NovelToon NovelToon
ANANDHITA

ANANDHITA

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:578.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dian Ekawati

Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.

Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.

Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.

Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.

Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.

Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.

Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.

Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.

Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.

Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jati Diri

“Cuit cuit… cr cr.. cuit siut.. ckck… crcr… Hampir dua ribu tahun yang lalu, aku mempunyai teman dari trah feniks api. Kami lahir di tahun yang sama dan tumbuh bersama."

"Feniks Api temanku, mempunyai siklus hidup seribu tahun, setiap seribu tahun dia akan mati sebelum terlahir kembali.” Ki Jalak Lawu memulai cuitannya untuk bercerita.

“Bila saat bereinkarnasi tiba, dia akan membakar tubuhnya sendiri sampai menjadi abu."

"Dari abu tersebut muncullah burung feniks muda. Kemudian ia tumbuh menjadi feniks dewasa dan berinkarnasi lagi setelah seribu tahun kemudian.”

“Seharusnya dia akan terus menemaniku, menjaga para pendaki dan menunjukkan arah agar mereka tidak tersesat."

"Akan tetapi, sebelum reinkarnasi yang ke-tiga, ia terkena panah Adipati Elang Ganendra yang sedang berburu."

"Aku yang sedang menemani seorang pendaki yang sedang laku di gunung ini seperti dirimu, hanya mendengar kabar itu dari Ki Yongko, Aki Kelabang penunggu Mata Air Sendang Derajat dalam perjalanan kembali ke dari Hargi Dumilah ke Cemoro Sewu.”

“Ketika sampai di tempat yang di sebutkan Ki Yongko, Adipati Elang Ganendra sudah meninggalkan tempat tersebut, dan aku tidak dapat menjumpai temanku disana.”

Ada kesedihan mendalam menyayat uliran pangsa, menusuk hati Ki Jalak Lawu dan Anandhita.

Anandhita seketika terhentak, menyadari sesuatu.

“Adipati Elang Ganendra??” Gumam Anandhita lirih.

“Ya… Adipati Elang Ganendra yang telah membunuh temanku. Entah panah apa yang dipakai Adipati sehingga feniks api tidak bisa terlahir kembali."

"Saat aku mendatangi kediaman adipati di Kadipaten Pringgondani, aku mendapati istrinya sedang hamil besar."

"Aku berniat menunggu sampai bayi itu lahir, agar ia bisa merasakan kehadiran ayahnya walau sejenak, sebelum aku membunuh ayahnya untuk membalaskan dendam temanku yang terbunuh olehnya.” Ki Jalak Lawu melanjutkan ceritanya, sedangkan Anandhita semakin tegang, langkahnya melahan, dan tangannya berpegang pada lengan Dimas Arya.

Dimas Arya yang meresakan lengannya tercengkeran erat (padahal Anandhita hanya menggenggam biasa) serentak menoleh ke arah Anandhita dan mendapati wajah Anandhita bercucuran keringat, sedangkan jalanan yang sedang ditapakinya adalah jalanan landai di kelilingi padang rumput luas.

'Tidak mungkin bila Anandhita kelelahan,' batin Dimas Arya

“Cuit..cuit.. siut siut..(Tapi sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan Adipati Elang Ganendra lagi. Bahkan aku juga tidak bisa menemukannya di Kadipaten Pringgondani…)”

Saking larutnya bercerita, Ki Jalak Lawu belum menyadari reaksi Anandhita.

“Anandhita, apa kamu lelah?” Dimas Arya sangat menguatirkan Anandhita yang tiba-tiba berhenti.

Mata Anandhita terbuka lebar, bibirnya bergetar membisikkan nama Adipati Elang Ganendra dan Pringgondani. Ki Jalak Sewu tersadar dari lamunannya dan beralih menatap Anandhita.

“Anandhita!!” Seru Dimas Arya yang terkejut saat Anandhita terjatuh duduk bersimpuh. Genggaman Anandhita pun sudah terlepas dari lengan Dimas Arya.

“Cuit cuit… (Anandhita, kamu kenapa?)”

“Anandhita, kamu tidak apa-apa??!!” Ucap Dimas Arya bersamaan dengan cuitan Ki Jalak Lawu yang ikut kuatir karena Anandhita tiba-tiba jatuh terduduk seolah-olah sudah kehabisan tenaga.

Dimas Arya berjongkok disisi Anandhita, sedangkan Ki Jalak Lawu, sejak Anandhita jatuh terduduk, sudah melompat turun dari bahu Anandhita.

Keduanya menatap ke arah Anandhita, mengkuatirkan keadaan gadis kecil itu. Sedangkan Anandhita hanya menunduk lesu dalam diamnya.

Ada sesak yang Anandhita rasakan di dalam dada. Beberapa kali helaan nafas kasar berhembus bersamaan dari hidung dan mulutnya sembari berusaha menahan isak.

“Apakah Anandhita mau kembali?” Dimas Arya sudah kehilangan akal sehatnya. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dimas Arya hanya memegang erat telapak tangan Anandhita, seolah tak membiarkan Anandhita kecil memegang bebannya seorang diri.

Anandhita hanya menggelengkan kepala perlahan.

“Aku… adalah… putri Adipati Elang Ganendra…dari Kadipaten Pringgondani.” Katanya perlahan masih dalam keadaan menunduk.

Sontak Ki Jalak Lawu terlonjak kaget. Tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya.

Dimas Arya yang sudah mengetahui bahwa Anandhita adalah putri dari Adipati Elang Ganendra hanya menatap Anandhita, tidak tau mengapa tiba-tiba Anandhita mengatakannya.

“Cuit cr… (Katakan sekali lagi Anandhita!)”

“Aku adalah putri Adipati Elang Ganendra dari Kadipaten Pringgondani yang membunuh temanmu.” Anandhita mengulangi perkataannya sekali lagi.

Masih dengan perlahan, tetapi lancar dan sedikit lebih keras sehingga bisa didengar Dimas Arya yang masih dengan setia berjongkok di sisinya.

Dimas Arya pun mulai menerka-nerka apa yang telah dibicarakan Anandhita dengan Ki Jalak Lawu.

Anandhita mengulangi kata-katanya sambil menatap putus asa kepada Anis Lawu. Ada rengsa bergelanyut di sekujur tubuh karena mengetahui Ayah-nya lah yang sudah membunuh Feniks Api, teman Ki Jalak Lawu.

“Cuit cuit suit cr suit??!! (Jadi kau adalah putri Adipati Elang Ganendra dari Kadipaten Pringgondani yang membunuh Feniks Api temanku??!!”

Cuitan Ki Jalak Lawu kali ini disertai tenaga dalam membuat jengang di telinga Dimas Arya.

Dimas Arya baru menyadari bila perkataan dan kondisi Anandhita saat ini ada hubungannya dengan cerita Ki Jalak Lawu.

Sekarang pandangannya tertuju pada Ki Jalak Lawu. Burung jalak itu membentangkan sayapnya. Melakukan kuda-kuda siap menyerang Anandhita.

Dimas Arya meningkatkan kewaspadaannya. Menjadi penengah antara Anandhita dan Ki Jalak Lawu dan bersiap-siap menghadapi Ki Jalak Lawu yang bisa menyerangnya sewaktu-waktu.

Jalak Lawu berjalan pelan memutar, mengintai dan mencari celah Dimas Arya agar bisa menyerang Anandhita.

Baginya, Dimas Arya bukanlah masalah. Putri Adipati Elang Ganendra yang telah membunuh Feniks Api lah sasaran utamanya.

Jalak Lawu meluncur ke arah Dimas Arya. Dimas Arya berusaha menangkis dengan busurnya.

Tapi Ki Jalak Lawu adalah makhluk yang berusia ribuan tahun, jelmaan dari Ki Wangsa Menggala, abdi dalem Prabu Brawijaya V, tidak semudah membalik telapak tangan untuk menangkis serangannya.

Dimas Arya gagal menghalangi serangan Jalak Lawu. Jalak Lawu berhasil melewati lengan bawah Dimas Arya dan menancapkan paruhnya menembus kulit Anandhita.

Bila tubuh Anandhita adalah tubuh manusia biasa bukan tubuh titisan Darah Dewa, pastinya tubuh itu akan terpental dengan lengan atas terpisah dari tubuhnya di tempat dimana Jalak Lawu mematuknya.

Anandhita masih terdiam, membiarkan dan menerima dengan pasrah apa yang dilakukan Jalak Lawu kepadanya.

Setitik cairan menetes dari lengan kanan atas Anandhita yang terluka oleh paruh Jalak Lawu. Bukan darah merah, tetapi cairan berwarna emas yang menetes membuat Jalak Lawu terpana sejenak.

Dimas Arya yang mengetahui Jalak Lawu tlah membuat Anandhita terluka, segera menebaskan busurnya ke arah Jalak Lawu yang masih melayang di sebelah kanan Anandhita.

Hanya berjarak satu jari sebelum busur Dimas Arya mengenai tubuhnya, Jalak Lawu terbang ke atas Anandhita dan mencari celah lainnya sebelum melakukan serangan berikutnya.

Anandhita masih terdiam, tapi tidak dengan Dimas Arya. DItariknya anak panah dari kantong kulit di punggungnya, direntangkan busurnya, dan diarahkan ke kepala Jalak Lawu.

Mengetahui anak panah dan busur Dimas Arya bukanlah anak panah dan busur biasa, Jalak Lawu berubah ke bentuk aslinya. Seekor Jalak Gading raksasa berusia ribuan tahun.

Aura pekat menyelimuti seluruh tubuh Jalak Gading Raksasa kemudian terpancar kesekitarnya.

Aura akibat kesedihan dan rasa sepi karena kehilangan yang terkasih yang dipancarkan Jalak Lawu, membuat Dimas Arya merasa seperti membawa beban berat yang tak terlihat.

Walaupun berat, Dimas Arya tetap menarik anak panah yang telah terpasang ditali busur yang tlah meregang dan membidikkannya ke arah Jalak Lawu

“Shiuut…” Sebuah anak panah pun melesat. Hampir saja ujung anak panah itu menembus kepalanya bila Jalak Lawu tak sempat memiringkan kepalanya sedikit.

“Wuush..” Anak panah tersebut memang tidak mengenai kepala Jalak Lawu karena Dimas Arya belum mempunyai kesaktian yang cukup untuk bisa mengoptimalkan panah tersebut.

Akan tetapi, imbas angin yang dihasilkannya membuat tubuh Jalak Lawu sedikit bergeming, mundur kebelakang.

Dimas Arya yang melihat Jalak Lawu sedang membuka celah dan belum kembali ke posisi semula, segera memasang anak panah kedua dan menembakkanya.

“Shiuut…”

“Aagh…” Tubuh Anandhita menegang di udara sebelum jatuh ketanah.”

“Anandhita….!!” Dimas Arya melesat menangkap tubuh Anandhita sebelum tubuhnya benar-benar terjerembab ke tanah.

1
Putra_Andalas
dikiranya OREO kalee...😁
Putra_Andalas
knapa juga menyalahkan si Bayi...lah bapak e dwe ELANG..wajar toh punya sayap 😁
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir, semangat terus berkarya... salam dari Menikah muda 🤗😊👍💜
Intanksm98
Haha, kang udin, kang udin ≧∇≦
Intanksm98
(♡˙︶˙♡)
Intanksm98
mohon maaf baginda raja, itu seratus orang bandit lumayan banyak juga 😭 kasian Adipati Elangnya... 🙏

Haha, salam dari Clarissa ❣️
Intanksm98
Nyimak dari awal ❣️
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: Semoga terhibur, Kak
total 1 replies
.
aku gak kuat baca yg beginiaaan 😭😭😭
.: ish ish iiishhh
total 2 replies
.
nyesek....😭😭😭
🌿𝒇𝒂
kok jd syedih gini sih Anan...😭😭
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak😄
total 1 replies
.
😭😭😭
🌿𝒇𝒂
woow...😍
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: hehe.. ketinggian ngayalnya ya Kak? 🤣🙈
total 1 replies
Ary
part ini bikin deg-degan sampe tahan nafas 😆
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: hehe.. cuma novel Kakak 😁
total 1 replies
🌿𝒇𝒂
penasaran sama resep jamunya 😂
🌿𝒇𝒂: itu beneran resep....?🤔
total 2 replies
Ary
Anan kereen....
🌿𝒇𝒂
Anan masih bersih, rasane ko ga rela...😭
🌿𝒇𝒂
Awaang ...😭
🌿𝒇𝒂
ikut senyum2 kaya awang 🥰🥰
🌿𝒇𝒂: lanjuuut....
total 2 replies
🌿𝒇𝒂
cerdas Anan...
🌿𝒇𝒂
lg tegang2 iklan loh 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!