Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangatnya pagi di salsabila
Sinar matahari pagi menembus tirai tipis kamar utama ndalem, menyinari wajah Ghibran yang masih terlelap dengan ekspresi yang sangat damai—sesuatu yang sangat langka bagi pria yang dulunya dikenal sebagai "Patung Es Al-Husayn". Di sampingnya, Aira meringkuk di balik dekapan lengannya, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Ghibran.
Malam tadi adalah malam yang panjang bagi mereka. Bukan karena urusan pesantren atau masalah hukum yang pelik, melainkan karena mereka benar-benar merayakan cinta mereka tanpa sekat sedikit pun. Di kamar yang harum aroma mawar itu, mereka seolah baru saja menyelesaikan sebuah maraton perasaan yang puncaknya membawa kelegaan luar biasa.
Aira perlahan membuka matanya, menatap wajah suaminya yang masih terpejam. Ia iseng menyentuh hidung mancung Ghibran dengan ujung jarinya, menelusuri garis wajah yang selama ini selalu tampak tegas namun kini begitu lembut di bawah cahaya fajar.
"Sudah bangun, atau masih mau pura-pura tidur supaya bisa memelukku lebih lama?" bisik Aira sambil terkekeh kecil, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Ghibran tidak membuka mata, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat manis. Bukannya menjawab, ia justru mempererat pelukannya, menarik Aira hingga tak ada lagi jarak di antara mereka, membuat Aira bisa merasakan detak jantung Ghibran yang tenang di bawah telapak tangannya.
"Memangnya salah kalau aku ingin menikmati waktu dengan istriku sendiri?" gumam Ghibran, suaranya rendah dan serak, bergema di dada bidangnya. "Kemarin aku sibuk mengurus rapat pembangunan laboratorium seharian, bahkan hampir tidak sempat melihatmu."
"Tapi Kakak ada jadwal olahraga pagi dengan para pengurus santri laki-laki, kan?" tanya Aira sambil mencoba melepaskan diri dengan lembut, meskipun sebenarnya ia merasa sangat nyaman di sana. "Kasihan mereka kalau pemimpinnya tidak muncul."
Ghibran akhirnya membuka matanya, menatap Aira dengan binar jenaka yang kini mulai sering muncul menggantikan tatapan dinginnya. Ia mengecup dahi Aira dengan lama, sebuah ciuman yang penuh pemujaan, sebelum berbisik tepat di samping telinga istrinya, "Aku rasa aku tak perlu olahraga pagi hari ini, Sayang. Semalam sudah cukup memberikan pembakaran kalori yang luar biasa."
Pipi Aira mendadak merah padam hingga ke telinga. Ia segera menyembunyikan wajahnya di balik bantal, malu mendengar kejujuran suaminya yang kini mulai berani menggoda dengan gaya yang sangat frontal. "Kak Ghibran! Sejak kapan Kakak jadi pintar bicara begitu? Benar-benar pengaruh buruk Mas Azka!"
"Sejak aku tahu kalau membuatmu tersipu adalah hobi baruku yang paling menyenangkan," sahut Ghibran sambil tertawa rendah, sebuah suara tawa yang jarang ia keluarkan namun terdengar begitu lepas.
Tamu Tak Diundang di Meja Makan
Kehangatan itu terpaksa berakhir ketika suara ketukan pintu yang sangat keras dan sama sekali tidak memiliki etika kesopanan terdengar dari luar kamar.
Tok! Tok! Tok!
"Ghib! Bos! Bangun! Matahari sudah di atas kepala, masa pemimpin pesantren masih hibernasi? Apa perlu aku siram air wudu lewat jendela?" Itu suara Azka. Suara yang sangat tidak tahu situasi dan kondisi.
Ghibran mendesah berat, ia menyandarkan kepalanya di kepala ranjang dengan frustrasi. "Azka benar-benar tidak punya jam biologis yang sopan. Dia butuh kursus etika dasar."
"Sudahlah, Kak. Kasihan dia, mungkin ada hal penting tentang lamarannya dengan Zivanna," ujar Aira sambil bangkit untuk mengambil jubah mandinya, berusaha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Setelah bersiap, Ghibran turun ke ruang makan dengan wajah yang ditekuk, berusaha mengembalikan wibawa "Singa Salsabila"-nya. Di sana, Azka sudah duduk manis sambil mencicipi gorengan yang disediakan dapur, kakinya bergoyang-goyang dengan santai.
"Lama sekali, Bos. Biasanya jam lima pagi kau sudah berdiri tegak seperti tiang listrik di lapangan, mengawasi santri lari pagi," goda Azka sambil menutupi mulutnya yang penuh dengan bakwan. Matanya melirik nakal saat melihat tanda kemerahan kecil di leher Ghibran yang belum tertutup kerah kemeja dengan sempurna.
Ghibran menarik kursi dengan kasar, duduk di hadapan sahabatnya. "Ada apa? Kalau cuma mau melaporkan stok beras atau sekadar menumpang sarapan, aku akan memotong gajimu bulan ini untuk biaya perbaikan pintu yang kau ketuk seperti mau merobohkan tembok."
Azka tertawa terbahak-bahak, hampir tersedak. "Santai, Ghib. Aku cuma mau bilang kalau perwakilan dari Kementerian Agama sudah sampai di depan gerbang. Tapi sepertinya..." Azka melirik Aira yang baru saja muncul membawa teko teh dengan wajah merona, "...sepertinya aku tahu kenapa kau telat. Kau terlihat seperti pria yang habis memenangkan lotre triliunan rupiah, tapi badannya pegal-pegal seperti habis memanggul karung semen."
"Azka, diamlah sebelum aku benar-benar memecatmu dari posisi pengiring pengantin," tegur Ghibran, meski sudut bibirnya menahan senyum.
"Aira, kau harus sabar menghadapi Ghibran," lanjut Azka beralih pada Aira tanpa rasa takut. "Dulu dia kaku sekali, aku pikir dia akan menikah dengan tumpukan berkas audit. Ternyata setelah bersamamu, dia jadi punya alasan kuat untuk bolos olahraga pagi. Kasihan santri-santri di lapangan tadi, mereka bingung mencari 'Singa' mereka yang biasanya paling disiplin, ternyata sedang asyik... ehem... meditasi."
Aira hanya bisa tersenyum malu sambil menuangkan teh ke cangkir mereka. "Mas Azka jangan menggoda Kak Ghibran terus, nanti dia benar-benar marah dan membatalkan semua dekorasi mawar untuk Zivanna."
"Dia tidak akan marah padaku, Ra. Dia terlalu butuh aku untuk mengurus hal-hal yang tidak bisa dia lakukan karena terlalu sibuk... beristirahat secara intensif," balas Azka lagi dengan cengiran lebar.
Ghibran melemekan serbet ke arah wajah Azka dengan tepat sasaran. "Bawa tamunya ke ruang kerja sekarang, atau aku akan menyuruhmu lari keliling pesantren sepuluh putaran sebagai ganti olahraga pagiku yang hilang tadi!"
"Siap, Bos! Laksanakan!" Azka bangkit dengan lincah. Sambil berjalan keluar, ia masih sempat berteriak cukup keras agar terdengar sampai ke ruang makan, "Jaga staminamu, Ghib! Ingat, perjalanan menuju sepuluh keponakan untukku masih sangat panjang!"
Ghibran hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menatap punggung sahabatnya itu. Ia berbalik menatap Aira, yang kini juga sedang menahan tawa melihat tingkah konyol mereka.
"Dia benar-benar tidak bisa berubah," keluh Ghibran, namun tangannya kembali meraih tangan Aira di bawah meja, menggenggamnya erat. "Tapi dia benar soal satu hal. Aku memang merasa seperti memenangkan lotre paling berharga setiap kali bangun di sampingmu."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂