Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN MIKHA
Sesampainya di rumah Mikhaela tidak bisa menahan emosinya. Perasaan bersalah karena telah berprasangka buruk pada suaminya Dion. Padahal Dion tidak pernah melakukan kesalahan selama pernikahan mereka.
Setelah melihat Revan yang sudah terlelap tidur di kamar tamu bersama Rania yang kebetulan tadi Mikha minta menemani anaknya.
Melihat kondisi Mikha tidak baik-baik saja sekarang ini, Rania tidak bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya.
"Nia, bisakah Revan malam ini tidur dengan mu dulu?".
"Tentu saja. Lagian ia sudah tidur pulas Mik, kasihan kalau di bangunkan. Tapi Mik, apa kau pulang sendirian? Tidak bersama Dante?".
"Maafkan aku. Aku yang memberi tahu dia, kau pergi ke rumah itu. Karena aku sangat kuatir keselamatan mu, Mik", ujar Rania.
Mikhaela menganggukkan kepalanya. "Aku lelah, aku mau istirahat di kamar ku. Besok kita bicara lagi, aku ceritakan semuanya", ucap Mikhaela.
"Iya istirahatlah, kamu sudah melalui hari yang berat", ujar Rania mengusap lembut punggung sahabat baiknya itu.
Tidak lama setelah Mikha menaiki tangga, Dante masuk. Laki-laki itu melihat Rania.
"Mikha baru saja naik", ucap Rania menjawab tatapan laki-laki itu.
"Iya, aku akan menemuinya", balas Dante segera menaiki tangga.
*
Tiba di lantai dua, Dante bisa mendengar tangisan Mikhaela.
"Maafkan aku mas Dion...Maafkan aku... maaf."
Tubuh Dante tercekat di depan pintu kamar Mikhaela. Ia mengurungkan niatnya memutar handle pintu.
Ya... saat ini tangis Mikhaela pecah begitu hebat. Bahkan seperti meraung. Dante bisa mendengar dengan jelas kata-kata yang Mikha ucapkan. Meminta maaf penuh penyesalan pada Dion.
"Maafkan aku masss...Dengan mudah aku percaya kebohongan saudara-saudara mu. Bahkan aku sangat membenci mu mas. Berulangkali aku mengutuk pernikahan kita..."
Mikha ingin sekali memutar waktu, hanya untuk menarik kembali semua kutukan yang sering ia ucapkan pada mendiang suaminya.
"M-aafkan aku yang terlalu cepat melupakan mu, melupakan memori tentang mu, tentang kita. Maafkan aku terlalu cepat mengganti posisi mu hati ku mas Dion", Isak Mikhaela pada dirinya sendiri tanpa mengetahui Dante berdiri mendengar perkataannya tersebut.
Mendengar kata-kata Mikha kali ini, membuat dada Dante bergemuruh.
Ia segera memutar handle pintu kamar Mikhaela.
"Mikha, dengarkan aku," ujar Dante lembut, meski hatinya sendiri sangat bergemuruh. "Dion tidak akan ingin melihatmu hancur seperti ini. Bersyukur kebenaran itu terungkap agar kamu tidak berprasangka buruk padanya dan kamu tetap melanjutkan hidup tanpa berpikir negatif pada mendiang suami mu", ucap Dante sambil menyetuh bahu Mikha yang meringkuk di atas tempat tidur.
Mikha menepis tangan Dante perlahan, bukan karena benci pada Dante tapi karena merasa tidak pantas mendapatkan kenyamanan saat ia merasa telah mengkhianati memori suaminya.
"Aku ingin sendiri Dante. Tinggalkan aku. Mengertilah", pinta Mikhaela dengan suara pelan.
Namun Dante kian mendekat. Dante mencoba merengkuh bahu Mikha yang bergetar hebat. Ia tahu posisi ini sulit baginya. Sebagai kekasih saat ini, ia merasa seperti bayang-bayang pria yang telah tiada dan ternyata masih sangat jelas keberadaannya di hati Mikha.
Saat ini Dante bisa melihat bahwa Mikha masih begitu kehilangan dan mencintai mendiang suaminya Dion. Terlebih wanita itu mengetahui kebenaran tentang kebohongan yang di lakukan Nania Tio yang melibatkan Ira dan putranya.
Entah itu karena rasa bersalah karena selama ini ia hidup dalam kebencian yang salah alamat. Ternyata, kesetiaan Dion pada Mikha dibawa hingga ke liang lahat. Sementara Mikha begitu cepat membuka hati untuk pria lain.
"Sayang .."
"Tidak sekarang Dante. Aku ingin sendiri!!!", tegas Mikhaela tanpa melihat Dante.
Terdengar helaan nafas Dante.
Dante menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Aku tidak akan menggangu mu Mikhaela. Kamu harus beristirahat".
Dante keluar kamar itu dengan perasaan kecewa.
Rania dan Nurma yang melihatnya turun pun dapat merasakan kekecewaan Dante yang pamit pada mereka.
Rania tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak bisa memberikan nasihat pada Mikha saat ini karena ia tahu Mikhaela sedang uring-uringan.
"Sekarang biarkan saja Mikha sendiri, besok ketika kondisinya membaik aku akan bicara padanya", ujar Rania menatap Nurma yang mengerti.
...***...
To be continue