NovelToon NovelToon
Choose Destiny

Choose Destiny

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Romansa-Teen angst / Tamat
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pentolputih

Steven Brayen, itulah nama pria yang telah merebut hatiku. Ia yang sudah membawa sejuta kenangan indah dalam hidupku dan membuat hari-hariku menjadi lebih indah.

Tetapi, itu dulu. Ia telah melepaskanku dengan membawa semua tanda tanya yang tak ku ketahui jawabannya.

Hatiku pun tak tahu kemana arahnya, dimana takdir yang akan membawaku pergi? Apakah ia tetap takdirku? Atau yang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pentolputih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keinginannya

14 November 2018

"Good morning." sapaku kepada Nico yang berada disampingku.

"Good morning too." balasnya dengan suara khas bangun tidur.

Lalu, aku mencium keningnya. Dan segera turun dari kasur.

"Mau kemana?" tanya Nico sambil memegang tanganku.

"Aku mau nyiapin sarapan." jawabku.

"Nanti aja. Temenin aku bobok lagi." pintanya.

"Ini udah siang, Nic. Masa kita tidur lagi?"

"Ayolah. Cuma bentar aja kok." ucap Nico manja.

Akhirnya, aku kembali berbaring di sebelahnya. Tiba - tiba, ia langsung mendekapku erat.

Pagi - pagi gini, ia sudah manja seperti ini. Batinku.

Setelah 2 jam lebih, aku bangun dari tidurku. Nico masih tetap mendekapku dalam pelukannya.

"Nic." panggil ku pelan.

Apa dia masih tertidur lelap? Batinku.

"Kamu udah bangun?" tanya Nico.

Eh? Dia sudah bangun ternyata?

"Barusan. Kamu juga barusan bangun kan?" tanyaku balik.

"Enggak, aku daritadi gak tidur." jawabnya.

"Kamu gak tidur? Berarti cuma aku yang tidur?"

"Iya. Kamu gemesin deh pas tidur." ucapnya sambil menatapku.

Aku menjadi salah tingkah dengan ucapannya.

"Aku sayang kamu." bisik Nico ditelingaku.

"Aku juga." balas ku spontan.

Ia langsung menatapku tak percaya.

Kenapa? Apa aku salah bicara? Batinku bingung.

"Kamu sudah menyukaiku?" tanyanya.

"Mungkin." jawabku tak yakin.

Tiba - tiba, tatapannya berubah menjadi sedih.

"Aku hanya menjawab jujur, Nic. Kumohon jangan marah." ucapku.

"Iya, Na." balasnya sambil tersenyum.

Maaf, Nic. Aku hanya bingung dengan perasaanku ini.

Drrrttt... Drrrttt...

"HP mu berbunyi." ucap Nico memberitahu.

Aku pun segera bangun dan mengangkatnya.

Nomer siapa ini?

"Halo?" sapaku ditelepon.

"Halo, apa ini putri dari Bapak Andre?" tanya seorang perempuan di telepon.

"Eh? Iya, ini siapa ya?" tanyaku.

"Saya Maria, sekretaris ayahmu. Sekarang ayahmu sedang dirawat di rumah sakit. Apa bisa kamu kesini untuk merawatnya?"

"Ayah sakit?" tanyaku tak percaya.

"Iya. Dan saya sedang sibuk, jadi tidak bisa menemaninya setiap saat."

"Apa ayahku baik - baik saja? Apa dia sakit parah?" tanyaku panik.

"Beliau hanya kecapean." jawabnya.

"Baiklah. Aku usahakan hari ini untuk mulai merawatnya. Apa kamu bisa memberitahu dimana rumah sakitnya?"

"Rumah sakit xxx, kamar xx. Saya akan tetap menjaga beliau, sampai anda datang." ucapnya.

"Baiklah. Terimakasih."

Aku segera memutuskan sambungan teleponnya.

"Kenapa, Na? Ada masalah?" tanya Nico.

"Ayahku sakit. Dan sekretaris ayah, memintaku untuk datang merawat ayah." jawabku.

"Ayahmu sakit?" tanyanya tak yakin.

"Iya, Nic. Dan kayaknya aku harus segera kesana untuk merawat ayahku." ucapku.

"Ya udah. Sekarang kamu siap - siap dulu. Aku yang bakal nganter kamu."

"Aku bisa kok, kesana sendiri." balas ku.

"Gak. Aku yang bakal nganter kamu." ucapnya.

Aku hanya mengangguk dan segera bangun dari kasur untuk bersiap - siap.

••••••••••••••••••••••••

Krek....

Aku dan Nico masuk ke kamar dimana ayah dirawat.

"Loh? Nana?" ucap ayah.

Kulihat ayah sedang berbaring di kasur dengan infus yang terpasang di tangannya.

Apa dia baik - baik saja? tanyaku dalam hati.

"Kamu yang nyuruh dia ke sini?" tanya ayah ke perempuan yang duduk di sofa tersebut.

"Iya, pak." jawabnya.

"Ayah." panggil ku lirih.

"Pak, karena putri anda sudah datang.  Saya izin untuk kembali ke kantor." ucap perempuan yang tadi duduk di sofa.

Apa dia sekretaris ayah yang tadi meneleponku? Dia terlihat masih sangat muda.

"Ya sudah. Tolong urus semua pekerjaan dikantor dengan baik. Maaf telah merepotkan mu." ucap ayah.

Perempuan itu hanya mengangguk. Dan segera berlalu.

"Apa dia sekretaris ayah?" tanyaku yang sudah berada di samping kasur ayah.

"Iya. Dia yang menghubungimu tadi." jawab ayah.

"Ayah sakit apa?" tanya Nico yang berada disampingku.

"Ayah cuma kecapean kok. Maaf ya, malah bikin kalian berdua ke sini." ucap ayah.

"Gapapa kok, yah. Ayah, juga kenapa gak jaga kesehatan sih? Kerja boleh aja, tapi tetep inget kesehatan lah." omelku.

"Maaf - maaf, ayah akhir - akhir ini sibuk sih. Jadi, lupa waktu buat istirahat." ucap ayah.

Aku pun mengomeli ayah lagi dan lagi. Sampai Nico memintaku untuk berhenti bicara.

•••••••••••••••••••••••••

"Kamu jadi nginep?" tanya Nico.

"Iya. Kamu pulang aja, Nic. Besokkan kamu harus kerja." ucapku.

"Beneran nih? Aku bisa kok minta cuti."

"Gak usah. Nanti kalau aku mau pulang, aku bakal ngabarin ke kamu." ucapku.

"Ya udah deh. Kamu jaga diri baik - baik ya." ucap Nico sambil memegang pipiku.

"Iya, Nic. Cepet pulang, keburu malem nih."

"Ok. Bye cintaku." ucapnya.

Lalu, ia mencium keningku sebelum pergi.

Kenapa aku sedih dia pergi ya? Batinku.

Aku segera kembali ke kamar ayah dengan menaiki tangga dekat lorong rumah sakit. Tapi, langkahku terhenti ketika melihat seseorang yang kukenal sedang duduk di anak tangga.

"Brianna." panggil pria yang duduk di tangga tersebut.

Kenapa aku bisa bertemu dengannya disini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?

"Udah lama ya gak ketemu." ucap Steven..

Dasar. Perasaan ini tidak pernah bisa berbohong.

"Iya." balas ku.

"Kamu ngapain ke sini?" tanya Steven.

"Eh, aku lagi ngerawat ayah di sini. Emm... Kamu sendiri?" tanyaku canggung.

"Aku habis periksa kesehatan." jawabnya.

Aku gak boleh lama - lama disini. Ucapku dalam hati.

"Emm.. Aku balik ke kamar ayahku dulu ya. Bye." pamit ku.

"Tunggu." cegah Steven sambil memegang tangan kananku.

Kumohon jantung, kondisikan suaramu.

Tiba - tiba, ia malah memelukku. Aku sangat terkejut dengan tindakannya ini.

"Aku kangen kamu." ucapnya.

Aku juga. Tapi, ini semua salah, Stev. Ucapku dalam hati.

Aku pun buru - buru melepaskan pelukannya.

"Ini salah, Stev. Maaf, aku harus segera pergi." ucapku.

Aku pun segera pergi meninggalkannya.

•••••••••••••••••••••••••••••

15 November 2018

Drrrttt... Drrrttt..

"Halo, Nic." sapaku ditelepon.

"Halo, Na. Gimana kabar ayah?" tanya Nico.

"Keadaan ayah mulai membaik, mungkin besok sudah diperbolehkan pulang."

"Berarti besok kamu pulang?"

"Aku belum tahu sih. Meski ayah udah boleh pulang, aku masih harus tetap merawatnya dirumah." ucapku.

"Ya sudah. Kalau mau pulang, jangan lupa kabarin aku ya."

"Iya, Nic. Ya udah, kamu fokus kerja sana. Jangan mikirin aku mulu." godaku.

"Iya deh, istriku. Aku bakal nyari uang yang banyak buat kamu." ucapnya.

"Ya udah. Aku tutup ya teleponnya. Semangat buat kerjanya." ucapku.

"Iya, istriku. Bye."

"Bye." balas ku.

Sambungan teleponnya pun berakhir.

"Na. Ayah bisa minta tolong ambilin air minum gak?" tanya ayah yang sedang berbaring dikasur.

Tanpa menjawab, aku segera mengambilkan air minum untuk ayah.

"Nih, yah." ucapku sambil memberikan segelas air.

Ayah bangun dan segera meminum airnya.

"Kamu tadi teleponan sama Nico?" tanya ayah sambil menyerahkan gelas air tadi.

"Iya, yah." jawabku.

"Oh ya, aku kayaknya mau ke rumah buat ngambil baju ayah. Gapapa kan kutinggal sebentar?" tanyaku.

"Gapapa kok. Kalau bisa, sekalian kamu ambil baju kamu juga."

"Iya, yah. Ya udah, aku pergi sekarang ya." ucapku.

Lalu, aku segera mengambil tas ku di sofa. Dan pergi keluar kamar.

"Bri." panggil Steven yang entah sejak kapan, sudah menungguku ditangga.

Ia langsung menghampiriku. Dan sekarang jarak kami sudah sangat dekat.

"Aku mau kita balikan." ucap Steven sambil memegang kedua tanganku.

Deg.. Deg..

Suara jantungku memang tidak bisa dikondisikan.

Harus kujawab apa ucapannya?

1
Gadi Liem
Hay Hay aku mampir kak 😁
chonurv
semua meninggal. tinggallah Nico sendirian
chonurv
si michelenya manas-manasin saja
🍫Bad Mood 🍰
ditinggal pas lagi sayang sayangnya ya bri? gitu gak sih..?
🍫Bad Mood 🍰
jadiii...?? nico apa steven nih??
🍫Bad Mood 🍰
lanjuut dulu deh..
🍫Bad Mood 🍰
uluh uluh gimana ini...? pilih suami apa mantan pacar hayooo?? 😂
🎸ꪗᴏɴɴᴀ👀 <_
Bri, kamu yang tegas dong. Kalo mau tolak Steven ya tolak. Kamu ga mikirin perasaan suamimu?

kok aku ngegas?
🎸ꪗᴏɴɴᴀ👀 <_
waduh ga ada akhlak ngajak balikan yang udh bersuami. emang kemana cewekmu, Steve?
🎸ꪗᴏɴɴᴀ👀 <_
Nico berangkat kerja pagi, terus pulang buat maksi + nyapu halaman ga tuh... kayaknya kantor Nic Deket ya.... enak kali transportnya ga gede 🤣
🎸ꪗᴏɴɴᴀ👀 <_
coba deh Bri, kamu buruan ke psikiater tadi. Kurasa ada kenangan kamu dan Michelle yg hilang...
Gadi Liem
semangat Thor 👍 t
~Nessa
Hadir
jangan lupa mampir selalu di karyaku ya!!
makasih banyak..
BELVA
udah koboomlike ka💗💗💗💗💗💗
mampir kembali di karya
novel: belvadante
audio: gadis desa
trimksh 🙋🙏
🎸ꪗᴏɴɴᴀ👀 <_
Bri, kau seharian BANGET di kamar. eh tapi aaku kalo lagi libur juga lebih banyak molor di kasur dari pada keluar² sampai lupa namanya makan dan mandi...

Bri tuj pernah kecelakaan kah sampai banyak sekali Sepertinya memori yang skip. Apakah ada hubungannya dg mamamu yang sudah tiada BRI?

mgkn setelah ini akan ada penjelasannya ya, aku lanjut baca aja lah dari pada kena amuk authornya. BTW, selamat untuk masuk kontraknya. Aku turut bahagia untukmu 🤗🤗🤗
🎸ꪗᴏɴɴᴀ👀 <_: biarlah dia nyangkut dalam langit harapanku yang paling tinggi
total 2 replies
nuna_ruu
semangat terus kak
nuna_ruu
aku mampir~
nuna_ruu
lanjut kak, semangat
chonurv
cincin dari mantan segera dijual saja. nanti jadinya malah bikin susah move on kalau disimpem terus
chonurv
waktunya move on, BRI.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!