NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghitung hari

Persiapan pernikahan yang awalnya Laila bayangkan akan penuh tekanan, ternyata berubah menjadi rangkaian petualangan yang seru berkat campur tangan Mama Rosa dan sikap santai Zayn. Hari-hari menjelang hari-H tidak lagi berisi drama mantan, melainkan debat lucu soal warna taplak meja dan jenis bunga.

​Mama Rosa benar-benar berada di puncak semangatnya. Setiap pagi, grup WhatsApp keluarga penuh dengan kiriman foto referensi dekorasi dari majalah pengantin luar negeri.

​"Zayn, Laila, lihat ini! Mama baru saja menelepon dekorator dari Paris. Bagaimana kalau di lorong masuk kita taruh instalasi bunga gantung yang bisa berputar?" seru Mama Rosa antusias saat mereka sedang makan malam bersama.

​Zayn hanya melirik Laila sambil menahan senyum. "Ma, ini pernikahan, bukan pembukaan museum seni modern. Laila maunya yang simpel saja."

​"Simpel versi Mama itu elegan, Zayn! Lagipula, Laila cantik sekali pakai apa saja. Mama cuma mau memastikan dunia tahu kalau menantu Mama ini berlian," balas Mama Rosa sambil mencubit gemas pipi Laila. Laila hanya bisa tertawa, merasa terharu karena diterima dengan begitu hangat.

​Di tengah kesibukan mengurus vendor, Zayn tetap menjadi sosok yang protektif namun kini lebih banyak bercanda. Dia sering menjemput Laila dari butik tempat Laila berbelanja hanya untuk mengajaknya makan di pinggir jalan—sebagai latihan sebelum "menu bakso" mereka di gedung nanti.

​ Dan pada saat Laila mencoba gaun pengantinnya, di butik, Zayn terdiam cukup lama. Bukan karena ada yang salah, tapi karena ia terpukau. "Kamu yakin mau pakai ini? Aku takut nanti tamu-tamu lupa kalau mereka datang ke pesta, mereka malah mengira sedang melihat malaikat turun," goda Zayn yang sukses membuat wajah Laila semerah stroberi.

***

Suatu sore, Zayn membawakan Laila sekotak cokelat dan sebuah tiket liburan singkat ke Puncak. "Cukup dua hari. Matikan ponselmu. Kita hanya akan melihat pohon, bukan melihat daftar souvenir," perintah Zayn tegas namun lembut.

​Satu minggu sebelum pernikahan, suasana di rumah besar keluarga Malik makin sibuk. Koper-koper mulai disiapkan, dan undangan sudah tersebar luas. Tidak ada lagi kabar dari Gion—sepertinya ancaman "kartu nama" Zayn tempo hari benar-benar ampuh membuatnya menghilang ke lubang semut.

​Laila duduk di balkon kamar, menatap langit malam. Tiba-tiba sebuah jaket tersampir di bahunya. Zayn berdiri di belakangnya.

​"Gugup?" tanya Zayn singkat.

​"Sedikit. Rasanya seperti mimpi. Bulan lalu aku masih menangis karena dikhianati, sekarang aku sedang menghitung hari untuk jadi istrimu," bisik Laila.

​Zayn memutar tubuh Laila agar menghadapnya. Ia merapikan anak rambut Laila dengan kasih sayang. "Itu namanya naik kelas, Laila. Kamu sudah lulus ujian kesabaran, dan sekarang waktunya kamu bahagia. Dan tenang saja, aku sudah pesan gerobak bakso paling enak se-Jakarta untuk nangkring di pojokan ballroom nanti."

​Laila tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada bidang Zayn. "Terima kasih, Zayn. Untuk semuanya."

​"Sama-sama, Calon Nyonya Malik. Sekarang tidur, ya? Aku tidak mau pengantinku punya kantung mata sebesar dompet Gion yang kosong itu."

​Laila mencubit pinggang Zayn pelan, dan tawa mereka pecah menyatu dengan angin malam yang sejuk. Semuanya terasa benar. Semuanya terasa pas.

***

Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Suasana di ballroom salah satu hotel berbintang di Jakarta tampak megah namun tetap memiliki sentuhan personal yang hangat—persis seperti perpaduan antara ambisi "ekstra" Mama Rosa dan keinginan simpel Laila. Instalasi bunga gantung yang awalnya dikhawatirkan Zayn akan terlihat seperti museum, ternyata disulap menjadi kanopi melati putih yang menebarkan aroma menenangkan di sepanjang lorong.

​Laila berdiri di depan cermin besar di ruang rias. Gaun putih berbahan brokat halus itu melekat sempurna di tubuhnya. Tidak ada lagi jejak kesedihan atau keraguan di matanya. Saat pintu terbuka, Mama Rosa masuk dengan mata berkaca-kaca, memegang kotak beludru berisi kalung berlian turun-temurun keluarga Malik.

​"Laila, sayang... Mama tidak pernah melihat Zayn sebahagia ini sejak dia kecil. Terima kasih sudah menjadi alasan dia tersenyum," bisik Mama Rosa sambil memakaikan kalung itu. Laila memeluk calon ibu mertuanya erat, merasakan kasih sayang tulus yang selama ini ia dambakan.

​***

​Suasana mendadak hening saat Laila melangkah menuju meja akad. Di sana, Zayn duduk dengan tegap, mengenakan beskap modern berwarna senada. Ketegangan sempat menyelimuti wajah Zayn, namun begitu matanya bertemu dengan mata Laila, ia menghembuskan napas lega.

​Dengan satu tarikan napas yang mantap, Zayn mengucapkan janji sucinya. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Laila Sari binti..." Kalimat itu mengalir lancar, diikuti seruan "Sah!" dari para saksi yang menggema di seluruh ruangan. Laila memejamkan mata, merasakan beban masa lalunya benar-benar luruh saat itu juga. Ia bukan lagi wanita yang dikhianati; ia adalah istri dari pria yang menghargainya setinggi langit.

​Acara resepsi berubah menjadi pesta yang penuh keceriaan. Sesuai janji Zayn, di sudut ruangan yang elegan itu, benar-benar berdiri sebuah gerobak bakso legendaris lengkap dengan abangnya yang sibuk melayani tamu. Para kolega bisnis Zayn yang biasanya kaku, tampak asyik mengantre bakso sambil melepas jas mereka.

​"Lihat itu, Nyonya Malik. Strategi bakso kita berhasil," bisik Zayn di telinga Laila saat mereka berdiri di pelaminan.

​"Kamu benar-benar gila, Zayn. Tapi aku menyukainya," jawab Laila sambil tertawa.

​Di tengah kerumunan, Laila sempat melihat sekilas sosok yang mirip Gion di area parkir melalui layar CCTV di dekat backstage, namun pria itu segera dihalau oleh petugas keamanan sebelum sempat mendekat. Zayn benar-benar menjaga janjinya; tidak akan ada gangguan sekecil apa pun yang merusak hari mereka.

****

​Musik melambat, dan Zayn menarik Laila ke tengah lantai dansa. Di bawah lampu kristal yang berkilauan, Zayn memeluk pinggang Laila dengan posesif namun lembut.

​"Jadi, setelah ini mau bulan madu ke mana? Puncak lagi untuk melihat pohon, atau Paris untuk melihat instalasi bunga yang berputar seperti mau Mama?" goda Zayn.

​Laila menyandarkan kepalanya di bahu Zayn, menghirup aroma parfum suaminya yang maskulin. "Ke mana saja, Zayn. Asal ponselmu mati dan hanya ada kita berdua."

​Zayn terkekeh, mengecup kening Laila lama. "Setuju. Selamat datang di petualangan baru, Laila. Aku janji, mulai hari ini, satu-satunya alasanmu menangis hanyalah karena terlalu banyak tertawa bersamaku."

"Dan aku akan terus mengingat janji ini, Zayn. Cukup sekali seumur hidup, aku diperlakukan dengan buruk," ucap Laila dengan mata sendu.

"Sudahlah sayang, mulai malam ini, kau telah resmi menjadi Nyonya Laila Zayn Malik. Tugasmu hanya satu, yaitu memberikan cucu-cucu yang lucu pada papa Frank dan mama Rosa," ucap Zayn dengan senyum yang sangat tulus. Membuat mata Laila membola.

1
merry
bagi lh satu tas mu lai🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭kn bnykk tuu
de banyantree: boleh kk🤭🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!