NovelToon NovelToon
PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:27.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: A Lubis

Up setiap jam 8 malam.

Seorang bayi dilahirkan tanpa orang tua dengan berkah api matahari dilengan kanannya.
Dia kemudian ditemukan seorang janda yang merawatnya dengan kasih sayang yang tulus, namun tanpa sadar dia mengeluarkan api yang membakar seluruh rumah yang membuat ibunya meninggal.
Karena itulah dia menjadi pemuda yang jahat dan gemar menghancurkan perguruan diwilayahnya.
Namun seorang guru akhirnya menunjukan jalan kebenaran, dan akhirnya dia dapat mengendalikan api mataharinya.
Namun bersamaan muncul kekuatan besar akan ada kekuatan jahat yang juga terlahir, mampukah dia memenuhi panggilan takdirnya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iblis Kematian Asura

“Nyai bidara sadarlah!” Miksan Jaya menjadi panik

mendapati Nyai Bidara yang mulai kejang.

Sungsang Geni segera

berlari mendekati Nyai Bidara, “Dudukan dia!” Printah Sungsang Geni.

Kemudian Sungsang Geni

meletakan telapak tangannya dibelakang tubuh Nyai Bidara, cahaya kemerahan

mulai keluar dari telapak tangan Sungsang Geni dan masuk kedalam tubuh wanita

itu.

Uhuk. Nyai Bidara

memuntahkan racun berbentuk bulat hitam yang dibalut dengan darah, ketika menyentuh

lantai, racun itu mengeluarkan asap dan aroma busuk lalu mencair.

“Racun Kalajengking

Perak,” ucap Mahesa, dia nampak terkejut mendapati racun yang keluar dari mulut Nyai

Bidara. “Jadi orang itu masih hidup.”

“Siapa yang kau

maksud?” tanya Sungsang Geni, Mahesa membisikan beberapa kata, yang membuat

wajah Sungsang Geni menjadi merah.

“Tuan apakah Nyai

Bidara dapat diselamatkan?” Miksan Jaya bertanya, wajahnya masih seputih kapas

karerna takut.

“Aku telah mengeluarkan

sebagaian racunya, tapi luka dalam akibat racun sangat parah.” Sungsang Geni

kemudian menggelengkan kepalanya, “untuk mengeluarkan seluruh racun itu, kita harus

mencari  seorang Tabib.”

“Bibi pelayan, adakah

tabib didekat sini?” Mahesa menghampiri pelayan yang masih bersembunyi dibalik

meja.

“Ada tuan, rumahnya

berada di sisi barat yang letakanya paling ujung.” Pelayan itu menunjuk kerah

barat, “Tapi orangnya sedikit gila tuan.”

“Tidak masalah jika

gila, asalkan  dia mampu mengobati Nyai

Bidara.” Ucap Sungsang Geni.

“Dia pasti bisa tuan,

meski sedikit gila tapi obatnya sangat mujarab.”

“Kita harus segera

kesana!”  printah Sungsang Geni.

Mahsea segera membopong

Nyai Bidara, dia sedikit terkejut merasakan tubuh Nyai Bidara sedingin es.

Beberapa saat kemudain,

mereka tiba di rumah yang dimaksud. Rumah itu tidak menunjukan pemiliknya

seorang tabib, rumput tumbuh tinggi hampir disetiap sudut halaman, dan daun

berhamburan diteras rumah.

Sungsang Geni mengetuk

rumah itu dengan ragu, “Tuan Tabib, adakah dirimu didalam?”

Setelah beberapa kali

Sungsang Geni mengetuk pintu, akhirnya sang tabib menunjukan batang hidungnya.

Rupanya dia memiliki

tubuh yang pendek dan sedikit gendut, dia menatap Sungsang Geni seperti orang

idiot.

“Aku adalah tabib

dirumah ini?” pria itu membuka setengah pintu, lalu meraba kening Sungsang

Geni, “Kau sangat sehat, pulanglah!”

“Tunggu!” Sungsang Geni

mencegah tabib itu menutup pintu, “Bukan aku, tapi wanita ini.”

 

Tabib itu kemudian memperhatikan wajah Nyai Bidara,

“Bawa dia masuk sekarang, nyawanya dalam keadaan kritis!”

Mahesa bergegas masuk

lalu meletakan tubuh Nyai Bidara ditempat pembaringan, sementara tabib idiot

sedang sibuk meracik obat, terkadang dia menumpahkan beberapa ramuan yang dia

simpan, lalu mengumpat dan memaki tangannya sendiri.

“Pangeran Miksan Jaya!

Nyai Bidara adalah pendekar tanpa tanding, lalu siapa yang mampu

mengalahknnya?” Sungsang Geni mulai bertanya dengan serius, “Apa mereka menggunakan

kecuranga, atau trik lainnya. Melihat racun itu, kami tau orangnya tidak begitu

kuat.”

“Yang tuan katakan ada

benarnya, dan juga ada salahnya.”Miksan Jaya, menutup matanya mencoba

menenangkan hatinya. “Racun itu, dan orang yang mengalahkan Nyai Bidara bukanlah

orang yang sama.”

“Maksud pangeran, Nyai

Bidara menghadapi dua orang sekaligus?” Sungsang Geni mulai menerka sitauasi

yang Nyai Bidara hadapi sebelumnya.

“Tidak, dia tidak

menghadapi sekaligus. Orang yang menggunakan racun menyerang satu hari  setelah orang hebat itu menyerang kami.”

“Orang itu? Siapa dia?

Pangeran Miksan Jaya beribicaralah yang jelas, kau terlalu berbelit-belit?”

ucap Mahesa, dirinya mulai kesal mendengar ucapan Miksan Jaya.

Melihat Mahesa yang

mualai tidak sabar, Sungsang Geni menepuk pundak Mahesa, kemudian mengelengkan

kepalanya.

“Komandan ke 3 kelompok

Kelelawar Iblis...” ucap Miksan Jaya pelan, seakan enggan menyebutnya, “Dia

dujuluki iblis kematian, Asura.”

Mahesa terkejut

mendengarnya, hampir-hampir dia tersedak dengan napasnya sendiri. Dia mulai

terbayang kisah silam mengenai nama itu, hanya dengan satu serangan, tidak

lebih, Iblis Kematian Asura  meletakan

telunjuknya di dada  guru sekaligus

Ayahnya, lalu terjadi hal yang tidak ingin dilihat oleh seorang anakpun didunia

ini.

“Apa kau mengenal nama

itu Mahesa?” tanya Sungsang Geni,”Wajahmu terlihat sangat tegang?”

“Aku menganalnya, dialah

orang yang telah mengalahkanku, sekaligus membantai seluruh perguruan tapak

bayangan.” Mahesa menjawab dengan nada bergetar.

Sungsang Geni terkejut

mendengar pernyataan yang dikemukakan oleh Mahesa.

“Ternyata ada banyak

orang jahat yang sangat kuat didunia ini?” ucap Sungsang Geni geram ,kemudian

dia melirik tangan kanannya, ‘apakah berkah matahari dapat mengalahkan mereka?’

“Dia berada dilevel

yang berbeda dengan pendekar Tanpa Tanding, Sungsang Geni.” Mahesa menatap

Sungsang Geni dengan tajam, seolah olah berusaha membuka kebenaran mengenai

situasi saat ini. “Mereka yang memiliki kekuatan yang mustahil dikalahkan,

dijuluki pendekar iblis.”

Sungsang Geni terdiam

cukup lama, keningnya mengernyit, lima jari tangan kirinya menopang kepala,

sekekali dia memijat kepalanya itu.

‘Jika demikian,

kemungkinan besar seluruh Komandan Kelelawar Iblis berada di level Pendekar

Iblis, satu tingkat diatas pendekar tanpa tanding.’ batin Sungsang Geni

bergumam, ‘Lalu seperti apa kekuatan Pimpinannya?’

“Katakan bagaimana

ceritanya Nyai Bidara terkena racun kalajengking perak?” Sungsang Geni kembali

melirik kearah Miksan Jaya.

“Ke-esokan harinya,

kami bertemu dengan para bandit, meski dalam keadaan terluka parah Nyai Bidara

masih dapat melawannya hingga seseorang menyerangnya dengan racun Kalajengking

perak. Namun...” Miksan Jaya menghentikan ucapannya.

“Namun, apa?” sekali lagi Mahesa

membentak Miksan Jaya, membuat pria itu semakin ketakutan.

“Nyai Bidara mengetahui

pimpinan mereka adalah Senopati Karang Dalo, prajurit yang berasal dari

kerajaan Tombok Tebing.” Jawab Miksan Jaya.

“Karena itulah kalian

diburu sampai ketempat ini?” tanya Sungsang Geni.

“Benar tuan.”

‘Bisa jadi surat

lamaran memang ditujukan keseluruh kerajaan yang dikuasasi Surasena, namun

karena mungkin akan ada persaingan, Senopati Karang Dalo berusaha membunuh

semua Pangeran Mahkota kerajaan lainnya, agar Putra Mahkota kerajaan Tombok

Tebing menjadi satu-satunya yang berhak menikahi putri kerajaan Surasena.’

Sekarang Pikiran Sungsang  Geni mulai

Melayang.

Saat Sungsang Geni

memikirkan masalah itu, tiba-tiba sang tabib berteriak keras. “Kalian semua! apa

yang kalian lakukan cepat temani aku mencari obat untuk wanita ini?” Sang Tabib

kemudian mengupat lalu memaki mereka semua.

“Aku akan menemani

tabib ini?” ucap Sungsang Geni kemudian dia menepuk pundak Mahesa, “Kau

tunggulah disini, jika dalam sehari ini aku tidak kembali kau segera beri tahu

Pangeran Dewangga, dan lanjutkan perjalanan tanpa aku, aku akan menyusul

nanti!”

“Apa kau yakin, teman?”

Mahesa bekata ragu, “Aku bisa saja membantumu jika kau menemui masalah.”

“Tidak! Pangeran

Dewangga mungkin juga sedang diincar, sebelumnya kami telah berhadapan dengaan

seorang pendekar tanpa tanding. Mungkin itu juga adalah suruhan Karang Dalo.”

Sungsang Geni menjelaskan, kemudian mengambil pedangnya yang tersandar dimeja.

Mendengar ucapan

Sungsang Geni, Mahesa hanya mengangguk tanda setuju.

“Apa yang kalian

bicarakan, cepat ikut aku mencari obatnya! atau temanmu akan tewas.” Tabib

kembali memaki semua orang disana.

1
merah putih
kemana keris pusaka?
Aufaaaaa
widih autor nak panen kawe😄😄😄
Lily
ada" aja kakek satu ini 🤣🤣🤣
diina acuy
Luar biasa
zayick
mnjijikan
zayick
novel paling menjengkelkan adalah ktika mc lemah trhadap musuh wanita sungguh menjijikan jikapun ada dlam kehidupan nyata dengan senang hati saya membunuh mc macam ini walau dia hamba tuhan palih salih skalipun
Hidayat Dayat
Luar biasa
Hidayat Dayat
Lumayan
ridzuan yusoff
Luar biasa
Sudar Manto
asu
Malim Rieza DiWa
the best one
Yurnalis Yurnalis
pokuslah duly sama mcnya supaya kuat thor
Yurnalis Yurnalis
ini makananya ibis gak ada yg lain
Adian Oe
dari sekian bnyk cerita yg ku baca..ku akui ini yg plin the best..👍👍👍
Andre Oetomo
keren
Beni Nugroho
mantap tetap anti korupsi
Beni Nugroho
wadaow
Beni Nugroho
sabar itu adalah ujian aja
Beni Nugroho
deklarasi yang cukup bersejarah di dalam dunia pernovelan
Beni Nugroho
tukang maut kah dia?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!