NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

"Hah, hah, hah."

Dengan napas ngos-ngosan Nathan sampai di tempat tujuannya. Ia membungkuk menetralkan napasnya yang tak beraturan. Keringat bercucuran membasahi bajunya yang berwarna putih.

"L-lo t-tega b-banget n-ninggalin g-gue …," ucap Nathan dengan napas tersengal-sengal.

Fabian tak peduli dengan ucapan Nathan. Tanpa banyak basa-basi langsung menyodorkan kunci motor natalie pada Nathan. Nathan mengernyitkan keningnya bingung.

"Ambil. Oh Lo nggak mau naik motor, mau lari lagi?" ejek Fabian.

Nathan mendengkus kasar, mengambil kunci dengan ogah-ogahan.

"Eh, tunggu. Motornya mana?" tanya Nathan.

"Entah. Cari aja sendiri." Fabian meninggalkan Nathan sendirian, sedangkan dirinya menuju mobil Dewi yang sudah terparkir di depannya. Terpaksa ia menelpon Dewi karena nggak mungkin bawa motor saat Natalie udah tidur. Bisa-bisa jatuh mereka berdua kalau nekat bawa motor.

"Oh ya, nanti gue shareloc tempatnya. Gue duluan, semangat cari motornya!" teriak Fabian dari kejauhan dengan nada mengejek.

Sedangkan di tempatnya, Nathan semakin mendengkus sebal. Ia menghentakkan kakinya dengan kasar ke jalan. Berjalan dengan langkah yang di tekan. Wajahnya yang cemberut hingga bibirnya maju beberapa centi kedepan. Kebiasaannya saat sedang ngambek ataupun sebel.

"Awas ya Lo, Ian. Gue bejek-bejek Lo nanti. Gue jadiin ayam geprek sekalian. Biarin, biar nggak ada yang suka sama Lo sekalian," sebalnya.

Sepanjang jalan sambil mencari motor Nathan terus saja menggerutu kesal.

......................

"Fabian ini sebenarnya ada apa? Terus itu Natalie kenapa," cemas Dewi.

"Nata ketiduran Tan, aku juga nggak tahu Nata kenapa. Cuma tadi ada yang nelpon dia terus aku angkat. Yang nelpon bilangnya dia itu bosnya Nata, katanya hari ini Nata harus periksa ke rumah sakit. Aku juga nggak tahu lebih jelasnya gimana. Jadi aku inisiatif bawa Nata ke rumah sakit," jelasnya panjang lebar.

"Ayo dong pak, agak cepat," ujar Dewi.

Raut wajahnya penuh rasa khawatir dengan keadaan keponakan satu-satunya itu. Kenapa satu-satunya? Karena yang ia anggap sebagai ponakan hanyalah Natalie seorang. Lainnya? Ia tak memperdulikan kehadiran mereka.

Apalagi selama ini yang benar-benar peduli pada keluarganya hanya Natalie seorang. Bahkan kedua orang tuanya sekalipun—nggak ada yang peduli.

Selang beberapa menit, mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Fabian langsung menggendong Natalie yang masih tertidur. Agaknya perempuan itu sangat lelah sekali hingga tidurnya begitu lelap.

Saat masuk ke dalam mereka di cegah oleh dokter Rani. Setelah menjelaskan apa yang terjadi mereka membawa Natalie ke ruangan yang di tunjukkan dokter Rani. Karena bagaimanapun Natalie adalah pasiennya dokter Rani.

"Jadi dok, keponakan saya kenapa?" tanya Dewi.

"Begini buk, kita harus melakukan berbagai pemeriksaan lebih dahulu untuk mengetahui apa yang salah pada tubuh Natalie. Tapi sebelum itu kita harus menunggu pasien bangun. Karena bagaimanapun juga pasien lah yang merasakan apa yang sedang terjadi sama tubuhnya," jelas dokter Rani.

"Gitu ya, dok."

"Iya, buk. Kalau gitu saya permisi dulu. Nanti kalau pasien sudah bangun ibuk atau masnya bisa panggil saya di ruangan saya."

"Baik dok, terima kasih."

Setelah kepergian dokter Rani keduanya memilih untuk ke kantin membeli makanan. Nggak sih, sebenarnya cuman Fabian aja yang laper. Sedangkan Dewi hanya membeli air minum saja.

Drrtt … Drrtt …

......Mama is calling you ......

"Tante Sarah," ucap Fabian.

"Sini biar Tante angkat."

Dewi menjauh dari Fabian, mengangkat telpon Natalie.

"Terus gue ngapain di sini sendirian? Mending gue ke ruangan Nata aja," gumamnya.

"IAN!"

"Astaga." Fabian refleks menutup kedua telinganya mendengar teriakan membahana Nathan. Padahal jarak keduanya cukup jauh, namun masih terdengar begitu keras.

Plak!

Fabian menggeplak kepala Nathan cukup kencang. Memberi gestur untuk diam. Bukan apa, masalahnya mereka sekarang berada di rumah sakit—di mana terdapat banyak pasien yang di rawat di sini. Kalau mereka berisik otomatis bakalan ganggu pasien yang lain. Apalagi kalau ditangkap satpam, bisa-bisa keduanya di usir secara paksa dari sini.

"Jangan berisik! Lo ganggu yang lain tau nggak," peringat Fabian.

"Sorry."

Setelah pertikaian kecil keduanya kembali ke ruangan Natalie. Mereka duduk di sofa yang tersedia. Karena mereka memang memesan ruang VVIP, jadilah mereka mendapatkan fasilitas yang lumayan.

"Belum bangun?" tanya Nathan.

"Menurut Lo?" sewot Fabian.

Udah tau Natalie masih tidur masih aja nanya. Nggak tau apa dirinya sungguh capek hari ini. Fabian meregangkan otot-otot tubuhnya, mengambil posisi untuk tidur. Kepalanya berbantalkan paha Fabian dengan kaki yang di angkat ke atas sofa.

......................

Ceklek

"Loh, ini gimana konsepnya sih. Kenapa pada tidur semua. Mana selimut Natalie di pakai Nathan sama Fabian lagi," heran Dewi.

Dewi mengambil handphonenya—mengabadikan pandangan di depannya. Menurutnya ini terlalu lucu untuk di lewatkan. Bagaimana tidak, baru juga di tinggal satu jam keduanya sudah tertidur dengan tidak elitnya di atas sofa.

Kepala Fabian berada di bawah sofa di tindih oleh sebelah kaki Nathan. Sedangkan kaki sebelahnya di atas perut Fabian dengan posisi kepala menyamping. Sedangkan kedua kaki Fabian sepenuhnya berada di atas sofa dengan selimut Natalie yang menutup sebagian tubuh Nathan.

Dewi cekikikan melihat hasil jepretannya di ponsel. Ia mengirim foto itu ke grup khusus mereka berempat—di mana grup itu sudah di buat sejak beberapa bulan yang lalu.

Di ranjang pesakitan, Natalie sedikit terusik dengan suara Dewi. Bahkan kini kedua matanya terbuka sempurna.

"Tante ngapain?" tanya Natalie setengah sadar.

"Eh, Nata. Kamu udah bangun?" tanya Dewi yang sudah jelas-jelas melihat Natalie terbangun.

"Em, ini di mana Tan? Kok ruangannya putih semua," ucap Natalie sembari menyipitkan matanya.

"Kamu di rumah sakit."

Mata Natalie terbelalak kaget mendengar ucapan Dewi. Sontak ia turun dari ranjang secara spontan, yang membuat tubuhnya sedikit limbung akibat rasa pusing yang tiba-tiba datang.

"Makanya baru bangun tuh nggak usah banyak tingkah. Pusing kan jadinya," omel Dewi membantu Natalie.

"Kok aku bisa ada di sini. Perasaan tadi di taman deh sama Ian," herannya.

Apa jangan-jangan dirinya berjalan sambil tidur? pikirnya.

"Tadi Ian yang bawa kamu ke sini. Katanya tadi bos kamu nelpon, tanya kamu udah periksa belum. Jadi Ian telpon Tante buat bawa kamu ke sini," jelas Dewi.

Natalie manggut-manggut mengerti. Pantas saja saat terbangun dirinya tiba-tiba ada di sini.

"Terus sekarang Ian mana?"

Dewi berdiri dari duduknya, menunjuk orang yang di cari Natalie dengan kedua tangannya—dengan senyum yang agak terpaksa.

Natalie menutup mulutnya menahan tawa yang hampir aja menyembur keluar begitu saja. "Tan, itu mereka kenapa gitu sih tidurnya. Nggak elit banget sumpah."

"Jangankan kamu, Tante aja kaget waktu masuk ke sini tiba-tiba udah lihat pemandangan yang mengejutkan …"

Tiba-tiba Dewi berjalan ke luar ruangan saat mengingat sesuatu yang telah di lupakannya. Yaitu memanggil dokter Rani, seperti yang di perintahnya tadi pagi.

Natalie hanya bodo amat melihat tantenya keluar. Ia justru turun dari atas ranjang, mencari pulpen di tas Fabian yang terletak di atas meja. Setelah menemukannya ia dengan ide jahilnya mencoret-coret wajah keduanya dengan lucu.

Untung aja pulpen yang di pakai Fabian adalah pulpen yang gampang di hapus. Jadi saat terkena air sedikit saja pasti akan langsung hilang.

Setelah selesai dengan karyanya, tak lupa ia memotret hasilnya dengan handphonenya yang di berikan oleh Dewi tadi sebelum keluar.

"It's so cute," gemasnya.

Keduanya tangannya terkepal erat saking gemasnya dengan hasil karyanya.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!