NOVEL PERTAMA, MAAF JIKA BANYAK TYPO.
Autor hanya ingin menulis bercermin dari kehidupan sehari-hari, jauh dari CEO atau lehidupan yang kaya raya. selamat membaca.
Queen! begitulah teman-teman dia sering memanggil, seorang gadis sederhana berusia 18 tahun yang baru lulus SMA. Tidak banyak impian gadis ini, hanya ingin segera mendapatkan pekerjaan, dan membantu ekonomi keluarganya.
queen memiliki kekasih sejak 1 tahun terakhir, tepat nya saat queen duduk di bangku kelas 3 SMA.
Bagaimana perjalanan cinta seorang queen, apakah dia bisa mewujudkan keinginannya membantu ekonomi keluarga??
Selamat membaca, saran dan kritik saya nantikan, jangan menghujad yang bisa meruntuhkan mental autor ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Jangan pernah menghakimi hidup seseorang, kita hidup sebagai sama-sama pendosa yang saling menunjuk tetapi lupa dengan dosa diri sendiri.
...****************...
Mentari di ufuk timur belum terlihat... Kabut sedikit tebal menyapa... daun-daun padi penuh dengan embun... alunan suara ombak dan kicauan burung... Menyambut mata manusia yang telah terbuka...
Queen menghirup udara pagi dengan senyuman... Menikmati sejuknya semilir angin laut yang berhembus... Dari dapur terdengar suara alat masak mba tiyas yang saling beradu. Perlahan... tercium aroma gorengan tempe yang menggugah selera. Queen segera berjalan menuju dapur, bertemu putri yabg telah mengupas bawang.
" apa yang bisa ku bantu mba? " tanya queen.
"kamu jadi balik hari ini dek?" tidak menjawab pertanyaan queen, tapi mba tiyas malah bertanya balik.
"iya mba, lusa sudah kerja, kalau kembali besok terlalu mepet" jawab queen sambil meraih sayur untuk di potong.
"heleh tante, bilang saja mau jalan-jalan dulu sama om, secara kalian kan gak nemuin view seindah jalanan di sini" ucap putri sambil memiringkan mulut nya.
"hahaha mulut mu put, kudu tante jepret pakai staples" kata queen.
"jangan tante, nih mulut mahal.... Sekali ucap bikin cowo aku klepek-klepek" jawab queen.
"wes rabekno ae lo mba arek iki, sekolah kok pacaran ae ( nikah kan aja lo mba anak ini, sekolah kok pacaran terus)" kata queen mode serius.
"karep ku yo ngono dek, sumpek aku wesan, mben ndang mentas kabeh anak ku ( mau ku juga gitu dek, biar selesai semua anak ku) " jawab mbak tiyas.
" tidaaak, aku tidak mau! Tante jangan jadi provokator ya!! Emang tante mau menyuplai kebutuhan ku setelah nikah??, kalau mau sih tidak apa-apa, biar aku tinggal produksi cucu buat kalian" jawab putri.
mbak tiyas datang dan langsung memukul kepala anaknya yang lumayan absurd itu
" masih kecil isi kepala mu minta ibu kuras" kata mba tiyas
" lah kan tante yang mulai bu" jawab putri
"makanya sekolah yang bener put, jajan aja masih cilok pakai acara bikin cucu segala. Yang ada tar bayi mu kamu kasih cilok, ha ha ha"
Putri mengerucutkan mulutnya sambil berkomat kamit entah berkata apa. Queen hanya tertawa melihat keponakan cantiknya itu.
"Asalamualaikum" terdengar salam dari mas ni pulang dari mushola.
" waalaikumsalam" jawab mba tiyas dan queen.
" loh, erfan mana mas?? Tanya mba tiyas
" ke laut katanya, mumpung masih di sini" jawab mas ni
"tuh... Samperin tuh calon suami tante, tar kesambet lagi pagi-pagi udah kelaut" kata putri masih mengerucutkan mimir nya.
" ha ha ha harus dong put, dari pada pacaran modal mie ayam" jawab queen.
" yeeee mie ayam juga enak mbak, dari pada modal ikan bakar panenan bapak " putri membalas sindiran queen.
Bukannya marah, queen malah terbahak-bahak
" eh modal ikan bakar tapi kantong ku dan mas revan udah keluar 2 lembar merah" jawab queen
Putri semakin manyun, dan itu membuat queen puas meledek keponakan nya. Lalu queen berjalan menuju laut di mana ervan duduk sendiri di atas karang.
" kenapa pagi-pagi di sini mas?? Apa yang mengganggu pikiran mu?? Tanya queen dari belakang
" eh sayang, sini duduk... Aku tidak sedang memikirkan apa-apa... Kamu sudah sholat?"
"sudah mas" jawab queen
Queen duduk di sebelah erfan, ikut menikmati hamparan laut yang sedikit tertutup kabut.
" kita manti berangkat jam berapa??" tanya queen
" pagi saja, agar sampai rumah tidak kemalaman, gimana?? " jawab erfan
" baiklah, kita berangkat pagi setelah makan" kata queen
Queen menganggukkan kepala sambil tersenyum. Erfan mengacak2 ujung kepala queen.
"boleh mas bilang sesuatu?" tanya erfan.
"boleh mas, katakan" jawab queen.
" sesampainya nanti, jangan pernah menemui abdi apapun alasannya. Jika ada hal yang memang mengharuskan kalian bertemu, hubungi aku. Aku tidak membatasi pergaulanmu dek, tetapi aku tidak mau kejadian-kejadian kemarin terulang lagi."
Queen mengangguk dan menunduk.... rasa malu, bersalah dan sedih menjadi satu, tetapi dia tetap bersyukur memiliki erfan yang selalu memberi suport, bahkan tidak meninggalkan dia saat terpuruk. Queen pada akhirnya menyakini satu hal... Yang membuat dia mengambil keputusan besar dalam hidup nya, keputusan yang akan merubah jalan hidup queen dan masa yang akan datang...