Hendra terbelalak. "Hak waris utama? Kau gila? Itu berarti dia akan menguasai semuanya!"

"Hendra, gunakan otak bisnismu!" Siska memutar bola matanya. "Itu hanya iming-iming! Begitu dia setuju bergabung dan sistem keamanannya yang canggih itu sudah resmi menjadi milik Mahendra Group secara hukum, saham kita akan melonjak. Posisi kita akan aman dari audit karena teknologinya akan menutupi semua lubang finansial kita. Setelah itu... soal hak waris bisa kita 'atur' lagi nanti. Kita bisa buat perjanjian tambahan, atau kita singkirkan dia perlahan setelah kita mendapatkan apa yang kita mau."

Hendra terdiam sejenak, lalu senyum serakah mulai muncul di wajahnya. "Benar... itu jenius. Dia akan merasa menang, sementara kita yang mendapatkan teknologinya secara gratis. Saham kita akan terbang tinggi!"

"Tunggu dulu!" Clarissa menyela, suaranya bergetar hebat. "Apa maksud Ibu? Hak waris utama untuk Adel? Lalu aku bagaimana? Aku sudah belajar bisnis tiga tahun ini untuk menggantikan Ayah! Bukankah aku anak kandung kalian di mata hukum dan ASI Ibu? Kalian tega memberikan semuanya pada si gembel itu?"

Clarissa mulai menangis, rasa takut kehilangan kemewahan membuatnya kehilangan akal sehat. "Kalian berjanji bahwa semuanya akan jadi milikku! Kalian bilang Adel itu sampah!"

Siska menghela napas panjang, berjalan menghampiri Clarissa dan memeluknya dengan erat, namun matanya tetap dingin. "Sayang, dengarkan Ibu baik-baik. Ini hanya taktik perang. Kau tetap putri kesayangan kami. Kita hanya butuh otak Adel untuk menyelamatkan brankas kita yang mulai kosong. Anggap saja dia adalah sapi perah yang kita undang masuk ke kandang."

"Tapi bagaimana kalau Ayah benar-benar memberikan warisan itu padanya?" tanya Clarissa sesenggukan.

Siska melepaskan pelukan, menatap mata Clarissa dengan dalam. "Hak waris itu bisa dibatalkan kapan saja selama Ayahmu masih memegang kendali. Begitu sistem A-Shield miliknya sudah resmi menjadi aset perusahaan, kita akan cari celah hukum untuk mendepaknya kembali ke jalanan. Dia tidak akan punya apa-apa lagi karena teknologinya sudah sah jadi milik Mahendra Group. Mengerti?"

Clarissa menghapus air matanya, perlahan sebuah seringai muncul di wajahnya yang sembap. "Jadi... dia hanya akan menjadi budak kita lagi?"

"Tepat sekali," sahut Tuan Mahendra dengan tawa kecil. "Aku akan menemuinya besok. Aku akan berpura-pura menangis jika perlu. Aku akan membawa dokumen palsu soal janji hak waris itu. Dia pasti akan luluh."

Hendra merasa sangat gembira, seolah beban berat di pundaknya baru saja terangkat. Ia sudah membayangkan bagaimana ia akan menipu putri kandungnya sendiri demi menyelamatkan martabat perusahaannya yang mulai busuk.

Clarissa menarik napas lega. Ia kembali duduk dengan angkuh, memutar-mutar cincin berlian di jarinya. "Kalau begitu, lakukanlah, Ayah. Aku tidak sabar melihat wajah sombongnya itu berubah menjadi bodoh saat dia menyadari bahwa dia kembali tertipu oleh kita."

Di dalam ruangan yang megah itu, tiga orang tersebut tertawa, merencanakan pengkhianatan kedua bagi Adelard. Mereka tidak menyadari bahwa di luar sana, Adelard telah memasang penyadap di setiap sudut digital yang mereka sentuh. Darah Mahendra yang asli tidak hanya pintar merancang kode, ia juga telah belajar bagaimana cara menghancurkan iblis dengan cara yang paling elegan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!