Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 30
Sudah dua gelas air putih tandas Zaidan habiskan. Gelas ketiga bahkan sudah setengah kosong. Ia melirik jam di tangannya itu untuk kesekian kalinya.
Hampir satu jam, dan Zahra belum juga datang.
Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. Padahal angin malam itu berhembus cukup sejuk. Gugupnya tidak masuk akal. Ia pernah menunggu buronan berjam-jam tanpa rasa cemas seperti ini.
“Kebanyakan minum air jadi pengen ke belakang,” gumamnya pelan.
Ia melirik ke arah pemilik warung yang sesekali memandangnya. Rasa tak enak mulai muncul karena sejak tadi ia belum juga memesan makanan.
“Ini dia nggak kelupaan, kan?” Zaidan membuka layar ponselnya lagi.
Tidak ada pesan dan tidak juga ada panggilan.
Jantungnya mulai tak tenang.
“Apa aku telepon aja? Takutnya ada apa-apa…”
Setelah menimbang beberapa detik, ia langsung menekan nama Zahra dan memilih panggilan suara.
Nada sambung pertama, kedua, ketiga.
Baru pada dering keempat panggilan itu tersambung.
“Halo…” Suara Zahra terdengar tergesa dan gemetar.
“Zahra, kamu kenapa?” Zaidan langsung duduk tegak.
“Mas Zaidan… maaf, saya nggak bisa ketemu sekarang. Ibu saya jatuh di kamar mandi. Saya harus bawa ke rumah sakit.”
Zaidan langsung berdiri dan mengakibatkan kursinya sedikit bergeser.
“Ibu kamu kenapa? Parah?”
“Kakinya kayaknya keseleo… atau mungkin lebih. Saya lagi nunggu taksi online yang sudah saya pesan.”
“Batalkan,” potong Zaidan cepat.
“Tapi Mas—”
“Saya jemput sekarang. Jangan ngebantah.”
Ia mematikan telepon sebelum Zahra sempat protes lagi.
Langkahnya cepat menuju kasir. Ia mengeluarkan uang dua puluh ribu.
“Maaf, Bang. Nggak jadi makan. Orang tua pacar saya sakit, harus saya antar.”
Pemilik warung tersenyum maklum. “Udah, Bang. Nggak usah bayar airnya.”
“Nggak bisa, Bang. Tetap dihitung,” jawab Zaidan sambil menyelipkan uang itu dan langsung berlari kecil menuju mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.
Malam itu ia membawa mobil milik Fadi. Motornya benar-benar masuk bengkel sejak pagi tadi akibat dari sebuah karma kecil karena malam sebelumnya mengaku pada kedua orang tuanya jika motornya sedang rusak.
Mesin dinyalakan. Mobil melaju cepat namun tetap terkendali. Tak sampai sepuluh menit, ia sudah tiba di depan gang rumah Zahra.
Suasana cukup ramai. Beberapa tetangga berkumpul. Di tengah kerumunan itu, seorang wanita paruh baya digendong oleh dua pria. Zahra berdiri di sampingnya, wajahnya pucat dan panik.
Zaidan langsung turun.
“Zahra!”
Zahra menoleh. “Mas? Kenapa kesini?”
“Kan sudah saya bilang. Ini ibu kamu?” tanyanya cepat.
“Iya…”
“Cepat, bawa ke mobil saya.”
“Tapi taksi online saya sudah sampai, Mas.” Zahra menunjuk mobil putih yang terparkir beberapa meter dari sana.
Tanpa banyak bicara, Zaidan mendekati sopir taksi itu dan mengeluarkan tiga lembar uang merah.
“Pak, ini ongkos dan kompensasinya. Maaf sudah sampai sini.”
Sopir itu terlihat kaget tapi akhirnya menerima. “Baik, Mas. Terima kasih.”
“Mas…” Zahra terlihat ragu.
“Bukan waktunya debat,” ucap Zaidan tegas namun tidak membentak. “Masuk.”
Dengan bantuan beberapa tetangga, Bu Anti dipindahkan ke kursi belakang. Zahra duduk di samping ibunya, memegang tangan sang ibu yang meringis menahan sakit.
Mobil akhirnya melaju.
Sepanjang perjalanan, Zaidan fokus pada jalan. Sesekali ia melirik ke spion tengah.
“Ibu tahan ya sebentar lagi sampai,” katanya.
Bu Anti hanya mengangguk lemah.
Sekitar lima belas menit pertama mereka melewati sebuah rumah sakit kecil.
“Mas, di situ saja,” ujar Zahra cepat. “Itu juga rumah sakit.”
Zaidan tetap melaju.
“Kita ke yang lebih lengkap,” jawabnya singkat.
Tak lama kemudian mereka kembali melewati klinik 24 jam.
“Mas, itu juga bisa…”
“Zahra,” potongnya lembut tapi tegas, “kita ke Rumah Sakit Medika. Fasilitasnya lebih lengkap. Kalau ternyata cuma keseleo, syukur. Tapi kalau ada retak atau patah, langsung bisa ditangani.”
Zahra terdiam beberapa detik.
“Itu rumah sakit besar, Mas…” suaranya mengecil. “Biayanya pasti mahal. Kartu kesehatan pemerintah saya juga pasti nggak berlaku disana karena rumah sakitnya tipe A.”
Zaidan menahan napas sejenak sebelum menjawab.
“Kesehatan ibu kamu lebih penting dari itu.”
“Tapi—”
“Kalau kamu mau marah soal biaya, nanti aja setelah ibu kamu ditangani.”
Zahra menunduk. Tangannya masih menggenggam tangan Bu Anti erat-erat. Ada rasa hangat aneh menjalar di dadanya, bercampur rasa bersalah.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil akhirnya memasuki halaman Rumah Sakit Medika. Lampu gedung besar itu terang benderang.
Zaidan langsung menghentikan mobil itu di depan pintu IGD. Ia turun dan menghampiri petugas yang sedang berjaga.
“Pasien jatuh di kamar mandi, kemungkinan cedera kaki,” ujarnya cepat dan jelas.
Perawat segera datang dengan kursi roda dan Bu Anti dipindahkan dengan hati-hati. Zahra ikut berjalan di sampingnya, wajahnya masih cemas.
Mereka akhirnya tiba di sebuah bilik. Bu Anti dipindahkan ke atas ranjang IGD. Dokter jaga segera datang dan memeriksa keadaan pasiennya itu.
Di tengah kesibukan itu, Zaidan berdiri sedikit di belakang mereka. Tatapannya tidak lepas dari wajah cemas Zahra.
Ketika Zahra menoleh dan mendapati pria itu masih di sana. Pria itu tidak pergi dan hanya berdiri siaga.
Zahra tersenyum tipis. Bibirnya bergerak seakan berbisik pelan.
“Terima kasih, Mas…”
Selamat dobel Z.
Gk ada bonchap thor🤭
papa tadi said: gak usah lope lope an, gak lihat suaminya disini... 😤😤😤
🤣🤣🤣🤣🤣
Keluarga idola nih....orang kaya tapi gak pernah memandang status, baik hati dan tidak sombong.
Berbahagia kamu Zahra, bisa menjadi bagian dari keluarga ini