Sahara adalah anak kandung yang terusir bersama dengan ibunya karena Fit-nahan yang di buat oleh wanita lain di hati ayahnya.
Mampukah Sahara memperjuangkan dan membersihkan nama ibunya dari fit-nah keji wanita yang tak lain adalah sahabat ibunya itu?
Akankah ayahnya percaya? baca terus kisah Perjuangan Sahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahara 10
"Semakin berani saja kau Sahara! aku tak pernah mendidikmu seperti ini!"emosi Sandy.
"Aku mencontoh pria yang menjadi panutan ku!"jawab Sahara. Membuat Sandy semakin emosi.
Plaaakkk
Plaaakkk
Sandy kembali memberikan dua tam-paran kembali untuk Sahara.
"Kau bahkan sudah menjadi anak yang nakal selain pembangkang! Aku mendapat laporan dari Citra jika kamu di sekolah bahkan memiliki kelakuan yang sangat tidak baik! Sejak kapan kamu berani menghi-sap barang seperti itu? Katakan? Kau mau jadi seperti apa hah?"emosi Sandy.
Bahkan kali ini bukan hanya tamparan, melainkan juga pukulan untuk anak perempuannya itu. Sahara menatap nyalang ke arah Citra yang malah menahan senyumnya melihat Sahara di pukuli seperti itu.
"Pukul aku Pa... Pukul... Sampai kapanpun aku tak akan pernah mengakui perbuatan yang tak pernah aku lakukan. Karena percuma bagiku membela diri karena pada akhirnya Papa hanya akan lebih percaya kepada orang asing daripada anak Papa sendiri."ucap Sahara dengan tatapan mata yang nyalang kepada ayahnya.
Setelah ayahnya membawa Wanda dan kedua anaknya ke rumah membuat ayahnya menjadi ringan tangan. Bahkan kali ini bukan hanya menam-par tapi juga me-mu-kul Sahara. Belum lagi ibunya yang di kurung di dalam kamar.
"Kau menjadi anak pembangkang Sahara... Apa begini cara ibumu mendidikmu..."emosi Sandy.
"Seharusnya anda malu. Karena yang mendidik juga harusnya seorang Ayah. Dan ayahku juga mendidikku untuk berbohong dan juga berbuat kasar. Aku mencontoh dia.. apa aku salah?"jawab Sahara membuat Sandy naik pitam dan membuka i-kat pinggangnya lalu me-mu-kulkan kepada Sahara.
chaaattt
chaaattt
Sahara tidak berteriak mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayahnya. Dia diam membiarkan Ayahnya sesuka hatinya melampiaskan amarahnya. Untuk kesekian kalinya perasaan Sahara han-cur oleh ayah kandungnya sendiri yang lebih percaya kepada ucapan orang yang baru dia kenal beberapa bulan di banding dengan mereka yang sudah hidup bersama dengannya selama belasan tahun.
"Bukaaaa.... Sandy apa yang kau lakukan kepada Anakku... Sandy buka..."teriak Rianty di dalam kamarnya.
Dia mencoba menggedor dan mendobrak pintu kamar agar bisa terbuka. Karena dia memang di kurung di dalam kamar oleh Sandy. Saat mendengar suara teriakan Rianty barulah Sandy menghentikan apa yang dia lakukan kepada Anaknya. Bahkan terlihat seragam putih milik Sahara menjadi berwarna merah. Bi sumi yang melihat dari dalam dapur membekap mulutnya sendiri menahan tangis. melihat pas yang di lakukan oleh Sandy kepada istri dan anaknya. Hal yang tak pernah dia lihat selama belasan tahun bekerja di rumah itu.
"Masuk ke dalam kamarmu! Jika aku mendengar kamu membuat ulah lagi. Maka aku akan menambah lagi hukumanmu. dan jangan pernah membangkang apa yang aku katakan. Aku adalah ayahmu,"ujar Sandy.
Mendengar apa yang barus saja di katakan oleh ayahnya membuat Sahara hanya tertawa.
"Sampai kapan kamu akan menyiksa kami? Sampai kami berdua ma-ti di tanganmu sendiri?"tanya Sahara dengan tubuh yang bergetar menahan rasa sakit di punggungnya.
"Bi Sumi... Bawa dia masuk kedalam kamar dan obati lu-kanya,",ujar Sandy tak mau menjawab ujaran anaknya.
"Baik Pak ..."jawab Bi Sumi.
"Sudah nak... Kita obati dulu lu-kamu..."bisik Bi Sumi saat membawa Sahara, gadis itu sedikit menolak.
Dia tau jika Sahara masih marah dan kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Papanya. Bukan hanya Bu Rianty dan Sahara yang kecewa. Tapi mereka semua yang bekerja disana juga merasa tak menyangka dan kecewa dengan apa yang sudah di lakukan oleh Sandy yang tak kuat dengan godaan wanita yang bahkan tak lebih baik dari Rianty.
Selama mengobati punggung Sahara, Bi Sumi hanya bisa menangis. Hatinya terasa sangat sakit melihat apa yang terjadi kepada gadis itu. Sahara bahkan tak menangis. Entah apa yang dia fikirkan dan rasakan. Yang pasti rasa kecewa dan marah mengalahkan segalanya. Padahal lu-ka di punggungnya cukup dalam.
"Bi, aku akan kabur membawa Mama dari sini. Apa bibik bisa membantu aku?"ujar Sahara pada akhirnya.
"Kenapa nona dan ibu yang pergi? Seharusnya yang pergi adalah mereka,"jawab Bi Sumi.
"Biarlah Papa hidup bersama dengan wanita ular itu. Aku tak peduli apa yang akan dia lakukan kepada Papa. Hanya yang pasti aku tak akan pernah rela melihat Mama seperti ini di sakiti oleh Papa,"jawab Sahara.
"Baiklah, bibi dan yang lainnya akan membantu kalian,"jawab Bi Sumi.
"Terimakasih Bi..."jawab Sahara.
Sedangkan Sandy kembali masuk kedalam ruang kerjanya. Meninggalkan Wanda dan kedua anaknya yang terlihat begitu bahagia.
"Kehancuran mereka sebentar lagi Ma... Dan aku tak sabar rasanya melihat mereka terusir dari istana ini. Hanya kita yang boleh berada disini tidak ada orang lain, aku benci sekali kepada Sahara yang selalu mencari perhatian semua orang di sekolah. Seharusnya aku, siswa baru yang mendapat perhatian seperti itu,"ujar Citra.
"Kamu tenang saja sayang, sebentar lagi mereka akan pergi dari sini. Bersabarlah sebentar lagi..."jawab Wanda.
"Terima kasih Mama .."jawab Citra memeluk ibunya.
Sedangkan di dalam ruang kerjanya, Sandy terlihat menangis. Menyesali apa yang sudah dia lakukan kepada anak perempuannya sendiri. Bahkan dengan tangannya sendiri dia menyik-sa Sahara seperti itu.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan kepada anakku. Kenapa aku sekarang menjadi gampang marah kepada anak dan istriku sendiri. Kenapa mereka tidak pernah mau menuruti keinginanku kali ini. Aku hanya meminta mereka menerima kehadiran Wanda dan kedua anaknya di antar kami. Apa susahnya?"ujar Sandy.
Sepertinya memang benar apa yang di katakan oleh Rianty. Jika Sandy sekarang sudah di penuhi dengan naf-su setan saat mengenal Wanda. Karena mereka seakan tak pernah mengenal Sandy yang sebenarnya. Sekarang Sandy seperti orang lain bagi mereka.
Bahkan dia tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan Wanda dan meminta Rianty untuk mengalah dan menerima istri sirinya bersama dengan kedua anak dari Wanda.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada anakku Sandy baji-ngan?"emosi Rianty saat melihat Sandy masuk kedalam kamarnya.
Tapi Sandy malah mendekat dan ingin memeluk Rianty. Dia mencoba mencari ketenangan dari istrinya itu. Tapi dengan penuh tenaga, Rianty mendorong Sandy dan keluar dari dalam kamarnya menuju kamar Sahara. Ji-jik sekali rasanya dia kembali di sen-tuh oleh suaminya itu. Bahkan seharian ini dia sampai mandi berkali-kali mengingat apa yang sudah di lakukan dan di minta oleh suaminya yang menji-jikan menurut Rianty.
salam sehat selalu outhor syantik ku 🫶🫶🫶🫶