NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:26.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Cerita Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Gundik Premium

"APAAA? GUNDIK?"

Dalam sambungan yang masih terjalin, diseberang sana, suara menggelar dari seorang gadis Jawa itu kian menyusup, menusuk, dan perlahan memecah gendang telinga. Lagi dan lagi Sarah harus menjauhkan ponselnya sedikit.

Wajar jika Rania menjerit kaget sampai sebegitunya, karena setelah partner in crime Sarah itu berhasil menyingkap kedok Sarah yang hendak berbohong, Sarah kemudian tanpa aba-aba malah melemparkan fakta yang semakin menyulut emosi Rania.

Bagaimana tidak?

Rencana yang awalnya hanya membuat Bagas mabuk kepayang oleh obat perangsang, yang mana setelahnya akan dibuat tidak sadarkan diri—tetapi pada realita-nya, malah berakhir menjadi senjata makan tuan sendiri.

Sehingga, Sarah lah yang menjadi bernasib naas, pingsan, bahkan terkapar.

Sungguh memalukan. Rania tidak habis pikir. Mbak-nya itu jika berhubungan dengan pria bernama Bagas Aryanaka, pasti selalu saja dilanda masalah. Fatalnya lagi, pasti akan selalu menjadi pihak yang dirugikan.

"Maaf Ran, Mbak tuh udah usaha sebaik mungkin. Tapi emang obat biusnya gak ada efek sama sekali," elak Sarah meyakinkan Rania bahwa ia tidak sepenuhnya bersalah.

Obat bius yang seharusnya langsung bekerja ketika menembus kulit manusia—tetapi malam tadi sialnya tidak berguna sama sekali.

Entah bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Obatnya yang kurang manjur, atau memang kulit Bagas yang sudah seperti kulit badak, sehingga sulit untuk di tembus. Sungguh Sarah pusing dibuatnya.

"Huh, tapi Mbak, aku uwes mastikno obat bius iku top mbak. Ndak mungkin ndak berhasil bikin orang tepar. Ya, kecuali mantan suami mbak bukan orang," balas Rania kesal.

"Ya, gimana dong Ran? Bener-bener gak bisa loh semalam. Ini badanku aja rasanya malah jadi remuk semua," adu Sarah sembari sibuk memijat tangan dan pundak yang terasa pegal.

Mendengus, memutar bola mata jengah, Rania kembali berbicara. Kali ini semakin menohok wanita yang merupakan Ibu dari Thalia Aryanaka. "Pegal-pegal gitu tapi uwenak toh mba? Non stop lagi sampe pagi, busyet dah, apa gak kekenyangan itu?."

Mendengar sindiran Rania kepadanya, membuat pipi Sarah tanpa sadar merona merah.

Memang benar, walaupun tubuhnya remuk redam, tetapi ada perasaan nyaman yang Sarah sedikit rasakan. Sudah lama, mungkin Sarah hanya merindu saja. Namun, tetap, dalam hatinya, sudah tiada Bagas disana.

Ya begitu. Sarah harap memang begitu.

"Ehmm, ya...Ya udah lah Ran. Udah terlanjur juga."

Pada akhirnya karena merasa tidak mampu bertahan dengan hawa tidak enak dan posisi yang semakin tersudutkan, Sarah memilih untuk mengalihkan pembicaraan.

Permasalahan menjadi semakin rumit sekarang. Mengingat bahwa bukan hanya malam panas yang seharusnya pura-pura tapi malah nyata terjadi—Namun juga tentang perihal kehamilan palsu yang mereka siapkan, dimana Sarah takut jika hal tersebut turut berubah menjadi nyata.

Walaupun sudah meminum emergency pil pencegah kehamilan, namun belum tentu 100% akan berhasil. Bisa saja dapat terjadi kebobolan.

Selain itu, rencana yang mula-nya hanya menuntut pertanggungjawaban Bagas untuk membuatnya di asingkan ke rumah tersembunyi yang menyimpan banyak kenangan mereka—tetapi malah dengan mudah obrak-obrik oleh Bagas dengan mendesaknya menjadi gundik pria itu.

"Yah, gini nih giliran pusing begini, aku lagi sing kudu mikir. Giliran enak-enak nya aja sampe lupa semua tuh," omel Rania kepada Sarah, dan wanita itu pun tidak bisa membalas lagi, serta hanya bisa meringis segan, merasa sangat bersalah.

"Ini karena aku baik, ya udah deh, aku kasih solusi Mbak. Menurutku yo, mending Mbak Sarah minta bikin perjanjian kontrak gitu. Mbak bisa jadi gundik-nya Pak Bagas kalo Mbak beneran hamil. Nah, tapi Mbak kudu minta pak Bagas pindahin Mbak ke tempat tersembunyi, dan gak boleh sama sekali sentuh Mbak. Dalam kurun waktu segitu, Mbak fokus buat ulang kenangan kalian aja," jelas Rania panjang.

Sarah mengangguk mengerti, namun masih ada beberapa yang perlu ia pertanyakan—yang menjadi gundah di dalam hatinya.

"Emm, tapi Mbak tuh takut kalau hamil beneran gimana Ran? Juga, rencana kita yang tadinya 6 bulan berarti harus dipercepat banget dong? Menyesuaikan sama seberapa lama buat ngeliat Mbak hamil atau nggak. Apa gak terlalu buru-buru?"

Rania teramat mengerti atas kerisauan Sarah. Apalagi yang mereka hadapi bukanlah sosok yang remeh. Mereka harus bisa benar-benar mengendalikan permainan sebaik mungkin.

Mengelus dagunya pelan, disana Rania berpikir keras. Dahinya mengerut dengan wajah tampak serius. Di sisi lain, Sarah juga turut memikirkan perubahan rencana seperti apa, yang bisa mereka lakukan.

Hingga beberapa menit telah berjalan, Rania sibuk mencari ide terbaik dengan otak licik-nya.

Dan....

Akhirnya, ketemu!

"Aku ada ide Mbak!" seru Rania bersemangat

Dengan posisi duduk lebih tegak menghadap layar ponsel, Rania mulai menyampaikan solusi yang menurutnya paling masuk akal untuk mereka lakukan.

"Kalo rencana sebelumnya kaya'e terlalu cepet. Gimana kalo Mbak tetep pura-pura hamil anak Pak Bagas aja Mbak? Karena Mbak lagi hamil, Mbak minta mantan suami Mbak itu gak boleh sentuh Mbak. Terus, nanti waktu udah sekitar 3 atau 4 bulan, sekirane misi kita berhasil, Mbak pura - pura aja keguguran. Masalah hamil beneran, aku rasa ndak bakal Mbak. Mbak ndak lagi di masa subur, juga Mbak 'kan udah minum pil. Kecuali...kalo dalam waktu dekat kalian 'anu-anu' lagi."

Tatapan tajam turut Rania berikan, secara tersirat memberi peringatan.

Sarah langsung menampiknya, " Eh, nggak bakal ya Ran. Kapok aku. Tadi malam itu terakhir kalinya. Tenang aja."

"Iya deh," balas Rania mencoba percaya.

"Eh, tapi omong-omong ide kamu barusan mantap banget loh Ran. Bagus banget itu. Aku setuju, tapi...

Baru saja raut wanita itu penuh antusias menanggapi penjelasan ide Rania—sedetik kemudian langsung berubah menjadi raut sedih disertai cemas.

"Tapi, gimana kalo aku tetep gak berhasil bikin Bagas sembuh dari amnesia dia Ran? Kalo liat kelakuan dia yang sekarang tuh, bener-bener kayak mustahil."

Rania sangat mengerti bahwa dalam kurun waktu dua tahun ini, walau Sarah tampak mencoba baik-baik saja, tetapi jika semakin menilik ke dalam hati Ibu dari Thalia itu, pasti masih terdapat lara yang teramat pilu.

Apalagi dengan adanya rencana ini, resikonya sangat besar. Selain kegagalan yang berujung pada rasa kesal karena tenaga, pikiran dan waktu mereka yang harus terkuras habis. Tetapi ada pula resiko akan rasa sakit yang sewaktu - waktu bisa saja datang kembali.

Rasa sakit karena harus berhadapan dengan orang yang pernah menghabiskan hidup bersama, namun menjadi berakhir menatap selayaknya orang asing, dan

Rasa sakit karena harus meninggalkan anak, demi menyongsong masa depan terbaik untuknya, dengan segala cara. Termasuk, balas dendam penuh air mata.

Rania pun mencoba untuk menguatkan. "Mbak, kita afirmasi positif dulu yo. Kalau Tuhan sudah berkehendak, ndak ada yang ndak mungkin, percaya itu Mbak. Kita tinggal banyak ikhtiar aja."

Sarah tersenyum lembut, merasa terharu dengan kalimat menenangkan dari sahabatnya itu.

"Iya Ran, makasih ya. Kamu itu bener-bener best banget," puji Sarah.

"Ah, Mbak Sarah bisa aja ihh. Jadi malu aku hehe," ujar Rania sambil menutup muka seolah bertingkah malu-malu kucing.

Sarah menggelengkan kepala, "Dasar Rania, sok malu-malu gitu. Seneng pasti dapet pujian 'kan?

Seketika Rania kini menjadi tersenyum jumawa, ia busungkan dada selayaknya prajurit berkuda, kemudian menepuk bangga. "Oh mesti Mbak, Aku kan emang terbaik. Apalagi ide aku tadi, mantap betul toh? Mbak Sarah jadi Gundik Premium ndak tuh, hahaha."

Mendengar kata absurd tersebut, Sarah mengernyit heran. "Kok Gundik Premium?"

Rania menjelaskan dengan sumringah, "Iya dong Mbak. Mbak kan jadi simpenan om-om kaya, banyak duit pula, dan tambah enaknya disini....Mbak Sarah ndak harus ngelonin sama nglayanin dia. Nah, itulah Gundik Premium!"

Mendengar penjelasan Rania, Sarah pun hanya bisa melongo tak percaya.

Gundik Premium katanya? Sungguh julukan yang luar biasa.

1
partini
waa
partini
Bagas gelo,2 th loh ngab
partini
dua tahun Weh lama banget sandiwara nya ,,agak" deh gas
partini
ayo usaha betul" Sarah biar dia ingat udah boring ini masa ga ingat"
partini
hilang ingatan Ampe tamat ini cerita kah Thor,,masa lama permanen kah
Lady Matcha: Sebentar lagi kok kak. Ditunggu ya, jangan lupa terus ikuti cerita ini, karena bakalan ada plotwist mencengangkan nanti 🤫
total 1 replies
anonim
di tunggu up nya
Ela Sari Kamaruddin
klw bisa up yg banyak2 kk
Ela Sari Kamaruddin
bgus kk
Siti Amalia
udah baguss kaaa
partini
good story
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!