Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.
Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.
Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.
Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Hai readers.....
Author mohon maaf ya beberapa hari belakangan author sempat berhenti update bab karena ada sedikit problem di dunia nyata hehe 😁
Sekarang author akan melanjutkan ceritanya kembali, terus ikuti dan dukung cerita ini ya... Love you all 🩷🩷🩷
***
***
Setelah mengetahui fakta sebenarnya, Mahesa sudah tak bisa menahan amarahnya. Ia meminta Arya untuk menyeret wanita gemuk itu ke gudang.
Mahesa yang sedang dalam pengaruh alkohol benar benar hilang kendali, sesampainya di gudang ia memaksa wanita gemuk yang sudah mencelakai Keano itu minum minuman dan makanan basi sisa kemarin.
" Apa yang kamu lakukan pada putraku, itu juga yang akan aku lakukan padamu!." Mahesa kembali memasukkan makanan basi yang ia ambil dari tempat sampah ke dalam mulut pelayan gemuk itu.
Hoek
Hoek
Hoek
Wanita gemuk itu terlihat sudah tidak tahan, bahkan ia muntah muntah.
Mahesa mulai merasa jijik, ia kemudian memerintahkan pelayan untuk mengusir wanita gemuk itu serta tidak memberikan gaji apapun padanya.
Namun saat di ambang pintu, Mahesa berhenti karena wanita gemuk itu sempat berbicara. Ucapannya adalah...
" Nadira sudah membunuh istrimu! Dia sudah membunuh wanita yang paling kamu cintai tuan Mahesa! Tapi kenapa kamu tidak menghukumnya sama seperti dia membunuh istrimu? kenapa tuan Mahesa? Apa karena kamu mencintainya? Apa karena kamu sudah luluh karena sikap manipulatif nya? Aku sangat iri padanya, dan asal anda tahu tuan Mahesa, bukan hanya aku dan Desi yang iri padanya, tapi semua pelayan wanita di kediaman ini. Hari ini mungkin anda mengusir saya karena sudah membuat kesalahan, tapi itu tidak bisa menghentikan pelayan yang lain bukan? Anda harus ingat satu hal tuan Mahesa! Aku melakukan semua ini bukan atas kemauan ku sendiri, tapi karena Nadira!... Dia seorang pembunuh tapi diperlakukan dengan istimewa. Sementara kami yang sudah setia melayani anda selama bertahun tahun sama sekali tidak mendapatkan apa apa. Kami hanya terus bekerja dan bekerja, bahkan anda melirik ke arah kami pun tak pernah."
Mahesa mengepalkan tangannya, ucapan pelayan itu menusuk ke dalam jantungnya. Nadira memang sangat berbeda di matanya, Mahesa juga tidak mengerti. Tapi satu hal yang Mahesa tahu, hatinya sangat berat untuk membunuh Nadira.
Mahesa berlalu dari gudang, ia memutuskan untuk pergi sebelum kemarahannya tak bisa dikontrol lagi.
***
Di ruang tamu, Nadira masih berdiri di tempatnya. Di hadapannya sudah ada Diana dan juga Arya.
Diana menatap sinis ke arah Nadira. Diana seolah masih meragukan Nadira. Kepercayaan Diana terhadap Nadira masih tidak ada. Bahkan saat ini ia sangat membenci Nadira.
" Karena kamu putraku mengusirku dari rumah ini! Karena kamu putraku melawan ibunya sendiri. Kamu hanya wanita pembunuh yang beruntung karena Keano sangat nyaman padamu. Tapi setelah Keano tak membutuhkan mu lagi, kamu akan tahu apa sebenarnya hukuman itu." ujar Diana sambil melipat kedua tangannya di dada.
Nadira hanya diam, ia tak berani mengangkat kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Diana, dia hanya beruntung karena Keano menyelamatkan nya dari hukuman.
Tapi Nadira juga sadar, suatu hari ia akan mendapatkan balasan atas apa yang selama ini orang orang tuduhkan padanya. Bahkan satu keluarga Adiprana tak ada yang percaya padanya.
Tiba tiba saja Nadira berlutut dan mengatupkan kedua tangannya.
Diana dan Arya menatap heran ke arah Nadira.
" Nyonya, tuan, saya bukanlah seorang pembunuh. Saya hanya seorang wanita miskin yang ingin mencari uang di kota ini untuk ibu saya. Selama ini saya sudah menerima banyak tuduhan dan kecaman, bahkan Keano juga merasakan dampak negatif karena saya. Saya tahu jika saya adalah orang satu satunya yang bisa menenangkan Keano, tapi setelah saya amati banyak sekali ancaman untuk Keano jika saya berada di sampingnya. Saya mulai sadar bahwa orang orang begitu membenci saya di rumah ini, maka dari itu izinkan saya untuk pergi dan meninggalkan kediaman ini. Saya siap di penjara jika memang tuduhan pembunuhan itu masih ada, saya akan sangat siap di penjara daripada masalah demi masalah terus bermunculan."
Nadira mengutarakan semua isi hatinya. Firasatnya mengatakan jika para pelayan di rumah ini sangat membencinya. Apalagi saat melihat tatapan dan cibiran kebencian dari mereka membuat Nadira sadar jika semua yang terjadi pada Keano itu karena dirinya.
" Apa yang kamu katakan Nadira? Semua pelayan di sini sangat berbakti dan patuh pada keluarga Adiprana. Kamu saja yang membuat mereka begitu. Aku memang tidak mau melihatmu di rumah ini, aku ingin sekali melihatmu membusuk di penjara. Tapi keputusan itu ada pada putraku, dia yang akan memutuskan." ucap Diana.
Sementara itu di sisi lain, Arya hanya terdiam namun tatapannya tak teralihkan dari Nadira.
Nadira menitikkan air mata, kemudian secara tiba tiba ia menyentuh kaki Diana.
" Nyonya, kali ini tolong saya nyonya. Katakan pada tuan Mahesa untuk memenjarakan saya. Saya tidak sanggup lagi di sini. banyak sekali masalah yang selalu menjadi tuduhan untuk saya. Saya mohon nyonya."
Diana terheran heran melihat tingkah Nadira. Wanita itu memohon untuk dipenjarakan.
Di tengah ketegangan yang terjadi, Mahesa datang dengan aura dinginnya. Ia menyaksikan semua yang sedang terjadi. Dan dengan suara beratnya ia berkata.
" Semua pelayan di rumah ini telah aku pecat, tak ada lagi yang tersisa kecuali dua orang. Bi Siti, dan kamu..." Mahesa mengacungkan jari telunjuknya ke arah Nadira yang saat itu juga sedang menoleh ke arahnya.
Di saat yang bersamaan, Diana berdiri dengan ketidakpercayaan. " Apa? Bagimana bisa kamu memecat begitu banyak pelayan di rumah ini dan hanya menyisakan bi Siti Mahesa. Apa kamu sudah gila? Para pelayan di rumah ini sangat menghormati mu, mereka bekerja dengan baik. Mereka sudah mengabdi cukup lama, apa yang sudah kamu katakan ini Mahesa?."
" Ma, kediaman ini adalah milikku. Apapun aturan di dalamnya harus di patuhi. Mama hanya perlu mengingat itu!."
Deg
Diana kembali merasa jika putranya lagi lagi membela Nadira.
" Mahesa! Wanita ini mengatakan kalau dia ingin di penjara. Sebaiknya kabulkan saja ucapannya tanpa memecat pelayan pelayan di rumah ini!." ujar Diana.
Mahesa menatap Nadira yang berlutut sambil menunduk dengan tangan yang menggenggam ujung bajunya.
" Nadira tidak bersalah atas insiden ini, aku hanya menghukum orang yang bersalah. Lagipula Keano masih membutuhkannya. Jika Keano sudah tidak membutuhkannya, baru aku akan mengabulkan permintaannya untuk dipenjarakan!."
Diana kehabisan kata kata.
Arya berdiri, ia berjalan pelan ke arah Mahesa dengan tatapan mengintimidasi.
" Kak, katakan sejujurnya padaku. Apa kakak menyukai Nadira?..."
Seketika suasana di ruangan itu menjadi hening, tak ada satupun yang bicara. Yang ada hanya ketegangan dan perasaan berkecamuk yang tersembunyi.
Namun tiba tiba saja suara tawa getir terdengar dari Mahesa. Pria itu seolah menertawakan sesuatu yang konyol dan mustahil terjadi.
" Arya! Kamu harus tahu satu hal, tak semua sikap itu bisa di definisikan. Hari ini aku membela wanita itu karena memang dia tidak bersalah, dan kamu langsung berkata bahwa aku menyukainya. Kamu salah besar Arya! Aku begitu membencinya, tapi aku menahan diri demi Keano. Dan kamu harus ingat kata kataku ini Arya, jika suatu hari dia berani mencelakai Keano, aku akan langsung membunuhnya dengan tanganku ini!."
Mahesa menatap tajam ke arah Nadira sambil bicara. Ia kemudian berjalan perlahan meninggalkan ruang tamu itu. Ucapannya sudah bisa membungkam pertanyaan Arya, dan juga menyingkirkan pikiran nya yang berlebihan.
Sementara itu, Nadira diam diam menangis di dalam hati. Tak ada yang benar benar tulus padanya. Bahkan kebaikan yang ia terima juga ada imbalan nya.
***
Di perusahaan Alvero, terlihat Reno sedang tersenyum senang saat melihat kemenangan sudah di depan mata. Tinggal satu langkah lagi ia akan berhasil.
" Para pelayan di kediaman Adiprana itu sangat buruk dalam berakting. Bahkan Mahesa sudah memecat mereka semua. Mahesa sepertinya sudah menganggap wanita bernama Nadira itu istimewa. Aku sangat penasaran bagaimana wajah wanita pembunuh itu. Aku benar benar sangat penasaran..."
Reno menyentuh gelang di tangannya, gelang itu berinisial N. ia kemudian melepas gelang itu dan menyimpannya di dalam laci meja kerjanya.
" Aku sudah tidak bisa menunggu lagi..."