Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Praduga
Kiran membuka pintu kamar Ari dengan perlahan. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Aroma parfum Ari tercium jelas begitu ia memasuki ruangan. Matanya menyapu ruangan. Menyusuri interior ruangan dengan kedua manik mata yang berkabut. Ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Ari dan ia sudah mendapat izin dari Mama Ariana untuk ini.
"Ari kecelakaan, Kiran. Sampai sekarang dia belum ditemukan. Hanya mobilnya saja yang ditemukan tenggelam di dalam sungai."
Kiran mengambil satu foto berbingkai yang berada di atas nakas. Foto Ari sedang menunjukkan sebuah lukisan. Wajah pria itu tersenyum begitu riang, seakan bangga dengan lukisannya yang tidak terlalu jelas kelihatan di dalam foto. Kiran yakin, lukisan itu pastilah sangat indah, melihat senyum puas terpancar dari wajah Ari.
"Aku tidak suka pekerjaan ini. Ini bukan duniaku."
Terbayang ucapan Ari, ketika pertama kali dia mengeluhkan pekerjaannya pada Kiran. Memang dia lebih suka seni. Seni melukis tepatnya. Sementara mengurusi perusahaan, hanyalah pekerjaan yang terpaksa ia lakukan.
"Sampai sekarang dia belum ditemukan. Berdoa saja yang terbaik pada Allah. Semoga dia baik-baik saja."
Kiran mengambil foto itu lalu duduk di atas tempat tidur. Mengamati foto itu, menilik wajah Ari dengan seksama, membayangkan seakan memang benar mereka sedang berhadapan sekarang. Mencoba mengingat senyum Ari dan kalimat yang senantiasa pria itu lontarkan untuk menggodanya.
Seketika Kiran ingat. Di hari terakhir ia berjumpa dengan Ari, ketika pria itu merebut foto keluarganya, malamnya Kiran bermimpi. Kiran memimpikan Ari jatuh ke dalam sungai dan tenggelam. Tangannya menggapai. Kiran berusaha untuk lompat, ingin membantunya. Namun seperti ada sesuatu yang menghalanginya. Tangan Ari dalam mimpi itu melambai-melambai meminta pertolongan.
Kiran mengusap foto Ari dengan lembut. "Aku hanya berharap, kata-kata Tuan Mahesa, Papamu itu menjadi kenyataan. Kau harus baik-baik saja, Ari. Kau harus pulang. Kau sudah berjanji padaku kalau kau tidak akan pernah meninggalkanku. Penuhilah janjimu Ari."
❇❇❇
Radit menghela nafas berat. Akad nikah sudah usai, tugasnya telah selesai. Mau Karina atau Kiran, dia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Terlihat bahagia di hadapan semua orang.
Radit duduk di ruang kerjanya di lantai tiga. Masing-masing mereka, baik Tuan Mahesa dan Radit memiliki ruang kerja sendiri. Di lantai yang sama dengan kamarnya.
Radit mencoba menyibukkan diri dengan membuka beberapa laporan dan dokumen dari beberapa anak perusahaan. Waktu dan pikirannya tersita untuk mencari Ari dan persiapan pernikahan sehingga pekerjaannya menumpuk.
Ponsel Radit Berdering. Pria itu melirik sekilas nama yang tertera di layar, 'Bowo'. Radit ingat sempat menyimpan nomor teman adiknya itu setelah Agung mengirimnya.
"Wa'alaikumussalam." Radit menjawab salam dari sebrang.
"Ya, Wo. Apa kamu tahu sesuatu?" Radit mendegarkan dengan seksama. Alisnya bertaut.
"Foto siapa itu?" tanyanya. Kemudian mendengar penjelasan dari sebrang telpon.
"Baik. Makasi ya, Wo. Terima kasih atas informasinya."
"Ya, nggak apa-apa, Wo."
"Wa'alaikumussalam." Radit mengakhiri sambungan telponnya.
Baru saja ia ingin meletakkan poselnya, benda pipih itu berdering lagi. Radit melirik nama pemanggil di layar, Bara.
"Ya, Bara," sahut Radit.
"Apa??! Kau yakin itu??!" Mata Radit membulat, ekspresinya menunjukan jika ia sedang sangat-sangat terkejut sekarang.
❇❇❇
Tuan Mahesa dan Ariana sudah bersiap-siap untuk tidur. Namun mata mereka masih saja sulit untuk dipejamkan. Akhirnya mereka berdua duduk dan menyandarkan tubuh mereka pada kepala tempat tidur.
"Kenapa Pa? Gak bisa tidur juga?" tebak Ariana menatap wajah suami yang berada di sampingnya.
"Kepikiran sama kata-kata Kiran tadi, Ma. Tentang Kamil. Mama kenapa gak bisa tidur?" pria paruh baya itu balik bertanya pada istrinya yang kini menatapnya dengan senyum menggoda.
"Lihat Radit tadi, Mama jadi teringat waktu nikah kita dulu. Ketampanan Papa tu gak pernah berkurang di mata Mama sampe sekarang."
Tuan Mahesa mencebikkan bibirnya. Masih sempat juga istrinya itu menggodanya. Dasar Mama!
"Ketampanan apa, wong Papa hampir diselingkuhin." Ariana membulatkan matanya.
"Udah Mama bilang kan, Pa, jangan ungkit masalah itu lagi. Lagian Mama juga buat begitu karena lagi marah sama Papa!" sahut Ariana sewot.
Tuan Mahesa terkekeh. "Iya, maafin Papa ya, Ma. Tapi kalau boleh jujur, Papa senang lihat wajah Mama yang sewot-sewot manja gitu. Seperti anak SMA." Tuan Mahesa balas menggoda.
Mata Ariana mendelik kemudian menatap Tuan Mahesa dengan sorot mata berbinar. Ia paling suka jika dianggap lebih muda oleh suaminya, meski hanya sebatas candaan. "Tu, kan, Papa. Paling bisa bujuk Mama," ujar Ariana memukul ringan bahu Tuan Mahesa yang langsung menarik Ariana dalam pelukannya.
"Papa sudah belajar, Ma. Dan Papa gak mau terulang untuk kedua kali." ucap Tuan Mahesa menatap dalam mata Ariana.
"Tapi jika Papa ingat kembali. Masa sulit Kamil saat Kiran berusia dua belas tahun, kan Ma. Berarti masa sulit yang sama buat hubungan kita berdua."
Ariana menatap kedua mata teduh suaminya. "Iya. Papa benar. Karena itu dia gak mau cerita ke kita. Gitu maksud Papa? Trus kenapa dia ngilang gitu aja?"
"Itu lah yang sama-sama tidak kita pahami. Kita terlalu asyik dengan dunia kita ya, Ma. sehingga kita lupa pada teman yang sudah banyak berjasa dalam kehidupan kita." Ariana mengangguk setuju.
"Jadi menurut Papa, siapalah orang yang tidak suka dengan kebahagiaan Kiran? Sementara Mama tahu sendiri, Kamil itu tidak pernah punya musuh. Dia baik sama semua orang, termasuk kita, Pa. Sampai dia mengajari Papa untuk membangun perusahaan. Dia tidak pernah takut disaingi. Papa bisa buat banyak perusahaan kan dari dia."
"Itulah yang sedang Papa pikirkan. Tapi jika dilihat bahwa hanya TJ yang mampu melindungi Kiran, tidakkah Mama mengingat sesuatu?"
" Gak. Kenapa Pa?"
"Cuma TJ yang sahamnya bebas dari keluarga Widjadja." Ariana menutup mulutnya yang menganga. Mengingat sesuatu.
"Ya, Mama ingat. Ketika Kamil bantu Papa kemarin, Kamil kan membeli saham perusahaan Papa atas nama ibunya. Jadi apa maksud Papa ...." Ariana tak berani menebak setelahnya. Tidak mungkin kan seorang ibu tega pada anaknya.
Ariana menggeleng kuat. "Gak, Pa. Mami Kamil sangat menyayangi Kamil. Mama lihat dengan mata kepala Mama, begitu sayangnya ia dengan Kamil. Jadi gak mungkin dia gak menyayangi Kiran. Apalagi ingin melihat cucunya sendiri menderita. Itu gak mungkin, Pa." Tuan Mahesa terdiam, berpikir.
"Pa ...."
"Hmm ...."
"Di hari Ari hilang. Mama sebenarnya ada mimpi. Mama mimpi Ari tenggelam di sungai. Begitu bangun, Mama langsung ke kamar Ari. Begitu Ari gak ada di kamarnya, Mama langsung cari Radit untuk mencari tahu di mana Ari. Apa mungkin ya, Pa. Kata-kata kita dahulu ada hubungannya."
"Kata-kata yang mana, Ma?"
"Kata-kata ingin barter-an anak. Rina dan Kamil mengurus Ari. Sementara Kiran kita yang urus. Sekarang dengan izin Allah, Kiran sudah bersama kita. Lalu apa dengan izin Allah juga Ari bakal dibawa Kamil. Kamil meninggal, apakah Ari ...." Ariana tak melanjutkan ucapannya. Ia merasa ngeri sendiri membayangkan jika itu terjadi. Sekarang ini, dengan tidak ditemukannya Ari, Ariana dapat berharap jika anaknya itu baik-baik saja. Namun bagaimana jika ketika ditemukan ternyata Ari sudah ....
"Jangan berpikiran macam-macam."
"Mama tiba-tiba aja kepikiran."
"Pikiran tiba-tiba kalo gak benar ya disingkirin aja, Ma."
"Yang jelas sekarang. Kita dukung Radit untuk terus mencari Ari. Kita terus berdoa kepada Allah. Sedekah kita tambah, Ma. Anak-anak panti kita kasi hadiah. Minta mereka untuk berdoa agar Ari baik-baik saja." Tuan Mahesa menambahkan.
"Baik, Pa. Besok Mama akan ajak Kiran ke panti. Kita belikan mereka hadiah. Anak-anak itu paling suka baju dan mainan. Nanti Mama ajak aja mereka ke mall. Tapi ..., kalau sampai sebulan Ari belum juga ketemu. Bagaimana Pa?"
"Apanya?"
"Pernikahan Radit dan Kiran. Mama kan udah sempat bilang sama temen-temen Mama. Jika mereka akan resepsi satu bulan lagi."
"Kenapa Mama cepat sekali menjanjikan sesuatu." Tuan Mahesa mulai tampak kesal.
"Itu terjadi sebelum Ari hilang, Pa. Karena kata Radit sebulan sesudah akad, mereka sudah bisa gelar resepsi," sahut Ariana tak mau disalahkan. Tuan Mahesa menghela nafas pelan. "Itu pikirin nanti aja deh, Ma. Penting cari Ari dulu."
"Kita tidur aja dulu, yuk," ajak Tuan Mahesa kemudian. Mereka pun membaringkan tubuhnya. Membalut tubuh keduanya dengan selimut. Baru saja Tuan Mahesa dan Mama Ariana akan memejamkan matanya, terdengar ketukan di pintu.
Dengan malas Tuan Mahesa bangkit dan membuka pintu. Wajah kelam Radit tampak begitu pintu terbuka.
"Ada apa, Dit?" tanya Papa.
"Ari sudah ketemu, Pa."
❤❤❤💖