NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Baru,dan tempat tinggal baru

Untuk sesaat suasana menjadi Hening,arka sibuk dengan pikirannya,begitu pula dengan Cantika,dia sibuk dengan nasibnya,nasib rumah tangga dadakannya .

" Maaf,Tuan ,saya disini bikin repot.”

Arka menggeleng dan mengajak Cantika duduk di sofa. “Kamu nggak membuat repot. Ini tanggung jawabku. Aku nggak tega ninggalin kamu sendirian di sini kalau dia tiba-tiba balik lagi. Viona orangnya nekat. Kalau dia curiga, bisa-bisa dia masuk paksa.”

Mereka duduk berdua dalam diam sejenak. Cantika menunduk, jari-jarinya memilin ujung baju tidurnya yang sederhana. “Tuan … aku nggak mau jadi beban. Kalau memang susah, aku bisa pulang ke rumah orang tuaku. Atau cari tempat lain.”

“Nggak,” potong Arka cepat. “Kamu istriku sekarang. Aku yang janji di depan penghulu buat jaga kamu. Aku nggak mau kamu tersakiti gara-gara situasi ini,dan bisa tidak kamu jangan panggil aku Tuan,kupingku sakit mendengarnya "

"Ta ..tapi  ...saya harus panggil apa ?"

"Terserah kamu ,yang penting kamu jangan panggil aku Tuan ,karena aku bukan majikan kamu."

Cantika nampak berfikir,apa panggilan yang cocok untuk Arka

"Kamu cukup panggil aku Arka saja ." Sahut Arka melihat Cantika terdiam dan nampak berfikir keras.

"Itu tidak sopan ,biar bagaimanapun anda suami saya,bagaimana kalau saya panggil MAS saja,itu panggilan yang lebih sopan ."

"Terserah kamu,itu terdengar lebih enak ."

"Tu ...eh ..Mas ." Cantika memberanikan memanggil Arka.

"Hmm."

"Izinkan saya pindah dari sini,saya bisa tinggal di kontrakan,saya masih punya sedikit uang untuk bayar kontrakan ."

"Tidak ,Aku tidak pernah mengizinkannya ." Sahut Arka tegas .

"Tapi,saya tidak betah tinggal disini,saya disini merasa tidak nyaman dan saya seperti Benalu hubungan Mas,dengan Mbak viona ."

"Aku tidak mau kamu tinggal sendirian di luar,biar bagaimanapun sekarang kamu tanggung jawabku ,kalau terjadi apa-apa denganmu,aku tidak mau di hujat ibumu dan juga para warga ."

"Tapi saya disini benar -benar nggak betah ,bisa saja mbak Viona tiba -tiba masuk,dan tahu keberadaanku Disini ."

Arka diam sejenak, pikirannya berputar cepat. Semalam ia sudah memikirkan ini, tapi sekarang keputusan itu semakin kuat. “Cantika, aku punya ide. Kita pindah apartemen. Apartemen ini terlalu dekat dengan lingkungan Viona dan teman-temannya. Kalau kita pindah ke tempat yang lebih jauh, ke kawasan yang lebih tenang, Viona nggak gampang nemuin kamu. Kamu juga nggak perlu terus-terusan bersembunyi seperti ini. Aku nggak mau kamu hidup dalam ketakutan setiap ada bel berbunyi.”

Cantika mengangkat wajahnya, matanya melebar karena terkejut. “Pindah? Tapi … apartemen ini kan milikmu. Dan … aku nggak mau Mas repot karena aku.”

“Ini bukan repot,” kata Arka agak lembut. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tangan Cantika sekilas, lalu menariknya kembali karena sadar jarak mereka masih terlalu dekat untuk kenyamanan. “Aku yang salah karena belum siapin semuanya dari awal. Pernikahan kita memang dadakan, tapi itu nggak berarti aku boleh biarin kamu menderita. Besok pagi aku cari apartemen baru. Dua kamar, lebih luas, di kompleks yang security-nya ketat. Kamu bisa punya ruang sendiri, nggak perlu takut Viona datang tiba-tiba.”

Cantika terdiam lama. Air matanya hampir jatuh lagi, tapi kali ini karena terharu, bukan sedih semata. “Mas … kenapa Mas baik banget sama aku? Kita kan baru kenal. Aku bahkan nggak bawa apa-apa ke sini selain baju ganti.”

Arka tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali ia tunjukkan. “Karena aku pria yang punya tanggung jawab, Cantika. Walaupun aku belum bisa kasih jawaban soal pilihan antara kamu dan Viona, setidaknya aku bisa pastiin kamu aman dan nggak tersakiti. Pelan-pelan kita atur semuanya. Aku janji.”

Malam itu, setelah Viona pergi, Arka dan Cantika menghabiskan waktu dengan lebih tenang. Arka memesan makan malam dari restoran favoritnya, tapi kali ini ia memilih menu yang lebih sederhana nasi goreng spesial dan ayam goreng kremes yang ia tahu Cantika suka dari obrolan singkat pagi tadi. Mereka makan di meja makan kecil, bukan di ruang tamu yang masih menyimpan aroma parfum Viona.

Sambil makan, Arka mulai bercerita sedikit tentang dirinya. “Aku kerja di perusahaan keluarga, bidang properti. Papa aku yang ngurus semuanya, aku cuma bantu manage proyek. Viona … keluarganya mitra bisnis papa. Makanya pernikahan kami diharapkan semua orang. Tapi aku nggak pernah nyaman sepenuhnya.”

Cantika mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk. “Aku ngerti, Mas. Aku juga nggak nyangka pernikahan ini bakal terjadi. Kalau saja saat itu kita tidak bertemu dan Mas menolongku Mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi.

Arka menghela napas. “Sudahlah nggak usah dibahas lagi,semua sudah terjadi,Besok aku mulai cari apartemen baru. Kamu mau ikut liat atau mau aku yang pilih dulu? Aku janji pilih yang nyaman buat kamu.”

“Aku ikut pilihan,Mas aja” jawab Cantika pelan.

Malam semakin larut. Arka kembali tidur di kamarnya, sementara Cantika di kamar tamu. Tapi kali ini, Cantika tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk bantal, dan berpikir tentang perkataan Arka tadi. Pria itu walaupun dingin dan galak tapi bertanggung jawab, meski hatinya masih terbagi. Cantika merasa ada sedikit harapan, walaupun kecil. Setidaknya ia tidak sendirian dalam situasi rumit ini.

Keesokan paginya, Arka bangun lebih awal. Ia sudah membuka laptop dan mencari apartemen baru di situs properti terpercaya. Ada beberapa pilihan di kawasan elite tapi tenang, sekitar 30 menit dari kantornya. Satu unit dua kamar dengan balkon menghadap taman kota, security 24 jam, dan fasilitas lengkap. Arka menandai beberapa dan berencana mengajak Cantika survey sore harinya.

Saat Cantika keluar dari kamar dengan rambut masih basah setelah mandi, Arka langsung menyapa ramah. “Pagi, Cantika. Udah siap? Kita bisa liat apartemen baru hari ini juga kalau kamu mau.”

Cantika tersenyum kecil, pipinya sedikit merona. “Pagi, Mas. Iya, aku siap.”

Mereka berangkat menggunakan mobil Arka yang biasa. Sepanjang jalan, obrolan mereka lebih cair daripada kemarin. Arka bercerita tentang proyek properti terbarunya, sementara Cantika berbagi cerita kecil tentang hobi membaca novel dan memasak. Sesekali mereka tertawa kecil ketika ada lelucon ringan.

Sesampainya di apartemen calon baru, agen properti menyambut mereka dengan ramah. Unit yang dilihat cukup luas, dengan ruang tamu terbuka, dapur modern, dua kamar tidur yang nyaman, dan kamar mandi masing-masing. Cantika berjalan pelan di setiap ruangan, menyentuh dinding dan jendela dengan hati-hati.

“Gimana, Cantika? Kamu suka?” tanya Arka ketika mereka berdiri di balkon yang menghadap taman hijau.

Cantika mengangguk. “Suka, Mas. Di sini terasa lebih tenang. Nggak terlalu mewah sampai bikin aku nggak nyaman, tapi cukup aman.”

Arka tersenyum lega. “Bagus. Aku langsung proses pindahnya hari ini juga. Barang-barang kita bisa diangkut besok pagi. Kamu nggak perlu bawa banyak, nanti aku beliin kebutuhan baru.”

Sepulang dari survey, Arka langsung mengurus administrasi. Ia menelepon asisten pribadinya untuk mengatur kepindahan secara diam-diam. Sementara itu, Viona mengirim pesan beberapa kali, bertanya kapan Arka luang. Arka hanya membalas singkat, “Sibuk kantor, nanti malam telepon.”

Malam harinya, setelah semuanya diatur, Arka dan Cantika kembali ke apartemen lama. Arka membantu Cantika mengemasi sedikit barang yang dibawanya beberapa baju ganti dan perlengkapan pribadi. Saat mereka duduk istirahat di sofa, Arka tiba-tiba berkata, “Cantika, terima kasih sudah sabar. Aku tahu ini berat buat kamu.”

Cantika menggeleng pelan. “Aku yang harus terima kasih, Mas. Kamu nggak ninggalin aku sendirian. Dan… rencana pindah ini bikin aku merasa lebih aman.”

Arka menatap Cantika lama. Ada sesuatu yang berubah di hatinya bukan cinta mendadak, tapi rasa hormat yang semakin dalam. “Aku akan Melindungi kamu,”

Cantika hanya mengangguk, air matanya hampir jatuh lagi, tapi kali ini ia tersenyum tulus. “Iya, Mas.”

Keesokan paginya, proses pindah berjalan lancar. Arka membawa barang Cantika dengan mobilnya ke apartemen baru tanpa menarik perhatian. Apartemen lama ditinggalkan dan hanya tertinggal barang milik Arka , seolah tak ada jejak Cantika di sana. Di apartemen baru, Cantika mulai merapikan kamarnya sendiri, sementara Arka mengatur ruang kerjanya di salah satu sudut.

Sore harinya, Viona menelepon Arka dengan suara manja. “Baby, kamu di mana? Aku udah belanja banyak kemarin pake kartu kamu. Mau tunjukin ke kamu nih.”

Arka menjawab dengan tenang, “Aku lagi di luar kota sebentar untuk survey proyek, Vi. Baliknya besok atau lusa. Kamu istirahat aja ya.”

Viona terdengar kecewa, tapi tidak curiga terlalu dalam. “Oke … tapi jangan lama-lama ya. Aku kangen.”

Setelah telepon ditutup, Arka menghela napas lega. Ia berjalan ke dapur apartemen baru, di mana Cantika sedang menyusun piring-piring baru yang dibeli pagi tadi. “Cantika, mulai sekarang kamu di sini. Kamu aman.”

Cantika berbalik dan tersenyum. “Terima kasih, Mas Arka.”

Malam pertama di apartemen baru terasa berbeda. Apartemen itu lebih sunyi, lebih damai. Arka tidur di kamar utama, Cantika di kamar kedua. Tidak ada lagi ketegangan karena ancaman Viona yang tiba-tiba datang. Cantika bisa berjalan bebas di ruangan tanpa takut, dan Arka bisa bernapas lebih lega.

Tapi di dalam hati Arka, badai masih berputar. Ia tahu ini hanya solusi sementara. Suatu hari nanti, rahasia ini akan terbuka. Viona, orang tuanya, keluarga Cantika,semua akan tahu. Dan saat itu tiba, ia harus memilih.

Sementara itu, di hotel yang sama, Viona tersenyum puas sambil memandang tumpukan belanjaan mahalnya. Tapi di balik senyum itu, ada kecurigaan kecil yang mulai tumbuh. Arka terlalu sering menolaknya akhir-akhir ini. Dan Viona bukan tipe perempuan yang mudah menyerah.

Ia mengambil ponsel dan mengetik pesan ke orang yang sama seperti semalam: “Besok malam kita ketemu lagi. Ada yang perlu kita bicarakan soal Arka.”

1
Nadia Zalfa
double up thorr. ..suka sama ceritanya cantika😍
MayAyunda: diusahakan kak🙏
total 1 replies
Lovelynzeaa🌷
lanjut thor, up yg bnyk
MayAyunda: di usahakan kak ..🙏🙏
total 1 replies
Alex
semoga segera kebongkar kebusukan mu viona dan Cantika gak sedih lagi arka gak bngung lagi 🥰
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!