Moza merasakan hari pertama magang seperti sebuah bencana karena harus berurusan dengan atasannya. Tugas yang dia terima terkadang tidak masuk akal dan logika membuatnya emosi jiwa. Sadewa, produser Go TV. Dikenal sebagai playboy karena pesonanya membuat banyak wanita berada di sekitar hidupnya.
===
“Jangan suka mengumpat di belakangku, mana tahu besok malah jatuh cinta.” Sadewa Putra Yasa.
=====
Kelanjutan dari Bosku Duda Arogan dan Bosku Perawan Tua.
Follow IG : dtyas-dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 ~ Keputusan
Mada membawa Moza pulang, jika dituruti emosi rasanya ingin sekali memberi pelajaran pada kedua wanita tadi. Merasa ia adalah pria sejati tidak mungkin berseteru dengan perempuan, Mada pun memilih cara lain.
Dewa menyusul dengan membawakan tas milik Moza. Agak membungkuk di jendela mobil yang terbuka.
“Aku akan selesaikan masalah ini, kamu jangan khawatir,” ujar Dewa.
“Nanti ada pengacara keluarga kita kemari Bang,” ujar Mada.
“Oke,” jawab Dewa. “Nanti aku telpon ya,” ujar Dewa lagi pada Moza dan mengusap kepala gadis yang masih menunjukkan wajah cemberutnya.
Dua hari Moza tidak datang ke Go Tv, atas perintah Dewa. Mahalina dan sahabatnya sudah di cut dari semua acara diganti dengan talent lain. Tentu saja kedua wanita itu tidak terima dan mendatangi Go Tv untuk mencari Moza.
Kediaman orangtua Mahalina bahkan didatangi pihak pengacara keluarga Bimantara, menawarkan pada wanita itu untuk melakukan permohonan maaf pada Moza. Tidak akan menuntut ke jalur hukum, atas perbuatan Mahalina dan rekannya kalau sudah ada permintaan maaf. Mahalina kalap karena merasa direndahkan oleh Moza, tanpa tahu siapa gadis lawannya.
“Bangs4t, punya nyali juga tuh cewek. Pake sewa pengacara segala. Mentang-mentang dibela sama Dewa,” cetus Mahalina saat kumpul bersama teman-temannya.
“Ck, masa peran aku diganti,” keluh temannya yang juga berurusan dengan Moza.
“Jangan-jangan itu cewek bukan orang sembarangan. Mana tahu kalau dia ….”
“Halah, nggak mungkin. Merasa di atas angin dia karena dekat sama Dewa,” sahut Mahalina masih percaya diri dengan sikapnya.
“Terus gimana dong, bisa-bisa aku pulang kampung kalau nggak ada job begini.”
“Jadi sugar baby aja lo,” usul Mahalina. “Gue balik ah, tuh cewek emang harus dikasih pelajaran.”
Ternyata Mahalina dan orang tuanya mendatangi kediaman Gentala, merasa diperlakukan tidak adil oleh Dewa dan Go TV. Gentala dan Ajeng yang tidak mengetahui permasalahan, menghubungi Fabian karena putranya tidak bisa dihubungi.
“Kita tunggu Fabian, saya tidak tahu permasalahan yang sebenarnya,” tutur Gentala.
“Permasalahannya Pak Dewa malah membela perempuan itu Pak dan mengabaikan saya. Padahal jelas dia yang salah. Masa semua kontrak saya dibatalkan, nggak bisa begitu dong,” tutur Mahalina dan didukung oleh orangtuanya.
“Iya, sabar ya Mahalina. kita juga butuh informasi dari pihak Go Tv, mendengar dari pihak lain bukan hanya dari pihak kamu saja,” ungkap Ajeng mulai kesal karena sejak tadi Mahalina hanya berputar membicarakan kalau dia benar dan lawannya salah. “Memang kamu ada masalah dengan siapa?” tanya Ajeng.
“Anak magang Tante, namanya Moza. Pasti Dewa sudah tergoda sama rayuan perempuan itu, saya lihat mereka makan siang di restoran mewah.”
“Moza,” ucap Ajeng lalu saling tatap dengan suaminya.
Tidak lama Fabian pun tiba dan bergabung bersama Gentala, Ajeng juga Mahalina dan orangtuanya. Menyayangkan sikap Mahalina yang membawa masalah pekerjaan sampai melibatkan Pemilik Go Tv.
“Dewa sedang rapat, kebetulan saya dalam perjalanan balik ke Go TV. ada masalah apa Mahalina?” tanya Fabian.
“Saya tidak terima dong Pak, masa kontrak saya dibatalkan,” ucap Mahalina dan didukung oleh Ayahnya.
“Bukannya dalam kontrak jelas tidak boleh ada pemutusan dari salah satu pihak.”
“Betul, betul itu. Tidak boleh ada pemutusan dari salah satu pihak atau kena denda. Untuk kasus ini, kamu sudah melanggar perjanjian. Jelas kamu salah karena sudah membuat keributan dan bermasalah dengan pegawai Go TV,” ungkap Fabian.
“Dia bukan pegawai, hanya anak magang.”
“Sama saja, saya sudah lihat insiden di ruangan tim kreatif. Jelas kamu yang memulai, bahkan saat lawan mu tidak terpancing emosi kamu malau mendorong sampai tersungkur. Ini yang menjadikan alasan kami mengakhiri kerja sama. Tidak usah khawatir, satu tahun lagi kamu bisa ikut casting program Go Tv.”
“Memang ada persoalan apa dengan anak magang itu?” tanya Gentala.
“Dia ambil ponsel teman saya om dan mengancam akan menyebarkan isinya,” sahut Mahalina.
“Dengar sendiri Pak Fabian, awal masalah ini karena perempuan itu. Bukan salah putri saya, cobalah dipertimbangkan lagi. Karena tidak mungkin Mahalina bertindak seperti itu kalau tidak dimulai oleh pihak lain.” Ayah Mahalina membela tanpa tahu masalah sebenarnya.
Fabian terkekeh. “Mahalina, kamu tidak cerita persoalan dimulai dari mana. Kenapa saya mendengarnya jadi lucu begini.”
“Fabian, cepat jelaskan. Aku masih banyak urusan yang lebih penting.” Gentala mulai gerah dengan Mahalina yang menurutnya penyebab dari masalah yang terjadi.
“Mahalina, memang ada yang kamu tutupi?” tanya Ayah Mahalina dan dijawab dengan gelengan kepala oleh putrinya.
Fabian pun menceritakan kejadian di restoran, dimana Mahalina dan para cecunguknya yang mencari masalah.
“Saya dan Dewa bukan membela Moza, tapi kamu yang salah. Datang dan membuat keributan. Urusan di Go Tv sudah jelas karena kesalahanmu, masalah keluarga Moza yang ingin kamu minta maaf sebaiknya dipenuhi dari pada urusan menjadi panjang.”
“Karena Dewa mendukung Moza, makanya dia besar kepala.”
“Bukan, bukan karena dukungan kami. Moza memiliki dukungan sendiri. Kamu berurusan dengan orang yang salah. Moza Putri Bimantara, sepertinya main kamu kurang jauh sampai tidak mengenal gadis itu. Bahkan Ibunya akan menjadi investor baru di Go TV.”
“A-pa?” tanya Mahalina seakan tidak percaya dengan penjelasan Fabian, tentang siapa Moza.
“Sepertinya kami akan berbesan dengan keluarga Bimantara, Dewa memang mencintai Moza,” ungkap Ajeng membuat nyali Mahalina semakin ciut.