Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tasbih
Semenjak kematian Maryati, Joko memutuskan untuk melakukan Hijrah. Kali ini ia benar - benar mantap untuk melepaskan semua keilmuannya, termasuk niatnya untuk bercerai dari istri gaibnya Dewi Poncowati.
Perjalanan hijrah ini tidak mudah. Joko sadar akan hal itu. Mulai dari penyakit anehnya yang mulai kambuh, berbagai ujian yang mulai datang. Dari kehilangan pekerjaan hingga kehilangan semua orang yang ia sayang.
Joko mulai serius mencari seorang guru yang bisa melepaskan semua keilmuannya. Perjalanan hijrahnya di mulai dengan mendatangi sebuah pondok pesantren yang dulu ia pernah datangi bersama sang Ibu Maryati.
Saat hendak melakukan perjalanan menuju ke pondok Joko mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak trotoar jalan. Dari kecelakaan itu Joko nyaris kehilangan tangannya.
Lengannya yang terluka parah sempat akan di potong, namun Joko menolaknya. Ia memilih untuk mempertahankan lengannya. Meskipun lengannya tak jadi di amputasi namun jari kelingkingnya tidak bisa diselamatkan hingga harus di amputasi.
Setelah kecelakaan yang menimpanya, ia tetap melanjutkan perjalanan menuju ke pondok pesantren apapun yang terjadi.
Kali ini Ia sudah ikhlas jika sesuatu akan menimpa dirinya.
Kedatangan Joko di sambut hangat oleh Kyai Rahman. Pria keturunan Arab itu langsung mengajak Joko untuk beristirahat di kediamannya.
"Aku sudah mendengar semua tentang mu dari Ibu mu. Kebetulan dia sudah menceritakan semuanya kepada ku," ucap Kyai Rahman
"Jadi Kyai sudah tahu maksud kedatanganku kemari??" tanya Joko
"Dulu ibumu selalu berdoa agar kamu bisa bersyahadat di sini, dan sepertinya sekarang doa ibumu di kabulkan oleh Gusti Allah,"
Joko mulai berkaca-kaca saat sang Kyai mengenang sang Ibu. Joko memang memiliki hati yang lembut hingga membuat dirinya selalu mudah terharu saat orang lain menceritakan sesuatu yang sensitif kepadanya.
"Jangan khawatir, kami semua akan membantu mu," Kyai Rahman menepuk bahu Joko membuat ia bersemangat untuk melanjutkan niatnya. Setidaknya ia senang karena ada yang mendukungnya.
Malam ini untuk pertama kalinya Joko menginap di pondok pesantren. Joko tinggal di asrama santri pria. Udara malam terasa begitu panas, membuat Joko bergegas keluar untuk mencari udara segar.
Rembulan bersinar terang membuat pria itu memilih duduk di beranda untuk menikmati keindahannya.
Angin berhembus semilir mengibaskan rambutnya. Suara burung hantu tiba-tiba muncul membuat Joko langsung menyilangkan kakinya. Ia tahu ada sesuatu yang tak kasat mata sedang memperhatikannya.
"Sugeng ndalu Nyai?" sapanya lembut
Namun siapa yang tahu tiba-tiba, tubuhnya terhempas hingga menghantam pintu kamarnya.
*Braakk!!
Suara itu begitu keras hingga membuat semua santri keluar dari kamarnya. Mereka terkejut melihat Joko terkapar di lantai.
Semua langsung menggerumuti Joko dan berusaha menolongnya.
"Apa yang terjadi??" tanya Kyai Rahman
Semua Santri mengangkat bahu.
"Bawa dia ke dalam," titah Kyai Rahman
Beberapa Santri membawa Joko masuk ke dalam kamarnya.
Saat Kyai Rahman hendak mengobati nya ia melihat sesuatu keluar dari mulutnya.
"Astaghfirullah," ucapnya lirih
Ia kemudian mengusap wajah Joko dengan tangannya. Tak lama Joko pun membuka matanya.
"Apa yang terjadi padaku??" tanya Joko
Kyai Rahman tersenyum kemudian menunjuk ke sebuah kalajengking yang tergeletak di lantai.
"Apa aku sudah mati??" Joko terkesiap
"Belum, tapi andai saja aku terlambat menyelamatkan mu, mungkin sekarang kamu sudah mati," jawab Kyai Rahman
"Kenapa aku susah sekali mati, padahal aku ingin sekali mati!"
Kyai Rahman tertawa terbahak-bahak.
"Kau begitu mirip dengan almarhum ibumu," ucapnya girang
"Tapi kami berbeda," sergah Joko
"Berbeda tapi sama,"
Kyai Rahma mengeluarkan sesuatu dan menunjukkannya kepada Joko.
Sebuah tasbih kecil kemudian ia berikan kepada Joko.
" Semoga tasbih ini bisa menjaga dan melindungi mu," ucap Kyai Rahman menirukan ucapan maryati
"Yang aku butuhkan sekarang bukan sekedar tasbih kecil ini, aku butuh seorang guru, seorang paranormal yang bisa membantu ku bercerai dengan istri gaib ku dan melepaskan semua keilmuan ku,"
"Hmm," Kyai Rahman menarik nafas panjang
"Sebenarnya aku sangat ingin membantu mu, tapi aku tidak punya kekuatan yang mumpuni untuk mengalahkan wanita itu. Dia terlalu kuat,"
"Apa Kyai takut??"
"Bukan le, tapi aku tahu berani saja tidak cukup untuk melepaskan semua keilmuan yang kamu miliki. Semua ada ilmunya, dan aku belum menguasai itu. Aku tidak mau membuat mu celaka,"
"Kalau Kyai tidak bisa membantu ku, lalu untuk apa menahan ku di sini??"
"Aku hanya ingin memastikan kamu selamat, dan aku bisa menunjukkan jalan ke sana," sahut Kyai Rahman
"Katakan pada ku apa yang harus aku lakukan, dan siapa yang bisa membantu ku??"
Kyai Rahman mengambil sebuah kartu nama dan menyerahkannya kepada Joko.
"Dia adalah orang yang bisa membantu mu, temui dia,"
Joko mengangguk.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia tak sabar untuk menemui pria yang ada dalam kartu nama.
aamiin ya rabbal alamiin Pak Kyai Rahman
jaaadiiii yang barusan aja keluar dari mulut Joko itu adalah seekor kalajengking toooh😱😱😱😱
apakah Maryati sebelum dirinya wafat kali yaaa 👉👈
begitu sulit ujian yang harus dialami Joko saat Joko memutuskan untuk hijrah
emeng seeeh....memulai segala sesuatu yang menuju kebaikan itu selalu aja ada banyak godaan yang akan datang taapiiiii insyaallah jika kita bisa melewati semua ujian itu maka kita akan naik level ke pribadi yang lebih baik dari sebelumnya
aamiin ya rabbal alamiin
maksudnya paragraf ini bagaimana yaa kalimatnya kak 👉👈
mosok di gebukin ama makhluk ghoib seeeh🤔🤔