NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.Ia adalah CEO muda dari perusahaan besar, namun di balik itu semua, Saga juga dikenal sebagai sosok mafia yang kejam, dingin, dan tak tersentuh. Namanya bukan hanya dihormati—tapi ditakuti.

Vero Vortelov sosok pria dingin berusia 28 tahun, Varo dikenal sebagai mafia berpengaruh di kota Los Angeles , bagian Amerika.Namun di balik semua itu, Varo memiliki satu sisi yang jarang terlihat—loyalitas terhadap keluarganya, terutama adiknya, Selena

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30

Sore itu, suasana mansion berbeda. Sejak liora terkurung hanya dalam mansion. Melihat hal -hal yang sama membuatnya merasa bosan.

Suasana Lebih sibuk.

Lebih tegang.

Mobil-mobil hitam mulai disiapkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak dikurung,Liora dibawa keluar.

Di dalam kamar, para pelayan mengelilinginya.

Gaun panjang berwarna gelap dipakaikan. Namun. potongannya terlalu terbuka.

Bahu terekspos. Belahan di kaki cukup tinggi. Punggung hampir seluruhnya terlihat. Liora menatap pantulan dirinya di cermin.

Diam.

Tanpa ekspresi.

“Ini… terlalu terbuka…” ucapnya pelan.

Namun pelayan hanya saling pandang.

Tidak berani menjawab.

Karena mereka tahu. Pilihan itu bukan milik mereka.

Ceklek.

Pintu terbuka.

Saga masuk.

Langkahnya terhenti.

Untuk pertama kalinya ia diam. Matanya menatap Liora dari ujung kepala sampai kaki.

DEG.

Napasnya sedikit tertahan.

Bukan karena kagum tapi karena sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak ia suka. Tatapannya mengeras.

“Keluar.”

Perintahnya dingin ke para pelayan.

Tanpa menunggu . mereka langsung pergi. Meninggalkan mereka berdua.

Sunyi.

Saga masih berdiri. Menatap Liora. Yang justru menunduk.

Tidak berani menatap balik.

“ Pakaian ini terlalu terbuka. Aku tak menyukainya. .”

Suaranya rendah.

Berbahaya.

Liora menggeleng pelan. “Aku… gak tahu…” bisiknya.

Saga mendekat. Langkahnya pelan.

Namun terasa berat. Sampai akhirnya ,ia berdiri tepat di depan Liora.

Tangannya terangkat. Bukan menyentuh tapi menarik kain di bahu gaun itu.

Menutup sedikit. Rahangnya mengeras.

“Pilihan yg salah , kita tidak punya banyak waktu, Jangan deket dengan orang lain!” Perintahnya.

DEG.

Liora sedikit terkejut. Namun tidak membantah.

Ia berbalik.

" Aku akan ganti‐"

Namun, tangannya tiba-tiba ditahan.

Saga menariknya kembali. Lebih dekat. Terlalu dekat.

“Tidak perlu, Dengar baik-baik.” Suara itu rendah.

Menusuk. “Di sana—banyak mata.”

DEG.

Liora menegang.

“Dan aku gak suka…" lanjutnya pelan,

“…mereka lihat kamu seperti ini, tapi kita harus pergi sekarang.”

Kalimat itu bukan sekadar perintah. Lebih seperti… peringatan.

Beberapa menit kemudian, Liora keluar .

Namun tetap elegan.

Saga menatap.

Kali ini ia tidak berkata apa-apa. Hanya berbalik. “Jangan jauh dariku.”

***

Mobil melaju. Malam mulai turun.

Lampu kota menyala. Dan tak lama. mereka tiba.

Gedung besar.

Mewah. Namun suasananya tidak biasa.

Gelap.

Sunyi. Dan penuh orang-orang berpakaian rapi dengan tatapan tajam.Tempat pelelangan.

Begitu masuk Liora langsung merasa tidak nyaman.

Tatapan orang-orang itu terlalu lama.

Terlalu menilai. Tanpa sadar ia mendekat. Tangannya memegang lengan Saga.

Pelan.

Refleks.

Beberapa orang memperhatikan. Bisik-bisik mulai terdengar.

“Dia bawa wanita…”

“Yang itu?”

“Berani juga…”

Tatapan mereka berubah. Dari penasaran menjadi tertarik.

DEG.

Rahang Saga mengeras. Tangannya langsung menutup tangan Liora di lengannya.

Menguatkan.

Seolah memberi tanda ini miliknya.

“Fokus.” Bisiknya dingin tanpa menoleh.

Liora hanya mengangguk kecil. Namun jantungnya berdebar.

Mereka duduk di kursi depan. Lelang dimulai, Barang-barang mahal. Transaksi besar. Angka-angka disebutkan tanpa ragu. Namun Liora tidak benar-benar melihat itu. Ia lebih merasakan tatapan. Dari berbagai arah.

Tiba-tiba seorang pria mendekat. Senyumnya tipis. Matanya… tidak sopan.

“Saga.” Sapanya santai.

“Sudah lama.”

Saga tidak berdiri. Tidak tersenyum. Hanya menatap dengan Dingin.

“Perlu sesuatu?”

Pria itu melirik Liora.

Lama. Terlalu lama.

“Tidak.” Jawabnya pelan.

“Cuma penasaran.”

DEG.

Tangan Saga langsung bergerak. Menarik Liora sedikit lebih dekat. Hampir ke pangkuannya. Gerakan itu halus tapi jelas. Peringatan.

“Jangan lihat terlalu lama.” Suara Saga rendah.

Namun tajam. Pria itu tertawa kecil.

“Tenang saja.”

Namun tetap mundur. Karena ia tahu batas.

Setelah pria itu pergi Liora menunduk. Tangannya sedikit gemetar.

“Maaf…” bisiknya pelan.

Saga menoleh. “Untuk apa.”

“Aku… bikin kamu…”

Ia tidak melanjutkan. Namun Saga tahu. Rahangnya mengeras.

“Bukan salahmu.” Jawabnya singkat. Namun nada suaranya berubah. Lebih… berat.

Lelang terus berjalan. Namun suasana bagi mereka sudah berbeda.

Tegang. Penuh tekanan. Dan di tengah semua itu Saga semakin sadar satu hal. Selama Liora di sisinya dunia di sekitarnya akan selalu menjadi ancaman.

Dan Liora perlahan mengerti bahwa berada di luar mansion… tidak membuatnya lebih bebas.

Hanya… memberinya jenis ketakutan yang berbeda.

***

Malam masih ramai. Suara lelang terus berlangsung di dalam ruangan. Angka-angka disebutkan. Tawa kecil .Bisik-bisik bisnis. Namun di antara semua itu Liora mulai merasa sesak.

Ia duduk di samping Saga.

Diam. Terlalu diam. Tanpa banyak kata bahkan hampir tak ada suara yg keluar dari mulutnya.

Tatapan mata yang tadi mengarah padanya masih terasa. Menempel di kulitnya. Membuatnya tidak nyaman.

Saga sedang fokus. Berbicara dengan Ben Membahas sesuatu dengan suara rendah Serius. Tanpa melirik Liora.

Untuk pertama kalinya tidak diawasi langsung.

DEG.

Jantung Liora berdetak lebih cepat. Matanya perlahan mengarah ke pintu samping.

Koridor gelap. Sepi.

Ia menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar. Namun kakinya bergerak.

Ia teringat kembali pada pesan yang sempat ia baca singkat yang di berikan perias nya tadi.

Flashback on

" Nona surat dari seseorang " kata perias itu sambil menyelipkan lipatan kertas kecil pada tangan liora.

Liora tertegun sejenak , Ia langsung membuka kertas kecil itu.

" Aku akan membantumu pergi saat di pelelangan nanti–"

Belum sempat terbuka semuanya tiba-tiba ketukan pintu terdengar, liora langsung membuang kertas itu ke sembarang arah.

Flashback off

Pelan. Hati-hati. Tanpa suara.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tidak ada yang memanggil. Tidak ada yang menghentikan langkahnya .

Ia keluar.

Koridor itu panjang. Lampu redup.

Sepi. Berbeda jauh dari ruang utama. Napas Liora mulai tidak beraturan.

Namun ada satu hal yang ia rasakan. Untuk pertama kalinya sejak lama tidak ada tatapan. Tidak ada tekanan.

Ia terus berjalan. Lebih cepat. Sampai akhirnya menemukan pintu keluar.

Udara malam langsung menyambut.

Dingin. Segar. Bebas.

DEG.

Liora berhenti di ambang pintu. Matanya sedikit membesar. Seolah tidak percaya.

Ia benar-benar keluar. Tanpa Saga. Tanpa penjaga di sampingnya.

***

Langkahnya maju. Pelan. Menuju halaman luar gedung. Lampu-lampu kota terlihat jelas. Suara kendaraan. Angin malam menyentuh wajahnya.

Ia menarik napas dalam.

Lama.

“…aku keluar…” bisiknya lirih. Seolah memastikan.

Namun kebebasan itu tidak sepenuhnya tenang.

Ada rasa aneh. Seperti… terlalu mudah.

***

Di dalam Saga masih duduk. Namun beberapa detik kemudian tangannya berhenti bergerak. Matanya sedikit menyipit. Kosong. Seolah menyadari sesuatu.

“Liora.”

Panggilnya singkat. Tidak ada jawaban.

Ben menoleh. “Di samping tadi, Tuan.”

Saga menoleh. Kursi di sebelahnya—kosong.

DEG.

Suasana langsung berubah. Rahangnya mengeras.

Tatapannya dingin. Lebih dari sebelumnya.

“Cari.”

Perintahnya pelan. Namun penuh tekanan.

Ben langsung berdiri. Memberi kode. Beberapa anak buah bergerak cepat. Menyebar.

Saga berdiri. Perlahan. Namun auranya berubah total. Lebih gelap. Lebih berbahaya.

***

Sementara itu di luar, Liora berjalan semakin jauh.

Langkahnya cepat. Napasnya mulai berat. Namun ia tidak berhenti. Tidak ingin kembali. Ia tidak tahu ke mana.

Tidak punya tujuan. Namun satu hal jelas ia ingin menjauh. Sejauh mungkin.

Namun tanpa ia sadari dari kejauhan beberapa bayangan mulai bergerak. Mengikutinya.

Dan di dalam gedung Saga akhirnya melangkah keluar. Tatapannya menyapu area. Mencari.

Angin malam berhembus. Namun suasana tidak lagi tenang.

Karena kali ini Liora benar-benar melangkah keluar. Tanpa izin. Tanpa pengawasan.

Dan itu adalah hal yang paling dibenci Saga.

Perburuan dimulai.

***

Langkah Liora semakin cepat. Sepatu haknya hampir tak beraturan menghantam lantai luar gedung. Napasnya memburu. Dadanya naik turun. Namun ia tidak berhenti. Tidak berani.

Lampu jalan memantulkan bayangannya yang gemetar. Angin malam menyapu rambutnya. Namun rasa bebas itu mulai berubah jadi takut. Perasaan itu datang tiba-tiba.

Seperti ada yang mengikuti.

DEG.

Liora menoleh. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Namun ia tidak yakin. Ia mempercepat langkah. Belok ke jalan yang lebih sepi. Lebih gelap.

Sementara itu di belakangnya. Beberapa pria bergerak cepat.

Tanpa suara. Jarak mereka tidak jauh. Mata mereka fokus.

“Target terlihat.”

Salah satu berbisik pelan.

Di sisi lain Saga berdiri di depan gedung. Tatapannya menyapu jalanan.

Dingin. Namun di dalamnya ada sesuatu yang bergejolak. Lebih dari sekadar marah.

“Temukan dia.”

Suaranya rendah. Namun kali ini terdengar lebih berbahaya.

“Sekarang.”

Ben mengangguk. Orang-orang langsung menyebar lebih luas. Mobil dinyalakan. Lampu menyala.

Perburuan dimulai sepenuhnya.

***

Liora terus berlari. Kakinya mulai sakit. Napasnya semakin berat. Namun ia tidak berhenti.

Sampai

Bruk!

Tubuhnya menabrak seseorang.

Ia hampir jatuh namun tangan itu menahannya.

DEG.

Liora langsung menegang. Matanya membesar.

“Maaf—aku—”

Ia berhenti. Tatapannya berubah.

Orang di depannya bukan orang biasa. Senyumnya tipis.

Matanya tajam. Dan terlalu mengenal.

“Liora.”

DEG.

Nama itu keluar begitu saja. Membuat tubuhnya membeku.

“Ka… kamu siapa…?” Suaranya bergetar.

Pria itu sedikit mendekat. Cukup untuk membuat Liora mundur setengah langkah.

“Tenang.” Ucapnya santai.

“Tapi kamu ternyata benar-benar keluar sendiri…”

Tatapannya menyipit. Seolah menilai.

Liora semakin takut. Instingnya mengatakan ini tidak aman. Ia berbalik. Ingin pergi.

Namun tangan pria itu lebih cepat. Menahan pergelangan tangannya.

Kuat.

DEG.

“Lepasin!”

Liora berusaha menarik tangannya. Namun tidak bisa.

“Jangan terburu-buru.” Suara pria itu berubah.

Lebih dingin.

“Justru aku yang cari kamu.”

Sementara itu dari arah lain suara langkah cepat mendekat. Anak buah Saga.

“Cepat.” Salah satu dari mereka berbisik.

“Mereka di sini.”

Pria itu mendengar. Matanya langsung berubah.

Kesal.

“Ternyata dia cepat juga.” Gumamnya.

Ia menarik Liora sedikit. Namun belum sempat bergerak jauh.

DOR!

Suara tembakan menggema. Peluru mengenai tanah di dekat kaki pria itu.

DEG!

Semua membeku.

Dari kegelapan satu sosok muncul. Langkahnya pelan. Namun penuh tekanan. Aura dingin langsung menyelimuti area.

Saga.

Tatapannya langsung tertuju pada tangan pria itu yang masih menggenggam Liora.

DEG.

Udara terasa membeku.

“Lepaskan.”

Suara Saga rendah. Namun mematikan.

Pria itu tersenyum tipis. Tidak takut. Justru… tertarik.

“Kalau tidak?” Tantangnya ringan.

Detik itu juga pistol Saga terangkat. Tanpa ragu.

Tanpa peringatan lagi.

“Kalau tidak—” tatapannya mengeras,

“tanganmu yang hilang.”

DEG.

Liora gemetar. Terjebak di antara mereka.

Situasi berubah. Dari pelarian menjadi konfrontasi.

Dan untuk pertama kalinya Liora menyadari keluar dari Saga tidak berarti selamat.

Karena dunia di luar sama berbahayanya.

Atau bahkan lebih.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung......................

1
Fwru Dies
ih ga ridho liora sama varo tp yaaa sma saga jg sama aja tpi msh mnding sagaaaa!😾
Erna Riyanto
Biar sm vari aja lah ....Liora tenang klu sm varo
Mita Paramita
lanjut 🔥🔥🔥
Riza Afrianti
kok sepi yaa
Riza Afrianti
saga it suka ya sama liora
Riza Afrianti
yuhuu semangat 💪
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!